BELAJAR DI KELASNYA SEJAWAT

ELAJAR DIKELAS SEJAWAT
Belajar bisa dimana saja, kapan saja dengan siapa saja. Inilah kesempatan luar biasa untuk belajar membelajarkan anak didik di kelas kolega. Menarik, karena kesempatan ini memberi ruang yang sangat luas untuk mengeksplorasi bagaimana guru dari sekolah lain membelajarkan anak didiknya. Menantang, karena praksis pembelajaran yang kita lihat dan amati belum tentu lebih jelek bahkan bisa jadi lebih baik dari yang kita lakukan. Berharga, karena praksis pembelajaran yang kita amati memperkaya dan memupuk ketrampilan membelajarkan anak. Nikmat mana lagi yang aku dustakan!!!
Membaca buku kerja yang harus dimiliki seorang guru serasa menumpuk godam di kepala. Berat dan memberatkan tentunya. Alih-alih menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan penuh kegembiraan, banyak guru yang justru terjebak pada pemenuhan tuntutan administrasi belaka. Bahkan dalam kasus yang lebih serius, mereka lari dari administrasi dan menjadikan kegiatan belajar di kelas sekadar penggugur kewajiban sebagai pendidikan semata.
Aha! Penulis jadi teringat akan sebuah artikel hasil sebuah survey di di Guardian.co.uk beberapa saat lalu. Konon, menurut hasil survey tersebut, 73% responden merasa beban administrasi yang berjibun memengaruhi tingkat kesehatan dan 75 % memengaruhi kesehatan mental mereka. Tak ayal jika hampir separuh responden memutuskan untuk meninggalkan profesi mereka dalam jangka lima tahun setelahnya. Bagaimana dengan guru kita ya? Setali tiga uang kali ya?. Tidak jarang, pemenuhan administrasi dijadikan alasan untuk meninggalakan kelas!!! Lantas….?
Nah, kembali ke kelas, administrasi bagiku penting tetapi lebih penting bagaimana rencana tersebut dapat diekskusi dikelas. Apakah administrasi pembelajaran yang telah dibuat efektif untuk dijalankan di kelas? Atau justru hanya menjadi hiasan pemanis kedinasan semata? Dua pertanyaan tersebutlah yang menjadi piranti penting selanjutnya. Tulisan ini memotret secara detail bagaimana 4 guru dari 4 sekolah berbeda membelajarkan anak didiknya dalam seri 4 tulisan. Selamat menikmati!!!
#Sekolah1
Pagi itu, saya harus menempuh jarak 40 Km untuk sampai sekolah yang dituju. Waktu masih menunjukkan pukul 7:00 WIB. Beberapa siswa bergegas memasuki gerbang sekolah. Bel sudah terdengar sekian detik yang lalu, masih ada beberapa siswa yang tercecer didepan gerbang. Perlahan sepedaku melaju menuju parkiran sekolah. Tengak-tengok kanan kiri sebentar, lalu melaju ke ruang kepala sekolah. Kepala sekolah yang notabene adalah pembina di MGMP kami, bercerita banyak tentang sekolah yang dipimpinnya. Keberhasilan yang telah ia capai serta tantangan ke depannya. Serasa mendapat kuliah umum tentang manajemen persekolahan!.
Masuklah ke kelas dimana saya akan belajar bersama pak Guru A. Membuka kelas dengan mengucap salam dan disambung dengan doa. Sang guru bergegas berdiri di tengah-tengah kelas dan memulai pembelajaran hari itu. Tidak terlalu banyak basa-basi yang dia sampaikan di awal pembelajaran tersebut. Buku oaket yang ada di genggamannya dia gunakan untuk memandu pembelajaran hari itu tentang teks deskriptive. Para siswa membuka buku paket yang telah ditentukan dan mulai menyimak informasi yang ada di buku tersebut.
Dalam kegiatan inti, para siswa membaca kemudian menterjemahkan kata perkata sebelum menjawab pertanyaan yang menyertai bacaan tersebut. Grammar translation method yang banyak dianut oleh guru kita memang tidak benar-benar hilang dalam pembelajaran. Meskipun banyak metode dan pendekatan lain yang ditawarkan, namun Grammar Translation Method masih menjadi pavorit para guru. Hal ini cukup beralasan mengingat pembelajarn ini tidak menuntut banyak kreatifitas, bahkan ketidaksiapan guru membelajarkan anak dapat disikapi dengannya. Metode semacam ini biasanya bergandengan dengan Mechanic drilling. Mengulang kata-kata tertentu hingga para siswa bisa lanacar.
Dalam sesi refleksi, beliau banyak berkeluh kesah tentang pembelajaran di kelasnya. Ada beberapa saran yang bisa saya bagikan pada beliau. Terkait dengan model pembelajaran yang tidak hanya itu-itu sahaja pun juga media yang digunakannya. Keberagaman dan kayanya model dan media yang digunakan akan mendorong proses pembelajaran yang lebih baik. Siswa tidak saja dijejali dengan serangkaian postulat dan fakta, yang lebih penting adalah munculnya gairah untuk menjelajah dan menggunakan pengetahuan yang di dapat dalam konteks yang sesungguhnya.
Secara administratif dan kebanyakan yang terjadi di lapangan, apa yang dibelajarkan di kelas memang bertolak belakang dengan lesson plan yang dibagikan ke saya. Terdapat beberapa penekanan yang kami diskusikan terkait penyusunan RPP, pemilihan model, media dan sintak pembelajarannya. Pemahaman yang mendalam terhadap sintak pembelajaran yang digunakan akan memengaruhi keberhasilan pembelajaran di kelas. Tahapan kegiatan inilah yang sangat penting dalam perencanaan pembelajaran. Permasalahan ke dua adalah penilaian. Penilaian akan sangat efektif jika pembelajarannya juga efektif. Kompetensi yang dicapai akan sangat mudah diukur kemudian. Model dan ragam penilaian sudah bukan jamannnya memakai satu instrumen belaka: tulis/PnP sahaja. Ada banyak insrumen yang bisa digunakan baik untuk menilai/evaluasi pengetahuan maupun ketrampilannya.
Saya menyadari bahwa menilai orang lain memang pekerjaan yang sangat mudah untuk dilaksanakan. Saya menyadari juga bahwa belum tentu apa yang dilakukan oleh teman sejawat tadi lebih jelek daripada penulis. Karenanya, niatan saya adalah untuk belajar, belajar dari berbagai praksis terbaik dari sejawat. Belajar dari keberagaman metode dan model yang dipakai. Setidaknya kesempatan belajar di kelas sejawat dapat menjadi refleksi berarti bagi diri penulis dalam menyuguhkan pembelajaran yang bergizi dan menggembirakan.(berlanjut pada kelas ke 2).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s