Genre-Based Approach dan Genre-Based Instruction?

Masih seputar diskusi pembelajaran bersama bu Helena, ini adalah salah satu pertanyaan yang sangat penting untuk dipahami

Q: Bu, apa bedanya genre-based approach dan genre-based instruction?

A: Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu secara jelas mendefinisikan istilah2 teknisnya. Sebuah approach (pendekatan) adalah sebuah filosofi atau mindset yang ‘mengontrol’ apa pun yg kita lakukan. Maka sebuah approach (termasuk GBA) tidak dapat langsung diobservasi.

Pada tataran ‘di bawahnya’ ada method yang sifatnya prosedural. Artinya, agar kita bisa menjamin tercapainya tujuan pengajaran (misalnya tujuannya ‘mendeskripsikan) maka kita perlu merencanakan prosedur atau pentahapan. Dalam GBA, ini disebut curriculum cycle (spoken and written) dan stages (building knowledge of the field, modeling of text, joint construction, independent construction dan bisa juga diteruskan dengan connecting with other text type, publishing, networking). Baca lebih lanjut

Iklan

i-Diots

I got this EFL lesson plan using a short film. Will be a such interesting class though. (http://film-english.com/2013/11/28/i-diots/)

i-Diots
Posted on November 28, 2013 by kierandonaghy

idiots

This EFL lesson plan is designed around a short film called iDiots by special effects company BLR_VFX and the themes of technology, mass consumption and instant gratification. Students speak about mobile phones and technology, watch a short film and do a dictation.

Language level: Pre-intermediate (A2) – Intermediate (B1)

Learner type: Teens and adults

Time: 60 minutes

Activity: Speaking about mobile phones and technology, watching a short film and dictation

Topic: Addiction to technology, mass consumption and instant gratification

Language: Both, neither, none, all of, and vocabulary related to mobile phones

Materials: Short film

Downloadable materials: i-Diots lesson instructions

Step 1

Tell students you would like them to think about what they use their mobile phones for. Give some examples such as:

I use my mobile phone to send messages.

I use my mobile phone as a camera.

Pair students and ask them to tell their partner what they use their mobile phones for.

Step 2

When students are ready get feedback from each pair and ask them to provide sentences such as:

Both of us use our mobiles to take pictures.

Neither of us use our mobiles as a calculator.

Step 3

Now ask students to say what the whole class have in common. Write up some sentences such as:

We all use mobiles to send messages.

Most of us use mobiles to take pictures.

Nearly all of us use the mobile to watch videos.

Step 4

Tell students they are going to watch the first part of a short film in which they will see different uses of mobile phones. As they watch they should look out for different uses. Show the film and pause at 01:48.

Step 5

Go through the uses students noticed. They will probably mention to send messages, to take photos, to play games, to watch cat video, to like videos, and to use apps.

Step 6

Tell students that they are going to watch the rest of the film and that they should think about the film’s message. Show the rest of the film.

Step 7

Put students into small groups and ask them to discuss what they think the film’s message is.

Step 8

When students are ready hold a plenary discussion on the message of the film.

Students may well say that the film is a portrait of addiction to technology, mass consumption and instant gratification, showing a series of situations describing how people fall into patterned, superficial behaviour through the use of technology.

Step 9

Dictate the following questions to students:

1. Is the brand of your mobile phone important to you?

2. Do you think you’re addicted to new technology and gadgets?

3. Do you know anyone who’s addicted to technology?

4. Do you think we rely too much on technology in our everyday lives now?

Step 10

Get students to compare their questions and then put them into pairs and ask them to discuss the questions.

Step 11

Hold a plenary discussion on the questions.

I hope you enjoy the lesson.

Film English is a labour of love, it takes hundreds of hours and thousands of euros a year to sustain and provide free English language lesson plans. Keeping it a free, clean, ad-free experience — which is important to me and, I hope, to you — means it’s subsidised by the generous support of readers like you through donations. So if you find any inspiration, joy and stimulation in these English language lessons or if they help you teaching English, please consider a modest donation — however much you can afford

Penjelasan Bu Helena

Q: Bedanya teks deskriptif lisan sama tulis itu apa ya bu?

A: Ketika orang mendeskripsikan sesuatu secara lisan, ia melakukan monolog; ketika ia mendeskripsikan sesuatu secara tertulis, is menulis essay. Akan tetapi, perbedaannya bukan hanya terletak pada mode / jalur komunikasi. Perbedaan2 lainnya terletak pada pilihan unsur2 kebahasaan sehingga kedua mode tersebut berpengaruh pada gaya bahasa atu style.

Dalam mode lisan, monolog diwarnai oleh gambits, fillers, hesitations, question tags, repetitions dan strategi lain. Klausa2nya pun pendek2, banyak menggunakan pronouns dan small words, dll. Dengan demikian deskriptif lisan tidak terdengar seperti orang membaca nyaring (reading aloud) sebuah teks deskriptif tulis. Tidak terdengar rapi memang, tapi itulah teks lisan.

Dalam mode tulis, teksnya terlihat rapi karena sudah diedit. Karena sempat mengedit maka penulis dapat dengan lebih seksama memasukkan banyak gagasan secara efektif menggunakan fasilitas grammar seperti noun phrases, menghilangkan pronouns dan menggunakan nominalisasi agar terlihat objektif, menggunakan kalimat2 pasif dan strategi tulis lainnya. Hasil akhirnya tentu sangat berbeda dengan teks deskriptif lisan.

Maka, jika siswa mencoba melakukan pendeskrepsian lisan dengan membaca nyaring sebuah teks deskriptif gaya tulis, monolognya akan terdengar kaku, tidak alami. Hal yang sama terjadi ketika orang menulis essay menggunakan strategi lisan, tulisannya terlihat seperti speech written down (kata Halliday).

Ini bukan berarti bahwa siswa SMP harus langsung bisa menulis dengan written style. Tahap2 awal pasti akan terlihat speech written down, tetapi lama-kelamaan latihan2 manulis diharapkan akan semaking mengarahkan siswa ke written style lewat pengajaran grammar yg relevan, misalnya bagaimana meningkatkan lexical density.

Mingkatkan kompetensi semacam ini harus dilakukan lewat scaffolding berupa berbagai latihan. Ini tidak akan terjadi dengan sendirinya. Guru dan pengembang materi (buku ajar) perlu memiliki pengetahuan tentang apa saja yang perlu di-address untuk mengajar writing. Misalnya, latihan writing bukan hanya menulis main ideas dan supporting ideas. There is much more to it.

Mari kita ‘kupas’ KD ini:

“Menyusun teks lisan dan tulis untuk mengucapkan dan merespon pujian bersayap, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks.”

Ini berarti ada teks tulis dan lisan (yang mestinya sudah di tataran discourse), tetapi kok diteruskan dengan ‘untuk mengucapkan’ (lha kok pronunciation? ini tatarannya paling rendah (phonology)). Lalu ‘dan merespon’ (ini tatarannya speech function – di discourse semantic level).

Berarti ada teks lisan dan tulis (tataran genre) yang communicative purposenya pujian bersayap. Setahu saya nggak ada genre pujian, apalagi bersayap. Memuji itu hanya sebuah speech function.

Menempatkan pujian bersayap sebagai tujuan komunikatif sebuah genre semakin jelas karena ada rumusan ‘fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dll.

Stratifikasi dilanggar habis! Campur aduk antar stratum: genre (culture), discourse semantic (speech function), lexicogrammar dan phonology… semua dibabat habis dalam satu stratum!

Konsep2 dalam rumusan harusnya mencerminkan hubungan2 yg setara, yang hierarkis dsb, tidak hantam kromo seperti ini. 😦

Teman2 guru, semoga penjelasan berikut membantu menjelaskan hubungan antar konsep yg ada di KD.

Genre itu ibarat sebuah rumah yg dibangun dengan tujuan tertentu, bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi dengan gaya tertentu. Misalnya, kita mengenal rumah Joglo, rumah Padang atau rumah Papua. Untuk mewujudkan rumah tertentu dengan sukses dibutuhkan material tertentu. Material joglo tidak sama dengan material untuk rumah Padang.

Rumah ini sama dengan genre yg memiliki communicative purpose. Ketika rumah ini sudah jadi, maka bangunan ini menjadi fungsional. Sama dengan komunikasi atau penciptaan teks; ketika teks tercipta, pada saat itulah bahasa menjadi fungsional, misalnya, teks ini berfungsi untuk mendeskripsikan.

Untuk mendeskripsikan, dibutuhkan struktur kalimat seperti the simple present tense dan material lain. Tetapi perlu diingat, meskipun siswa sangat pandai dalam grammar, grammar itu belum berfungsi sebelum digunakan dalam teks (komunikasi). Sama dengan daun pintu. Seindah apa pun sebuah daun pintu, barang ini tidak memiliki fungsi sebelum menjadi bagian dari sebuah rumah.

Sebuah genre menegaskan communicative purpose / social function sebuah peristiwa komunikasi. Genre inilah yg menentukan grammar, vocabulary, collocation, conjunctions, jenis verbs yang perlu diajarkan secara terintegrasi demi membangun ‘rumah’ genre sehingga semua hal yg diajarkan memiliki fungsi (setelah bersatu dalam teks).

Mungkin ini bisa manjewab pertanyaan mengapa banyak siswa yang mendapat nilai bagus dalam ujian grammar atau vocabulary, tetapi ketika harus menulis atau berpidato seringkali macet. Ini sama dengan material rumah yang serba bermutu – tile marmer, pintu ukir, genteng keramik – tetapi kalau tidak ada yang menyatukan mereka tetap tidak fungsional.

Lalu apa yang menyatukan? Diperlukan cohesive devices, seperti references, ellipses, conjunctions dll., serta perangkat yang membangun keherensi, misalnya struktur teks atau teknik untuk maintaining the flow of information. Urusan ‘merekatkan’ inilah yang disebut discourse competence alias kompetensi berwacana. Inilah inti dari communicative competence yg dicanangkan oleh Del Hymes.

Maka, ketika mengajar bahasa, guru perlu tahu tujuan komunikatif apa saja atau genre apa saja yang akan dicapai. Dengan demikian, pada akhir sebuah unit bahasan guru bisa merefleksi apakah pengajarannya berhasil. Misalnya, siswa boleh saja mendapat nilai tes the present tense yg bagus, tetapi sebelum siswa mampu mendeskripsikan, siswa tersebut belum mampu berkomunikasi.

Singkat kata, komunikasi terjadi pada tataran teks / discourse / genre. Dengan genre-based approach siswa didorong untuk ‘naik’ dari tataran kalimat ke tataran teks karena komunikasi terjadi di tataran ini.

Semoga bisa membantu.
Pada kuliah umum di PPS Undip 6 hari yg lalu ada yg bertanya, “Bu, bagaimana menerapkan genre-based approach (GBA) di SMK?”

Jika mengembangkan program untuk SMK, tentunya kita melakukan need analysis dengan bertanya: communicative events apa saja yang sangat ungkin dihadapi lulusan SMK? Kemudian kita tentukan genrenya.

Misalnya, semua siswa SMK pasti akan berurusan dengan teks prosedur karena mereka akan berurusan dengan manual (mesin, kertukangan, alat masak dll.) Maka teks procedure dipilih. Setelah itu kita lihat jurusan mereka. Kalau SMK pertanian, maka topik2nya adalah pertanian; ini melibatkan a set of vocabulary yang spesifik. Kalau SMK tourism, vocabularynya juga menyesuaikan.

Contoh lain: apakah SMK butuh exposition? Menurut saya butuh. Exposition adalah teks persuasif yg bertujuan meyakinkan orang. Lulusan SMK perlu pandai membuat iklan untuk memasarkan produknya kelak. Maka, keterampilan membuat iklan yg efektif diperlukan. Topik bahasannya menyesuaikan dengan program SMK yg mereka ambil.

Singkatnya, sekolah apa pun yg kita ajar kita senantiasa perlu sadar akan communicative events yg potensial mereka hadapi baik selama sekolah maupun kelak setelah lulus. Communicative events inilah yg menentukan pilihan genre yg kita kembangkan.

Lalu berapa genre yg kita kenalkan? Sebaiknya yang dasar2 saja karena alokasi waktu di sekolah sungguh terbatas. Dalam keterbatasan inilah kita perlu membuat keputusan strategis.

Seri Pembelajaranku: BELAJAR BAHAS INGGRIS DENGAN MENGGAMBAR (2)

A picture is worth a thousand words. Pepatah itu mungkin sangat cocok untuk menggambarkan pembelajaran pagi ini. Goresan-goresan tinta pada sobekan buku tulis siswa memberi spectrum pembelajaran yang lain. Permainan ini tidak saja berasa baru bagi siswa, namun juga bagi penulis. Ditengah labil pembelajaran yang sangat monoton dan cenderung menjurus pada salah satu gaya belajar/mengajar, siswa mendapatkan cara belajar yang lebih ramah otak. Dikatakan ramah otak karena siswa tidak hanya diajarai seabrek pengetahuan melalui hapalan semata. Siswa diajak untuk berimajinasi dan melakukan rekonstruksi pembelajarannya sendiri. Baca lebih lanjut

The Importance of Warming Up Students

The Importance of Warming Up Students

Written by Chris Cotter
The warm up of a lesson often receives less attention than it should. Teachers spend a lot of time preparing explanations and worksheets to introduce and practice the target language, for example. They then enter the classroom unprepared for the first five or ten minutes. “Let’s do something fun” usually constitutes all the planning that goes into this stage of the lesson. Planning then gets done on the way to the classroom, with the teacher pulling a game out of his bag of tricks.

Every teacher with more than one month’s experience is guilty, including myself. But a well-planned, effective warm up offers more towards the lesson than just a bit of fun.

Because it’s the first activity of the lesson, the warm up sets the tone for the next ninety minutes. An activity that students find too difficult, or even confusing, results in a class of disinterested zombies. Similarly, a writing-based activity won’t get the students communicating. This then translates into a quiet class session in which you have to prod and push the students to volunteer examples or simple answers.

A fun warm up, on the other hand, raises energy levels. Fun activities also produce relaxed, less inhibited students. With the right warm up, you’ll have created a positive atmosphere to practice and experiment with the language.

The warm up gets students into “English mode.” If you teach EFL in China or Japan, the lesson may represent the only chance for students to use the language. In other words, they might not have spoken English since the last session, be that two days, one week, or one month ago. Even if your students encounter and use English every day, it still takes some time to prepare for the intensive ninety minutes of classroom time.

To fully get into “English mode,” as I like to call it, a warm up should last about ten minutes. I’m assuming your lessons meet for ninety minutes, so a sixty minute session can shave a few minutes from this figure. Without enough time to get warmed up, though, students will continue to make mistakes during the early stages of the lesson – important time needed to present and drill the new material. Students may be slow to understand, too, again because those wheels aren’t turning yet. As a final comment, if the warm up takes too long, say fifteen minutes, then valuable time gets lost from the main focus of the lesson. Students have less time to acquire the new material.

An effective warm up serves as a springboard into the topic or target language of the lesson. If the lesson focuses on how to make hotel reservations, then a few lower-intermediate questions will get everyone thinking about the topic. The warm up activates already held information, in this case about hotels and hotel reservations. There’s the chance, too, that students may even inadvertently produce some of the key language, which you can make note of and use to present the target material.

A conversation-based warm up between the students allows you to sit back, observe, and assess everyone’s ability. Assessment proves especially important if you see different faces each session. But even a class with regular attendance will catch students on good and bad days. Let’s say everyone is a bit tired and unfocused, in which case you’ll have to scale back the lesson objective. On the other hand, you may have to expand the scope if everyone uses the target language correctly from the get-go.

You can also assess who will partner well together, and who won’t. Strong students may not want to work with weak students, or a middle-aged housewife may feel most comfortable with a woman her age. Although you won’t be able to fully determine abilities or personalities for later pair and group work, assessment here will signal any potential problems or conflicts at the very least.

Here are some final comments about warm ups:

Don’t correct the students. Assistance is fine, especially if some people have difficulty participating in the activity. But remember: your students still aren’t in thinking in English, so they’ll make mistakes even with familiar material. If you have ever studied a foreign language, do you remember how far into the conversation you began to feel comfortable? Which point is easier, the first few exchanges in a conversation, or five minutes into it? For more information about correction, read:

ESL Article: Correction and Feedback: Four Ways to Handle Mistakes
ESL Article: Correction and Feedback: Mistakes, Errors, and Correction
In addition, correction not only interrupts the flow of the activity, it also generates a teacher-centered lesson. As mentioned, the warm up sets the tone for the next ninety minutes. If you participate in the activity, especially in a small-sized class, it turns the focus towards you, too.

To offer an example, in a class of two, you first talk to a student one-on-one for a few minutes, then do the same with the second student. In so doing, you’ve established yourself as a participant rather than a guide. The students won’t be as quick to volunteer information or participate in conversations unless you initiate and run them. This steals valuable talk time from the students, and creates more hesitant speakers inside and outside the classroom. Compare an activity in which you write three questions on the board, and instruct the students to pair up and sustain the conversation for at least five minutes. Always strive for an atmosphere in which the students take responsibility for the language they produce. I often use the following to measure my involvement in the class: If the students are in the middle of an activity when I write info on the board for the next step of the lesson, no one even notices until the activity begins to wind down.

Because the warm up opens the class session, it sets the atmosphere and expectations of the lesson. It also allows you important assessment opportunities, which will later determine the type of activities, who will partner with whom, and the scope of the lesson. Always give equal consideration to the warm up as to other steps of the lesson. The result will be a more focused and positive group of students performing to your expectations.

Retrieved from:http://www.headsupenglish.com/index.php/esl-articles/esl-lesson-structure/307-warming-up-students

Curriculum revamps: More smoke, mirrors

Curriculum revamps: More smoke, mirrors
Setiono Sugiharto, Jakarta | Opinion | Sat, November 24 2012, 9:26 AM
A- A A+
Paper Edition | Page: 7

For most laymen and pundits alike, the Education and Culture Ministry’s policy to scrap both English and science from the national curriculum is quite mind-boggling. Under the initial pretext of a curricular load burdening students’ cognitive capacity, the ministry, albeit without clear logic, deleted these two subjects while maintaining Indonesian language, Pancasila state ideology, religion, math and civic education as compulsory subjects to be taught to students throughout their school years.

Despite the public’s outcry lambasting the obliteration of English and science, the education ministry has turned a deaf ear to this disapproval and has instead deliberated a new curriculum with the title, Kurikulum Perekat Kesatuan Bangsa (National Unity Curriculum), in a move to replace the currently implemented Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (School-based Curriculum).

The shift to this new curriculum, as its name suggests, has been motivated primarily by our social milieu, which is often marred with such social ailments as street brawls, corruption, racial and religious clashes and moral denigration among youngsters.

The purpose of shifting the current curriculum to the new one is oriented toward social reconstruction. This orientation assumes that the behavior of those in society can be shaped, controlled and dictated through formal schooling. This helps explain why such core subjects as Pancasila, religion, and civic education remain intact in the
curriculum.

These subjects have long been believed to be able to instill a positive character among students.

Curriculum reform is indeed necessary, if not crucial, in order to serve as a binding force to help resolve problems in society.

While no one would deny the fact that any curriculum needs to be flexible in line with the dynamics of societal life, the exclusive reliance on one particular orientation at the expense of another will bring out what Eisner and Vallance (in their classic book Conflicting Conceptions of Curriculum, published in 1974) call “curriculum fallacies”.

Certainly, social reconstruction is a useful orientation to consider in any attempt to overhaul a curriculum, as the contents of the curriculum ought to be beneficial to its stakeholders, including society at large. That is, they are expected to reconstruct society for a common good.

To illustrate, through the exposure to religion, for example, students might be expected to refrain from cheating in exams and brawling, as these acts are considered not only forbidden and against religious norms, but sinful as well.

Yet, social reconstruction is purely a necessary, but not a sufficient condition of curriculum reform. A pedagogical orientation also needs to be spelled out, so that suitable methods of teaching, teaching-learning interactions, assessments and teaching materials can be projected beforehand.

For instance, how can civic education be effectively taught to students? How can we ensure that its teaching will yield a positive impact on the lives of students?

What kind of teaching materials will be used so teachers can optimally inculcate a positive character into their students? And finally, how will the cultivation of positive values through civic education be assessed?

Needless to say, under the new curriculum these reflective queries should be addressed from a completely different vantage point; simply replicating (I dare say it will happen) what has been addressed in the previous curriculum will only add more smoke and mirrors.

In addition, an orientation to educational politics needs to be considered. At the outset, we have to acknowledge that educational activities are always political and full of vested interests. They are not neutral and value-free. Likewise, decisions made to maintain certain school subjects and scrap others as part of curriculum reform are politically-loaded.

Looked at in this way, an orientation to educational politics is important because it could provide room for related stakeholders to question and challenge the maintained subjects in the new curriculum by virtue of their historical, political and social conditions.

As there seems to be a growing tendency among our educational practitioners to regard every new curriculum as an axiom and truism, consider that an orientation toward educational politics can avoid “curriculum fallacies”, resulting, according to Eisner and Vallance, from the ambition to one-sidedly judge a curriculum as right and universally applicable to all historical, political and social circumstances to which it relates.

The writer is an associate professor at the Atma Jaya Catholic University, Jakarta.

Taksonomi Bloom : Mengembangkan Strategi Berpikir Berbasis

Taksonomi Bloom : Mengembangkan Strategi Berpikir Berbasis TIK
Submitted by admin on October 11, 2009 – 1:39 pm30 Comments | 21,193
Kajian Teori

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian- sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi (http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_Taxonomy).

Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan. Konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ranah kognitif meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian mentalitas. Ranah afektif meliputi fungsi yang berkaitan dengan sikap dan perasaan. Sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan fungsi manipulatif dan kemampuan fisik.

Ranah kognitif menggolongkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang menggambarkan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir mengekspresikan tahap-tahap kemampuan yang harus siswa kuasai sehingga dapat menunjukan kemampuan mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Mengubah teori ke dalam keterampilan terbaiknya sehinggi dapat menghasilkan sesuatu yang baru sebagai produk inovasi pikirannya. Untuk lebih mudah memahami taksonomi bloom, maka dapat dideskripsikan dalam dua pernyataan di bawah ini:

Memahami sebuah konsep berarti dapat mengingat informasi atau ilmu mengenai konsep itu.
Seseorang tidak akan mampu mengaplikasikan ilmu dan konsep jika tanpa terlebih dahulu memahami isinya
Konsep tersebut mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman serta teknologi. Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis, dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada.

Gambar 1. Diagram Taksonomi Bloom

Setiap kategori dalam Revisi Taksonomi Bloom terdiri dari subkategori yang memiliki kata kunci berupa kata yang berasosiasi dengan kategori tersebut. Kata-kata kunci itu seperti terurai di bawah ini

Mengingat : mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi , menemukan kembali dsb.
Memahami : menafsirkan, meringkas, mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, mebeberkan dsb.
Menerapkan : melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi dsb
Menganalisis : menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan, mengintegrasikan dsb.
Mengevaluasi : menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, mebenarkan, menyalahkan, dsb.
Berkreasi : merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah dsb.
Dalam berbagai aspek dan setelah melalui revisi, taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip didalamnya adalah :

Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu
Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu
Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur atau menilai
Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui
Pentahapan berpikir seperti itu bisa jadi mendapat sanggahan dari sebagian orang. Alasannya, dalam beberapa jenis kegiatan, tidak semua tahap seperti itu diperlukan. Contohnya dalam menciptakan sesuatu tidak harus melalui penatahapan itu. Hal itu kembali pada kreativitas individu. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja. Namun, model pentahapan itu sebenarnya melekat pada setiap proses pembelajaran secara terintegrasi.

Sebagian orang juga menyanggah pembagian pentahapan berpikir seperti itu karena dalam kenyataannya siswa seharusnya berpikir secara holistik. Ketika kemampuan itu dipisah-pisah maka siswa dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali komponen-komponen yang sudah terpisah. Model penciptaaan suatu produk baru atau menyelesaian suatu proyek tertentu lebih baik dalam memberikan tantangan terpadu yang mendorong siswa untuk berpikir secara kritis.

Psikomotorik

Paradigma di masa lalu menjujung tinggi penguasan teoritis, kini menjujung tinggi nilai-nilai pragmatis. Keberhasilan belajar tidak hanya diukur dengan seberapa banyak materi yang dapat siswa kuasai, namun perlu dilanjutkan dengan seberapa terampil siswa menerapkan teori yang dikuasainya. Terampil menerapkan teori menjadi karya menjadi target utama belajar masa kini.

Domain psikomotorik berbeda dengan menerapkan dalam domain kognitif. Dalam pengembangan kognitif menyangkut pengembangan kemampuan berpikir, sedangkan dalam domain psikomotor menurut Simpson, 1972, menyangkut keterampilan gerakan dan kordinasi secara fisik dalam menggunakan keterampilan fisik. Ukuran pengembangan keterampilan fisik adalah kecepatan, ketepatan, jarak, prosedur, atau teknik pelaksanaan. Tingkat penguasaan keterampilan terbagi dalam tujuh kategori, yaitu

Mempersepsikan, yaitu keterampilan menggunakan berbagai isyarat sensor untuk melakukan aktivitas motorik seperti keterampilan menerjemahkan isyarat indra. Kata kunci yang digunakan dalam keterampilan ini ialah memilih, menggambarkan, mendetiksi, membedakan, mengidentifikasi, mengisolasi, dan menghubungkan.
Menyiapkan; meningkatkan kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan suatu tindakan. Kata kunci yang digunakan dalam keteramilan ini ailah; memulai, menyajikan, menerangkan, bergerak, menghasilkan, berkreasi, dan menyatakan.
Menanggapi respon; tahap awal dalam keterampilan belajar yang kompleks adalah keterampilan meniru dan trial and error. Ketepatannya ditentukan latihan. Kata kunci yang digunakan adalah meng-copy, mengikuti jejak, memperbanyak, merespon, dan bereaksi.
Mekanis, adalah tahap peralihan dalam belajar melalui pengembangan kebiasaan dan melakukan gerakan yang didukung dengan keyakinan dan rasa percaya diri. Kata kunci yang digunakan adalah merakit, mengkalibarasi, menbangun konstruksi, membongkar, menampilkan, mengikat, memperbaiki, memanaskan, memanipulasi,mengukur, mencampur, mengorganisasikan, memubuat sketsa.
Mengembangkan respon yang kompleks. Keterampilan direfleksikan dalam gerak yang kompleks. Kemahiran ditunjukkan dengan kinerja yang cepat, akurat, sangat terkoordinasi, dan menggunakan energi minimal. Kategori ini termasuk melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu, dan aksi otomatis. Contoh dalam bermain sepakbola yang menggunakan kata kunci; bertindak cepat, akurat, terkoordinasi.
Adaptasi: Keterampilan yang dikembangkan dengan baik secara individu dapat memodifikasi pola pergerakan sesuai persyaratan khusus. Kata kunci yang digunakan menyesuaikan, menggubah, mengubah, menata kembali, mereorganisasi, merevisi, memvariasikan.
Orisinalitas; membuat gerakan baru sehingga sesuai dengan keadaan tertentu. Pembelajaran menekankan pada pengembangan kreativitas yang berlandaskan keterampilan tinggi. Kata kunci yang digunakan adalah menyusun, membangun, menggabungkan, mengarang, mengkonstruksi, menciptakan, mendesain, memulai, dan membuat.
Untuk mengukur kompetensi siswa dalam ranah psikomotor dapat menggunakan format acuan penilai seperti di bawah ini.

Implementasi Berbasis TIK

Mengimplementasikan TIK dalam belajar bisa dilihat dari domain kognitif maupun psikomotor.D bawah ini terdapat sejumlah batasan pada setiap level berpikir yang akan mendasari sistem pengelolaan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Creating Merumuskan ide baru, produk, atau cara memandang sesuatu.
Evaluating Menetapkan keputusan dari hasil penilaian atau penghitungan atau melalui beberapa tahap pengujian
Analysing Mengurai informasi ke dalam bagian lebih rinci, terkait satu dengan yang lain dan dapat dipahami.
Applying Menerapkan informasi pada siatuasi yang berbeda
Understanding Menjelaskan ide atau konsep
Remembering Mengingat kembali informasi
Mengingat (Remembering)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Menamai file Word, Excell, power point Memberikan kode pada penamaan file
2 Meringkas materi kedalam bentuk bullet pointing Power point, word, Membuat bullet, pointing, colouring mengenai informasi penting
3 Mengidentifikasi web dan nara sumber yang mendukung materi pelajaran Mozilla firefox, internet explorer Membookmarking/ favouriting web atau nara sumber terkait
4 Menceritakan kembali topik diskusi yang ada di situs jejaring sosial Facebook, twitter Mendaftar sebagai anggota di situs jejaring sosial, situs dagang
5 Menjelaskan ulang informasi dari internet Search engine : goolgle, yahoo, msn Melakukan pencarian data melalui search engine (googling)
Memahami (Understanding)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Mengutarakan pendapat atas sebuah berita yang dimuat secara online kompas.com; detik.com; Memberikan komentar singkat dan catatan pada artikel di web
2 Membedakan berbagai dokumen yang dimiliki berdasarkan mata pelajaran Word, excel, powerpoint, Mengklasifikasikan file, website dan bahan ke dalam folder
3 Mendiskusikan topik pelajaran tertentu Forum di internet (www.forumsains.com, /www.indoforum.org, /forum.detik.com) Menyampaikan opini dalam forum internet
4 Menjelaskan ulang materi pelajaran ke dalam blog wordpress.com, blogspot.com, multiply.com Laporan berupa catatan dan tugas harian dalam blog
5 Menerjemahkan materi pelajaran berbahasa asing dari internet Internet, google translate, translation2.paralink.com Materi pelajaran dalam dua bahasa
Mengaplikasikan (Application)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Menguji pemahaman materi pelajaran melalui e-learning Program e-learning Menjalankan sebuah program
2 Mengilustrasikan proses biologi dalam bentuk flow chart Microsoft office vissio, Power point, word Mengaplikasikan beberapa program
3 Mengaplikasikan program excel untuk penyelesaian soal MIPA Excel Memodifikasi aplikasi program
4 Menguji kemampuan daya nalar Web games online; games.co.id, sudoku Memainkan sebuah games online berbasis pendidikan
5 Menyusun fakta-fakta sejarah menjadi sebuah kliping / catatan sejarah online Web, buku sejarah, google, ziddu.com, rapidshare Mengupload materi /informasi ke dalam sebuah web
Menganalisis (Analysing)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Mengintegrasikan data, tabel, grafik dan flow chart ke dalam sebuah artikel Word, excel, visio, blog/web Mengintergrasikan beberapa sumber data ke dalam satu web/blog
2 Menghubungkan topik mata pelajaran yang dipelajari dengan informasi terupdate saat ini Google, yahoo dan search engine lainnya Menetapkan link web yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari
3 Menguraikan biografi tentang tokoh sains terkemuka Google, yahoo, wikipedia Biografi tokoh sains
4 Mereview dan menilai informasi hasil browsing Google, yahoo Memvalidasi ketelitian dan kebenaran data yang berasal dari web
5 Mengorganisir data yang dimiliki sesuai dengan mata pelajaran dan jenis file Web, blog, pdf, mp2, word, excel Mengorganisir data online
Mengevaluasi (Evaluating)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Merekomendasikan web/sumber online sebagai bahan belajar Google, yahoo, web, blog Daftar dan link web yang direkomendasi
2 Mengkritisi sebuah topik yang sedang dibahas Forum diskusi online Mengomentari topic tertentu pada forum diskusi
3 Menilai kelayakan suatu karya untuk ditampilkan ke publik Forum online sekolah, Memoderatori sebuah forum diskusi
4 Memantau kemajuan kolaborasi Web/blog/forum Membangun kolaborasi dan jaringan di situs social
5 Menghitung efisiensi kerja sebuah aplikasi program Excel, e-learning Menguji prosedur kerja sebuah aplikasi program
Menciptakan (creating)

No Kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK Software/fasilitas pendukung Produk
1 Menciptakan aplikasi program sederhana Power point, excel Mengembangkan kreasi dengan power point, Mengembangkan kreasi kreasi dengan excel
2 Menciptakan aplikasi multimedia sederhana Adobe photoshop Mengembangkan animasi sederhana untuk alat peraga belajar
3 Medesain tampilan blog/website pribadi Webhosting gratis (www.rumahweb.com, http://www.000webhost.com, http://www.webs.com ); blog wordpress, blogspot Website / blog pribadi
4 Berkolaborasi menghasilkan suatu karya untuk dipublikasikan secara online Internet, blog, website Mengembangkan kerja sama mengembangkan karya tulis bersama berbasis jaringan internet.
5 Membuat rekaman kegiatan sekolah/ karya dalam bentuk audio (podcasting) Software atau pemutar mp3, perekam audio, Podcast untuk dipublikasikan secara online
6 Merancang web/blog komersial Web, blog Memiliki toko usaha online
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa dalam kosep pendidikan moderen kompetensi siswa dirancang dalam ranah yaitu pengetahuan dan keterampilan.

Hasil belajar siswa berupa kompetensi penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan menerapkan ilmu pengetahuan. Pengetahuan diuji dengan alat ukur berupa soal-soal sebagai perangkat tes dan format acuan penilaian keterampilan dalam melaksanakan kegiatan, dalam proses belajar.