Guru Alal

Aku masih ingat sebuah tahi lalat menempel bagian kiri tengah kumis tipisnya. Kumisnya baru saja dipotong hingga nampak sangat rapi. Sebagai orang Madura, tentu saja bicaranya cepat dan keras. Suaranya yang keras dan cepat berbanding terbalik dengan tubuhnya yang ramping. Berulang kali dia bilang jikalau tidak begitu mahir menggunakan telepon pintar miliknya. Bahkan untuk menyimpan nomer teleponku, dia harus berulang kali bertanya pintasan mana saja yang harus di sentuh. Emang beda banget dengan generasi millineal macam siswa kita itu ya?
Pagi itu, cuaca sangat dingin. Maklumlah semalam diguyur hujan deras. Genangan air masih terlihat dibeberapa bagian halaman depan sekolah. Saya melihat seorang guru bersendekap menahan dingin di depan pintu masuk kantor sekolah tersebut. Saya mempercepat langkah menuju padanya. Dengan senyum manisnya, dia menjabat tangan dan bertanya tentang kabarku pagi itu. Entah dari mana awal pembicaraan pagi itu hingga mendaki gunung dan melewati lembah. Banyak hal dibahas, banyak pengalaman di dulang.
Dia mulai bercerita masa kecilnya yang sangat berat dan penuh tantangan di pesisir utara Jawa. Terlahir sebagai putra nelayan, kesehariannya tidak bias dilepaskan dari aktifitas melaut. Merajut jarring, mendayung sampan atau menjemur ikan asin. Sewaktu SMA, kesehariannya tidak banyak berubah. Justru semakin berat untuk anak seukurannya. Dia harus berangkat melaut di waktu sore dan pulang menjelang subuh. Tidak banyak kesempatan yang dimilikinya untuk belajar atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah yang diberi oleh gurunya. Aktifitas tersebut berlangsung hingga dia lulus SMA.
Semasa kuliah, meski tidak melaut, dia tetap bekerja. Bukan merajut jala atau menjaring ikan melainkan menemani beberapa anak di sekitar tempat kosnya belajar. Istilahnya dia memberikan les private anak sekolahan. Aktifitas inilah yang memberinya nafas dan hidup di perantauan. Hingga akhirnya dia menyelesaikan diploma 3 Pendidikan Matematikanya. Selepas itu, kehidupannya berubah, saat itu dia telah menjadi seorang pendidik di sebuah sekolah di sisi timur Gunung Semeru.
Saya serasa menemukan sebuah oase untuk memuaskan dahaga pengalaman hidup yang menginspirasi darinya. Saya mencoba mencari tahu mengapa dia tidak kunjung menjadi kepala sekolah. Sebuah karier dambaan pendidik. Dia diam sejenak sambil menghela nafas panjang. Pandangannya menerawang nun jauh kearah gunung semeru yang masih bersembunyi dalik kabut pagi. Ekspresi wajahnya mengguratkan sebuah teka-teki. Wajahnya memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin ia ungkap. Saya semakin penasaran apa sesungguhnya jawabannya. (bersambung part 47)
alal.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s