Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Rasa Finlandia

Copaste Ma Khrisna Bined

5 Desember 2013 pukul 6:15

Awal Oktober lalu Kemdikbud RI bekerja sama dengan Kedutaan Finlandia mengadakan simposium pendidikan bertajuk “Finnish and Indonesian Lessons”.

Sekjen Kemdikbud menyatakan bahwa acara ini diadakan sebagai tindak lanjut niatan Mendikbud yang pernah berucap ingin belajar dari pencapaian Finlandia dalam bidang pendidikan. Gaung pencapaian Finlandia dalam berbagai pemetaan pendidikan global memang sudah tersebar luas.

Para pakar pendidikan dari Finlandia pun tampil tidak mengecewakan dalam acara simposium tersebut. Pasi Sahlberg, Eero Ropo dan Jaan Palojarvi membebarkan praktik-praktik pendidikan di Finlandia.

Peserta simposium berkali-kali berdecak kagum mendengar paparan mereka tentang jam pelajaran di Finlandia yang tergolong singkat, tidak adanya ujian nasional, jumlah PR yang sangat sedikit serta kurikulum yang bebas diintrepretasi oleh guru.

Tidak hanya praktik-praktik teknis yang mereka jabarkan, namun juga paradigma mendasar yang menjadi ruh tata kelola pendidikan Finlandia. Justru paradigma mendasar inilah yang lebih perlu jadi perhatian kita.

Pendidikan Finlandia, misalnya, percaya bahwa standarisasi adalah musuh utama kreativitas. Oleh karena itu pendidikan Finlandia berusaha mengutamakan keberagaman. Guru pun diberi kepercayaan penuh dalam ikut menentukan jalannya proses pendidikan.

Pendidikan Finlandia tidak berfokus menumbuhan motivasi ekstrinsik, seperti dengan ancaman ujian, namun justru berusaha membangkitkan motivasi intrinsik (hasrat) siswa untuk belajar. Mereka juga percaya bahwa bermain adalah cara belajar terbaik bagi anak, serta membiasakan anak berkolaborasi lebih penting daripada ajari mereka berkompetisi.

Berbagai paradigma mendasar yang diungkapkan oleh para pakar pendidikan Finlandia ini terasa bagai suatu pencerahan barubagi peserta. Nyatanya, pemikiran semacam ini telah sering disuarakan oleh tokoh-tokoh pendidikan bangsa, utamanya Ki Hadjar Dewantara (KHD).

Saat Eero Ropo menyatakan pendidikan Finlandia menghindari fokus pada standarisasi, KHD telah menulis bahwa anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik “mengubah padi menjadi jagung”, atau sebaliknya. [Keluarga, Desember 1936]

KHD juga bicara tentang pendidikan nasional yang tidak selayaknya menyatukan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa disatukan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi. [Pusara, Januari 1940]

Saat Pasi Sahlberg menunjukkan data bahwa kesetaraan (dan bukan keseragaman) berpengaruh besar pada performa pendidikan, KHD telah menyatakan rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatannya. [Pusara, Januari 1940]

Ketika Pasi Sahlberg menutup paparan dengan menyatakan, “Anak harus bermain”, KHD telah menulis panjang lebar tentang pentingnya anak difaslitasi untuk bermain, karena memang demikianlah tuntutan jiwa mereka untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. [MimbarIndonesia, Desember 1948]

Sayangnya paradigma berkebalikanlah yang sering kita dengar terucap dari para penguasa pendidikan kita saat ini.Semangat resentralisasi dan standarisasi pendidikan kental terasa. Alih-alih self-directed learning, justru forced learning yang menjadi penggerak proses pendidikan.

Anak-anak dianggap sebagai pegas yang harus sering ditarik-ulur agar lentur. Pesan agar kita tak permisif memanjakan anak disuarakan terus-menerus untuk melegitimasi Ujian Nasional sebagai “alat rekayasa sosial untuk memaksa anak belajar” serta “penjaga keutuhan bangsa”.

Alih-alih memberikan kepercayaan penuh pada guru dan memampukan mereka memegang kendali atas proses pembelajaran, justru pemerintah meluncurkan kurikulum nasional baru dengan promo, “Guru-guru tinggal melaksanakan saja.”

Sayang pada saat acara simposium “Finnish and Indonesian Lessons” petinggi Kemdikbud hanya memaparkan kebijakan taktis, yaitu sosialisasi ulang Kurikulum 2013 dan Data Pokok Pendidikan.

Sesungguhnya akan lebih bermanfaat bila, seperti pihak Finlandia, Kemdikbud juga memaparkan paradigma mendasar serta cetak biru pendidikan nasional. Paling tidak seharusnya kita bisa mendengar mengapa para penguasa pendidikan kita memilih rute saat ini, yang berkebalikan dari yang dipilih oleh Finlandia dan juga Ki Hadjar Dewantara.

Setengah ironis saat kita diingatkan kembali tentang prinsip-prinsip pendidikan yang telah disuarakan oleh KHD sejak lama justru oleh para pendidik dari seberang dunia. Kegagalan dan kebebalan kita untuk sadar setelah diingatkan akan menjadi pelengkap keironisan.

Inisiatif Kemdikbud mengadakan simposium pendidikan “Finnish-Indonesia Lessons” perlu diapresiasi, namun tindak lanjutnyata perlu terus diingatkan dan dituntut untuk diperjuangkan bersama.

Finlandia memulai reformasi pendidikannya ditahun 1970-an dengan memikirkan ulang paradigma mendasar tentang persekolahan, konsepsi pengetahuan serta konsepsi pembelajaran. Seharusnya kita bisa memulai dari titik yang sama. Bila tidak oleh pemerintah saat ini, maka kita patut berharap pada pemerintah berikutnya. **

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s