Student Sopu for Teacher’s Soul (part 4)

Student soup for teacher’s soul (part 4)

Wali Murid Yang Mengunjungiku Malam Itu

Malam itu, seorang bapak menemuiku. Bercerita tentang anaknya yang sudah kelas 3 sekolah lanjutan atas. Dia nampak kuatir terhadap perkembangan belajar anaknya. Terlebih lagi, beberapa bulan kedepan akan menghadapi serangkaian ujian. Puncaknya menghadapi Ujian Nasional bulan April .Ujian Nasional masih menjadi event penting bagi sekolah dan wali murid. Seluruh sumber daya sekolah tercurah pada kesuksesannya. Tidak jarang, orang tua wali murid terlibat di dalamnya dalam berbagai bentuk. Sejalan dengan fenomena Ujian inilah, sang bapak tadi memintaku membimbing anaknya. Memberi wawasan tentang jurusan di perguruan tinggi. Dan menyiapkan bekal pengetahuan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Akupun menyanggupinya, karena ini bagian tidak terpisah dari peranku sebagai guru: takes a hand, opens a mind and touches a heart!. Namun, aku tidak setuju jika semua itu dilakukan hanya semata-mata demi lulus Ujian Nasional. Apa yang bisa dibanggakan dari kelulusan itu jika anak tidak mengalami perubahan pola pikir yang berarti setelahnya. Bapak itu akhirnya mengangguk tanda persetujuan dengan pikiranku.

Perbincangan kami berdua semakin asyik. Menembus batas-batas yang selama ini tidak pernah kami bicarakan diantara keduanya. Di selah-selah diskusi, sang bapak bercerita tentang anaknya yang sedang menempuh kuliah di Jakarta. Konon, sang anak akan diberi beasiswa. Siapa yang tidak senang anaknya mendapat beasiswa? apalagi dijaman ekonomi yang sulit semacam ini. Berbungalah hati sang bapak. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh beasiswa itulah yang membubarkan kebahagiaannya. “Surat keterangan miskin dari desa,” begitu yang dipersyaratkan. Sang bapak bersikeras menolaknya. Alasannya sangat tegas, jika pendidikan anak adalah tanggungjawabnya. Apapun akan dia lakukan demi kelancaraan pendidikan dan pembiayaan yang menyertainya. Dia tidak mau memiskinkan diri hanya karena ingin mendapat beasiswa. Saya bangga dengan bapak ini karena kesadaran yang tinggi bagi pendidikan anaknya.
Disisi lain, nun jauh disana, banyak wali murid memiskinkan dirinya saat disuruh mengisi pendapatan. Alasannya cukup jelas, menghindarkan diri dari serangkaian pungutan dari sekolah. Alasan yang masuk akal, karena sejatinya penyediaan layanan pendidikan menjadi tanggungjawab negara!. Akhirnya, akupun sangat iri membaca bagaimana Finlandia mencerdaskan generasi bangsanya. Konon, Ortu Finlandia memilihkan sekolah anaknya berdasar kedekatan dari rumah. Negara menjamin bahwa samua sekolah itu baik! Andai semua sekolah di negeri ini bisa dijamin baik oleh pemerintah, wali murid semacam bapak diatas akan semakin bangga dan peduli terhadap pendidikan bagi putra-putrinya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s