Devender Rover

(Whiteboard Stories Part 37)
Sosok siswa yang akan diceritakan dalam tulisan ini sangat spesial. Nama lengkapnya Defender Rover F Oghi. Kami biasa memanggil dengan sebutan Fender saja. Dari namanya saja, mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa merek mobil ada di nama yang disematkan pada dirinya. FYI, semua saudara kandungnya menggunakan nama dan merek mobil terkenal semacam Toyota, Roll Royce dan semacamnya. Konon, kecintaan sang ayah akan dunia automotive melahirkan anak-anak berlabel gerobak baja tersebut.
Di sekolah kami, Fender menjadi lebih terkenal dari siapapun, termasuk gurunya sendiri. Apapun kegiatan dan acaranya, Fender lah sosok dibaliknya. Kondisi Fender di sekolah kami layaknya branding iklan Teh Sosro: apapun makanannya, minumnay teh Sosro!.
Fender adalah salah satu generasi Millenial. Fender juga tidak bisa jauh dari gadget (gawai) dan aktif di media social, menyukai game. Hidupnya normal sebagaimana sohibnya di sekolah. Perbedaan diantara Fender dengan sohibnya di sekolah terletak pada jiwa social dan kesukarelawanannya.
Kegiatan di sekolahnya melebihi siapapun dari warga di sekolah. Hadirnya di sekolah tidak saja menuntut ilmu tetapi juga memastikan semua kegiatan di sekolah berjalan dengan baik. Disaat siswa lainya menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, Fender sudah tiba di sekolah. Menyalahkan audio yang biasa digunakan untuk pembiasaan pagi : Menyanyikan lagu Kebangsaan, Mengaji, membaca dan mengumumkan informasi penting.
Disaat siswa lainnya pulang kembali ke rumah, Fender masih di sekolah. Membantu installasi computer atau perbaikan infrastruktur sekolah. Disaat siswa lainya istirahat ke 2, Fender bergegas ke ruang audio untuk menyiapkan Adzan Dhuhur. Mengingatkan siswa muslim untuk melaksanakan kewajibannya.
Fender terlahir sebagai seorang Nasrani, namun kepedulian dan kesukarelawanannya melampaui apapun termasuk agamanya sendiri. Menjadi panitia kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sekolah. Fender juga menjadi salah satu tim pengendali kegiatan Baca Tulis Alqur’an bagi semua siswa sepulang sekolah. Melakukan absensi satu persatu siswa yang mengikuti kegiatan baca tulis Al Qur’an dan mencatat seluruh siswa yang berhalangan. Dan semua itu dilakukannya tanpa ada paksaan dan intimidasi apapun dari siapapun. Dia melakukannya dengan tingkat kecintaan yang luar biasa. Kecintaannya pada sekolah dan kegiatannya tak terperikan lagi. Melebihi kecintaan Romeo pada Juliet atau mabuk cintanya Qais (Majnun) pada Laila. Begitulah semestinya kita memaknai hidup ini, tidak saling membenci apalagi merendahkan dan melecehkan orang lain karena baju yang berbeda. Negara ini butuh sosok seperti Fender sebagai perekat tenunan kebangsaan yang mulai memudar. Sekolah dipercaya sebagai pasar kebangsaan sekaligus tempat menenunnya kembali. The best way to not feel hopeless is to get up and do something. Don’t wait for good things to happen to you. If you go out and make some good things happen, you will fill the world with hope, you will fill yourself with hope.” ― Barack Obama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s