Main Chain Story yuk?

Main Chain Story yuk? Ajakku pada siswa pagi ini. Tanpa respon, mereka saling memandang dan menggelengkan kepala dengan teman sebangkunya. Selidik punya selidik para siswa ternyata gagal paham apa yang aku sampaikan. Nah Loh!!!!!. Secepat kilat saya jelaskan permainan yang akan kami laksanakan pagi itu. Setelah seluruh energi digerakkan untuk menerangkan chain story, alhamdulillah, akhirnya mereka memahaminya dengan lebih baik. Acarapun dilanjut dengan membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setelah itung sana, itung sini disepakati untuk membuat kelompok berdasar baris kursi yang ditarik dari sisi kiri kelas.

The Chain Story Winner

The Chain Story Winner

Baca lebih lanjut

Iklan

Rozail dan Mimpinya Menjadi Petani

Pada suatu pagi, minggu pertama bulan Oktober 2013, di sebuah kelas, saya dibuat bangga. Bukan oleh nilai ulangan yang melesat jauh meninggalkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), pun juga bukan oleh kegembiraan karena kesuksesan pembelajaran. Kebanggan itu muncul sesaat setelah mendengar jawaban seorang siswa atas pertanyaan yang saya ajukan padanya.
Sudah menjadi kebiasaan, kata “ Hadir”, yang biasa siswa ucapkan untuk menunjukkan kehadirannya, kami ganti dengan aneka respon dari pertanyaan yang saya ajukan. Pagi itu pertanyaannya adalah “Apa cita-citamu?”. Siswa silih berganti meresponnya dengan beragam profesi “basah” semacam dokter, bidan, perawat, polisi, tentara, guru, pegawai bank dan sejenisnya.
Tibalah giliran siswa terakhir. Siswa tersebut berasal nun jauh dipelosok desa. Butuh waktu 20 menitan untuk sampai ke sekolah dengan sepeda motor. Saya selalu memanggil dengan nama terakhirnya: Rozail. Keluguaannya masih begitu kental, sopan dan santun dalam berbicara. Selalu menyunggingkan senyum saat bertatap muka denganku. Pun juga sering berkomunikasi tentang harga kopi dan pisang-pisangnya yang segera di panen. Baca lebih lanjut

SAYA DAN SEKOLAH TERBUKA MARGOMULYO

Pendidikan dan pembelajaran berubah begitu cepatnya. Di akhir bulan Juni 2013, Majalah Der Spiegel Jerman menurunkan berita tentang transformasi pendidikan yang sangat radikal. Berita tersebut mengulas gagasan mantan CEO Apple – Steve Jobs- dengan “Ipad School”-nya yang ada di Belanda. Lembaga baru tersebut akan menjadi sangat berbeda dengan sekolah konvensional yang selama ini kita pahami dan jalani. Siswa di sekolah tersebut tidak akan membawa buku, menggendong tas ransel, melihat jadwal pelajaran, menemukan guru-guru di depan kelas, papan tulis , bel jeda pembelajaran, atau kegiatan persekolahan yang lazim lainnya.
Para siswa akan memiliki sebuah tablet ipad (apple) sebagai pengganti semuanya. Ipad tersebut akan menjadi sumber dan media belajarnya. Mereka akan belajar berdasarkan apa yang benar-benar diinginkan. Ipad school bersama siswa menentukan apa yang akan dipelajari dan target yang akan dicapai. Para siswa didorong untuk menggapai kompetensi dengan cara dan usaha mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka didorong menjadi pebelajar-pebelajar mandiri.

Acara Sosialisasi SMA Terbuka di Margomulyo Glenmore

Acara Sosialisasi SMA Terbuka di Margomulyo Glenmore

Kondisi dan fenomena diatas lambat laun akan menggeser fungsi kelas- kelas konvensional. Sekolah dan atau belajar tidak lagi mensyaratkan pertemuan tatap muka secara langsung dalam sebuah kelas. Tetapi belajar bisa dilakukan dimanapun, tanpa adanya sekat ruang dan waktu. Pembelajaran semacam ini menjadi salah satu trend penting dan akan merevolusi pendidikan secara radikal dimasa mendatang . Inilah pendidikan versi 2.0. Sebuah versi pendidikan dimana siswa akan menjadi subjek sebenarnya dari pendidikan itu sendiri. Disisi lain, internet akan menjadi media pendukung yang sangat vital.
Di lain tempat, Beberapa minggu yang lalu, saya menghadiri Sosialiasi sekolah terbuka jenjang menengah (SMAT) di Desa Margomulyo Kecamatan Glenmore. Belasan anak usia sekolah, yang karena banyak hal tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA), tampak penuh khidmat dan bersemangat menyambut program tersebut. Khairul adalah salah seorang siswa di sekolah tersebut. Setiap hari dia harus turun gunung bersama teman-temannya. Mereka harus menempuh perjalanan sejauh 3 -7 km dari rumahnya untuk dapat bersekolah. Di pagi hari, Khairul bekerja sebagai kuli bangunan dan sesekali menjadi tenaga buruh lepas di sebuah perkebunan swasta. Kondisi yang sama juga berlaku bagi teman sekelasnya.
Tapi semangat Khairul untuk bersekolah tetaplah tinggi. Sebuah semangat yang mampu membakar keletihan
Siswa SMA Terbuka sesaat setelah belajar bersama dengan tamu dari Brazil

Siswa SMA Terbuka sesaat setelah belajar bersama dengan tamu dari Brazil

dan jauhnya jarak menuju sekolah. “Sekolah adalah jalan saya untuk meraih cita-cita”, jawabnya. Jawaban Khairul ini membuka kesadaran dan kenyataan bahwa “ Pemerintah dan Kita” masih belum bekerja cukup keras untuk memberi akses dan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi semua anak bangsa. Terlebih lagi, bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan memberi angin segar dengan membuka sekolah terbuka bagi mereka. Kepedulian dan keberpihakan pemerintah terhadap anak-anak yang kurang beruntung seperti Khairul harus diapresiasi cukup tinggi. Hanya dengan kepedulian semacam inilah, Khairul dan ribuan teman lainnya bisa terbebas dari jurang kebodohan dan putus sekolah.
Sebagai salah satu pendidik yang ditunjuk untuk menemani mereka, saya mendambakan semangat “ipad school” menjaid inspirasi tata kelolah sekolah terbuka. Teach less learn more seharusnya menjadi landasan dan inspirasi penting dalam memahami dan melaksanakan pembelajaran di sekolah tersebut. Karenanya, tugas saya sebagai pendidik di sekolah tersebut bukan lagi mengisi botol kosong (tabularasa), melainkan melecut api belajar (ignite the fire of learning). Itulah kontribusi nyata yang akan bisa dipersembahkan bagi kemajuan Banyuwangi.
Sudah menjadi tugas mulia seorang pendidik menyemai motivasi, melejitkan potensi dan membangun karakter siswanya. Saya akan mendorong para siswa untuk tidak sekedar melihat pendidikan dari perspektif ruang kelas, guru dan buku semata. Ketersediaan sumber belajar diluar kelas yang melimpah harus menjadi stimulus bagi pengembangan belajar dan diri mereka kedepannya. Keintiman dengan dunia tanpa batas (internet) menjadi modal berarti bagi keberhasilan belajarnya. Mengingat, pembelajaran di ruang kelas sekolah terbuka sangat minim tatap muka.Karakter dibangun dengan contoh terbaik dari pendidiknya. Karena pendidikan karakter semacam ini akan berdampak nyata dari pada sekedar pembelajaran biasa dan menghafal.
Fenomena pendidikan terkini yang sedang hangat dibicarakan adalah Flipped Classroom. Sebuah model pembelajaran yang menjungkirbalikkan metode pembelajaran konvensional yang menempatkan guru sebagai penyedia (provider) pengetahuan satu-satunya di sekolah. Flipped Classroom menjadikan pembelajarn lebih kaya warna dan rasa dengan aneka sumber dan bahan belajar yang lazim menyentuh keseharian siswa. Penggunaan video, sosial media, perangkat media lainnya akan mendorong siswa “kasmaran” dengan ilmu pengetahuan yang didapatnya. Bukankah esensi dan motivasi belajar adalah jatuh cintanya siswa pada pencarian pengetahuan baru?.
Saya meyakini jikalau metode ceramah sudah tidak menarik lagi. Metode tersebut terkesan membosankan dan menjemuhkan. Apa yang disampaikan melalui ceramah, dapat dengan mudah diunduh dari mesin pencari (google). Sebagai Pendidik, saya dituntut lebih kreatif dalam menyajikan pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan think out the box akan memberi sensasi dan pengalaman belajar yang lain. Dari kondisi semacam inilah siswa akan benar-benar belajar dan akhirnya mereka menemukan pengetahuan baru.
Disinilah perubahan paradigma harus terjadi. Pendidik bukan lagi menjawab rasa ingin tahu siswa melainkan memancing rasa ingin tahu. Pendidik bukan lagi meminta siswa menghafal melainkan berkreasi. Pendidik bukan lagi mendorong anak berkompetisi melainkan berkolaborasi. Pendidik bukan lagi menyuruh anak belajar tetapi membiarkan anak belajar. Akhirnya pendidik bukan lagi memahami materi pelajaran melainkan memahami karakter dan keunikan siswa.
Penulsi bersama siswa SMA Terbuka Margomulyo Glenmore: Ignite the fire of learning

Penulis (berbaju kotak-kotak)bersama siswa SMA Terbuka Margomulyo Glenmore: Ignite the fire of learning

Sebagai Digital Native, Khairul dan anak didik lainnya di sekolah terbuka akan lebih “ngeh” dengan pembelajaran multisensorik, kaya warna dan serba digital. Merekalah generasi Gen C (content, connected, digital creative,cocreation,curiosity, cyber, cracker dan chameleon). J.Sumardianta (Guru Gokil Murid Unyu, 2013), mengambarkannya sebagai generasi bunglon yang terhubung satu sama lain di dunia maya. Mereka cepat berubah pikiran mengikuti arus informasi yang mereka terima. Mereka dibentuk oleh konten dan kecanduan dengan media sosial. Pendidik yang mampu menjembatani kecanduan semacam inilah yang akan banyak menginspirasi siswanya.
Menyadari betapa pentingnya pemanfaatan sumber belajar online yang tersedia, sudah selayaknya para siswa dibekali ketrampilan teknologi dan informasi. Inilah ketrampilan penting yang akan menjadi senjata utama dalam memanfaatkan keberlimpahan sumber belajar. Disisi lainnya, saya sebagai pendidik harus mampu menyediakan konten dan petualangan belajar yang mengasyikan dengan memanfaatkan teknologi. Konten yang interaktif dan beragam mendorong ketersediaan sumber belajar yang lebih menarik dan menantang.
Lebih jauh, saya dituntut untuk melek teknologi. Dengan melek teknologi , saya memiliki kesempatan dan ruang berkembang yang cukup besar. Tersedianya pembelajaran online dengan berbagai jenis platform semacam Edmodo, Khanacademy, webinar, Haiku learning akan menjadikan pembelajarn lebih interaktif, kolaboratif dan responsif terhadap kebutuhan belajar siswa.
Kondisi diatas juga diyakini akan mendorong anak didik menjadi pebelajar-pebelajar mandiri. Pebelajar yang terus belajar sepanjang hayat. Konon, pebelajar mandirilah yang akan menjadi penopang utama sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Pebelajar-pebelajar (siswa) mandiri akan lahir jika pendidik/gurunya juga menjadi pebelajar mandiri dan sepanjang hayat. Jangan harap lahir generasi dan pebelajar mandiri jika pendidiknya pro status quo dan merasa sudah puas dengan apa yang dijalani selama ini. Sebagai pendidik, saya harus terus bergerak dan belajar. Karena hanya dengan melakukan hal semacam itulah, saya sebagai pendidik, akan terus menginspirasi siswa untuk maju. Semoga rencana mulia pemerintah dan niatan saya untuk berkontribusi positif bagi peningkatan akses dan kualitas pendidikan bisa mengangkat kembali derajat generasi Banyuwangi di kemudian hari. Mengakhiri tulisan ini, saya kutipkan sebuah kata mutiara dari Joshua Davis: Genius is everywhere but we are wasting it, how to unleash the great minds of tomorrow.

Strengths Finder, Eksploitasi Kekuatan Diri

Strengths Finder, Eksploitasi Kekuatan Diri
Posted on August 15, 2011 by Kreshna Aditya

Sudah baca buku StrengthsFinder 2.0 ini? Buku ini adalah karya para peneliti dari Gallup, sebuah lembaga survey dunia, yang mengumpulkan data lebih dari dua juta orang responden untuk menjelaskan tentang konsep strengths atau kekuatan manusia yang berbeda-beda dan bagaimana cara kita mengeksploitasi kekuatan diri kita. Konsep ini sudah dipakai sebagai dasar manajemen sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan besar. Selayaknya paradigma StrengthsFinder ini dipahami pula oleh guru dan orang tua dalam mendidik murid-murid dan anak-anaknya. Baca lebih lanjut

Penilaian Pendidikan Indonesia: Menuju Siswa Bernalar

Penilaian Pendidikan Indonesia: Menuju Siswa Bernalar
Posted on September 13, 2013 by Bincang Edukasi
Heru Widiatmo
Heru Widiatmo – Foto: uny.ac.id

Oleh: Heru Widiatmo, Ph.D.

Pendidikan Indonesia masih belum berhasil membekali para siswa dengan baik dalam menghadapi masalah yang memerlukan kemampuan bernalar tinggi (higher-order thinking). Ini diperparah oleh model assessment Indonesia (UN dan UMPT) yang lebih banyak mengukur kemampuan prosedural (hafal konten, hafal rumus atau cara, dan komputasi rumit) yang hanya berguna pada saat mengerjakan soal-soal UN dan UMPT atau ikut lomba-lomba olimpiade, tapi kurang bermanfaat pada saat menghadapi dunia nyata. Padahal pentingnya kemampuan higher-order thinking sangat dibutuhkan oleh generasi muda kita menghadapi tantangan abad 21 ini.
Baca lebih lanjut

ita Butuh Pendidikan, Bukan Sekadar Persekolahan

Kita Butuh Pendidikan, Bukan Sekadar Persekolahan
Posted on September 16, 2013 by Aar Sumardiono
Pendidikan bukan hanya perihal persekolahan. Sekolah formal yang berjenjang mulai SD-SMA hanya merupakan salah satu bentuk jalur pendidikan.

Di Indonesia, keragaman tentang jalur pendidikan ini sebenarnya sudah dirangkum dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). UU Sisdiknas tersebut menyatakan bahwa Indonesia memiliki 3 jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), non-formal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan keluarga & masyarakat). Baca lebih lanjut

Memahami Flipped Classroom

Flipped Classroom merupakan model pembelajaran yang tengah banyak dibicarakan dalam dunia pendidikan. Model pembelajaran yang ‘membalik’ metode tradisional ini melibatkan penggunaan media yang biasanya berupa video pembelajaran untuk dipelajari siswa di rumah, kemudian dilanjutkan dengan diskusi serta pemberian tugas di kelas.Bagaimana sih pembelajar ini sebenarnya, simak penjelasannya berikut yuk?

flipped-classroom

Bagaimana menurut anda?