Ingraining The Bookworms Through Kenduri Literasi 2016

screenshot_2016-10-22-19-31-19

Kenduri Literasi 2016

15 minutes reading movement at SMAN 1 Glenmore leads students to ingrain they reading habit. 6 days a week they have the positive habit through program so called “KANCAKU”. KANCAKU is stand for Gerakan Baca Buku (Book reading activities). The program design to enable students read and understand books they read. It also provide students with Al Quran an Hadits recitation every Monday, Wednesday and Friday. The students have to read book for 15 minutes in Tuesday and Thursday. On every saturday, the students will listen to an inspirational stories from around the globe. To celebrate the program, the committee launch a program called KENDURI LITERASI 2016.The program is designed to encourage students to read more books and to create more writing product such as article, short story, short film etc.

 

MENYEMAI KESUKARELAWANAN DALAM KETIDAPEDULIAN

20161018_093516

Dua Laskar Kebersihan Sedang OCD (On Cleaning Duty)

 

Ahli psikologi sosial Dr MG Bagus Ani Putra,mengatakan masyarakat yang berorientasi pada nilai materi (Materialistic Value Oriented/MVO), menghargai materi secara berlebihan. Dia mengatakan bahwa MVO telah menggerus nilai-nilai sosial bangsa Indonesia seperti gotong royong, sukarela (tanpa pamrih), dan “gugur gunung” (kerja bersama). Masih menurut dia, bahwa nilai-nilai itu sudah digantikan dengan materi sebagai ukurannya (http://elshinta.com/news/82307/2016/10/09/ahli-psikologi-sebut-mvo-suburkan-praktik-dimas-kanjeng).

Kini, manusia matre  tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Gejala ini juga menyusup ke sekolah. Adagium “Obah Upah” adalah  salah satu contohnya. Sepertinya tidak ada ladang kebaikan yang tidak diukur dengan orientasi materi. Pun juga demikian yang terjadi di benak pendidik kita dewasa ini. Pekerjaan yang semestinya menjadi ladang amal guru justru berbelok arah sekadar menjadi pencapaian target materi semata.

Nilai-nilai kepedulian yang menjadi pondasi dan karakter bangsa ini lambat laun mulai menepi dan menyusut. Rasa kebersamaan dan memiliki atas fasilitas dan kepentingan umumpun sedikit banyak telah tergadai oleh materi. Tidak ayal lagi kalau kemudian berkembang pesat disorientasi sifat sosial kita. Semua bantuan seolah-olah diukur hanya dengan sikap “Wani Piro?!Kalau begitu pantaslah kalu pusing pala berbie!!

 

Sebagai miniatur masyarakat (mini society) sekolah harus menjadi antithesis atas fenomena MVO diatas. Sekolah dan semua entitas yang ada didalamnya harus mampu menenun kembali rajutan-rajutan keelokan sikap dan karakter bangsa kita semacam gotong royong, peduli dan damai. Kalau peran-peran semacam itu tidak mampu disemai, maka nisbilah keberadaan sekolah sebagai salah satu pewaris keberlangsungan kehidupan suatu bangsa.

Kami, di SMANSAMORE terus menyemai dan menumbuhkan kesukarelawan ini sebagai rajutan atas tercerai berainya kekayaan kemanusiaan kita. Kami harus terus tumbuh dan bekerja. Pekerjaan merajut kembali benang kusut bukanlah pekerjaan biasa, ianya pekerjaan mulia. Penuh tantangan dan rintangan,mnamun kami yakin kemauan dan keikhlasan untuk melahirkan Indonesia baru adalah imbalan yang tidak ternilai oleh apapun juga.”Our Character is defined by what we do when we think no one is looking”. Selamat menginspirasi tunas bangsa!!Seize the day (jember/19/10/2016).

KELAS KE DUA

Seri kedua belajar di kelas sejawat dilanjutkan kembali di minggu kedua. Jarak antara sekolah sejawat dengan kediaman penulis lumayan jauh (50 an KM). Dengan bersepeda, tentunya akan sangat mengasyikkan. Terutama saat melintasi ribuan hektar kebun buah naga dan jeruk di sepanjang jalan menuju sekolah tersebut. Keasyikan tersebut semakin melambung karena akan bertemu dengan sejawat yang sudah menyiapkan pembelajaran jauh^jauh hari. Hari selasa yang sangat asyik tentunya.
Jam menunjuk ke angka sembilan. Suasana sekolah sangat lengang,maklum pembelajaran sedang berlangsung. Segera kuayunkan langkah kaki menuju ruang kantor sekolah tersebut. Nampak dari kejauhan petugas keamanan (satpam) berlari kecil menujuku. Kusampaikan maksud kedatangan, dengan cekatan kemudian membawaku keruang kepala sekolah. Diruang kepala sekolah, yang tidak begitu besar tersebut, sudah bercengkrama beberapa guru. Hari itu ada 4 guru yang belajar di kelas sejawat.Teh botol dan gorengan tersaji di meja tamu. Dua guru yang duduk tepat didepan penulis sedang asyik berdiskusi sambil membolak balik dokumen pembelajaran satu persatu. Saya mendengarkan betapa asyiknya mereka berdiskusi seputar K13 dan pembelajaran di kelas. Seorang guru lain datang menghampiri dengan muka lesu berkata bahwa administrasinya masih amburadul, sambil melirik sejawat yang duduk di depannya. Dengan membesarkan hati, seorang teman berkata bahwa administrasi memang penting, namun kemampuan membelajarkan anak secara efektif jauh lebih penting.Yatta! ternyata pemikiran teman tadi sama denganku: yang penting rasanya bung!!!!.
Bel pertanda jam ke 5 akan segera dimulai. Nampak dari kejauhan seorang guru berlari kecil menujuku. Dialah sejawat yang dikelasnya penulis akan belajar bagaimana membelajarkan siswa yang baik. Letak kelas yang kami tuju berada di bagian kanan kantor tersebut:MIA1. Sebagian besar siswa sudah berada di ruang kelas. Beberapa bangku terlihat kosong. Konon sang penunggu sedang berada di kamar kecil dan atau kantin sekolah. Laptop mulai dinyalahkan dan dalam hitungan detik, sang sejawat mulai membuka kelas. Berdoa dan kemudian melakukan proses leading. Beberapa pertanyaan diajukannya terkait pembelajaran sebelumnya. Siswa silih berganti menjawab pertanyaan sang guru. Tidak terasa kegiatan review pembelajaran sebelumnya tersebut memakan waktu 15 menitan.
Sang guru kembali menuju bagian tengah depan kelas tersebut, menampilkan slide. Sepertinya, sang guru telah mempersiapkan pembelajaran dengan matang. Sang guru mulai menampilkan tujuan pembelajaran hari itu. Dia menjelaskan kompetensi apa yang harus dikuasai siswa terkait dengan materi yang akan disampaikannya. Sebagaimana yang kita pahami selama ini, ada akronim yang sangat terkenal terkait pembelajaran yang disingkat OMME. Keempat huruf tersebut mewakili tahapan-tahapan pembelajaran. O adalah objectives atau tujuan pembelajaran. M adalah material atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan. M kedua adalah Media atau alat bantu dalam pembelajaran tersebut dan yang terakhir adalah E (evaluation) penilaian atas keberhasilan pembelajaran.Sekali lagi, sang guru sepertinya telah menyiapkan pembelajarannya hari itu dengan baik.
pada kegiatan inti, guru tersebut mendorong proses pembelajaran aktif dengan berbantuan media yang dia tampilkan. Siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara penuh sudah nampak dalam pembelajarannya.
Terdapat beberapa catatann penting atas pembelajaran yang dilaksanakannya diantaranya (1), guru telah membagi kelompok berdasarkan pertimbangan capaian nilai pengetahuan sebelumnya. Konon, kelompok ini akan bertahan selama 3 bulan, setelahnya dievaluasi dan dipetakan lagi atas dasar capaian nilai terbarunya. (2)Secara administratif semua persyaratan K13 terpenuhi.(3) akhirnya saya bisa mengadopsi dan mendapatkan banyak ilmu dari jalan-jalan selasa pagi ini.Berlanjut ke kelas ke 3#

BELAJAR DI KELASNYA SEJAWAT

ELAJAR DIKELAS SEJAWAT
Belajar bisa dimana saja, kapan saja dengan siapa saja. Inilah kesempatan luar biasa untuk belajar membelajarkan anak didik di kelas kolega. Menarik, karena kesempatan ini memberi ruang yang sangat luas untuk mengeksplorasi bagaimana guru dari sekolah lain membelajarkan anak didiknya. Menantang, karena praksis pembelajaran yang kita lihat dan amati belum tentu lebih jelek bahkan bisa jadi lebih baik dari yang kita lakukan. Berharga, karena praksis pembelajaran yang kita amati memperkaya dan memupuk ketrampilan membelajarkan anak. Nikmat mana lagi yang aku dustakan!!!
Membaca buku kerja yang harus dimiliki seorang guru serasa menumpuk godam di kepala. Berat dan memberatkan tentunya. Alih-alih menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan penuh kegembiraan, banyak guru yang justru terjebak pada pemenuhan tuntutan administrasi belaka. Bahkan dalam kasus yang lebih serius, mereka lari dari administrasi dan menjadikan kegiatan belajar di kelas sekadar penggugur kewajiban sebagai pendidikan semata.
Aha! Penulis jadi teringat akan sebuah artikel hasil sebuah survey di di Guardian.co.uk beberapa saat lalu. Konon, menurut hasil survey tersebut, 73% responden merasa beban administrasi yang berjibun memengaruhi tingkat kesehatan dan 75 % memengaruhi kesehatan mental mereka. Tak ayal jika hampir separuh responden memutuskan untuk meninggalkan profesi mereka dalam jangka lima tahun setelahnya. Bagaimana dengan guru kita ya? Setali tiga uang kali ya?. Tidak jarang, pemenuhan administrasi dijadikan alasan untuk meninggalakan kelas!!! Lantas….?
Nah, kembali ke kelas, administrasi bagiku penting tetapi lebih penting bagaimana rencana tersebut dapat diekskusi dikelas. Apakah administrasi pembelajaran yang telah dibuat efektif untuk dijalankan di kelas? Atau justru hanya menjadi hiasan pemanis kedinasan semata? Dua pertanyaan tersebutlah yang menjadi piranti penting selanjutnya. Tulisan ini memotret secara detail bagaimana 4 guru dari 4 sekolah berbeda membelajarkan anak didiknya dalam seri 4 tulisan. Selamat menikmati!!!
#Sekolah1
Pagi itu, saya harus menempuh jarak 40 Km untuk sampai sekolah yang dituju. Waktu masih menunjukkan pukul 7:00 WIB. Beberapa siswa bergegas memasuki gerbang sekolah. Bel sudah terdengar sekian detik yang lalu, masih ada beberapa siswa yang tercecer didepan gerbang. Perlahan sepedaku melaju menuju parkiran sekolah. Tengak-tengok kanan kiri sebentar, lalu melaju ke ruang kepala sekolah. Kepala sekolah yang notabene adalah pembina di MGMP kami, bercerita banyak tentang sekolah yang dipimpinnya. Keberhasilan yang telah ia capai serta tantangan ke depannya. Serasa mendapat kuliah umum tentang manajemen persekolahan!.
Masuklah ke kelas dimana saya akan belajar bersama pak Guru A. Membuka kelas dengan mengucap salam dan disambung dengan doa. Sang guru bergegas berdiri di tengah-tengah kelas dan memulai pembelajaran hari itu. Tidak terlalu banyak basa-basi yang dia sampaikan di awal pembelajaran tersebut. Buku oaket yang ada di genggamannya dia gunakan untuk memandu pembelajaran hari itu tentang teks deskriptive. Para siswa membuka buku paket yang telah ditentukan dan mulai menyimak informasi yang ada di buku tersebut.
Dalam kegiatan inti, para siswa membaca kemudian menterjemahkan kata perkata sebelum menjawab pertanyaan yang menyertai bacaan tersebut. Grammar translation method yang banyak dianut oleh guru kita memang tidak benar-benar hilang dalam pembelajaran. Meskipun banyak metode dan pendekatan lain yang ditawarkan, namun Grammar Translation Method masih menjadi pavorit para guru. Hal ini cukup beralasan mengingat pembelajarn ini tidak menuntut banyak kreatifitas, bahkan ketidaksiapan guru membelajarkan anak dapat disikapi dengannya. Metode semacam ini biasanya bergandengan dengan Mechanic drilling. Mengulang kata-kata tertentu hingga para siswa bisa lanacar.
Dalam sesi refleksi, beliau banyak berkeluh kesah tentang pembelajaran di kelasnya. Ada beberapa saran yang bisa saya bagikan pada beliau. Terkait dengan model pembelajaran yang tidak hanya itu-itu sahaja pun juga media yang digunakannya. Keberagaman dan kayanya model dan media yang digunakan akan mendorong proses pembelajaran yang lebih baik. Siswa tidak saja dijejali dengan serangkaian postulat dan fakta, yang lebih penting adalah munculnya gairah untuk menjelajah dan menggunakan pengetahuan yang di dapat dalam konteks yang sesungguhnya.
Secara administratif dan kebanyakan yang terjadi di lapangan, apa yang dibelajarkan di kelas memang bertolak belakang dengan lesson plan yang dibagikan ke saya. Terdapat beberapa penekanan yang kami diskusikan terkait penyusunan RPP, pemilihan model, media dan sintak pembelajarannya. Pemahaman yang mendalam terhadap sintak pembelajaran yang digunakan akan memengaruhi keberhasilan pembelajaran di kelas. Tahapan kegiatan inilah yang sangat penting dalam perencanaan pembelajaran. Permasalahan ke dua adalah penilaian. Penilaian akan sangat efektif jika pembelajarannya juga efektif. Kompetensi yang dicapai akan sangat mudah diukur kemudian. Model dan ragam penilaian sudah bukan jamannnya memakai satu instrumen belaka: tulis/PnP sahaja. Ada banyak insrumen yang bisa digunakan baik untuk menilai/evaluasi pengetahuan maupun ketrampilannya.
Saya menyadari bahwa menilai orang lain memang pekerjaan yang sangat mudah untuk dilaksanakan. Saya menyadari juga bahwa belum tentu apa yang dilakukan oleh teman sejawat tadi lebih jelek daripada penulis. Karenanya, niatan saya adalah untuk belajar, belajar dari berbagai praksis terbaik dari sejawat. Belajar dari keberagaman metode dan model yang dipakai. Setidaknya kesempatan belajar di kelas sejawat dapat menjadi refleksi berarti bagi diri penulis dalam menyuguhkan pembelajaran yang bergizi dan menggembirakan.(berlanjut pada kelas ke 2).

KANCAKU

10492270_10207396003274113_4995494669231836179_n

Kegiatan JUMAT BACA: ingraining the bookworms

Terdapat sebuah pemeo yang sangat indah untuk menggambarkan dahsyatnya efek membaca yaitu “Jika engkau bertemu orang cerdas, maka tanyalah buku apa yang telah dibacanya”.  Membaca adalah salah satu kegiatan penting dalam sebuah pembelajaran. Membaca adalah kegiatan positif yang akan mendorong proses akuisisi pengetahuan berlangsung secara berkelanjutan. Membangun budaya baca di sekolah akan mendorong lahirnya generasi-generasi baru yang lebih cerdas, trampil dan berkarakter.

SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi, sebagai salah satu sekolah yang relatif masih muda (berdiri tahun 2001), menghadapi tantangan yang sangat besar dalam pengembangan karakter anak didik. Salah satu tantangan tersebut adalah rendahnya minat baca .  Kegiatan dan atau budaya membaca belum tumbuh secara baik. Hal ini ditandai oleh rendahnya pemahaman mereka atas bahan bacaan diluar materi pembelajaran. Sebuah angket yang penulis sebarkan pada siswa menunjukkan bahwa kurang dari 5 (lima) peserta didik disetiap kelasnya yang membaca buku non pelajaran sejak mereka belajar di sekolah (SD-SMA). Kondisi ini sangat kontraproduktif dengan upaya sekolah menumbuhkan budaya baca di kalangan peserta didik.

Permasalahan rendahanya budaya membaca diatas dipicu karena  beberapa hal. Rendahnya minat baca peserta didik diyakini sebagai pola pengasuhan di rumah yang tidak menumbuhkembangankan literasi sejak kecil. Hal ini menjadi sangat wajar karena sebagian besar (±60 %) orang tua peserta didik berlatar belakang pendidikan sangat rendah (SD dan sederajat). Kondisi ini juga diperburuk oleh tingkat pendapatan mereka yang rata-rata kurang dari Rp.50.000/hari. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh tani dan pekerja lepas di beberapa perkebunan. Sehingga, sangat berat bagi orang tua peserta didik untuk menyediakan buku-buku bacaan di rumahnya.

Permasalahan kedua adalah, kurang memadainya insfrastruktur sekolah untuk mendukung penumbuhan karakter gemar membaca di sekolah. Perpustakaan yang selama ini diharapkan sebagai sumber belajar dan penyedia buku-buku bermutu bagi anak didik kurang berperan besar dalam menghadapi tantangan membaca. Koleksi buku yang sudah jadul (kadaluarsa) diyakini sebagai salah satu penghambat minat baca siswa. Perpustakaan yang semestinya menjadi salah satu pusat belajar siswa berubah fungsi tak ubahnya gudang buku usang.

Permasalahan terakhir, belum adanya inovasi-inovasi baru terkait dengan penumbuhan karakter membaca di sekolah. Selama ini, energi pendidik terkosentrasi pada pembelajaran materi yang diampuhnya. Hal-hal diluar proses belajar tidak mendapatkan tempat dalam aktifitas pembelajarannya. Karenanya, dibutuhkan inovasi untuk menumbuhkan karakter gemar membaca di sekolah. Diharapkan dengan tumbuh kembangnya karakter gemar membaca ini akan menghapus fenomena tragedi nol buku di persekolahan kita.

Berikut ini saya sertakan timelines kegiatan KANCAKU SMANSAMORE

sasisabu