Sang Pejual Es Tong-Tong

Sang Penjual Es Tong-Tong

Es tong-tong, begitu orang menyebutkan. Salah satu kudapan khas pedesaan. Orang kota menyebutnya ice cream. Bunyi tong-tong -yang dihasilkan dari kenongan- adalah media bagi penjual untuk memanggil pembeli. Karenanya, disebut es tong-tong. Setiap bunyi tong-tong terdengar, saat itupula mereka menjajakan dagangannya.
Olahan ini dimasak secara tradisional berbahan santan, tepung dan gula, rasanya tidak kalah dengan ice cream buatan pabrik. Malahan terasa lebih “nendang” segarnya itu. Setiap hari beberapa penjual es tong-tong menjajakan dagangannya dari satu desa ke desa lainnya. Atau dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Harganya yang sangat ekonomis-Rp. 500/contong- tidak membuat kantong siswa sekolah kedodoran. Kalau kita ingin porsi yang lebih “mahal” dengan tambahan susu coklat, mutiara dan taburan roti tawar, cukup merogoh kocek Rp. 1000 saja.
Dulu penjual es tong-tong mejajakan daganganyya dengan sepeda ontel (angin). Kini, sebagian besar menggunakan sepeda motor. Dengan bersepeda motor mobilitasnya lebih cepat dan jarak jelajahnya semakin luas.
Dimana mereka biasa mangkal? Dipinggir pagar dan di depan pintu masuk sekolah atau menyusur satu kampung ke kampung lainnya. Disaat musim panas, es tong-tong banyak diburu orang, tidak hanya anak kecil, melainkan orang dewasa juga. Namun lain halnya jika musim hujan tiba. Hanya sedikit pelanggan yang tetap setia menkonsumsinya. Sehabis olahraga atau saat istirahat pergantian jam.
Kini, penjual es tong-tong bersepeda itu menyisahkan seorang saja. Dia mengayuh sepeda tiap pagi, menyusuri jalanan terjal, menembus desa, dan singgah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Berangkat pagi dan pulang menjelang maghrib. Dia tetap setia dengan sepeda ontel dan es tong-tongnya. Meski pabrikan besar menyerbu desa dengan aneka macam dan rasa icecream. Dia tetap pada keputusannnya menjual es tong-tong. Inilah jerih payah rakyat kecil yang tak tersentuh oleh keberpihakan kebijakan pemerintah. Si penjual es tong-tong tetap mengayuh sepedanya meski baliho dan poster caleg “berlagak” peduli padanya. Dia tetaplah penjual es tong-tong yang berdiri bangga di kaki kemandiriannya sendiri. Bukan peminta-minta, pun juga bukan aktor buruan lembaga rasuah. Tetaplah mengayuh sepedamu pak, karena itu jauh lebih bermakna bagi kehidupanmu dan pendidikan karakter bangsa ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s