Penjelasan Bu Helena

Q: Bedanya teks deskriptif lisan sama tulis itu apa ya bu?

A: Ketika orang mendeskripsikan sesuatu secara lisan, ia melakukan monolog; ketika ia mendeskripsikan sesuatu secara tertulis, is menulis essay. Akan tetapi, perbedaannya bukan hanya terletak pada mode / jalur komunikasi. Perbedaan2 lainnya terletak pada pilihan unsur2 kebahasaan sehingga kedua mode tersebut berpengaruh pada gaya bahasa atu style.

Dalam mode lisan, monolog diwarnai oleh gambits, fillers, hesitations, question tags, repetitions dan strategi lain. Klausa2nya pun pendek2, banyak menggunakan pronouns dan small words, dll. Dengan demikian deskriptif lisan tidak terdengar seperti orang membaca nyaring (reading aloud) sebuah teks deskriptif tulis. Tidak terdengar rapi memang, tapi itulah teks lisan.

Dalam mode tulis, teksnya terlihat rapi karena sudah diedit. Karena sempat mengedit maka penulis dapat dengan lebih seksama memasukkan banyak gagasan secara efektif menggunakan fasilitas grammar seperti noun phrases, menghilangkan pronouns dan menggunakan nominalisasi agar terlihat objektif, menggunakan kalimat2 pasif dan strategi tulis lainnya. Hasil akhirnya tentu sangat berbeda dengan teks deskriptif lisan.

Maka, jika siswa mencoba melakukan pendeskrepsian lisan dengan membaca nyaring sebuah teks deskriptif gaya tulis, monolognya akan terdengar kaku, tidak alami. Hal yang sama terjadi ketika orang menulis essay menggunakan strategi lisan, tulisannya terlihat seperti speech written down (kata Halliday).

Ini bukan berarti bahwa siswa SMP harus langsung bisa menulis dengan written style. Tahap2 awal pasti akan terlihat speech written down, tetapi lama-kelamaan latihan2 manulis diharapkan akan semaking mengarahkan siswa ke written style lewat pengajaran grammar yg relevan, misalnya bagaimana meningkatkan lexical density.

Mingkatkan kompetensi semacam ini harus dilakukan lewat scaffolding berupa berbagai latihan. Ini tidak akan terjadi dengan sendirinya. Guru dan pengembang materi (buku ajar) perlu memiliki pengetahuan tentang apa saja yang perlu di-address untuk mengajar writing. Misalnya, latihan writing bukan hanya menulis main ideas dan supporting ideas. There is much more to it.

Mari kita ‘kupas’ KD ini:

“Menyusun teks lisan dan tulis untuk mengucapkan dan merespon pujian bersayap, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks.”

Ini berarti ada teks tulis dan lisan (yang mestinya sudah di tataran discourse), tetapi kok diteruskan dengan ‘untuk mengucapkan’ (lha kok pronunciation? ini tatarannya paling rendah (phonology)). Lalu ‘dan merespon’ (ini tatarannya speech function – di discourse semantic level).

Berarti ada teks lisan dan tulis (tataran genre) yang communicative purposenya pujian bersayap. Setahu saya nggak ada genre pujian, apalagi bersayap. Memuji itu hanya sebuah speech function.

Menempatkan pujian bersayap sebagai tujuan komunikatif sebuah genre semakin jelas karena ada rumusan ‘fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dll.

Stratifikasi dilanggar habis! Campur aduk antar stratum: genre (culture), discourse semantic (speech function), lexicogrammar dan phonology… semua dibabat habis dalam satu stratum!

Konsep2 dalam rumusan harusnya mencerminkan hubungan2 yg setara, yang hierarkis dsb, tidak hantam kromo seperti ini.😦

Teman2 guru, semoga penjelasan berikut membantu menjelaskan hubungan antar konsep yg ada di KD.

Genre itu ibarat sebuah rumah yg dibangun dengan tujuan tertentu, bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi dengan gaya tertentu. Misalnya, kita mengenal rumah Joglo, rumah Padang atau rumah Papua. Untuk mewujudkan rumah tertentu dengan sukses dibutuhkan material tertentu. Material joglo tidak sama dengan material untuk rumah Padang.

Rumah ini sama dengan genre yg memiliki communicative purpose. Ketika rumah ini sudah jadi, maka bangunan ini menjadi fungsional. Sama dengan komunikasi atau penciptaan teks; ketika teks tercipta, pada saat itulah bahasa menjadi fungsional, misalnya, teks ini berfungsi untuk mendeskripsikan.

Untuk mendeskripsikan, dibutuhkan struktur kalimat seperti the simple present tense dan material lain. Tetapi perlu diingat, meskipun siswa sangat pandai dalam grammar, grammar itu belum berfungsi sebelum digunakan dalam teks (komunikasi). Sama dengan daun pintu. Seindah apa pun sebuah daun pintu, barang ini tidak memiliki fungsi sebelum menjadi bagian dari sebuah rumah.

Sebuah genre menegaskan communicative purpose / social function sebuah peristiwa komunikasi. Genre inilah yg menentukan grammar, vocabulary, collocation, conjunctions, jenis verbs yang perlu diajarkan secara terintegrasi demi membangun ‘rumah’ genre sehingga semua hal yg diajarkan memiliki fungsi (setelah bersatu dalam teks).

Mungkin ini bisa manjewab pertanyaan mengapa banyak siswa yang mendapat nilai bagus dalam ujian grammar atau vocabulary, tetapi ketika harus menulis atau berpidato seringkali macet. Ini sama dengan material rumah yang serba bermutu – tile marmer, pintu ukir, genteng keramik – tetapi kalau tidak ada yang menyatukan mereka tetap tidak fungsional.

Lalu apa yang menyatukan? Diperlukan cohesive devices, seperti references, ellipses, conjunctions dll., serta perangkat yang membangun keherensi, misalnya struktur teks atau teknik untuk maintaining the flow of information. Urusan ‘merekatkan’ inilah yang disebut discourse competence alias kompetensi berwacana. Inilah inti dari communicative competence yg dicanangkan oleh Del Hymes.

Maka, ketika mengajar bahasa, guru perlu tahu tujuan komunikatif apa saja atau genre apa saja yang akan dicapai. Dengan demikian, pada akhir sebuah unit bahasan guru bisa merefleksi apakah pengajarannya berhasil. Misalnya, siswa boleh saja mendapat nilai tes the present tense yg bagus, tetapi sebelum siswa mampu mendeskripsikan, siswa tersebut belum mampu berkomunikasi.

Singkat kata, komunikasi terjadi pada tataran teks / discourse / genre. Dengan genre-based approach siswa didorong untuk ‘naik’ dari tataran kalimat ke tataran teks karena komunikasi terjadi di tataran ini.

Semoga bisa membantu.
Pada kuliah umum di PPS Undip 6 hari yg lalu ada yg bertanya, “Bu, bagaimana menerapkan genre-based approach (GBA) di SMK?”

Jika mengembangkan program untuk SMK, tentunya kita melakukan need analysis dengan bertanya: communicative events apa saja yang sangat ungkin dihadapi lulusan SMK? Kemudian kita tentukan genrenya.

Misalnya, semua siswa SMK pasti akan berurusan dengan teks prosedur karena mereka akan berurusan dengan manual (mesin, kertukangan, alat masak dll.) Maka teks procedure dipilih. Setelah itu kita lihat jurusan mereka. Kalau SMK pertanian, maka topik2nya adalah pertanian; ini melibatkan a set of vocabulary yang spesifik. Kalau SMK tourism, vocabularynya juga menyesuaikan.

Contoh lain: apakah SMK butuh exposition? Menurut saya butuh. Exposition adalah teks persuasif yg bertujuan meyakinkan orang. Lulusan SMK perlu pandai membuat iklan untuk memasarkan produknya kelak. Maka, keterampilan membuat iklan yg efektif diperlukan. Topik bahasannya menyesuaikan dengan program SMK yg mereka ambil.

Singkatnya, sekolah apa pun yg kita ajar kita senantiasa perlu sadar akan communicative events yg potensial mereka hadapi baik selama sekolah maupun kelak setelah lulus. Communicative events inilah yg menentukan pilihan genre yg kita kembangkan.

Lalu berapa genre yg kita kenalkan? Sebaiknya yang dasar2 saja karena alokasi waktu di sekolah sungguh terbatas. Dalam keterbatasan inilah kita perlu membuat keputusan strategis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s