Penilaian Pendidikan Indonesia: Menuju Siswa Bernalar

Penilaian Pendidikan Indonesia: Menuju Siswa Bernalar
Posted on September 13, 2013 by Bincang Edukasi
Heru Widiatmo
Heru Widiatmo – Foto: uny.ac.id

Oleh: Heru Widiatmo, Ph.D.

Pendidikan Indonesia masih belum berhasil membekali para siswa dengan baik dalam menghadapi masalah yang memerlukan kemampuan bernalar tinggi (higher-order thinking). Ini diperparah oleh model assessment Indonesia (UN dan UMPT) yang lebih banyak mengukur kemampuan prosedural (hafal konten, hafal rumus atau cara, dan komputasi rumit) yang hanya berguna pada saat mengerjakan soal-soal UN dan UMPT atau ikut lomba-lomba olimpiade, tapi kurang bermanfaat pada saat menghadapi dunia nyata. Padahal pentingnya kemampuan higher-order thinking sangat dibutuhkan oleh generasi muda kita menghadapi tantangan abad 21 ini.

Melalui tulisan ini saya bermaksud menggugah hati sambil mengajak Bapak/Ibu sekalian untuk turut berjuang bersama-sama untuk memperbaiki kondisi ini. Tujuan utama kami adalah merancang bentuk penilaian pendidikan yang menjunjung kemampuan bernalar tinggi untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Kegagalan Ujian Nasional

Pengalaman saya bekerja lebih 5 tahun di Puspendik-Balitbang (Indonesia), belajar penilaian pendidikan (educational assessment) sampai Ph.D di University of Iowa, ditambah bekerja lebih 10 tahun di American College Testing (Amerika) menyakinkan saya bahwa sistem ujian di Indonesia bermasalah, terutama Ujian Nasional (UN). Ujian ini telah menjadi racun pada proses belajar-mengajar di sekolah. Alih-alih meningkatkan mutu, justru UN mendorong proses pencerdasan generasi muda harapan bangsa menuju jurang kehancuran.

Ketidakmampuan pemerintah mendongkrak mutu pendidikan melalui UN jelas terbukti dari laporan tes-tes kredibel berstandar international (PISA dan TIMSS) yang selalu menunjukan siswa kita berada di kisaran juru kunci, jauh di bawah Malaysia, apalagi Singapura. Fakta ini sering dikaburkan oleh laporan segelintir siswa kita yang meraih medali emas, perak, atau perunggu dalam ajang olimpiade “internasional”. Keberhasilan mereka di olimpiade bukan menjadi bukti jika mutu pendidikan kita berkualitas, karena mereka dipersiapkan khusus selama lebih dari 6 bulan untuk menjawab soal-soal olimpiade yang mungkin tidak dilakukan oleh peserta dari negara-negara lain.

Penilaian Pendidikan Indonesia (PPI): Sebuah Bentuk Solusi

Berdasarkan fakta ini dan ingin ikut terlibat aktif memperbaiki sistem pendidikan dari sisi penilaiannya, saya bertemu dengan Ellin Driana (dosen UHAMKA), Iwan Pranoto (guru besar ITB), Rohmani (anggota DPR), dan Kreshna Aditya (Pendiri Bincang Edukasi) di fX Senayan pada saat liburan di Indonesia awal Juni 2013. Salah satu ide kami pada saat itu adalah merancang dan membuat model penilaian pendidikan di Indonesia sebagai model alternatif dari UN.

Sebagai langkah awal, karena paham matpel matematika (S1 Matematika ITB) dan bekerja sebagai penulis, peneliti, dan pengembang tes matematika, maka saya lebih confident menyusun soal-soal matematika untuk proyek ini. Setelah beberapa bulan bekerja dibantu teman-teman Indonesia yang sedang sekolah di Amerika (antara lain, Asih Asikin Garmager, Ph.D. student dari University of Iowa, dan Iwan Syahril, Ph.D. student dari Michigan State University) , saya nyatakan soal-soal tes yang kami susun siap digunakan. Tes ini disebut Penilaian Pendidikan Indonesia (PPI). Diharapkan pada saatnya nanti PPI meliputi komponen seperti Tabel 1.

Tabel 1 – Rancangan PPI

Sebagaimana tercantum pada tabel di samping, PPI dibuat bukan untuk menentukan kenaikan kelas apalagi kelulusan sekolah, tapi digunakan sebagai feedback bagi siswa, guru, sekolah, dan pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Melalui PPI akan terjaring informasi tentang kelemahan dan keunggulan dari siswa dan sekolah berdasarkan hasil tes dan questioner yang menyertainya. Apa yang diukur oleh PPI adalah kecakapan bernalar yang perlu dimiliki oleh siswa agar optimal hidupnya baik di sekolah/pendidikan tinggi, tempat kerja, atau di masyarakat. Khusus untuk matematika, kompetensi yang diukur meliputi kemampuan membaca, manganalisis, dan memecahkan masalah matematika yang sering dihadapi siswa dalam hidup sehari-hari melalui soal-soal yang dikemas berupa cerita, fakta lingkungan sekitar, data ilmiah, tabel dan/atau grafik. Materi PPI mengacu pada meteri tes standar internasional yang merupakan materi dasar tapi penting dikuasai oleh semua siswa seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Contoh-Contoh Soal PPI

Walaupun sama-sama tes matematika, tapi bentuk dan model soal-soal PPI berbeda dengan soal-soal di UN dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT di Indonesia). Sebagian besar soal-soal matematika UN dan UMPT menuntut siswa memperoleh jawabannya melalui komputasi rumit, hapalan rumus/konten, dan hapal jalan atau cara mengerjakannya. Sedangkan melalui PPI, siswa tidak diuji untuk mengerjakan komputasi rumit, karena angka-angka yang ditampilkan sederhana dan yang paling penting sebagian besar soal-soal tidak memerlukan jawaban hasil komputasi. Juga, siswa tidak perlu hapal rumus, karena rumus tidak diperlukan. Selain itu, model dan bentuk soal-soalnya tidak memungkinkan dipelajari melalui bimbingan belajar yang acapkali menggunakan sistem drill latihan soal, karena siswa dituntut paham materi, cakap mengolah informasi dan dapat menerapkannya pada permasalahan yang kontekstual.

Saya lampirkan tiga contoh soal PPI Math tingkat middle school (SMP).

Screen Shot 2013-09-12 at 11.25.46 PM
Contoh soal PPI 1

Perhatikan soal no.31 yang menanyakan materi persen (%). Semua siswa SMP mungkin tahu jika ada 20 orang yang tidak lulus ujian dari 100 orang, maka ini dapat dikatakan bahwa 20% siswa tidak lulus. Namun, mereka banyak yang kurang paham kalau konsep persen tidak dapat digunakan pada fakta atau data yang tidak dapat dikuantifikasikan.

Masih mengenai materi persen atau pecahan. Mungkin siswa kita akan cepat menjawab pertanyaan berikut “Manakah bilangan terbesar dari 6/17, 5/20, 6/22, 2/22, dan 1/23?”

Namun, sekali lagi, bisa dipastikan mereka akan kesulitan dan perlu waktu lama bila pertanyaan yang sama diajukan melalui soal yang memerlukan kecakapan membaca data berupa tabel, seperti soal no. 35.

Contoh soal PPI 2
Contoh soal PPI 2

Mengenai membaca data, besar kemungkinan siswa kita juga akan kesulitan dan memerlukan waktu lama untuk menjawab soal no. 36. Namun, soal tersebut akan menjadi mudah bagi mereka kalau diubah sesuai dengan kebiasaannya yaitu handal menjawab soal-soal sederhana yang tidak memerlukan analisis, seperti soal “Hitunglah rata-rata dari bilangan 6, 5, 6, 2, dan 1”.

Melalui tulisan ini saya mengajak kepada bapak/ibu guru, mahasiswa S2/S3, penulis soal, dosen, kepala sekolah, pengelola program pendidikan, kepala dinas, atau siapapun yang berminat untuk bekerjasama mengembangkan PPI. Bagi yang berminat menyusun tes yang belum disusun yaitu Science (IPA dan IPS), English, Reading dan Writing silahkan bergabung dengan kami. Bagi yang berminat mengimplementasikan PPI di sekolah yang menjadi tanggungjawabnya, saya akan kirim paket PPI Math free of charge. Dari hasil tes, kami akan analisis dan kirim feedback tingkat bermatematika setiap siswa, kelas, dan sekolah.

Terima kasih kepada semua yang telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Mari kita perbaiki pendidikan Indonesia sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita masing-masing. Saya dapat dihubungi melalui informasi di bawah.

Salam Pendidikan Indonesia. ***

Heru Widiatmo, Ph.D.
Email : heru.widiatmo@act.org
Skype: heru_dian
Telp: 319-333-1548 [rumah], 319-333-2090 [HP], dan 319-337-1704 [kantor]
Alamat: 1860 Jeffrey Street, Iowa City, IA 52246, USA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s