Suneung Bikin Seneng atau Suneup?

Catatan Muhibah
Bagian ke 22

Suneung Bikin Seneng atau Suneup?

Hari Kamis kemarin, ribuan siswa SMA di Korea menjalani ujian masuk perguruan tinggi. Istilah ujian ini disebut Suneung atau College Scolastic Ability Test (CSAT). CSAT serupa dengan SAT di Amerika serikat atau SNMPTN Tulis di Indonesia. CSAT dan SAT Keduanya menguji kemampuan skolastik siswa.Sejauh mana kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang diujikan untuk kemudian digunakan sebagai dasar dalam penentuan jurusan dan perguruan tinggi di Korea Selatan. Nilai test CSAT yang tinggi memungkinkan siswa untuk mendaftar dan di terima di perguruan tinggi papan atas Korea (sky University) semacam Seoul National University, Yonsei University dan sejenisnya). Karenanya kemudian Suneung sangat menentukan masa depan siswa di Korea.
Pelaksanaan Suneung diawalai dengan persiapan panjang dan melelahkan bagi siswa kelas 3 SMA. Tidak saja persiapan akademik yang dilaksanakan di sekolah, namun juga persiapan di luar sekolah. Di luar sekolah, siswa di Korea Selatan sudah terbiasa pergi ke lembaga bimbingan (Hakwon) untuk mendalami mata pelajaran tertentu. Bagi anak SMA, biasanya mereka mengambil 3 (tiga) mata pelajaran utama yang menjadi pilihan yaitu Bahasa Korea, Matematika dan Bahasa Inggris. Disamping ketiga mata pelajaran utama tersebut, bagi mereka yang mengkhususkan diri pada ilmu alam, maka mereka belajar sains dan bagi yang sosial mereka belajar sejarah, geografi atau bahasa asing. Tingkat persaingan yang sangat tinggi dan ekspektasi orang tua yang tinggi terhadap hasil test Suneung, maka test ini menjadi sangat krusial dan berarti bagi orang tua siswa.
Korea Selatan adalah sebuah negara kecil yang mengandalkan ekonominya pada produk bernilai tambah tinggi semacam elektronik, baja, automobil dan produk olahan berbasis IT lainnya. Beberapa perusahaan kelas dunia berasal dari Korea Selatan, untuk sekedar menyebutnya adalah Samsung, LG, Hyundai, Lotte dan sejenisnya. Mereka adalah perusahaan papan atas dan sangat kaya. Kekayaan perusahaan tersebut di dulang dari pundi-pundi keuntungan unit bisnisnya di dalam negeri maupun luar negeri. Mereka adalah para konglomerat besar milik Korea Selatan (Chaebol company). Semua orang menginginkan putra -putrinya dapat berkarier di perusahaan kaya tersebut. Menjadi sangat wajar jika harapan orang tua salah satunya dibentuk dari pendidikan berkualitas anaknya di perguruan tinggi papan atas Korea Selatan.
Sekira tanggal 7 Desember 2018, perolehan skore CSAT akan muncul. Nilai-nilai itulah yang akan digunakan para siswa untuk “melamar” ke perguruan tinggi berdasar capaian nilai. Jikalau nilai mereka tinggi, mimpi mereka untuk belajar di perguruan tinggi papan atas akan terwujud. Siswa akan menjadi sangat bahagia demikian juga dengan orang tua mereka. Usaha mereka banting tulang demi membiayai penddikan anakny aserasa terlunasi oleh prestasi anaknya. Jika sebaliknya, mimpi mereka untuk belajar di perguruan tinggi papan atas akan sirna.Tentu saja, kekecewaan orang tua tidak akan mudah dihapus dan mendalam. Konon, tingkat bunuh diri remaja di Korea selatan sangat;ah tinggi. Sebagai contohnya, OECD melaporkan bahwa angka rerata bunuh diri remaja berusia 10-24 tahun meningkat sebanyak 47 % . Dimana 39 % dari angka bunuh diri tersebut disumbang oleh jatuhnya nilai akademik di sekolah atau gagal di ujian CSAT (suneung).
Tidak bisa dipungkiri jikalau model CSAT telah menggiring pendidikan di SMA Korea berfokus pada pencapaian nilai Suneung. Siswa dipacu sedemikian rupa dengan aneka persiapan agar nilai testnya bisa maksimal. Persiapan di sekolah dipandang tidak mencukupi untuk dapat lolos CSAT, karenanya menjamurlah lembaga-lembaga bimbingan belajar di Korea. Lembaga bimbingan tersebut menawarkan program-program yang kompetitif dan inovatif bagi siswa yang tertarik untuk mendapatkan nilai CSAT yang tinggi. Bahkan seorang kolega guru Korea Selatan berujar bahwa persekolahan banyak kalah langkah dalam membelajarkan anak dibanding lembaga bimbingan tersebut. Menjadi sangat wajar kalau kemudian, biaya bimbingan belajar sangatlag tinggi dan mahal.
Siswa di Korea Selatan, terutama yang menyiapkan diri untuk pelaksanaan Suneung, akan mengisi hari-harinya dengan intensitas belajar yang sangat tinggi. Saya pernah berdialog dengan beberapa siswa kelas 3 terkait persiapan mereka mengikuti Suneung. Banyak diantara mereka harus pulang menjelang dini hari hanya sekedar untuk belajar atau mengikuti kursus di lembaga bimbingan. Sesampainya di sekolah, mereka harus mengikuti pembelajaran hingga pukul 5 sore. Begiti padatnya jam mereka hingga waktu istirahat banyak tersisa. Beban belajar yang tinggi ini sering membuat siswa kehilangan banyak energi hingga tertidur di dalam kelas.
Disatu sisi sistem pendidikan ini telah menempatkan Korea Selatan di papan atas pemerolehan tingkat kualitas pendidikannya berdasarkan PISA dan TIMMS. Namun disisi lain, siswa berjibaku hidup mati dalam rutinitas dan beban belajar yang sangat tinggi. Sebuah sigi yang dilakukan oleh OECD menempatkan siswa korea selatan sebagai sesoranng yang kurang bahagia di dunia (rangking 1 diantara sekian puluh negara yang di survey). Dus, adalah sebuah kebijaksanaan untuk mengambil yang baik dan melepaskan yang jelek dari sistem pendidikan di Korea Selatan. Semoga praksis pembelajaran di sekolah kita tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai raport semata namun yang lebih penting adalah pencapaian nilai dan karakter agung bagi kehidupan. #Bagaimana menurut anda?Seize the day

Iklan

Sekolah Anti Mainstream di Korea Selatan (Learning To Live Together)

Catatan Muhibah
Bagian Ke 21

Sekolah Anti Mainstream di Korea Selatan (Learning To Live Together)

Desa Hongseong terletak di provinsi Chungcheongnam –Do (충청남도). Letak daerah tersebut kira-kira 2,5 jam perjalanan naik bus dari Suwon. Hongseong merupakan daerah pertanian. Letaknya ditengah bukit-bukit yang hijau nan indah. Petak-petak sawah terhampar indah dengan rumah-rumah khas Korea di pinggirnya. Padang rumput menjadi tempat bermain ratusan sapi potong. Pohon-pohon persimmon tumbuh disepanjang jalan menuju perkampungan tersebut. Udara dan angin berhembus sangat segar dari seluruh penjuru desa.
Siang itu, saya bersama 30 manager bagian inovasi sekolah (bujangnim) dari SMA Innovative se Qyonggi-Do melakukan studi tiru di PoolMoo High School. Poolmoo merupakan sekolah anti mainstream di Korea. Didirikan 60 tahun yang lalu, sekolah ini memiliki sejarah dan perkembangan yang sangat panjang. Keberadaan sekolah ini tidak bisa dilepaskan dari komunitas/masyarakat yang ada di sekitarnya. Inilah contoh yang sangat baik bagaimana pillar pendidikan (learning to live together) diejawantahkan dalam kehidupan nyata. Sekolah dan masyarakat terhubung dalam sebuah komunitas yang saling menopang dan bersinergi untuk meraih tujuan-tujuan bersama.
Diawal pendiriannya, Poolmoo hanya memiliki 8 siswa dengan 2 guru. Seiring dengan perkembangan waktu, sekolah ini terus mengalami kemajuannya. Namun demikian, sekolah juga mengalami masa-masa sulit saat pendanaan sangat minim, sedangkan operasional sekolah sangat mahal. Poolmoo adalah sekolah yang didirikan oleh beberapa penduduk yang peduli terhadap keberlangsungan kearifan local dan nilai luhur masyarakat. Sebagai sekolah swasta, mereka mengandalkan pembiayaan sekolah dari donator dan siswa. Hingga tahun 2000 an, mereka tidak mau menerima dana dari pemerintah. Mereka meyakini bahwa masuknya dana pemerintah akan sedikit banyak memudarkan filosofi sekolah yang telah mereka semaikan puluhan tahun.
Guru di Poolmoo tidak menganggap pekerjaan yang dijalaninya sekedar profesi namun lebih dari itu. Membelajarkan anak adalah wujud pengabdian hamba pada tuhannya. Mereka menyemaikan nilai agung dan keabadian kehidupan kepada tunas-tunas bangsa Korea. Kemuliaan inilah yang mendasari kinerja dan pengabdian mereka bagi pendidikan di Poolmoo tiada tara.
Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum yang berlaku di Korea ditujukan untuk membangun kompetisi antar sesamanya. Kondisi ini menjadi masalah tersendiri bagi pengembangan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang berbasis nilai dan kearifan local. Kompetisi tidak saja mengancam keberlangsungan Poolmoo namun juga masyarakat sekitar sebagai penopang kehidupan. Mereka menjadikan kerjasama dan saling membantu sebagai pondasi kehidupannya. Karena bagi Poolmoo, pendidikan adalah proses membelajarkan anak dan juga masyarakat pada saat yang bersamaan.
Pendidikan adalah upaya untuk melestarikan keberlangsungan masyarakat dan semua hal terkait dengan kehidupannya. Pendiri Poolmoo, Lee Chan Gab mengatakan bahwa sekolah yang didirikan dijadikan sebagai sarana untuk merevitalisasi masyarakat melalui pengetahuan (teaching minds), dan juga melalui pendidikan keadaban/kemanusiaan dan kemampuan tertentu. Masih menurut pendiri sekolah, sekolah ini didirikan oleh masyarakat bukan oleh penguasa. Penguasa cenderung menjadikan sekolah sebagai alat untuk melestarikan kekuasaannya.Sekolah ini dibangun oleh masyarakat sebagai pusat menyemai tunas-tunas muda masyarakat dan menjadikan tunas itu sebagai anak dan saudara kita semua.Sekolah berdiri diatas semua golongan dan menjadikan kesetaraan perlakuan sebagai dasar berpijaknya.
Metodologi pembelajaran yang digunakan di Poolmoo dapat dibagi menjadi beberapa bagian, Pertama, Pembelajaran memiliki banyak kegaiatan diantaranya adalah belajar melalui praktik langsung (learning by doing). Siswa belajar dasar-dasar pertanian dengan cara terjun langsung ke lahan pertanian belajar bersama petani dan atau belajar bersama siswa lainnya. Siswa bisa memilih materi yang akan dipelajarinya dan kemudian didiskusikan dengan kelompok belajarnya. Kedua, Mencatat dan presentasi, para siswa akan mencatat pengetahuan baru yang didapat di lapangan dan untuk selanjutnya dipresentasikan di akhir kegiatan. Presentasi hasil belajar di lapangan dilaksanakan bersama para petani untuk memperdalam praksis terbaik yang mereka temukan di lapangan. Ketiga, Kegiatan study ke para ahli dibidang pertukangan dan ekologi tanah. Keempat, studi lapangan ke komunitas pertanian dan berdiskusi banyak hal dengan para ketua dan petani lokal untuk menemukan pengetahuan dan praktik terbaik dalam area tertentu. Kelima, memulai bisnis dengan terjun langsung ke kelompok usaha yang ada di masyarakat. Berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait tata kelola dan proses produksi dan pasca produksi produk tertentu. Keenam, Studi komunal dan presentasi, kegiatan ini dilaksanakan dengan cara melibatkan siswa dalam sebuah komunitas, mengikuti seluruh aktifitasnya dan menemukan permasalahan yang membutuhkan solusi kreatif darinya. Siswa didorong untuk memberikan solusi atau pemecahan terhadap masalah yang dihadapi oleh komunitast tersebut melalui diskusi mendalam dan presentasi masalah dan solusi. Keenam, Kegiatan pembuatan thesis dan presentasi. Kegiatan ini difokuskan pada ketertarikan individu/siswa pada area tertentu. Dilaksanakan selama satu tahun penuh dan diakhir tahun diadakan presentasi essay dan pengalaman lapangan yang ditemukan. Ketujuh, pembelajaran terkait dengan ranah humaniora meliputi Writing classes terkait kehidupan di pedesaan, studi bahasa dalam masyarakat pedesaan, sejarah, komunikasi, pertanian dan teknologi, dan mata pelajaran lain terkait humaniora yang terhubung langsung dengan kehidupan pedesaan.
Disamping itu , siswa juga terlibat secara aktif dalam program pendidikan pertanian (Tanam padi di bulan Mei dan Panen di bulan Oktober). Studi ekologi dilaksanakan mulai bulan Juni s/d September untuk mengamati biodiversity di ladang padi. Pendidikan hortikultura dilaksanakan sepanjang tahun. Siswa juga berpartisipasi dalam komunitas masyarakat melalui pendirian cafe, merencanakan dan menjlankan kebun komunitas dan juga toko. Siswa tidak hanya belajar ketrampilan bercocok tanam namun juga yang penting mereka belajar bagaima memasarkan dan membuat koperasi. Siswa juga terlibat dalam kegiatan festival dai pedesaan dan juga di perkotaan untuk melatih kemampuan berorganisasinya.
Secara umum, jadawal kegiatan siswa di sekolah dapat dijelaskan sebagaimana berikut: Pelatihan praktis bercocok tanam dilaksanakan pada minggu ke 4 bulan Mei dan Juni serta dua minggu di bulan Oktober. Kemudian, untuk pembelajaran cuaca dan musim dilaksanakan selama 2 pekan di liburan musim gugur dan 3 minggu liburan musim dingin. Sedangkan kegiatan haria mereka disekolah dimulai jam 9 pagi meliputi 3 klas pembelajaran sebelum makan siang dan 5 jam praktik selepas makan siang. Kelas terdiri atas teori dan praktik. Untuk kegiatan praktik dilaksanakan dalam bentuk pemagangan (internship). Secara umum kurikulumnya terdiri atas 60% mata pelajaran humaniora dan 40 % keahlian tertentu. Karena siswa tinggal di asrama, maka kesempatan untuk menanamkan nilai kebersamaan, gotong royong dan nilai pedesaan dengan mudah disemaikan. Sebagais alah satu contoh, dalam kegiatan makan, siswa duduk berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 4 siswa. Dimana, setiap sesi makan, siswa dilarang untuk berkumpul dalam satu grup yang sama anggotanya. Mereka harus berpindah dari satu keompok ke kelompok lainnya. Kegiatan ini ditujukan untuk membangun kebersamaan dan meminimalisir diskriminasi dan semacamnya.
Masyarakat pedesaan yang berada di sekitar sekolah menjadi aset berharga. Dari masyarakat itulah sekolah belajar filosofi pertanian dan kehidupan pedesaan. Sekolah telah menjelma menjadi center of excelent bagi kemajuan dan perkembangan desa, Koperasi desa dulunya diawali dari koperasi siswa. Dari koperasi siswa itulah berkembang kegiatan ekonomi masyarakat yang sangat pesat. Kini, desa tersebut memiliki bank sendiri, supermarket sendiri, pom bensi sendiri dan memiliki perusahan percetakan. Melalui sekolah itu juga, pertanian berkesinambungan dikembangakan. Inilah desa pertama yang mengembangkan pertanian oragnik. Hasil pertanian oragnik menyebabkan peningkatan pendapatan yang sangat luar biasa. Inilah sesungguhnya implementasi pilar pendidikan yaitu Learning to live together.
Sudah selayaknya sekolah tidak tercerabut dari akar filosofinya: masyarakat. Sekolah adalah perwujudan masyarakat mini. Dari sekolahlah seharusnya keberlangsungan hidup dan nilai dikembangbiakkan, bukan justru sebaliknya, sekolah mematikan nilai dan kearifan lokal. Kita butuh banyak sekolah anti mainstream semacam Poolmoo untuk mereduksi filosofi persaingan yang mendara daging di persekolahan kita. Sekolah bukan lagi ajang kompetisi melainkan kerjasama dan saling menopang bagi keberlangsungan kehidupan masyarakatnya. Suwon: 12/11/2018: 10:00#Seize the day

Tukang Macak

Catatan Muhibah
Bagian Ke 18

Berdiskusi Dengan Ibu Wakil Kepala Sekolah
Sore ini, saya diajak mentor untuk berdiskusi dengan wakil kepala sekolah terkait banyak hal. Terutama pendidikan di kedua negara. Perbincangan dan diskusi ringan ini dilaksanakan di ruang pertemuan guru yang letaknya di lantai dua. Ruangan tersebut satu lantai dengan kantor saya (1st grade teacher’s room).
Diskusi ini menjadi menarik karena diajak langsung oleh “Bujangnim” sekolah kami. Oh ya, jabatan wakil kepala sekolah di Korea termasuk jabatan karier yang dipilih oleh dinas pendidikan. Biasanya, setelah jadi wakil kepala sekolah, naik tingkat menjadi kepala sekolah. Ibu wakil kepala sekolah kami ini sebelumnya adalah pengawas sekolah di Suwon. Sekra 3 tahun yang lalu beliau diangkat jadi wakil kepala sekolah.
Ibu wakil kepala sekolah memulai diskusi kami dengan pertanyaan singkat. “Apa bedanya sekolah di Indonesia dengan Korea?”. Saya menarik nafas agak panjang untuk merefresh ingatan selama dua bulan mengajar di sekolah ini (SMA Yulcheon Suwon). Well, terdapat beberapa perbedaan layanan dan kehidupan persekolahan diantara kedua negara. Dari aspek infrastruktur, sekolah Korea jauh lebih lengkap dan shopisticated. Sekolah melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas dan ruangan untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi siswanya.
Fasilitas tersebut meliputi bagian yang terhubung langsung dengan pembelajaran maupun pendukungnya. Sekolah kami ini memiliki lima lantai. Lantai pertama berupa unit perkantoran, perpustakaan dan ruang belajar bagi siswa berkebutuhan khusus. Dilantai 2-4 terdapat ruang kelas 1 dan 2 serta ruang guru kelas 1. Masih di lantai 2, terdapat ruang percetakan, ruang OSIS, ruang masak, ruang istirahat guru cowok (man Lounge), Ruang pengendali perangkat lunak, ruang kelas musik, laboratorium IPA, Laboratorium Bahasa, kamar mandi, locker room dan lounge untuk sisw. Lantai 3 dan 4 juga memiliki ruang yang hampir sama dengan tambahan ruang home economics, broadcasting room, baking room, ruang guru kelas 2 dan lainnya. Demikian juga dengan lantai 4 yang diperuntukkan untuk ruang belajar siswa kelas 3.
Perbedaan kedua adalah terkait ruang guru. Di Indonesia, guru berkumpul dalam satu ruangan besar. Semua guru berkumpul dan berinteraksi dalam ruang tersebut. Dalam banyak, sekolah, ruang guru juga dijadikan sebagai ruang pertemuan dan kegiatan guru lainnya. Namun demikian, di sekolah Korea, guru menempati ruang sesuasi dengan kelas yang diampuhnya. Diamana di sekolah kami terdapat 3 ruang guru kelas dan satu ruang guru utama. Di ruang guru terdapat semua fasilitas pendukung pembelajaran semacam laptop/pc, mesin photo kopi, jaringan internet, kulkas, shredder (alat penghancur kertas), telepone duduk di masing-masing meja guru/ Locker tempat menyimpan barang dan administrasi kelas. telepone duduk digunakan sebagai moda komunikasi guru dengan orang tua siswa. Sering kali saya mendengar suara telepon berdering dan setelah diangkat ternyata berasal dari orang tua wali murid yang konsultasi atau komplain atas layanan sekolah.
Suasana ruang guru sangat sepi dan hanya sepatah dua kata keluar dari para penghuni ruangan. Banyak waktu mereka habiskan di depan laptop ataupun PC yang ada diatas mejanya. Sesekali mereka bersendagurau dan setelah itu kembali kosentrasi dan fokus menatap layar laptopnya. Hampir tiap hari para guru membawa makanan untuk dinikmati bersama sambil “Ngopi”. Ruang guru menjadi ramai saat istirahat pergantian jam,makan siang dan sepulang sekolah. Itulah saat dimana siswa berkonsultasi banyak hal dengan wali kelasnya. Kadang, konsultasi itu berlangsung sangat lama hingga larut malam. Sibuknya mereka bukan untuk mengerjakan administrasi kenaikan pangkat atau pengusulan tunjangan. Sibuknya mereka karena membuat bahan ajar dan bahan bacaan bagi siswanya. Fasilitas yang lengkap di ruang guru menjadikan mereka sangat muda untuk membuat dan menggandakan bahan ajarnya. Mereka bukanlah tipe “book slave” sebagaimana yang banyak kita temukan di persekolahan kita. Kinerja dan kualitas kerja mereka salah satunya bisa dilihat dari bagaimana mereka bekerja dan menyiapkan bahan ajarnya.
Saya mengamati bahwa, secara pedagogis dan profesional (penguasaan keilmuwan), guru Korea disatu sisi sangat mencolok di sisi lain tidak. Pengamatan saya terkait pembelajaran di ruang kelas juga demikian adanya. Perbedaannya tampak sekali dalam hal budaya belajar. Para siswa di Korea memiliki kesadaran belajar dan kemandirian belajar yang lebih baik dari pada siswaku.
Dari sisi prilaku dan karakter keseharian hampir tidak ada perbedaan. Bergurau,, tidur, make up dan pacaran adalah sesuatu yang jamak di persekolahan Korea. Saya menemukan hal yang sama di persekolahan tanah air. Perbedaan mencolok terkait kehidupan para siswa di sekolah diantaranya adalah (1) kebiasaan make up siswi yang berlebihan. Bahkan saat pembelajaranpun mereka melakukan make up dengan aneka kosmetik dan alat kecantikan yang berserakan di meja belajarnya.(2) tidur di kelas, banyak sekali siswa Korea yang tidur di kelas. Ada berbagai penyebab mengapa mereka tidur di kelas dan diantaranya adalah karena belajar hingga larut malam di Hakwon (LBB). Namun juga terdapat beberapa siswa yang bermain game hingga dini hari. (3). Disiplin dalam banyak hal (4) Pembelajar mandiri yang sangat baik. Mungkin, hal mencolok yang membedakan siswa kita dengan siswa kebanyakan Korea adalah semangat dan kemandirian belajar. Sebagian kecil (untuk tidak menyebut banyak) memiliki motivasi dan gairah belajar yang sangat rendah. Sekolah bagi mereka ini adalah wujud dari pelarian tugas rumah atau tanggungjawab lainnya.
Sehingga mereka lebih banyak melakukan kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya secara langsung dengan pembelajaran. Untuk menyebut contoh, misalnya, bermain game, bikin suasana gaduh atau tidur di dalam kelas. (5) Larangan siswa untuk membawa HP ke dalam kelas. Setiap pagi (Jam ke 0), wali kelas akan mengumpulkan semua HP siswa dan dimasukkan ke dalam tas khusus berwarna dongker. HP tersebut akan di simpan di loker khusus yang terletak di ruang guru. Siswa diperbolehkan menggunakan HP saat ada tugas sekolah dan atau membutuhkan HP untuk membantu pembelajaran, atau terdapat hal mendesak yang membutuhkan komunikasi melalui HP. Setelahselesai menggunakan HP, maka dikembalikan kepada wali kelas. Setelah jam terakhir berbunyi, HP dikembalikan kepada pemiliknya. (6) suasana kelas sangat demokratis dan pola hubungan guru siswa sangat erat. (7) Guru Korea sangat sabar dalam menyikapi dan menangani kenakalan dan kesulitan belajar dari siswanya. Kedekatan dan keakraban antara siswa dan guru sangat kentara dari pola komunikasi diantara mereka. Banyak hal yang dikonsultasikan siswa kepada guru/homeroom teachernya. Baik masalah kesulitan belajar, masalah pribadi hingga masalah keluarga. Kedekatan inilah yang menyebabkan pola hubungannya lebih mencair dan terkesan suasananya menjadi santai dan tidak menekan secara phisik dan psikis. Bagaimana dengan persekolahan kita ya? #Yulcheon High School Suwon: 30/10/2018: 09:55[seize the day]

BUKA KELAS DI SEKOLAH KOREA (Exploring our own classroom practice)

Catatan Muhibah
Bagian Ke 17
BUKA KELAS DI SEKOLAH KOREA
(Exploring our own classroom practice)

If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.
Nelson Mandela

Jumat yang dingin dengan suhu 6 derajat celcius. Pagi ini, saya ke sekolah 10 menit lebih lambat dari hari biasanya. Beberapa persiapan mengajar -baik materi maupun bahan- telah disiapkan seminggu lamanya. Persiapan mengajar hari ini harus sebaik mungkin. Tidak saja karena membelajarkan anak harus dipersiapkan dengan matang, namun juga karena agenda sekolah berupa buka kelas.
Open class secara sederhana dimaknai sebagai kegiatan mengajar yang ditonton oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan sekolah. Pihak-pihak dimaksud meliputi orang tua wali murid, komite sekolah, dinas pendidikan, guru sejawat dari sekolah lain, kepala guru dan beberapa orang yang berkepntingan dengan dunia pendidikan. Open class bersifat wajib bagi persekolahan di Korea. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari dengan berbagai kelas yang terlibat. Salah satu kelas yang terlibat dalam program tersebut adalah kelasku. Dalam Program tersebut, saya melakukan pembelajaran kolaboratif dengan guru Sejarah sekolah Korea. Dalam pembelajaran tersebut, guru Korea membuka kelas dengan penjelasan singkat jalur rempah international (The Maritime Spices Routes) dari Eropa maupun Asia.
Dalam kegiatan intinya, siswa saya ajak mengenal beberapa jenis rempah Indonesia dengan terlebih dahulu memutarkan sebuah video tentang 5 rempah termahal di dunia. Setelah menonton video, siswa diperkenalkan pada satu persatu rempah tersebut sambil mengingat namanya dalam bahasa Indonesia. Setelah itu, siswa mengeksplorasi lebih mendalam informasi yang didapat melalui lembar kerja.
Untuk membuat pembelajaran ini lebih autentik dan menyenangkan, siswa ditantang untuk menemukan kandungan rempah yang terdapat dalam makanan (Soto dan Sate). Masing-masing kelompok mendapat satu mangkuk Soto dan beberapa potongan daging sate. Sambil menikmati kedua makanan tersebut, siswa ditantang untuk merasakan aneka rempah yang digunakan dalam masakan tersebut. Dan menyebutkan kandungan rempah tersebut dalam Bahasa Indonesia (semisal Jahe, merica dll). Setelah kegiatan selesai, satu persatu siswa mempresentasikan kandungan rempah di masing-masing makanan khas tersebut. Tr. Han (Guru Sejarah) mengakhiri pembelajaran dengan memberikan feedback berupa selembar kertas. Dalam kertas tersebut siswa diminta untuk memberi penjelasan atas rute rempah tersebut. Pembelajaran yang sangat sederhana namun kaya makna dan memberikan pengalaman autentik kepada siswa.
Disatu sisi, open class adalah perwujudan akuntabilitas sekolah (guru) dalam mengemban amanahnya mencerdaskan tunas bangsa. Disisi lain, ini adalah kegiatan reflektif yang sangat baik bagi peningkatan kualitas dan ketrampilan membelajarkan anak dari para guru. Apa yang kita ajarkan dan belajarkan di kelas seharusnya bisa dipertanggungjawabkan secara moral, akademik dan politis sekaligus. Secara moral, guru memiliki peranan krusial dalam menyemai dan menumbuhkan prilaku baik melalui pembiasaan positif di ruang kelasnya.
Secara akademik, apa yang kita sajikan pada siswa harus sesuai dengan apa yang seharusnya diberikan (kurikulum). Namun demikian, kemampuan seorang guru dalam mengolah dan menterjemahkan ilmu kepada para anak didiknya dengan sangat mudah, menarik dan menyenangkan adalah tantangan besar. Sebagai seorang pendidik, profesi yang kita jalani harus bisa dipertanggungjawabkan kepada pemakai layanan. Terlebih lagi jika kita adalah abdi Negara. Gaji dan aneka tunjangan yang melekat dalam profesi kita adalah tanggungjawab besar yang diberikan dan dipertanggungjawabkan kegiatannya. Karena itu dalam konteks diatas, buka kelas (open class) semestinya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam iklim persekolahan kita.
Open Class meberikan kesempatan bagi kita (guru) untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin terkait praksis pembelajaran yang kita laksanakan selama ini. Pengumpulan informasi ini menjadi sangat penting untuk dijadikan bahan analisis secar mendalam terkait tahapan dan proses pembelajaran yang kita laksanakan. Tahapan-tahapan ini akan membawa semangat dan gairah perubahan dalam banyak hal dan utamanya bagaimana kita membelajarkan siswa. Selama ini kita merasa cukup nyaman (comfort zone) dengan gaya dan kebiasaan mengajar kita. Banyak dari kita yang masih memercayai jikalau mengajar sama dengan belajar. Anggapan inilah yang kemudian menjadikan kegiatan mengajar sangat monoton dan kurang “gila”. Satu metode/teknik digunakan untuk berbagai materi, kondisi dan situasi (one size fits all). Bisa jadi kita bercerita bagaimana kelas kita berjalan dengan sangat baik namun disisi lain kita mengeluhkan prilaku dan daya serap siswa yang rendah. Sebenarnya inilah pertanda awal bahwa kita butuh refleksi. Keluhan terkait pembelajaran di kelas bisa menjadi pelecut perbaikan mengajar namun juga sebaliknya. Keluhan semacam ini jika dicarikan jalan keluar atau diperkaya dengan praktik terbaik dalam area yang sama akan membuka peluang munculnya perbaikan pembelajaran. Namun demikian, tidak sepantasnya keluhan ini dijadikan sebagai excuse atas ketidakmampuan kita membelajarkan anak. Kalau hal tersebut terjadi, maka kita akan dengan sangat mudahnya memperlakukan anak atas dasar persepsi yang dibangun dari keluhan-keluhan tersebut.

Catatan-catatan kecil yang kita buat selama pembelajaran juga bisa dijadikan bahan untuk diskusi dan pemecahan masalah di kelas. Dalam catatan kecil tersebut, kita bisa menggambarkan bagaimana reaksi dan aksi yang kita lakukan di kelas. Aksi dan reaksi memengaruhi bagaimana pembelajaran kita semaikan di kelas. Reaksi yang negatif dan berlebihan akan mendorong kita menjadi impulsif dan diktator. Marah, menghardik anak atau dalam tahap yang lebih parah melakukan corporal punishment. Saya menemukan sebuah panduan yang sangat menarik untuk memulai melakukan tahapan awal refleksi pembelajaran disini (http://www.teachingenglish.org.uk/sites/teacheng/files/teaching_diary.pdf).
Persekolahan kita juga terbiasa melaksanakan open class. Sayangnya, kegiuatan tersebut bersifat tertutup dan hanya kepala sekolah dan tim penilai PKB yang berhak ikut dalam kegiatannya. Membuka peluang bagi sejawat atau praktisi pendidikan untuk terlibat dan melakukan observasi langsung pada pembelajaran kita akan dengan sendirinya memunculkan peluang perubahan pembelajaran.
Setiap akhir semester, misalnya, saya selalu memberikan angket sederhana pada siswa terkait pembelajaran selama satu semester. Terdapat beberapa pertanyaan untuk memancing siswa melaksanakan penilaian pada pembelajaran yang diikutinya. Diantara pertanyaan tersebut adalah (1) bagaimana perasaan anda dalam pembelajaran yang saya ampuh? (2) Apa yang anda senangi dalam kelas Bahasa Inggris? (3)Apa kekuatan pembelajaran yang saya laksanakan?(4) Bagaimana caranya agar pembelajaran bahasa Inggris menarik bagi anda? (5) Tuliskan saran anda terkait pembelajaran di semester mendatang!.
Masukan dari siswa tersebut sangat berarti. Analisis dan refleksi atas feedback yang diberikan siswa tersebut akan mendorong kita menemukan jalan terbaik pembelajaran selanjutnya. Apakah kita akan tetap memaksakan apa yang kita lakukan selama ini atau berani melakukan perubahan dan inovasi yang berbeda. Semua berpulang pada kemamuan kita untuk berubah.
Kegiatan refleksi atas pembelajaran yang kita laksanakan akan mendorong kita uyntuk lebih banyak berfikir. Kegiatan berfikir akan semakin kaya jika kita saling berbagi dengan sejawat atau guru senior yang berpengalaman dan kaya pengetahuan akan area tertentu. Disisi lain, membaca buku pendukung dan praktik baik area sejenis akan menambah spektrum dan wawasan serta ketrampilan membelajarkan anak di kemudian hari. Jangan malu untuk bertanya dan meminta bantuan teman sejawat dalam memperbaiki kualitas pembelajaran kita. Oh ya, saya hampir lupa, dalam kegiatan open class tersebut, saya menggunakan bahasa Korea lebih banyak dari biasanya. Ada proses tunningyang saya inginkan terjadi untuk membangun rapport yang baik. Saya memercayai apa yang dikatan oleh Nelson mandela di atas. Selamat berefleksi dan semoga kita menemukan jalan terbaik dalam mencerdaskan tunas bangsa.#Suwon: 29/10/2018: 10:55 Seize The Day day and 화이팅.

Bertemu Manager Inovasi Sekolah Korea

Catatan Muhibah
Bagian Ke 16

Bertemu Manager Inovasi Sekolah Korea

Siryu Middle School terletak di sebelah timur dan dekat dengan Stasiun kereta api Suwon. Dulunya, sekolah tersebut diperuntukkan bagi kaum hawa (Girls MIddle School). Semenjak enam belas tahun yang lalu berubah menjadi sekolah yang menerima siswa laki-laki dan juga perempuan. Disekolah tersebutlah mentor saya mengajar sebelum dipindah ke Yulcheon High School.
Waktu menunjukkan pukul 16:30 waktu Suwon. Kami bergegas menuju lantai dua bangunan sekolah bertingkat tiga nan besar tersebut. Beberapa guru sudah berkumpul di ruang baca perpustakaan sekolah. Empat guru yang duduknya saling berhadapan asyik menikmati makanan kecil sambil “menyeruput” kopi pahit. Beberapa lainnya sedang membolak-balikkan halaman pada buku baru yang dibagikan ke pada peserta pertemuan sore itu.
Tidak berapa lama kemudian, datanglah peserta silih berganti hingga semua kursi terisi. Terdapat 10 guru dalam pertemuan tersebut. Mereka adalah “Bujangnim”. Bujangnim adalah sebutan untuk ketua atau manager urusan tertentu di sekolah. Kebetulan sore itu adalah pertemuan bulanan para manager bagian inovasi. Terdapat beberapa topik yang dibahas secara bergantian disetiap bulannya. Dari permasalahaan yang ditemukan di dalam kelas hingga isu pendidikan kekinian. Mentor saya merasa sangat betah dan senang berada dalam pertemuan tersebut. Penyebabnya adalah tipe pesertanya yang memiliki pikiran terbuka dan progressive.
Salah satu peserta disisi depan kanan tempat saya duduk memulai diskusi sore itu dengan sebuah pertanyaan pancingan. Dia bertanya kepadaku tentang proses rekruitmen guru di Indonesia. Apakah sama seperti di Korea yang sangat ketat. Sayapun mulai menjelaskan bagaimana pola rekruitmen guru di Indonesia. Kalau kita flash back ke Tahun 2000 an misalnya, rekruitmen guru sekolah lebih banyak terjadi karena by condition dan bukan by design. Saya adalah produk hasil rekruitmen guru by condition. Banyak orang menjadi guru karena kondisi kepepet dan tidak ada pilihan lain pekerjaan. Hingga dengan mudahnya kita mendapati banyak guru berasal dari non kependidikan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Mereka yang sanggup mengajar dan mau mengambil Akta IV maka akan dengan sendirinya diangkat jadi guru (GTT/GTY). Lebih lanjut saya jelaskan pola rekruitmen terbaru yang lebih bagus dengan mensyaratkan guru memiliki sertifikat mengajar. Sertifikat itu di dapat setelah mengikuti pola pendidikan profesi selama kurang lebih setahun bagi fresh graduate. Pola ini akan menjamin mutu guru terkait pedagogik dan keprofesionalannya.
Lebih lanjut, Mereka juga menanyakan tentang kesejahteraan guru di Indonesia. Berapa banyak mereka di gaji dan bagaimana kehidupannya ?. Jika dibandingkan dengan Korea, perbedaaannya bagai langit dan bumi. Rerata guru Korea bergaji sekitar 5 juta won sebulan. Konon take home pay setahunnya bisa mencapai 85 juta won!!!! Angka yang sangat fantastis tentunya jika dibandingkan dengan gaji guru kita. Well, gaji tidak bisa menjadi ukuran utama bukan?. Namun demikian, gaji guru (PNS) di Indonesia sudah masuk pada golongan menengah loh ya? Dan banyak dari guru-guru tersebut yang sudah makmur gemah ripah loh jinawi!
Diskusi kami berlanjut dengan isu-isu kekinian pendidikan. Dari masalah bullying, kenakalan remaja dan atmosfer belajar yang rigid dan kurang menyenangkan sampai motivasi belajar siswa. Pendidikan Korea dan Indonesia memiliki tantangan yang sama dalam pendidikannya. Untuk sekedar menyebut tantangan tersebut adalah rendahnya minat belajar. Minat belajar yang rendah berpengaruh sangat krusial bagi keberhasilan pendidikan seorang siswa. Siswa yang memiliki motivasi rendah cenderung menghindar dari aktifitas pembelajaran. Bentuk menghindar tersebut bisa bermacam-macam, ambil saja contohnya bolos sekolah atau lari dari sekolah. Di Korea, anak-anak yang demikian tidak serta merta dibiarkan saja. Mereka melakukan terapi dan mengadakan kegiatan rekreatif penuh makna untuk menarik semangat dan motiasi belajarnya di sekolah. salah satunya adalah “Baking Class”. Saya mengikuti beberapa kegiatan baking kelas bersama anak-anak yang minat belajarnya sangat rendah. Kegiatannya sangat asyik dan di sela-sela kegiatan tersebut guru pendamping dan guru social welfare bisa membangun raport dan menyisipkan pesan tertentu.
Bagaimana dengan metode pembelajaran di sekolah Korea?. Saya ajukan pertanyaan terkait pendekatan (kalau bisa disebut demikian) saintifik (SA). Inilah salah satu metode/pendekatan yang lagi marak dijalankan di Indonesia. “Saintific approach arayo?” tanyaku pada mereka. Sejenak kemudian, mereka saling menatap dan kemudian menggelengkan kepala masing-masing sebagai pertanda ketidakpahaman akan istilah tersebut. Salah seorang peserta mengejarku dengan pertanyaan mendalam terkait metode tersebut. Alhasil, setelah kuberi gambaran singkat tentangnya, Merekapun manggut-manggut dan merasa takjub akan kehebatan pendidikan kita. “ternyata pendekatan atau metode yang digunakan di Indonesia sangat bagus ya? kata seorang peserta dijawab anggukan serentak peserta lainnya. Gue kata juga apa kan?
Giliran saya untuk bertanya gerangan metode apa yang dipakai atau diterapkan di persekolahan Korea. Dengan agak malu-malu, salah satu guru tersebut berkata ” memorization and memorization’ jawabnya sambil tersipu. Kemudian, dia memberikan tambahan penjelasan jika saat ini pendidikan dituntut lebih kreatif dalam merangsang belajar siswanya. Salah satunya dengan pendekatan kooperatif. Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk memecahkan dan menemukan pengetahuan barunya. Masih menurutnya, dalam kelompok kecil tersebutlah siswa saling berbagi dan berkolaborasi (peerteaching). Di pendidikan Korea, learning Community yang dikembangkan oleh Manabu Sato juga sangat populer. Saya pernah mengikuti satu sesi pelatihan learning community di sekolah tempat saya mengajar. Dan itu sangat menarik dan wajib dieksplorasi lebih jauh sekembalinya ke tanah air.
Saya pernah melakukan observasi sederhana di kelas Bahasa Inggris. Observasi tersebut memberikan saya insight dan fakta yang sangat penting untuk memotret pembelajaran Bahasa Inggris. Potret ini tidak serta merta memberikan gambaran komprehensif terkait pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah secara umum. Namun demikian, membantu dalam melihat lebih dekat praksis pembelajarannya.
Salah satunya adalah Siswa mengambil test kosakata yang disandingkan dengan padanan katanya dalam bahasa Korea. Mereka menyebutnya KONGLISH (KoreaEnglish). Disisi lain, siswa juga ditumbuhkan kecakapan literasinya dengan bacaan bermutu dan berbagai sumber online dan printed. Bacaan tersebut ditopang oleh soal untuk melatih berfikir kritis dan kreatif yang cukup beragam. Kalau di Indonesia, istilahnya, pemberian soal yang HOTS (Higher Order Thinking Skills). Model-model ujian/test Bahasa Inggris di Korea mungkin sedikit berbeda dengan kita. Di Indonesia, soal banyak menguji ranah ingat dan pemahaman dangkal (C1-C2-C3). Biasanya jawaban tersurat dengan jelas dalam bacaan. Di Korea, sebagian besar soal berupa text. Textnya bermacam-macam isu dan content yang disajikan. Beberapa diantara memuat kehidupan sosial kekinian atau sains umum. Beberapa pertanyaan yang mengikuti text sangat mendalam dalam menguji pemahaman dan kreatifitas berfikir dalam memaknai sebuah konteks bacaan.
Saya juga pernah bertanya kepada salah satu guru Bahasa Inggris di sekolah tentang metode yang digunakan. “GTM” (Grammar Translation Method)”, jawabnya singkat. Jawaban kolega guru Korea ini tidak bisa dijadikan ukuran umum terkait pembelajaran Bahasa Inggris. Saya juga pernah berdiskusi dengan salah satu guru SMA di Suwon terkait metode dan pengalaman terbaiknya. Guru tersebut telah sedikit lebih kedepan dalam pembelajaran kreatifnya dibanding kebanyakan guru Bahasa Inggris kita. Penggunaan rangsangan berfikir tingkat tinggi serta penumbuhan kreatifitas dan critical thinking telah ia gunakan dengan berhasil dalam kelasnya. Beberapa bahan ajar dan assessmentnya menunjukkan kondisi tersebut. Salah satunya, Dia menggunakan kerangka the 7 hats thinking-nya De Bono.
Orientasi pendidikan Korea dan Indonesia relatif sama: Lulus Ujian. Capaian terakhir siswa Korea adalah lulus ujian masuk perguruan tinggi (Sunneng). Keberhasilan dia dalam “SUnneng” menjadi ukuran keberhasilan belajarnya an sich. Sedangkan di Indonesia, meski UN bukan penentu kelulusan, tetap saja menjadi tujuan. Jadi kedua negara masih memegang erat Standardized Test!!!
Kalau metodenya hampir sama, mengapa capaian hasil dan mutu pendidikannya berbeda?Ambil contoh, misalnya,hasil dan rangking TIMSS, PISA. Korea masih menduduki peringkat atas, sedangkan Indonesia masih terlalu setia dengan shaf belakang. Pengamatan saya secara singkat menemukan fakta bahwa Pertama, sebagian siswa memiliki kemandirian belajar dan motivasi yang sangat tinggi. Mereka belajar dengan tekun bahkan hingga larut malam. beberapa siswa belajar di perpustakaan hingga larut malam. Sebagian besar lainnya belajar di lembaga bimbingan. Kondisi ini tidak serta merta menunjukkan bahwa tidak ada siswa di Korea yang malas!. Kalau di telisik lebih mendalam terdapat banyak juga siswa yang motivasi belajarnya rendah.
Kedua, Kinerja guru yang baik. Guru di Korea memiliki persiapan mengajar yang sangat baik. Mereka menyiapkan dengan sangat teliti bahan ajar yang akan disampaikan. Melakukan evaluasi secara berkala dan menemukan solusi atas kendala pengajaran yang dilakukannya. Saya merasakan suasana kerja yang tinggi di ruang guru saat bersama mereka. Saat bel berbunyi, mereka segera bergegas menuju kelas dan setelah selesai mereka segera kembali ke kantor. Dalam jeda istirahat 10 setiap pergantian jamnya, mereka melayani konsultasi siswa dan orang tuanya. Jika tidak ada konsultasi, maka mereka menghadap laptop dan mengerjakan persiapan-persiapan pembelajaran selanjutnya. Saya merasakan perbedaan yang sangat mencolok dengan keseharian guru kita.
Ketiga, Disiplin, inilah budaya penting yang menopang keberhasilan pendidikan di Korea. Kedisiplinan itu tertanam semenjak kecil dari pendidikan keluarga. Dan diperkaya dengan pendidikan di sekolah. Kedisiplinan inilah yang menjadi pembeda mencolok dengan kita. Keempat, peranan orang tua dalam memberikan sumbangsi bagi pendidikan anak dan sekolahnya. Orang tua siswa sangat peduli dengan perkembangan dan belajar anaknya di sekolah. Disisi lain, Komite sekolah tidak hanya menjadi stempel sekolah semata, ia menjelma menjadi penjaga dan penopang kualitas pembelajaran dan pernak-pernik kemajuan sekolah. Kelima, HAKWON, hakwon berperan sangat penting dalam pendidikan Korea. Di lembaga pendidikan luar sekolahlah anak mengembangkan kemampuan belajarnya. Konon, Hakwon memiliki strategi yang lebih kreatif dibanding sekolah itu sendiri. Salah satu investasi besar pendidikan warga Korea digunakan untuk mendapat layanan pendidikan tambahan di Hakwon (Lembaga Bimbingan Belajar).
Fenomena diatas dirasa masih belum cukup bagi para guru Korea. Mereka masih merasa pendidikannya perlu banyak pembenahan dan lompatan untuk menjadikannya lebih ideal dimasa mendatang. inilah yang kemudian menjadi konsideran penting para manager inovasi sekolah untuk dicari jalan keluarnya.
Oh ya, hampir di semua kelas, dapat dengan mudah ditemukan siswa yang tertidur pulas. Banyaknya siswa yang tidur saat pembelajaran di kelas, juga menjadi permasalahan pelik di persekolahan Korea. Beban belajar yang berat menjadikan mereka kelelahan dan mengantuk. Sekolah di Korea diharapkan mampu menjadi rumah kedua bagi para siswanya. Di sekolahlah siswa memiliki kesempatan yang sangat luas untuk bersosialisasi dan membangun hubungan sosialnya. Banyak waktu mereka tersitah oleh kegiatan yang sangat padat. Oleh karenanya, pendidikan dan pembelajaran di kelas harus menarik dan bebas dari tekanan apapun.Akhirnya, Beberapa manager tersebut meminta pendapatku terkait minimalisasi kondisi siswa tertidur di dalam kelas. Saya hanya berpesan bahwa pembelajaran yang kreatif dan “gila” akan membangunkan mereka dari tidurnya. Bukankah semacam itu semestinya pembelajaran itu.[Suwon 24/10./2018: 07:59]#Seize The day

Bertemu Manager Inovasi Sekolah Korea

Catatan Muhibah
Bagian Ke 16
 
Bertemu Manager Inovasi Sekolah Korea
 
Siryu Middle School terletak di sebelah timur dan dekat dengan Stasiun kereta api Suwon. Dulunya, sekolah tersebut diperuntukkan bagi kaum hawa (Girls MIddle School). Semenjak enam belas tahun yang lalu berubah menjadi sekolah yang menerima siswa laki-laki dan juga perempuan. Disekolah tersebutlah mentor saya mengajar sebelum dipindah ke Yulcheon High School.
Waktu menunjukkan pukul 16:30 waktu Suwon. Kami bergegas menuju lantai dua bangunan sekolah bertingkat tiga nan besar tersebut. Beberapa guru sudah berkumpul di ruang baca perpustakaan sekolah tersebut. Beberapa diantaranya sedang asyik menikmati makanan kecil sambil “menyeruput” kopi pahit. Beberapa yang lain asyik membolak-balikkan buku baru yang dibagikan ke pada peserta pertemuan sore itu.
Tidak berapa lama kemudian mulailah berdatangan satu persatu peserta pertemuan tersebut hingga semua kursi terisi. Terdapat sekitar 10 guru dalam pertemuan tersebut. Mereka adalah “Bujangnim”. Sebutan untuk ketua atau manager urusan tertentu di sekolah. Kebetulan sore itu adalah pertemuan bulanan para manager bagian inovasi. Terdapat beberapa topik yang dibahas secara bergantian disetiap bulannya. Dari permasalahaan yang ditemukan di dalam kelas hingga isu pendidikan kekinian. Mentor saya merasa sangat betah dan senang berada dalam pertemuan tersebut. Hal ini dikarenakan pikiran terbuka dan pemikiran progressive dari setiap anggotanya.
Salah satu peserta disisi depan memulai diskusi sore itu dengan sebuah pertanyaan pancingan. Dia bertanya kepadaku tentang proses rekruitmen guru di Indonesia. Saya mulai menjelaskan bagaimana pola rekruitmen guru di Indonesia. Tahun 2000 an misalnya, rekruitmen guru sekolah lebih banyak by condition dan bukan by design. Saya adalah produk hasil rekruitmen guru by condition. Hingga dengan mudahnya kita mendapati banyak guru berasal dari non kependidikan di sekolah-sekolah. Mereka yang sanggup mengajar dan mau mengambil Akta IV maka akan dengan sendirinya diangkat jadi guru (GTT/GTY). Mereka juga menanyakan tentang kesejahteraan guru di Indonesia. Jika dibandingkan dengan Korea, gaji guru kedua negara tersebut bagai langit dan bumi. Rerata guru Korea bergaji sekitar 5 juta won. Konon take home pay setahunnya bisa mencapai 85 juta won!!!! Angka yang sangat fantastis tentunya jika dibandingkan dengan gaji guru kita. Well, gaji tidak bisa menjadi ukuran utama bukan?
Diskusi kami berlanjut dengan isu-isu kekinian pendidikan terkait bullying, kenakalan remaja dan atmosfer belajar yang rigid dan kurang menyenangkan. Hingga tibalah diskusi kami pada metode pembelajaran. Saya ajukan pertanyaan terkait pendekatan (kalau bisa disebut demikian) saintifik. “Saintific approach arayo?” tanyaku pada mereka. Sejenak kemudian mereka saling menatap sambil menggelengkan kepala. Mereka tertarik mengetahui lebih jauh dengan memintaku memberi penjelasan singkat. Mereka manggut-manggut dan merasa takjub akan kehebatan pendidikan kita. Saya kemudian balik bertanya kepada mereka terkait metode ataupun pendekatan atau apalah namanya yang mereka gunakan dalam pembelajaran di kelas. Dengan agak malu-malu salah satu guru tersebut berkata ” memorization and memorization’ jawabnya sambil tersipu. Kemudian dia menjelaskan bahwa saat ini pendidikan dituntut lebih kreatif dalam merangsang belajar siswanya. Salah satunya dengan pendekatan kooperatif. Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk memecahkan dan menemukan pengetahuan barunya. Masih menurutnya, dalam kelompok kecil tersebutlah siswa saling berbagi dan berkolaborasi (peerteaching).
Saya pernah melakukan observasi di kelas Bahasa Inggris, dan menemukan fakta yang sama. Siswa mengambil test kosakata yang disandingkan dengan padanan katanya dalam bahasa Korea. Disisi lain, siswa juga ditumbuhkan kecakapan literasinya dengan bacaan bermutu dan berbagai sumber. Bacaan tersebut ditopang oleh soal untuk melatih berfikir kritis dan kreatif yang cukup beragam. Kalau di Indonesia, istilahnya, pemberian soal yang HOTS (Higher Order Thinking Skills).
Orientasi pendidikan Korea dan Indonesia relatif sama: Lulus Ujian. Capaian terakhir siswa Korea adalah lulus ujian masuk perguruan tinggi (Sunneng). Sedangkan di Indonesia, meski UN bukan penentu kelulusan, tetap saja menjadi tujuan. Jadi kedua negara masih memegang erat Standardized Test!!!
Saya juga pernah bertanya kepada salah satu guru Bahasa Inggris di sekolah tentang metode yang di gunakan. “GTM (Grammar Translation Method)”, jawabnya singkat. Jawaban kolega guru Korea ini tidak bisa dijadikan ukuran umum terkait pembelajaran Bahasa Inggris. Saya juga pernah berdiskusi dengan salah satu guru SMA di Suwon terkait metode dan pengalaman terbaiknya. Guru tersebut jauh meninggalkan kita dalam pembelajaran kreatifnya. Penggunaan rangsangan berfikir tingkat tinggi serta penumbuhan kreatifitas dan critical thinking telah ia gunakan dengan berhasil dalam kelasnya. Dia sudah berhasil menggunakan the 7 hat thinking-nya De Bono.
Kalau metodenya hampir sama, mengapa capaian hasil dan mutu pendidikannya berbeda?Ambil contoh, misalnya,hasil PISA. Korea masih menduduki peringkat atas, sedangkan Indonesia masih terlalu setia dengan shaf belakang. Pengamatan saya saya secara singkat menemukan fakta bahwa Pertama, sebagian siswa memiliki kemandirian belajar dan motivasi yang sangat tinggi. Bukan berarti tidak ada siswa di Korea yang malas!. Kalau di telisik lebih mendalam terdapat banyak juga siswa yang motivasi belajarnya rendah. Kedua, Kinerja guru yang baik. Guru di Korea memiliki persiapan mengajar yang sangat baik. Mereka menyiapkan dengan sangat teliti bahan ajar yang akan disampaikan. Ketiga, Disiplin, inilah budaya penting yang menopang keberhasilan pendidikan di Korea. Keempat, peranan orang tua dalam memberikan sumbangsi bagi pendidikan anak dan sekolahnya. Komite sekolah tidak hanya menjadi stempel sekolah semata, ia menjelma menjadi penjaga dan penopang kualitas pembelajaran dan pernak-pernik kemajuan sekolah. Kelima, HAKWON, hakwon berperan sangat penting dalam pendidikan Korea. Di lembaga pendidikan luar sekolahlah anak mengembangkan kemampuan belajarnya. Konon, Hakwon memiliki strategi yang lebih kreatif dibanding sekolah itu sendiri. Salah satu investasi besar pendidikan warga Korea digunakan untuk mendapat layanan pendidikan tambahan di Hakwon (Lembaga Bimbingan Belajar). Fenomena diatas inilah yang kemudian menjadi konsideran penting para manager inovasi sekolah untuk dicari jalan keluarnya. Banyaknya siswa yang tidur saat pembelajaran di kelas, juga menjadi permasalahan pelik di persekolahan Korea. Beberapa manager tersebut meminta pendapatku terkait minimalisasi kondisi siswa di dalam kelas. Saya hanya berpesan bahwa pembelajaran yang kreatif dan “gila” akan membangunkan mereka dari tidurnya. Bukankah semacam itu semestinya pembelajaran itu.[Suwon 24/10./2018: 07:59]#Seize The day

Biaya Pendidikan di Korea

Catatan Muhibah
Bagian ke 15

Biaya Pendidikan di Korea

Selepas sekolah, kemarin petang, saya dijemput salah satu kolega guru dari Imog Middle School. Sekira 3 minggu yang lalu dia berjanji untuk mengundangku makan malam di apartemennya. Tidak saja makan malam, dia juga berjanji untuk bercerita banyak hal tentang kehidupan di apartemen dan Korea.
Imog Middle School adalah sekolah menengah pertama dengan jumlah siswa hampir 900 an. Imog Middle School adalah tempat kerja ke 5 (lima) kolega guru tersebut. Setiap lima tahun, guru dirotasi ke seluruh sekolah dalam satu kota dan 10 tahun kemudian dipindah ke lua kota. Kolega saya ini adalah seorang “Bujangnim”. Bujangnim adalah sebutan untuk pejabat sekolah, semacam manajer kalau di perusahaan. Kebetulan dia menjabat departemen inovasi sekolah. Disekolah tersebut saya mengajar selama dua hari dan sekaligus pertama kalinya saya makan siang di kantin sekolah.
Selama perjalanan, kami banyak berdiskusi tentang pendidikan di kedua negara. Hingga tak terasa kami sudah sampai di apartemennya. Ada satu pemandajgan yang sangat menarikku. Sebuah papan -semacam mading – terletak di sebelah kanan meja makan. Dipojok kiri bawah terdapat semacam rincian biaya. Setelah kuamati lebih mendalam ternyata rincian itu adalah biaya kursus anaknya selama sebulan.
Sudah menjadi hal yang jamak jika siswa pergi ke kursusan atau lembaga pendidikan (hakwon) selepas sekolah. Rata-rata, siswa mengambil 3 mata pelajaran utama yaitu Bahasa Korea, Matematika dan Bahasa Inggris. Kenapa tiga mata pelajaran tersebut. Salah satu jawabannya adalah untuk persiapan mengikuti “suneng”. Suneng adalah capaian terrtinggi persekolahan di Korea an sich. Siswa sekolah lanjutan atas akan berjuang mati-matian untuk lolos test tersebut. Salah satu usahanya adalah mengikuti tambahan pelajaran di hakwon serta belajar hingga larut malam.
Di Korea, biaya hidup sangat tinggi dan demikian juga dengan biaya personal pendidikan. Karena itu ada pemeo yang berkembang di Korea bahwa jika kita punya banyak anak maka kita disebutnya “kaya”. Kaya karena harus morogoh kocek yang cukup besar untuk biaya hidup dan pendidikan. Hanya orang tertentu yang mampu melakukannya dan mereka adalah “horang kaya”. Jadi, kalau di Korea, saya termasuk orang kaya karena memiliki 3 anak yang unyu-unyu.
Bagaimana dengan biaya sekolah. Biaya sekolah untuk pendidikan dasar gratis tis tis. Pemerintah juga memberikan makan siang secara gratis bagi siswa sekolah dasar dan menengah. Konon, mulai tahun depan, pemerintah juga membebaskan biaya seragam. Biaya seragam saat ini tergolong mahal (300.000 won).
Namun demikian, biaya personalnya yang sangat mahal. Salah satunya adalah “hakwon”. Rerata, setiap bulannya orang tua harus mengeluarkan dana sekitar 10 juta untuk biaya kursus tambahan anaknya. Kursus tambahan itu bisa berupa mata pelajaran sekolah atau pengembangan bakat minat semacam beladiri, musik, seni, olahraga dan sejenisnya.
Bagaimana dengan siswa sekolah menengah atas(SMA)?. Siswa sekolah menengah atas di Korea dikenakan biaya operasional. Besaran biaya operasional bervariasi tergantung letak dan kualitas sekolahnya. Di sekolah tempat saya mengajar misalnya, setiap tiga bulan sekali siswa membayar biaya operasional sebesar 400.000 won atau sekitar 5-6 juta. Biaya tersebut belum termasuk pembelian buku dan keperluan personal lainnya. Siswa SMA juga mendapat makan siang secara gratis di kantin sekolah. Sayangnya saya belum pernah makan siang di kantin sekolah loh gaes!!!
Bagaimana dengan biayaBimperguruan tinggi?Biaya pendidikan perguruan tinggi lebih mahal lagi terutama universitas swasta yang masuk “SkyUniversity”. Sky university adalah julykan bagi universitas terbaik di Korea semacam Seoul University atau Yansei University. Seorang kolega lain yang anaknya kuliah mengatakan bahwa Uang kuliah anaknya per semester sebesar 6 juta won. Wouwwwwwww……iso kukut sak bedagge gaes!
Pendidikan berkualitas itu memang mahal gaes, namun demikian siapa yang akan membiayai pendidikan tersebut itulsh pertanyaan penting? Apakah pemerintah atau orang tua sendiri. Jika pemerintah mengambil alih semua pembiayaan tersebut, alangkah indahnya hidup kita kelak, namun jika pemerintah hanya mampu mensubsidi biaya tersebut maka bekerjalah secara giat dan kreatif lagi. Pendidikan adalah harta warisan yang tak ternilai bagi masa depan tunas bangsa. Selamat berakhir pekan ya gaes dan sa#Se ketemu di cuitan selanjutnya#Seize the day ( tulisan ini dibuat diatas subway yang membawa saya dari Hwaseo menuju Nami Island: 20/10/2018:09:48)