Bambang Ekalaya, Semangat Pendidikan Digital di Jaman Purba

Ada yang pernah dengar nama Bambang Ekalaya? Pasti banyak yang tidak tahu. Kecuali buat mereka yang mengikuti cerita pewayangan. Mau tahu kisahnya?

Pada jaman dahulu kala, pada jaman dimana anak-anak bebas bergembira sepanjang hari, ada seorang pemuda bernama Bambang Ekalaya. Ekalaya berasal dari keluarga yang dianggap rendah dalam masyarakatnya. Meski begitu, pemuda ini mempunyai semangat belajar yang luar biasa. Ia sangat tertarik dengan pelajaran memanah dan menggunakan sebagian besar waktu untuk mempelajarinya.

Semangat belajar membuatnya ia berpetualang mencari seorang guru yang mampu mengajarinya lebih mahir lagi. Ia pun melangkahkan kaki menuju kerajaan besar bernama Hastina. Ekalaya mendengar di kerajaan tersebut ada seorang guru memanah yang pilih tanding, Resi Dorna namanya.

Ekalaya yang lugu pun menemui Resi Dorna dan mengutarakan niatnya untuk menjadi murid. Celaka tiga belas! Sang guru menolak mentah-mentah keinginan Ekalaya. Dorna hanya menerima anak-anak dari kerajaan kaya raya sebagai muridnya, Hastina dan Kurawa.

Ekalaya yang kecewa dengan penolakan gurunya pun pergi ke hutan. Bukannya menyerah, Ekalaya tetap meniatkan diri untuk belajar dari Resi Dorna. Ia membuat patung Resi Dorna dan memperlakukan patung itu sama seperti guru yang dibayangkannya. Ia belajar mandiri dibawah bimbingan……patung. Belajar mandirinya membuat ia menjadi seorang pemanah yang mahir, bahkan kemahirannya mengalahkan murid kesayangan Resi Dorna, Arjuna.

Sayang, Ekalaya menemui ajal yang tragis. Setelah pertempuran melawan Arjuna untuk membela kehormatan isterinya, Ekalaya justru ditipu oleh orang yang dianggapnya sebagai guru. Ekalaya memotong dan menyerahkan ibu jari tangan kanannya sebagai persembahan pada “guru”nya. Tanpa ibu jari, Ekalaya kehilangan hasil belajarnya bertahun-tahun dan kalah dalam adu keahlian memanah.

Cerita yang saya tulis diatas adalah cerita rekaan saya sendiri dengan bumbu cerita secukupnya. Silahkan baca Wikipedia atau sumber lain bila ingin tahu cerita aslinya. Cerita ini muncul begitu saja di benak ketika pagi ini saya berpikir mengenai pendidikan digital. Apa hubungannya kisah Bambang Ekalaya dengan pendidikan digital?

Pertama, Bambang Ekalaya mewakili sosok anak-anak dengan semangat belajar yang luar biasa. Setiap anak adalah pembelajar, anak yang penuh rasa ingin tahu, ingin mencoba segala sesuatu. Semangat belajar adalah dorongan alami yang ada pada siapa saja, tidak pandang umur, kasta, agama maupun status sosial ekonomi.

Kedua, Bambang Ekalaya mempraktekkan pembelajaran mandiri. Belajar dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja, bahkan dari sebentuk patung. Bambang Ekalaya mungkin sosok cerita yang menjadi contoh bagaimana pendidikan digital pun bisa dipraktekkan di jaman purba. Selama kita mendefinisikan pendidikan digital tidak sebatas penggunaan teknologi tinggi, tapi lebih ke optimalisasi teknologi untuk membantu proses pembelajaran.

Ketiga, lembaga pendidikan cenderung pilih kasih dan tidak adil dalam mendidik anak manusia. Sebagaimana Dorna, sistem pendidikan kita pun menyediakan yang sekolah yang lengkap fasilitasnya hanya di kota-kota besar. Padahal masyarakat kota besar tanpa banyak bantuan sebenarnya bisa memenuhi sendiri kebutuhan belajarnya. Tugas pemerintah justru adalah menjangkau daerah pelosok yang tidak mampu dikelola masyarakat secara mandiri.

Keempat, sebagaimana Dorna yang sudah pilih kasih memilih murid dan ketika bersedia mengangkat Ekalaya sebagai murid justru memangkas kemampuan belajar yang telah dipelajari secara mandiri. Jadi ingat kata-kata Neil Postman, “Anak masuk sekolah sebagai tanda tanya dan keluar sebagai tanda titik”.

Kisah Bambang Ekalaya memberikan contoh bahwa model pendidikan tidaklah tunggal, tapi beragam. Pilihan pendidikan bukan sekedar pelajaran terstuktur oleh guru dalam batas ruang dan waktu tertentu. Bahkan pada jaman purba, Ekalaya menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya bisa menghidupkan model pendidikan mandiri.

Kisah Bambang Ekalaya adalah tamparan, setidaknya di wajah saya. Ekalaya yang berasal dari masyarakat pinggiran pun mampu menjalankan pendidikan mandiri. Seharusnya, saya dan teman-teman lain dari kelas menengah pun sebenarnya berpotensi menciptakan model pendidikan mandiri. Model pendidikan yang kita biayai sendiri. Setidaknya tidak ikut menghabiskan anggaran pendidikan yang sebenarnya lebih baik ditujukan untuk daerah pelosok. Bambang Ekalaya mengajarkan kemandirian pendidikan.

Dulu saya bermimpi untuk membuat sekolah sendiri dengan kurikulum seperti sekolahnya Toto Chan. Sayang, mimpi itu kandas. Apa saya menyerah? Kalau Ekalaya tidak menyerah meski ditolak, mengapa saya harus menyerah?

Saat ini saya sedang mengembangkan aplikasi Takita yang mempunyai misi “mengoptimalkan kecerdasan majemuk anak”. Aplikasi ini membantu keluarga untuk “menemukan” kecerdasan majemuk, “lakukan” beragam tantangan kecerdasan majemuk, “bagikan” hasil tantangannya pada semua orang. Setiap anak bisa belajar apa yang disukainya.

Aplikasi ini masih jauh dari jadi. Saat ini kami tengah melakukan riset penyusunan tes kecerdasan majemuk anak dan membutuhkan banyak responden untuk menyelesaikannya. Bila pembaca punya anak berusia 5 – 10 tahun, mohon bantuannya meluangkan waktu untuk menjadi responden riset tersebut. Silahkan klik di http://bit.ly/TesTakita2

Apa pelajaran yang anda dapatkan dari kisah Bambang Ekalaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s