Senduro: Dwell of Gods

Suara Gemericik yang dihasilkan dari bersentuhnya air dan atap rumah terdengar sayup-sayup dari balik jendela kamar. Kubuka jendela dan kulepas pandangan keluar. Tampak aspal depan penginapan menjadi basah oleh aliran air hujan yang meluncur deras dari atas. Tampak pula deretan bus terparkir rapi. Puluhan orang berbaju putih, bersarung putih dan ber-udeng putih hilir mudik di depan penginapan. Rupanya mereka adalah rombongan para umat Hindu yang akan melaksanakan sembayangan di Pure Mandhara Giri Semeru Agung. Konon, inilah pure terbesar se pulau Jawa.
Dua hari yang lalu, saya memasuki komplek Pure ini. Bangunan berarsitektur Bali berdiri sangat banyak di dalamnya. Bale-bale istirahat berdiri di sisi timur bangunan utama. Terdapat aula yang sangat besar dengan 6 ekor patung gajah. Patung gajah tersebut berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk aula tersebut. Pohon beringin tumbuh mengembang besar di beberapa bagian pure tersebut. Dibagian atas pure tersebut, terdapat komplek sembayangan bagi Umat Hindu. Tangga berundak mengantar kita ke bangunan suci tersebut. Tidak sembarang orang bisa masuk komplek utama pure tersebut. Sebuah plakat terpasang menggantung di pintu besi masuk areal tersebut. “Yang tidak sembayang dilarang masuk”. Akupun hanya bisa mengamatainya dari luar. Sebagaimana tempat ibadah bagi pemeluk agama lainnya, disitulah tempat kita merajut dan bermunajat pada sang pemilik hidup.
Disitu pula kita sering menaruh harapan dan optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Harapan dan optimisme adalah sejoli yang membuat kita dapat berfokus pada keberhasilan. OS.Marden (1850-1924) menyatakan bahwa tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan, dan tidak ada suplemen yang sedemikian kuatnya seperti mengharapkan sesuatu terjadi pada esok hari. Saya juga teringat pada apa yang dikatakan oleh Helen Keller (1880-1968) bahwa optimisme adalah keyakinan yang menunjukkan kita pada kemajuan. Tidak ada prestasi yang bisa diraih tanpa harapan dan kepercayaan diri. Pagi ini saya belajar bagaimana masyarakat bali menjaga ke ajegannya dengan sang pemilik hidup.#Seize the day!
senduro

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s