The Drunken Teacher

Tiga penutur asli (Native Speaker) sedang berdiri dihadapan seratusan lebih kepala sekolah dan guru SMA/SMK se Jawa Timur. Dihadapan para kepala sekolah dan guru tersebut, mereka bertiga mengupas satu demi satu temuan selama hampir 2 (dua) tahun menjadi asisten guru di beberapa sekolah. Banyak diantara mereka yang merasa betah tinggal dan mengajar di Indonesia. Meski tidak sedikit yang terpaksa pulang kampung ke Amerika karena ketidaknyaman yang ditemukan di sekolah dan lingkungan.

Carissa, misalnya, menceritakan keterkejutannya saat pertama kali menginjakkan kakiknya di sebuah sekolah di Trenggalek. Dia menceritakan betapa terganggunya dirinya saat memasuki sekolah. Alih-alih disambut dengan sopan dan penuh keakraban,  beberapa siswa justru melempar siulan kepadanya. Baginya, apa yang dilakukan segelintir siswa tersebut adalah bentuk penghinaan yang tidak akan pernah dia tolelir. Dus, Keterjutan itulah yang membuatnya merasa terhinakan dan tidak dihargai sama sekali. Emang burung di siulin yak?.

Abraham said, di Amerika terdapat dua kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapapun yaitu Death and Tax!. Bagaimana dengan Negara kita?. Menurutnya, kepastian yang tidak bisa dihindari oleh  pendidik di Indonesia adalah “Administrasi”!. Mengapakah demikian? Karena administrasi adalah salah satu kunci penting sebagai pembuka pintu rejeki bagi seorang pendidik di Indonesia. Mau naik   pangkat harus   menyetorkan administrasi segebok, Mau pencairan TPP juga demikian administrasinya, bahkan mau mulai mengajarpun juga harus menyetorkan administrasi yang segebok itu lagi. Lah kok Abaraham tahu ya? kalau pendidik kita itu mabuk akan beban administrasi? Ya iyalah, wong tiap hari dia nongkrongig pendidik kita yang berjibaku dengan beban administrasi setumpuk.

Keheranan Abraham semakin menyeruak saat menemukan pendidik  banyak mengerjakan dan membawa beban administrasi di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung! Kalau yang ini mungkin aku bangetttttt? (settt, jangan bilang sapa-sapa ya?). Banyak dari pendidik menyadari betapa pentingnya penyelesaian administrasi itu bagi karir dan kesejahteraan yang akan diterimanya. Apapun dikorbankan, termasuk pembelajaran itu sendiri, demi administrasi loh ya. Tetapi masih banyak juga pendidik kita yang tidak memperdulikan administrasi dan asyik dengan pembelajaran di kelas.

           Kondisi diatas mengingatkan saya akan Timothy D Walker dalam bukunya yang berjudul “Teach Like Finland”. Konon, kebiasaannya bekerja di sekolah Amerika terbawa saat mengajar di Finland. Menyelesaikan administrasi saat jam rehat. Aktifitas semacam ini dipandang sebagai sebuah ketidakwajaran oleh pendidik Finland. Seolah-olah tidak ada kesempatan bagi otak untuk istirahat dan refresh dari segala kepenatan rutinitas. Disisi lain, dia melihat pendidik di Finland asyik menyeruput kopi sambil bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak di cafeteria sekolah saat jam rehat tiba. Dia mengira aktifitas semacam itu sebagai bentuk kemalasan dari pendidikk di Finland. Coba tebak apa kira-kira alas an para pendidik Findland melakukan itu saat rehat?  Ternyata pendidik di Finland memahami pentingnya meluangkan waktu beberapa menit untuk istirahat, mengendurkan syaraf dengan sesama pendidik.

Walker menambahkan bahwa dia menemukan dua perbedaan yang sangat mencolok antara pendidikan di Amerika dan Finland. Di Amerika para pendidiknya menggunakan pendekatan mengajar yang lebih cepat, lebih keras, dan lebih focus pada pencapaian. Sedangkan di Finland lebih lambat, lebih lunak dan lebih focus pada kesejanteraan. Kondisi di Amerika tidak berbeda jauh dengan kita di Indonesia. Target kurikulum telah memaksa sebagian besar guru mengajar sesuai target capaian kurikulum yang dibebankan padanya. Ketercapaian kompetensi masih banyak dimaknai parsial karena target kurikulum yang tergapai lebih penting. Kondisi ini mendorong pembelajaran yang kaku dan sedikit keras bahakan dalam taraf tertentu dipaksakan. Alih-alih menikmati pembelajaran, pendidik dan siswa mabuk materi!

Kondisi diatas juga disokong oleh keharusan menyelesaikan beban administrasi yang banyak sekali. Mulai dari administrasi pembelajaran sampai kepegawaian. Terkait administrasi pembelajaran mungkin sudah sewajarnya dibebankan pada pendidik, namun tidak untuk kepegawaian yang banyak menyita waktu dan pikiran. Akhirnya, Andai Dilan seorang pendidik, pasti dia akan menulis sebuah kata mutiara berbalut cinta pada Miliea bahwa “Beban Administrasi seorang pendidik itu berat, kamu tidak akan kuat, biar aku saja yang mengerjakannya”.

 

 

 

 

 

Tiga penutur asli (Native Speaker) sedang berdiri dihadapan seratusan lebih kepala sekolah dan guru SMA/SMK se Jawa Timur. Dihadapan para kepala sekolah dan guru tersebut, mereka bertiga mengupas satu demi satu temuan selama hampir 2 (dua) tahun menjadi asisten guru di beberapa sekolah. Banyak diantara mereka yang merasa betah tinggal dan mengajar di Indonesia. Meski tidak sedikit yang terpaksa pulang kampung ke Amerika karena ketidaknyaman yang ditemukan di sekolah dan lingkungan.

Carissa, misalnya, menceritakan keterkejutannya saat pertama kali menginjakkan kakiknya di sebuah sekolah di Trenggalek. Dia menceritakan betapa terganggunya dirinya saat memasuki sekolah. Alih-alih disambut dengan sopan dan penuh keakraban,  beberapa siswa justru melempar siulan kepadanya. Baginya, apa yang dilakukan segelintir siswa tersebut adalah bentuk penghinaan yang tidak akan pernah dia tolelir. Dus, Keterjutan itulah yang membuatnya merasa terhinakan dan tidak dihargai sama sekali. Emang burung di siulin yak?.

Abraham said, di Amerika terdapat dua kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapapun yaitu Death and Tax!. Bagaimana dengan Negara kita?. Menurutnya, kepastian yang tidak bisa dihindari oleh  pendidik di Indonesia adalah “Administrasi”!. Mengapakah demikian? Karena administrasi adalah salah satu kunci penting sebagai pembuka pintu rejeki bagi seorang pendidik di Indonesia. Mau naik   pangkat harus   menyetorkan administrasi segebok, Mau pencairan TPP juga demikian administrasinya, bahkan mau mulai mengajarpun juga harus menyetorkan administrasi yang segebok itu lagi. Lah kok Abaraham tahu ya? kalau pendidik kita itu mabuk akan beban administrasi? Ya iyalah, wong tiap hari dia nongkrongig pendidik kita yang berjibaku dengan beban administrasi setumpuk.

Keheranan Abraham semakin menyeruak saat menemukan pendidik  banyak mengerjakan dan membawa beban administrasi di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung! Kalau yang ini mungkin aku bangetttttt? (settt, jangan bilang sapa-sapa ya?). Banyak dari pendidik menyadari betapa pentingnya penyelesaian administrasi itu bagi karir dan kesejahteraan yang akan diterimanya. Apapun dikorbankan, termasuk pembelajaran itu sendiri, demi administrasi loh ya. Tetapi masih banyak juga pendidik kita yang tidak memperdulikan administrasi dan asyik dengan pembelajaran di kelas.

           Kondisi diatas mengingatkan saya akan Timothy D Walker dalam bukunya yang berjudul “Teach Like Finland”. Konon, kebiasaannya bekerja di sekolah Amerika terbawa saat mengajar di Finland. Menyelesaikan administrasi saat jam rehat. Aktifitas semacam ini dipandang sebagai sebuah ketidakwajaran oleh pendidik Finland. Seolah-olah tidak ada kesempatan bagi otak untuk istirahat dan refresh dari segala kepenatan rutinitas. Disisi lain, dia melihat pendidik di Finland asyik menyeruput kopi sambil bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak di cafeteria sekolah saat jam rehat tiba. Dia mengira aktifitas semacam itu sebagai bentuk kemalasan dari pendidikk di Finland. Coba tebak apa kira-kira alas an para pendidik Findland melakukan itu saat rehat?  Ternyata pendidik di Finland memahami pentingnya meluangkan waktu beberapa menit untuk istirahat, mengendurkan syaraf dengan sesama pendidik.

Walker menambahkan bahwa dia menemukan dua perbedaan yang sangat mencolok antara pendidikan di Amerika dan Finland. Di Amerika para pendidiknya menggunakan pendekatan mengajar yang lebih cepat, lebih keras, dan lebih focus pada pencapaian. Sedangkan di Finland lebih lambat, lebih lunak dan lebih focus pada kesejanteraan. Kondisi di Amerika tidak berbeda jauh dengan kita di Indonesia. Target kurikulum telah memaksa sebagian besar guru mengajar sesuai target capaian kurikulum yang dibebankan padanya. Ketercapaian kompetensi masih banyak dimaknai parsial karena target kurikulum yang tergapai lebih penting. Kondisi ini mendorong pembelajaran yang kaku dan sedikit keras bahakan dalam taraf tertentu dipaksakan. Alih-alih menikmati pembelajaran, pendidik dan siswa mabuk materi!

Kondisi diatas juga disokong oleh keharusan menyelesaikan beban administrasi yang banyak sekali. Mulai dari administrasi pembelajaran sampai kepegawaian. Terkait administrasi pembelajaran mungkin sudah sewajarnya dibebankan pada pendidik, namun tidak untuk kepegawaian yang banyak menyita waktu dan pikiran. Akhirnya, Andai Dilan seorang pendidik, pasti dia akan menulis sebuah kata mutiara berbalut cinta pada Miliea bahwa “Beban Administrasi seorang pendidik itu berat, kamu tidak akan kuat, biar aku saja yang mengerjakannya”.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s