Menu Sahur Itu Bernama Kritikan

WhiteBoarad Story (Part 20)

Menu Sahur Itu Bernama Kritikan

Berceritalah seorang kolega guru kepadaku tentang sebuah pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, sang kolega tercerahkan oleh kritikan seorang wali murid. To make the story short, dimulailah sesi tanya jawab dalam pertemuan wali murid dengan sekolah tersebut. Beberapa wali murid mulai mengangkat tangan. Inilah kesempatan bagi wali murid untuk memuntahan uneg-uneg. Dari sekian pertanyaan yang diajukan, ada satu yang menohok sekaligus bikin “nyesek” banget. Nyesek karena pertanyaannya langsung menghujam ke hati. Siapapun yang menangkap pertanyaan kritisnya pasti akan nyesek juga. Alhasil, mereka yang duduk di depan dibuat diam sejenak dan kemudian menghelanafas panjang.
“Bapak kepala sekolah yang terhormat, kami pada prinsipnya menyanggupiatas semua dana sharing yang dibutuhkan bagi peningkatan kualitas belajar di sekolah”. “Namun demikian, Anak kami sering bercerita jikalau di kelas ada sebagian guru yang mengajarnya “TIDAK ENAK, kurang greget dan miskin inovasi”!!! Ungkap seorang ibu wali murid dengan mimic serius. Lalu sang penanya menjelaskan secara singkat yang dimaksud dengan kata “TIDAK ENAK. Menurutnya, kata tidak enak tersebut merujuk pada cara guru menyampaikan dan mengelolah kelasnya yang rigid, monoton dan miskin kegembiraan”.Akhirnya, anaknya menjadi cepat lelah, bosan dan berhasrat melarikandiri dari ruang-ruang kelas yang tidak menggembirakan belajar semacam ini.
Kontan saja, suasana menjadi hangat, hamper semua wali murid yang hadir pada forum tersebutmengangguk-angguk tanda sepaham dengan penanya.. Seorang ibu dengan suara lantang menanyakan pada kepala sekolah apakah diperkenankan menyebutnama guru dimaksud. Kelihatannya , sang ibu sudah teramat geram dan membuncah rasa kecewanya dengan kondisi yang ada. Dengan sangat bijak sang kepala sekolah menimpali bahwa mereka diperkenankan menyebut nama guru di maksud ,tetapi hanya untuk konsumsi kepala sekolah semata dan tidak dalam forum tersebut. Saya meyakini bahwa sang ibu sudah tidak tahan menerima laporan anaknya atas kenyataan yang ditemui di kelas.Pun, demikian juga yang lainnya.
Namun demikian, sekolah juga menyadari betul bahwa kami memiliki sumberdaya yang beragam dan berbeda antara satu dan yang lainnya. Tidak serta merta keluhan dan kritikani buta didapat dengan mudah dipecahkan.Terlebih lagi terkait dengan kinerja, mind set dan paradigm membelajarkan anak yang selama ini banyak kita salah memahaminya.
Kita sepakat bahwa kesadaran dan keinginan untuk mengubah keadaan yang stagnan ini wajib di dukung. Mau tidak mau sekolah harus berputarbalik (Detour) dalam memecahkan masalah yang berada dalam jalan buntu ini.Mau tidak mau sekolah harus berani mengambil lompatan besar dan berisiko tinggi untuk mengembalikan kepercayaan wali murid kembali. Berisko tinggi karena secara tidak langsung tuntutan ini akan mengusik mereka yang sudahnya mandalam kondisi saat ini (status quo).
Pendidik harus di didorong untuk terus berbenah dan tumbuh seiring dengan tuntutan profesi dan stakeholders/stockholdernya. Pendidik harus berani melakukan kontrak kinerja agar keberhasilannya dapat terukur.
Kondisi ini akan dengan sendirinya melahirkan fenomena tumbuh atau layu. Comfort zone atau learning zone.Kami yang selama ini dininabobokkan oleh fasilitas dan kesejahteraan harus segera dibangunkan dan didorong untuk berlari dan belajar lagi. Jangan biarkan kami terlena dan tafakur dalam kesenyapan ide dan nil aksi di kelas. Kami membutuhkan wali murid yang kritis dan sigap menyambuk setiap waktu, s ebagaimana Jepang memiliki Kyoiku mama dan monster parents yang sangat peduli dan bersimpati atas kemajuan pendidikan bangsanya. Kita membutuhkan mereka semua, agar negeri ini segera bangkit!. Dan pendidikan adalah pintu utama perubahan tersebut.
Kritik membangun sebagaimana ibu tadi sampaikan adalah pelajaran yang sangat berharga. Sekolah harus sering mendapat stimulus dan masukan semacam ini agar segera bangkit dan bangun dari tidur panjangnya. Lebih jauh lagi, Dalam sebuah forum, Prof. JokoSaryono (UM) sempat mencecar beberapa pertanyaanke padaku dan salah satunya adalah tentang inovasi pembelajaran. Saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Salah satu tanda keberhasilan seorang guru dalam membelajarkan siswa adalah inovasi itu sendiri. Dengan melakukan inovasi, seorang guru sejatinya sedang membelajarkan dirinya untuk menjadi pelatuk api belajar siswa. Semakin banyak dan berkualitas inovasi pembelajaran yang dilakukannya, semakin besar kemungkinan pembelajarannya berhasil.S emoga kita terus tumbuh dan menjadipelecut belajar anak didik di manapaun mereka berada. Selamatberinovasi !and Happy Fasting.‪#‎Seize‬ the day.

Foto Heriyanto Nurcahyo.
'@Kumadaino Fusoku Elementary School Japan'
  • Tulis komentar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s