10 Ciri Cewek Cabe-Cabean Yang Perlu Kamu Tahu

10 Ciri Cewek Cabe-Cabean Yang Perlu Kamu Tahu

By Terselubung Editor
December 25, 2013
Gaya Hidup

Jika sebelumnya kamu mengetahui soal istilah alay atau jablay, kini ada istilah baru yang tergolong unik dan menggelitik yakni gadis cabe-cabean. Tak ada yang tahu dari mana istilah itu berasal. Hanya saja berkembang luas di jejaring sosial jika gadis cabe-cabean itu merujuk pada gadis belia usia SMP dan SMA yang memiliki pergaulan bebas. Siapa dan Bagaimana Ciri-ciri Cewek Cabe Cabean? Simak info berikut yang dikutip dari rasarab.wordpress.com

1. Behel & BB Untuk Gaya

Kebanyakan gadis yang masuk kategori cabe-cabean itu suka memasang behel di gigi mereka. Alih-alih agar gigi tampak rapi seperti kegunaan behel sebetulnya, mereka memakai behel agar terlihat bergaya karena gadis berbehel dianggap unik dan keren. Lucunya lagi, mereka sering memakai behel ala kadarnya tidak di dokter gigi yang memang menghabiskan biaya cukup mahal.

Selain behel yang kerap kali dipakai gadis cabe-cabean ialah smartphone jenis BlackBerry. Jika di luar negeri para remaja enggan memakai BlackBerry lantaran dianggap tua, di Indonesia tidak. BlackBerry dipakai untuk gaya dan sekedar update status BBM tanpa memahami apa kegunaan asli BlackBerry.

2. Make Up Salah Waktu

Gadis cabe-cabean kerap kali menganggap malam minggu adalah saat istimewa. Sehingga ketika malam minggu datang, mereka akan memakai make up yang dianggap paling keren. Bahkan hanya untuk pergi ke suatu tempat yang sederhana dan membeli sesuatu yang tidak penting mereka langsung berdandan maksimal. Hmm, apa kamu juga?

3. Bonceng Banyak Orang

Pernahkah kamu melihat ada gadis-gadis yang naik sepeda motor dengan berbonceng dua, tiga, empat atau lima? Lalu ada yang sibuk bermain HP saat mengendarai sepeda motor? Hmm, sepertinya gadis-gadis itu sudah terindikasi sebagai gadis cabe-cabean. Memangnya ada yang salah dengan bonceng tiga? Hanya saja, kebanyakan gadis yang apa adanya enggan berbonceng tiga lantaran takut dengan keselamatan.

4. Mereka Suka Ngebut

Gadis cabe-cabean memang identik dengan remaja tanggung yang sedang mencari jati diri. Kebanyakan di antara mereka adalah yang baru bisa mengendarai sepeda motor. Alih-alih membawa motor dengan hati-hati, mereka justru doyan ngebut dengan harapan dianggap keren oleh orang yang melihatnya.

Lucunya lagi, gadis cabe-cabean kerap kali melewati segerombolan pria nongkrong dengan memacu kencang motornya demi menarik perhatian. Bandingkan saja dengan gadis-gadis normal yang lebih memilih membawa motor dengan pelan bahkan tampak malu dan menjaga sopan santun. Lebih pilih mana kamu?

5. Selalu Update Status

Update status adalah hal yang tak bisa ditinggalkan dari gadis cabe-cabean. Dengan akun jejaring sosial yang ada, mereka meng-update aktivitas yang sedang dilakukan hanya dalam selang waktu singkat.

Bahkan biasanya memberi kabar yang penting seakan banyak orang yang peduli. Belum lagi pemakaian kata-kata yang berlebihan dengan susunan huruf angka dicampur. Tak hanya update status, mereka juga kerap memposting foto dengan gaya yang aneh dan keren menurut cabe-cabean.

6. Gak Sadar Diri

Pernah mendengar istilah maling teriak maling? Nah, hal ini juga terjadi di kalangan gadis cabe-cabean. Ada sekelompok remaja perempuan menuding kelompok gadis lain sebagai cabe-cabean, padahal tanpa mereka sadari penampilan dan perilaku mereka itu juga cabe-cabean. Haha…kenapa seperti itu ya? Pernah menemukan fenomena seperti itu?

7. Sering Salah Lokasi

Di manakah gadis cabe-cabean menghabiskan waktu mereka? Terkadang di tempat hiburan rakyat yang murah meriah. Meski memang tak hanya cabe-cabean yang bersenang-senang di sana. Karena faktanya hiburan rakyat bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan.

Hanya saja gadis cabe-cabean yang menghabiskan waktu di hiburan rakyat seperti pasar malam itu sering memakai baju yang terlalu berlebihan dan mewah untuk di tempat sesederhana itu. Kembali lagi, mereka senang menjadi pusat perhatian.

8. Pacaran di Mana-Mana

Nah ini yang mungkin paling mudah kamu temukan. Gadis cabe-cabean suka sekali menghabiskan waktu pacaran di mana saja. Salah satunya mungkin di jembatan layang atau di publik umum tanpa malu. Mengikuti generasi sebelumnya yakni generasi alay, gadis cabe-cabean seakan tak peduli pandangan mata sekelilingnya. Mereka dengan santai memarkir motor di pinggiran jembatan layang dan duduk berdempet dengan sang kekasih sambil menikmati lampu malam kota.

9. Pakai Foto Editan

Pernahkah kamu mendengar aplikasi Camera 360? Aplikasi itu sangat populer sekali, terutama di kalangan gadis cabe-cabean. Mereka seringkali mengedit foto diri menjadi lebih putih, lebih mulus dan lebih imut dengan aplikasi tersebut demi menarik perhatian lawan jenis dan agar bisa bertemu.

Sedihnya ketika bertatap muka langsung, kenyataan penampilan si gadis cabe-cabean kerap kali jauh berbeda dengan apa yang terlihat di foto yang sudah diedit luar biasa. Hayoo, siapa yang suka mengedit foto?

10. Berbaju Minim di Banyak Tempat

Baju ketat dan celana pendek adalah ciri khas gadis cabe-cabean terutama jika naik sepeda motor. Memamerkan paha mereka adalah hal yang biasa. Namun kritikan ditujukan karena pemakaian hot pants itu tidak tepat waktu. Seperti saat siang panas menyengat atau malam dingin melanda, mereka tetap memakai celana super pendek.Bukan bermaksud mengejek, kerap kali gadis cabe-cabean tidak memiliki tubuh yang terlalu sempurna namun mereka begitu percaya diri memakai baju serba minim dan ketat. Yah mau gimana lagi, toh itu memang tubuh mereka.

Sang Pejual Es Tong-Tong

Sang Penjual Es Tong-Tong

Es tong-tong, begitu orang menyebutkan. Salah satu kudapan khas pedesaan. Orang kota menyebutnya ice cream. Bunyi tong-tong -yang dihasilkan dari kenongan- adalah media bagi penjual untuk memanggil pembeli. Karenanya, disebut es tong-tong. Setiap bunyi tong-tong terdengar, saat itupula mereka menjajakan dagangannya.
Olahan ini dimasak secara tradisional berbahan santan, tepung dan gula, rasanya tidak kalah dengan ice cream buatan pabrik. Malahan terasa lebih “nendang” segarnya itu. Setiap hari beberapa penjual es tong-tong menjajakan dagangannya dari satu desa ke desa lainnya. Atau dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Harganya yang sangat ekonomis-Rp. 500/contong- tidak membuat kantong siswa sekolah kedodoran. Kalau kita ingin porsi yang lebih “mahal” dengan tambahan susu coklat, mutiara dan taburan roti tawar, cukup merogoh kocek Rp. 1000 saja.
Dulu penjual es tong-tong mejajakan daganganyya dengan sepeda ontel (angin). Kini, sebagian besar menggunakan sepeda motor. Dengan bersepeda motor mobilitasnya lebih cepat dan jarak jelajahnya semakin luas.
Dimana mereka biasa mangkal? Dipinggir pagar dan di depan pintu masuk sekolah atau menyusur satu kampung ke kampung lainnya. Disaat musim panas, es tong-tong banyak diburu orang, tidak hanya anak kecil, melainkan orang dewasa juga. Namun lain halnya jika musim hujan tiba. Hanya sedikit pelanggan yang tetap setia menkonsumsinya. Sehabis olahraga atau saat istirahat pergantian jam.
Kini, penjual es tong-tong bersepeda itu menyisahkan seorang saja. Dia mengayuh sepeda tiap pagi, menyusuri jalanan terjal, menembus desa, dan singgah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Berangkat pagi dan pulang menjelang maghrib. Dia tetap setia dengan sepeda ontel dan es tong-tongnya. Meski pabrikan besar menyerbu desa dengan aneka macam dan rasa icecream. Dia tetap pada keputusannnya menjual es tong-tong. Inilah jerih payah rakyat kecil yang tak tersentuh oleh keberpihakan kebijakan pemerintah. Si penjual es tong-tong tetap mengayuh sepedanya meski baliho dan poster caleg “berlagak” peduli padanya. Dia tetaplah penjual es tong-tong yang berdiri bangga di kaki kemandiriannya sendiri. Bukan peminta-minta, pun juga bukan aktor buruan lembaga rasuah. Tetaplah mengayuh sepedamu pak, karena itu jauh lebih bermakna bagi kehidupanmu dan pendidikan karakter bangsa ini.

Creating Great Students

Retrieved from: http://www.edutopia.org/blog/creating-great-students-ben-johnson
December 23, 2013
Photo credit: iStockphoto

The more I think about how we have been looking at education, I think we have it all wrong. Up until now, all of our emphasis has been on creating great teachers when we should have been emphasizing creating great students.

For years we have been trying to create the super teacher: a mythical being that can reach every student, comply with all state and federal mandates, attend to all the extra duties and committee meetings, and still enthusiastically smile at the end of the day. This awesome teacher employs perfected strategies, powerful instructional planning skills, and superb classroom management all with indefatigable energy.

We all try to be this teacher and fall uncomfortably short in the attempt. Even worse, hardly a dent has been made in turning around low reading scores, poor math understanding, and the general apathy for learning. Even though we see this trend and are trying our best to ameliorate the symptoms, we really have not addressed the real problem — the quality of our students. Baca lebih lanjut

How to get your class punning

How to get your class punning

English is unimaginably flexible. And its appetite for puns seems insatiable. As does that of English speakers.

There’s a real art to punning. Ingenuity. The double meaning. Playing with connotations. Like this one (very teacher nerdy, I know):

What happened when Past, Present and Future walked into a bar? (answer at the very bottom)

And in my opinion puns are inextricably linked to the very nature of the language and the people who speak it. For example, my native language, Polish, is much less suited to punning. And we’re less skilled at it.

Like any other language skill, then, punning can, and I think should, be taught. I still remember the first few times (still not a good punster, though, I must admit) that I manage to come out with a pun, making my English mates laugh their heads off. The sense of language achievement was great.

So why not start your next class with a pun? Or even better: 24 nerdy puns that are bound to make you chuckle (and your students too, as soon as they realise the subtlety of the double meanings that make those plays on words funny).

Some reasons why I think the activity described below is actually useful and productive, apart from being fun:

understanding puns is a sign of high proficiency in the language
discovering the double meaning pushes students to think beyond what they already know
puns have a much higher surrender value than many obscure things course books make us teach our students (when was the last time you used, or heard somebody else using, the future perfect continuous?)
being inextricably linked to the language, puns bring you a step closer to understanding the way English speaking people are
the activity is motivating and engaging
solving the meaning of the pun or creating your own, gives a real sense of achievement
a breath of fresh air
writing your own pun can be very challenging, and a great exercise in language use
can make students more aware of: homonyms, homophones, the double meaning
gives students a chance to play and experiment with the language
forces them to think outside the box and to be creative
gives the students ownership over the language

A running order for a simple activity:

Put the beginning of any of the 24 nerdy puns on the board. For example:

2. Ask the students to discuss the questions in groups/pairs. Tell them to be as creative as possible.

3. Feedback as a class – choose the funniest/most bizarre answer.

4. Show them the answer (I wouldn’t expect even quiet chuckles at this point – unless the class is quite advanced – but rather befuddled looks, which probably say: my teacher’s a bit weird…):

5. Put sts in pairs again. Ask them to discuss:

What was or felt tense in the bar? (the atmosphere)
What are Past, Present and Future in English? (tenses; technically Future is not, but let’s not split hairs over it, shall we?)
Is tense a noun or an adjective? Can it be both? (yes it can, it’s a homonym)
What is the double meaning of the word: tense?
How is the double meaning used to make the answer: “It was tense” funny?

6. Feedback on the questions as a class.

7. Elicit and clarify the terms: “play on words = puns”, and “to pun”

8. Do one or two more puns following steps 1 – 6.

9. Discuss:

Do puns exist in your own language?
Do you find them funny?
Why might it be useful and important to understand puns in English?

10. Students write their own puns (pairs or individually). If you think they’re not strong enough, scaffold the writing:

give beginnings or endings of a few puns – the students only recreate the missing parts
do a sentence extension, where the students only need to put in the correct grammar

11. Vote for the best pun!

The answer to : What happened when Past, Present and Future walked into a bar?
It was tense

Retrieved from:www.esl.com

Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Rasa Finlandia

Copaste Ma Khrisna Bined

5 Desember 2013 pukul 6:15

Awal Oktober lalu Kemdikbud RI bekerja sama dengan Kedutaan Finlandia mengadakan simposium pendidikan bertajuk “Finnish and Indonesian Lessons”.

Sekjen Kemdikbud menyatakan bahwa acara ini diadakan sebagai tindak lanjut niatan Mendikbud yang pernah berucap ingin belajar dari pencapaian Finlandia dalam bidang pendidikan. Gaung pencapaian Finlandia dalam berbagai pemetaan pendidikan global memang sudah tersebar luas.

Para pakar pendidikan dari Finlandia pun tampil tidak mengecewakan dalam acara simposium tersebut. Pasi Sahlberg, Eero Ropo dan Jaan Palojarvi membebarkan praktik-praktik pendidikan di Finlandia.

Peserta simposium berkali-kali berdecak kagum mendengar paparan mereka tentang jam pelajaran di Finlandia yang tergolong singkat, tidak adanya ujian nasional, jumlah PR yang sangat sedikit serta kurikulum yang bebas diintrepretasi oleh guru.

Tidak hanya praktik-praktik teknis yang mereka jabarkan, namun juga paradigma mendasar yang menjadi ruh tata kelola pendidikan Finlandia. Justru paradigma mendasar inilah yang lebih perlu jadi perhatian kita.

Pendidikan Finlandia, misalnya, percaya bahwa standarisasi adalah musuh utama kreativitas. Oleh karena itu pendidikan Finlandia berusaha mengutamakan keberagaman. Guru pun diberi kepercayaan penuh dalam ikut menentukan jalannya proses pendidikan.

Pendidikan Finlandia tidak berfokus menumbuhan motivasi ekstrinsik, seperti dengan ancaman ujian, namun justru berusaha membangkitkan motivasi intrinsik (hasrat) siswa untuk belajar. Mereka juga percaya bahwa bermain adalah cara belajar terbaik bagi anak, serta membiasakan anak berkolaborasi lebih penting daripada ajari mereka berkompetisi.

Berbagai paradigma mendasar yang diungkapkan oleh para pakar pendidikan Finlandia ini terasa bagai suatu pencerahan barubagi peserta. Nyatanya, pemikiran semacam ini telah sering disuarakan oleh tokoh-tokoh pendidikan bangsa, utamanya Ki Hadjar Dewantara (KHD).

Saat Eero Ropo menyatakan pendidikan Finlandia menghindari fokus pada standarisasi, KHD telah menulis bahwa anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik “mengubah padi menjadi jagung”, atau sebaliknya. [Keluarga, Desember 1936]

KHD juga bicara tentang pendidikan nasional yang tidak selayaknya menyatukan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa disatukan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi. [Pusara, Januari 1940]

Saat Pasi Sahlberg menunjukkan data bahwa kesetaraan (dan bukan keseragaman) berpengaruh besar pada performa pendidikan, KHD telah menyatakan rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatannya. [Pusara, Januari 1940]

Ketika Pasi Sahlberg menutup paparan dengan menyatakan, “Anak harus bermain”, KHD telah menulis panjang lebar tentang pentingnya anak difaslitasi untuk bermain, karena memang demikianlah tuntutan jiwa mereka untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. [MimbarIndonesia, Desember 1948]

Sayangnya paradigma berkebalikanlah yang sering kita dengar terucap dari para penguasa pendidikan kita saat ini.Semangat resentralisasi dan standarisasi pendidikan kental terasa. Alih-alih self-directed learning, justru forced learning yang menjadi penggerak proses pendidikan.

Anak-anak dianggap sebagai pegas yang harus sering ditarik-ulur agar lentur. Pesan agar kita tak permisif memanjakan anak disuarakan terus-menerus untuk melegitimasi Ujian Nasional sebagai “alat rekayasa sosial untuk memaksa anak belajar” serta “penjaga keutuhan bangsa”.

Alih-alih memberikan kepercayaan penuh pada guru dan memampukan mereka memegang kendali atas proses pembelajaran, justru pemerintah meluncurkan kurikulum nasional baru dengan promo, “Guru-guru tinggal melaksanakan saja.”

Sayang pada saat acara simposium “Finnish and Indonesian Lessons” petinggi Kemdikbud hanya memaparkan kebijakan taktis, yaitu sosialisasi ulang Kurikulum 2013 dan Data Pokok Pendidikan.

Sesungguhnya akan lebih bermanfaat bila, seperti pihak Finlandia, Kemdikbud juga memaparkan paradigma mendasar serta cetak biru pendidikan nasional. Paling tidak seharusnya kita bisa mendengar mengapa para penguasa pendidikan kita memilih rute saat ini, yang berkebalikan dari yang dipilih oleh Finlandia dan juga Ki Hadjar Dewantara.

Setengah ironis saat kita diingatkan kembali tentang prinsip-prinsip pendidikan yang telah disuarakan oleh KHD sejak lama justru oleh para pendidik dari seberang dunia. Kegagalan dan kebebalan kita untuk sadar setelah diingatkan akan menjadi pelengkap keironisan.

Inisiatif Kemdikbud mengadakan simposium pendidikan “Finnish-Indonesia Lessons” perlu diapresiasi, namun tindak lanjutnyata perlu terus diingatkan dan dituntut untuk diperjuangkan bersama.

Finlandia memulai reformasi pendidikannya ditahun 1970-an dengan memikirkan ulang paradigma mendasar tentang persekolahan, konsepsi pengetahuan serta konsepsi pembelajaran. Seharusnya kita bisa memulai dari titik yang sama. Bila tidak oleh pemerintah saat ini, maka kita patut berharap pada pemerintah berikutnya. **

Don’t Sweat The Small Stuff

Pagi itu, saya dan Laura Bloomer- native speaker dari US-sedang mengunjungi sebuah sekolah menengah atas. Didampingi sang kepala sekolah, kami bertiga diajak melihat-lihat kelas. Kami dipersilahkan memasuki kelas dan pada saat yang bersamaan sang kepala sekolah memperkenalkan Laura pada siswa. Laura mulai berbagi kesan hidup yang dia jalani selama 6 bulan pertama -dari 24 bulan yang akan dijalaninya- di Indonesia. Keramahtamahan, cuaca pedesaan yang tenang, suhu yang bersahabat adalah sedikit celotehnya tentang Indonesia. Di sini, dia menemukan rumah kedua setelah Texas. Kekagumannya terhadap Indonesia mengundang sorak sorai para siswa. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Dari satu kelas ke kelas lainnya dia menemukan keceriaan dan keramatamahan. Baca lebih lanjut