Rozail dan Mimpinya Menjadi Petani

Pada suatu pagi, minggu pertama bulan Oktober 2013, di sebuah kelas, saya dibuat bangga. Bukan oleh nilai ulangan yang melesat jauh meninggalkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), pun juga bukan oleh kegembiraan karena kesuksesan pembelajaran. Kebanggan itu muncul sesaat setelah mendengar jawaban seorang siswa atas pertanyaan yang saya ajukan padanya.
Sudah menjadi kebiasaan, kata “ Hadir”, yang biasa siswa ucapkan untuk menunjukkan kehadirannya, kami ganti dengan aneka respon dari pertanyaan yang saya ajukan. Pagi itu pertanyaannya adalah “Apa cita-citamu?”. Siswa silih berganti meresponnya dengan beragam profesi “basah” semacam dokter, bidan, perawat, polisi, tentara, guru, pegawai bank dan sejenisnya.
Tibalah giliran siswa terakhir. Siswa tersebut berasal nun jauh dipelosok desa. Butuh waktu 20 menitan untuk sampai ke sekolah dengan sepeda motor. Saya selalu memanggil dengan nama terakhirnya: Rozail. Keluguaannya masih begitu kental, sopan dan santun dalam berbicara. Selalu menyunggingkan senyum saat bertatap muka denganku. Pun juga sering berkomunikasi tentang harga kopi dan pisang-pisangnya yang segera di panen.
Saya pun tidak menyangka jika jawaban yang diungkapkannya akan keluar dari pakem umum profesi sebagaimana diidam-idamkan siswa sebayanya. Entah karena pengaruh keluarga atau niatan mulianya, cita-citanya saya pandang sesuatu yang sangat luar biasa. Sebuah cita-cita yang sudah ditinggalkan oleh remaja sebayanya.
“Saya ingin menjadi petani pak!”, jawabnya mantap. Kontan saja teman sekelasnya membalas dengan tertawa lepas: kha ha ha ha,kwekekekekek. Profesi yang tidak lazim dan kurang “mbois” bagi remaja seumurannya. Apalagi dimata cewek-cewek metroplis macam mereka yang ketagihan gadget dan glamouritas dunia. Namun, sesungguhnya itu adalah profesi yang sangat mulia jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan profesional, bukan?.
Jawaban Rozail mengingatkanku pada sebuah cerita tentang Mr. Dan Mrs. Leland Stanford saat dipandang sebelah mata oleh salah satu Rektor Universitas Harvard. Konon, mereka berdua berniat membangun sebuah monumen di areal kampus untuk mengenang anaknya yang meninggal di tahun pertamanya di Harvard. Hanya karena wajah udik dan pakaian yang tidak “borju” , rektor tersebut menolak niatan mulianya. Stanford tidak patah arang atas perlakuan dan ejekan semacam itu, akhirnya dia mendirikan sendiri universitas di Palo Alto California. Kini, Universitas Stanford menjadi salah satu universitas terbaik di dunia. Dikerubuti oleh ribuan pebelajar dari seluruh pelosok dunia. Dan semoga Rozail melesat jauh melampaui anggapan dan cibiran atas cita-citanya sebagai petani..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s