Student Sopu for Teacher’s Soul (part 4)

Student soup for teacher’s soul (part 4)

Wali Murid Yang Mengunjungiku Malam Itu

Malam itu, seorang bapak menemuiku. Bercerita tentang anaknya yang sudah kelas 3 sekolah lanjutan atas. Dia nampak kuatir terhadap perkembangan belajar anaknya. Terlebih lagi, beberapa bulan kedepan akan menghadapi serangkaian ujian. Puncaknya menghadapi Ujian Nasional bulan April .Ujian Nasional masih menjadi event penting bagi sekolah dan wali murid. Seluruh sumber daya sekolah tercurah pada kesuksesannya. Tidak jarang, orang tua wali murid terlibat di dalamnya dalam berbagai bentuk. Sejalan dengan fenomena Ujian inilah, sang bapak tadi memintaku membimbing anaknya. Memberi wawasan tentang jurusan di perguruan tinggi. Dan menyiapkan bekal pengetahuan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Akupun menyanggupinya, karena ini bagian tidak terpisah dari peranku sebagai guru: takes a hand, opens a mind and touches a heart!. Namun, aku tidak setuju jika semua itu dilakukan hanya semata-mata demi lulus Ujian Nasional. Apa yang bisa dibanggakan dari kelulusan itu jika anak tidak mengalami perubahan pola pikir yang berarti setelahnya. Bapak itu akhirnya mengangguk tanda persetujuan dengan pikiranku. Baca lebih lanjut

Iklan

Cermin Buram Sang Pelajar

Student’s Soup for Teacher’s Soul (part2).

Pertama kali bertemu, aku sudah dibuatnya terpanah. Bukan oleh kemolekan dan ketampanan, namun oleh pandangan dan cara berbicaranya. Aku yakin, caranya berbicara dan ekspresi yang menyertai itu adalah gambaran sederhana tentang citra dirinya. “Tidak bisa!” adalah kata yang selalu terucap saat saya mengajak belajar dan melakukan suatu aktifitas tertentu. Cermin diri yang ada dibenaknya sudah terburamkan oleh anggapan dan keyakinan yang salah tentang dirinya sendiri. Keyakinan itu telah menggerogori pikiran dan menjadi mental barrier bagi setiap usaha dan keinginan berubah yang ingin dia lakukan. Dia melihat dirinya sebagai orang yang tidak bisa dan lemah. Kondisi ini juga diperparah oleh rendahnya kepercayaan dirinya. Alhasil, dia selalu bertindak dan bersikap sesuai dengan gambar yang muncul dalam cermin dirinya. Dia membutuhkan cara melihat dirinya dari sudut yang berbeda. Dia harus berani menjungkirbalikkan keyakinannnya selama ini. Keyakinan sebagai siswa yang “tidak Bisa”. Penjungkirbalikan ini akan mendorongnya bertindak dengan cara yang berbeda. Tindakan yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Mulailah saya dorong dia melakukan sesuatu yang berbeda. Perbedaan itu disemaikan dari hal-hal kecil. Maju ke depan kelas, mengerjakan soal atau sekedar menghapus papan putih. Atau yang agak berat sedikit, tampil di depan kelas melakukan roleplay. Ini adalah aktifitas yang jarang dia lakukan selama ini. Selanjutnya, setiap bertemu dengannya, selalu kudorong dia untuk berkomunikasi dan berkenalan dengan siswa-siswa lainnya (adik tingkat). Kemampuannya berkomunikasi harus terus diasah. Harapannya muncul keberanian. Keberanian untuk berbuat berbeda dari sebelumnya itu yang saya yakini akan mendorongnya mulai percaya diri. Dulu Aristoteles berujar bahwa “Semua bunga esok hari adalah benih hari ini. Dan semua hasil esok hari ada dalam pikiran hari ini”. #Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang tidak mengetahui?” (39:9).Seize the day!

Kata Maaf Darimu

Nada ringtone HP nokia jadulku berbunyi. Sebuah tanda masuknya pesan baru. Tak lama berselang, HP itupun berbunyi kembali. Lagi-lagi sebuah pesan masuk. Malam ini beberapa siswa mengirimkan permintaan maaf. Akupun membacanya sambil tersenyum. Pelajaran yang mereka hadirkan dalam beberapa hari terakhir menjadikanku semakin bersemangat hadir di tengah-tengah mereka. Bersemangat karena hidup adalah keindahan, maka akupun harus mengaguminya. Hidup adalah kebahagiaan maka akupun harus meresapinya. Hidup adalah impian, dan akupun harus menyadarinya. Karena semua respon itu adalah ibadah, maka aku menjalaninya dengan kesungguhan dan keikhlasan. Semoga hari-hari kedepan selalu memberi kita energi dan cinta untuk terus berbenah dan bergerak.#livingwithteenagers.