E-mail Awal Puasa

E-mail Awal Puasa
(Whiteboard Stories Part 44)
Seorang siswa kelas X mengirim sebuah email di hari pertama puasa tahun ini. Saya membaca keseluruhan isi surat tersebut. Aha! saya menjadi sedikit terhibur dipagi itu. Dalam surat elektronik tersebut juga menyertakan sebuah link untuk diputar di youtube. Tautan di youtube tersebut membuatku semakin penasaran. Double click dan sebuah video drama muncul. Seorang siswa laki-laki bersanding dengan dua perempuan memainkan kata-kata dalam sebuah drama pendek.Anda pasti bisa menebak dibalik email tersebut, bukan?. Ya, Tugas yang terlambat! Bersykurlah saya mendapat email dari siswa daripada mendapat berita Hoax!!
Kelucuan dibalik pengiriman email itu yang membuatku terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak terpingkal-pingkal membaca email yang spesial tersebut. Gaya bahasa menggebu-gebu dan ditengah email tersebut dia menuliskan alasan keterlambatan pengumpulan tugas tersebut. Konon, menurut si penulis email, keterlambatan itu bukan disengaja apalagi baru selesai membuat proyek tersebut. Keterlambatan itu semata-mata disengaja untuk menguji sejauh mana saya mampu bersikap sabar menghadapi siswanya dalam pengumpulan tugas yang sering molor. Terlebih lagi, bulan ramadhan sebagai bukti dan latihan kesabaran. Sejenak saya mengernyitkan dahi dan mengelus kepala. Achh, anak-anak itu memang pintar menghibur gurunya!!!Living with teenagers!#Seize the day!

Iklan

Optimisme

Day3#Senduro
Suara Gemericik yang dihasilkan dari bersentuhnya air dan atap rumah terdengar sayup-sayup dari balik jendela kamar. Kubuka jendela dan kulepas pandangan keluar. Tampak aspal depan penginapan menjadi basah oleh aliran air hujan yang meluncur deras dari atas. Tampak pula deretan bus terparkir rapi. Puluhan orang berbaju putih, bersarung putih dan ber-udeng putih hilir mudik di depan penginapan. Rupanya mereka adalah rombongan para umat Hindu yang akan melaksanakan sembayangan di Pure Mandhara Giri Semeru Agung. Konon, inilah pure terbesar se pulau Jawa.
Dua hari yang lalu, saya memasuki komplek Pure ini. Bangunan berarsitektur Bali berdiri sangat banyak di dalamnya. Bale-bale istirahat berdiri di sisi timur bangunan utama. Terdapat aula yang sangat besar dengan 6 ekor patung gajah. Patung gajah tersebut berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk aula tersebut. Pohon beringin tumbuh mengembang besar di beberapa bagian pure tersebut. Dibagian atas pure tersebut, terdapat komplek sembayangan bagi Umat Hindu. Tangga berundak mengantar kita ke bangunan suci tersebut. Tidak sembarang orang bisa masuk komplek utama pure tersebut. Sebuah plakat terpasang menggantung di pintu besi masuk areal tersebut. “Yang tidak sembayang dilarang masuk”. Akupun hanya bisa mengamatainya dari luar. Sebagaimana tempat ibadah bagi pemeluk agama lainnya, disitulah tempat kita merajut dan bermunajat pada sang pemilik hidup.
Disitu pula kita sering menaruh harapan dan optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Harapan dan optimisme adalah sejoli yang membuat kita dapat berfokus pada keberhasilan. OS.Marden (1850-1924) menyatakan bahwa tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan, dan tidak ada suplemen yang sedemikian kuatnya seperti mengharapkan sesuatu terjadi pada esok hari. Saya juga teringat pada apa yang dikatakan oleh Helen Keller (1880-1968) bahwa optimisme adalah keyakinan yang menunjukkan kita pada kemajuan. Tidak ada prestasi yang bisa diraih tanpa harapan dan kepercayaan diri. Pagi ini saya belajar bagaimana masyarakat bali menjaga ke ajegannya dengan sang pemilik hidup.#Seize the day!

Guru Di Atas Awan

Beberapa peserta pelatihan tampak lesuh. Seolah tidak ada api semangat yang membakar jiwanya. Mereka duduk melingkar di serambi musholla sebuah sekolah menengah pertama di kaki gunung semeru. Beberapa diantara mereka tidur membujur sambil melepaskan penat siang itu. Sebagian lainnya asyik bersenda gurau dengan koleganya.
Duduk bersebelahan dengan mereka, sangat jelas terdengar apa yang sedang mereka diskusikan bersama. Setelah saling bertanya tentang kepastian pencairan gaji 13 dan 14, seorang peserta “nyletuk”tentang beratnya pelatihan yang mereka jalani. Serangkaian tugas yang harus segera diselesaikannya menyita waktu dan memeras otak mereka yang sudah tidak sesegar belasan tahun yang lalu. Bayangan membelajarkan anak di kelas (peerteaching) yang rumit dan sulit dengan berbagai model yang belum mereka kuasai, menjadi semacam “momok” yang sangat menakutkan di siang bolong itu.
Sebagai praktisi pendidikan, kita semua paham bahwa ketrampilan membelajarkan anak perlu diasah setiap saat. Ia laksana pisau yang digunakan untuk memotong dan mencincang aneka bahan dan daging. Agar tetap tajam, pisau itu haruslah terus diasah. Keajegan mengasah akan meminimalisir potensi ketumpulannya. Pun demikian dengan seorang pendidik. Ketrampilan dan seni membelajarkan anak dikelas harus terus dipoles dan dimutakhirkan agar pesan, pengetahuan dan gairah yang ditimbulkan bisa efektif. Salah satu pengasahan itu melalui serangkaian pelatihan semacam Bimtek K13 kali ini. Era yang semakin disruptive ini menuntut kita untuk selalu berbenah, berubah dan berfikir jauh ke depan. Kita masih ingat betapa besarnya pasr KODAK belasan tahun lalu. Kini, pasar itu seolah sirna oleh derasnya camdig dan telepon pintar. Duni aterus bergerak dan memberi dampak yang sangat massive bagi siapapun tidak terkecuali sekolah kita dewasa ini. Guru-guru di kelas semakin menurun pamornya dibanding Webex, coursera, IndonesiaX dan semacamnya. Kalau kita tetap duduk manis sambil mengharap TPP, Gaji 13 dan THR turun, bersiaplah untuk diambil perannya oleh gelombang inovasi baru. Sek talah, buko opo jek suweh ta wong. Kok ngomongku nglantur tekan endi-endi. #Seize the day!

Ingraining The Bookworms Through Kenduri Literasi 2016

screenshot_2016-10-22-19-31-19

Kenduri Literasi 2016

15 minutes reading movement at SMAN 1 Glenmore leads students to ingrain they reading habit. 6 days a week they have the positive habit through program so called “KANCAKU”. KANCAKU is stand for Gerakan Baca Buku (Book reading activities). The program design to enable students read and understand books they read. It also provide students with Al Quran an Hadits recitation every Monday, Wednesday and Friday. The students have to read book for 15 minutes in Tuesday and Thursday. On every saturday, the students will listen to an inspirational stories from around the globe. To celebrate the program, the committee launch a program called KENDURI LITERASI 2016.The program is designed to encourage students to read more books and to create more writing product such as article, short story, short film etc.

 

MENYEMAI KESUKARELAWANAN DALAM KETIDAPEDULIAN

20161018_093516

Dua Laskar Kebersihan Sedang OCD (On Cleaning Duty)

 

Ahli psikologi sosial Dr MG Bagus Ani Putra,mengatakan masyarakat yang berorientasi pada nilai materi (Materialistic Value Oriented/MVO), menghargai materi secara berlebihan. Dia mengatakan bahwa MVO telah menggerus nilai-nilai sosial bangsa Indonesia seperti gotong royong, sukarela (tanpa pamrih), dan “gugur gunung” (kerja bersama). Masih menurut dia, bahwa nilai-nilai itu sudah digantikan dengan materi sebagai ukurannya (http://elshinta.com/news/82307/2016/10/09/ahli-psikologi-sebut-mvo-suburkan-praktik-dimas-kanjeng).

Kini, manusia matre  tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Gejala ini juga menyusup ke sekolah. Adagium “Obah Upah” adalah  salah satu contohnya. Sepertinya tidak ada ladang kebaikan yang tidak diukur dengan orientasi materi. Pun juga demikian yang terjadi di benak pendidik kita dewasa ini. Pekerjaan yang semestinya menjadi ladang amal guru justru berbelok arah sekadar menjadi pencapaian target materi semata.

Nilai-nilai kepedulian yang menjadi pondasi dan karakter bangsa ini lambat laun mulai menepi dan menyusut. Rasa kebersamaan dan memiliki atas fasilitas dan kepentingan umumpun sedikit banyak telah tergadai oleh materi. Tidak ayal lagi kalau kemudian berkembang pesat disorientasi sifat sosial kita. Semua bantuan seolah-olah diukur hanya dengan sikap “Wani Piro?!Kalau begitu pantaslah kalu pusing pala berbie!!

 

Sebagai miniatur masyarakat (mini society) sekolah harus menjadi antithesis atas fenomena MVO diatas. Sekolah dan semua entitas yang ada didalamnya harus mampu menenun kembali rajutan-rajutan keelokan sikap dan karakter bangsa kita semacam gotong royong, peduli dan damai. Kalau peran-peran semacam itu tidak mampu disemai, maka nisbilah keberadaan sekolah sebagai salah satu pewaris keberlangsungan kehidupan suatu bangsa.

Kami, di SMANSAMORE terus menyemai dan menumbuhkan kesukarelawan ini sebagai rajutan atas tercerai berainya kekayaan kemanusiaan kita. Kami harus terus tumbuh dan bekerja. Pekerjaan merajut kembali benang kusut bukanlah pekerjaan biasa, ianya pekerjaan mulia. Penuh tantangan dan rintangan,mnamun kami yakin kemauan dan keikhlasan untuk melahirkan Indonesia baru adalah imbalan yang tidak ternilai oleh apapun juga.”Our Character is defined by what we do when we think no one is looking”. Selamat menginspirasi tunas bangsa!!Seize the day (jember/19/10/2016).

KELAS KE DUA

Seri kedua belajar di kelas sejawat dilanjutkan kembali di minggu kedua. Jarak antara sekolah sejawat dengan kediaman penulis lumayan jauh (50 an KM). Dengan bersepeda, tentunya akan sangat mengasyikkan. Terutama saat melintasi ribuan hektar kebun buah naga dan jeruk di sepanjang jalan menuju sekolah tersebut. Keasyikan tersebut semakin melambung karena akan bertemu dengan sejawat yang sudah menyiapkan pembelajaran jauh^jauh hari. Hari selasa yang sangat asyik tentunya.
Jam menunjuk ke angka sembilan. Suasana sekolah sangat lengang,maklum pembelajaran sedang berlangsung. Segera kuayunkan langkah kaki menuju ruang kantor sekolah tersebut. Nampak dari kejauhan petugas keamanan (satpam) berlari kecil menujuku. Kusampaikan maksud kedatangan, dengan cekatan kemudian membawaku keruang kepala sekolah. Diruang kepala sekolah, yang tidak begitu besar tersebut, sudah bercengkrama beberapa guru. Hari itu ada 4 guru yang belajar di kelas sejawat.Teh botol dan gorengan tersaji di meja tamu. Dua guru yang duduk tepat didepan penulis sedang asyik berdiskusi sambil membolak balik dokumen pembelajaran satu persatu. Saya mendengarkan betapa asyiknya mereka berdiskusi seputar K13 dan pembelajaran di kelas. Seorang guru lain datang menghampiri dengan muka lesu berkata bahwa administrasinya masih amburadul, sambil melirik sejawat yang duduk di depannya. Dengan membesarkan hati, seorang teman berkata bahwa administrasi memang penting, namun kemampuan membelajarkan anak secara efektif jauh lebih penting.Yatta! ternyata pemikiran teman tadi sama denganku: yang penting rasanya bung!!!!.
Bel pertanda jam ke 5 akan segera dimulai. Nampak dari kejauhan seorang guru berlari kecil menujuku. Dialah sejawat yang dikelasnya penulis akan belajar bagaimana membelajarkan siswa yang baik. Letak kelas yang kami tuju berada di bagian kanan kantor tersebut:MIA1. Sebagian besar siswa sudah berada di ruang kelas. Beberapa bangku terlihat kosong. Konon sang penunggu sedang berada di kamar kecil dan atau kantin sekolah. Laptop mulai dinyalahkan dan dalam hitungan detik, sang sejawat mulai membuka kelas. Berdoa dan kemudian melakukan proses leading. Beberapa pertanyaan diajukannya terkait pembelajaran sebelumnya. Siswa silih berganti menjawab pertanyaan sang guru. Tidak terasa kegiatan review pembelajaran sebelumnya tersebut memakan waktu 15 menitan.
Sang guru kembali menuju bagian tengah depan kelas tersebut, menampilkan slide. Sepertinya, sang guru telah mempersiapkan pembelajaran dengan matang. Sang guru mulai menampilkan tujuan pembelajaran hari itu. Dia menjelaskan kompetensi apa yang harus dikuasai siswa terkait dengan materi yang akan disampaikannya. Sebagaimana yang kita pahami selama ini, ada akronim yang sangat terkenal terkait pembelajaran yang disingkat OMME. Keempat huruf tersebut mewakili tahapan-tahapan pembelajaran. O adalah objectives atau tujuan pembelajaran. M adalah material atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan. M kedua adalah Media atau alat bantu dalam pembelajaran tersebut dan yang terakhir adalah E (evaluation) penilaian atas keberhasilan pembelajaran.Sekali lagi, sang guru sepertinya telah menyiapkan pembelajarannya hari itu dengan baik.
pada kegiatan inti, guru tersebut mendorong proses pembelajaran aktif dengan berbantuan media yang dia tampilkan. Siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara penuh sudah nampak dalam pembelajarannya.
Terdapat beberapa catatann penting atas pembelajaran yang dilaksanakannya diantaranya (1), guru telah membagi kelompok berdasarkan pertimbangan capaian nilai pengetahuan sebelumnya. Konon, kelompok ini akan bertahan selama 3 bulan, setelahnya dievaluasi dan dipetakan lagi atas dasar capaian nilai terbarunya. (2)Secara administratif semua persyaratan K13 terpenuhi.(3) akhirnya saya bisa mengadopsi dan mendapatkan banyak ilmu dari jalan-jalan selasa pagi ini.Berlanjut ke kelas ke 3#