Kegiatan TK di Jepang

Penasaran ngapain aja Melati dari jam 9 pagi sampai jam 2 disekolah?
Secara garis besar kegiatan disekolah:
9-10 main, nah dalam rentang waktu ini, ada anak yg baru dateng, ada yg masih cuci tangan, buka sepatu dan kaus kaki, gantung lap tangan, masukin tas ke tempat (semacam pigeon whole) masing-masing, yg nangis juga ada sih…
10-11 minum susu, dimulai dengan anak masuk ke ruangan, beresin kursi meja, ngambil susu, membagikan susu, minum, beres-beres lagi…semua dikerjakan anak-anak diawasi guru
11-12 Kegiatan terstruktur, bisa indoor bisa outdoor, intinya main juga tapi kali ini dibawah bimbingan guru…
12-01: Makan siang, sama kayak waktu minum susu, dimulai dengan persiapan, terus nyanyi bareng, baru deh makan dan minum teh, setelah itu beres-beres
01-02 main dan persiapan pulang

Itu aja, yg sudah baca buku Toto chan, mirip-mirip lah kegiatannya seperti sekolahnya Totochan

Iklan

Cermin Buram Sang Pelajar

Student’s Soup for Teacher’s Soul (part2).

Pertama kali bertemu, aku sudah dibuatnya terpanah. Bukan oleh kemolekan dan ketampanan, namun oleh pandangan dan cara berbicaranya. Aku yakin, caranya berbicara dan ekspresi yang menyertai itu adalah gambaran sederhana tentang citra dirinya. “Tidak bisa!” adalah kata yang selalu terucap saat saya mengajak belajar dan melakukan suatu aktifitas tertentu. Cermin diri yang ada dibenaknya sudah terburamkan oleh anggapan dan keyakinan yang salah tentang dirinya sendiri. Keyakinan itu telah menggerogori pikiran dan menjadi mental barrier bagi setiap usaha dan keinginan berubah yang ingin dia lakukan. Dia melihat dirinya sebagai orang yang tidak bisa dan lemah. Kondisi ini juga diperparah oleh rendahnya kepercayaan dirinya. Alhasil, dia selalu bertindak dan bersikap sesuai dengan gambar yang muncul dalam cermin dirinya. Dia membutuhkan cara melihat dirinya dari sudut yang berbeda. Dia harus berani menjungkirbalikkan keyakinannnya selama ini. Keyakinan sebagai siswa yang “tidak Bisa”. Penjungkirbalikan ini akan mendorongnya bertindak dengan cara yang berbeda. Tindakan yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Mulailah saya dorong dia melakukan sesuatu yang berbeda. Perbedaan itu disemaikan dari hal-hal kecil. Maju ke depan kelas, mengerjakan soal atau sekedar menghapus papan putih. Atau yang agak berat sedikit, tampil di depan kelas melakukan roleplay. Ini adalah aktifitas yang jarang dia lakukan selama ini. Selanjutnya, setiap bertemu dengannya, selalu kudorong dia untuk berkomunikasi dan berkenalan dengan siswa-siswa lainnya (adik tingkat). Kemampuannya berkomunikasi harus terus diasah. Harapannya muncul keberanian. Keberanian untuk berbuat berbeda dari sebelumnya itu yang saya yakini akan mendorongnya mulai percaya diri. Dulu Aristoteles berujar bahwa “Semua bunga esok hari adalah benih hari ini. Dan semua hasil esok hari ada dalam pikiran hari ini”. #Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang tidak mengetahui?” (39:9).Seize the day!

Kata Maaf Darimu

Nada ringtone HP nokia jadulku berbunyi. Sebuah tanda masuknya pesan baru. Tak lama berselang, HP itupun berbunyi kembali. Lagi-lagi sebuah pesan masuk. Malam ini beberapa siswa mengirimkan permintaan maaf. Akupun membacanya sambil tersenyum. Pelajaran yang mereka hadirkan dalam beberapa hari terakhir menjadikanku semakin bersemangat hadir di tengah-tengah mereka. Bersemangat karena hidup adalah keindahan, maka akupun harus mengaguminya. Hidup adalah kebahagiaan maka akupun harus meresapinya. Hidup adalah impian, dan akupun harus menyadarinya. Karena semua respon itu adalah ibadah, maka aku menjalaninya dengan kesungguhan dan keikhlasan. Semoga hari-hari kedepan selalu memberi kita energi dan cinta untuk terus berbenah dan bergerak.#livingwithteenagers.

SAYA DAN SEKOLAH TERBUKA MARGOMULYO

Pendidikan dan pembelajaran berubah begitu cepatnya. Di akhir bulan Juni 2013, Majalah Der Spiegel Jerman menurunkan berita tentang transformasi pendidikan yang sangat radikal. Berita tersebut mengulas gagasan mantan CEO Apple – Steve Jobs- dengan “Ipad School”-nya yang ada di Belanda. Lembaga baru tersebut akan menjadi sangat berbeda dengan sekolah konvensional yang selama ini kita pahami dan jalani. Siswa di sekolah tersebut tidak akan membawa buku, menggendong tas ransel, melihat jadwal pelajaran, menemukan guru-guru di depan kelas, papan tulis , bel jeda pembelajaran, atau kegiatan persekolahan yang lazim lainnya.
Para siswa akan memiliki sebuah tablet ipad (apple) sebagai pengganti semuanya. Ipad tersebut akan menjadi sumber dan media belajarnya. Mereka akan belajar berdasarkan apa yang benar-benar diinginkan. Ipad school bersama siswa menentukan apa yang akan dipelajari dan target yang akan dicapai. Para siswa didorong untuk menggapai kompetensi dengan cara dan usaha mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka didorong menjadi pebelajar-pebelajar mandiri.

Acara Sosialisasi SMA Terbuka di Margomulyo Glenmore

Acara Sosialisasi SMA Terbuka di Margomulyo Glenmore

Kondisi dan fenomena diatas lambat laun akan menggeser fungsi kelas- kelas konvensional. Sekolah dan atau belajar tidak lagi mensyaratkan pertemuan tatap muka secara langsung dalam sebuah kelas. Tetapi belajar bisa dilakukan dimanapun, tanpa adanya sekat ruang dan waktu. Pembelajaran semacam ini menjadi salah satu trend penting dan akan merevolusi pendidikan secara radikal dimasa mendatang . Inilah pendidikan versi 2.0. Sebuah versi pendidikan dimana siswa akan menjadi subjek sebenarnya dari pendidikan itu sendiri. Disisi lain, internet akan menjadi media pendukung yang sangat vital.
Di lain tempat, Beberapa minggu yang lalu, saya menghadiri Sosialiasi sekolah terbuka jenjang menengah (SMAT) di Desa Margomulyo Kecamatan Glenmore. Belasan anak usia sekolah, yang karena banyak hal tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA), tampak penuh khidmat dan bersemangat menyambut program tersebut. Khairul adalah salah seorang siswa di sekolah tersebut. Setiap hari dia harus turun gunung bersama teman-temannya. Mereka harus menempuh perjalanan sejauh 3 -7 km dari rumahnya untuk dapat bersekolah. Di pagi hari, Khairul bekerja sebagai kuli bangunan dan sesekali menjadi tenaga buruh lepas di sebuah perkebunan swasta. Kondisi yang sama juga berlaku bagi teman sekelasnya.
Tapi semangat Khairul untuk bersekolah tetaplah tinggi. Sebuah semangat yang mampu membakar keletihan
Siswa SMA Terbuka sesaat setelah belajar bersama dengan tamu dari Brazil

Siswa SMA Terbuka sesaat setelah belajar bersama dengan tamu dari Brazil

dan jauhnya jarak menuju sekolah. “Sekolah adalah jalan saya untuk meraih cita-cita”, jawabnya. Jawaban Khairul ini membuka kesadaran dan kenyataan bahwa “ Pemerintah dan Kita” masih belum bekerja cukup keras untuk memberi akses dan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi semua anak bangsa. Terlebih lagi, bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan memberi angin segar dengan membuka sekolah terbuka bagi mereka. Kepedulian dan keberpihakan pemerintah terhadap anak-anak yang kurang beruntung seperti Khairul harus diapresiasi cukup tinggi. Hanya dengan kepedulian semacam inilah, Khairul dan ribuan teman lainnya bisa terbebas dari jurang kebodohan dan putus sekolah.
Sebagai salah satu pendidik yang ditunjuk untuk menemani mereka, saya mendambakan semangat “ipad school” menjaid inspirasi tata kelolah sekolah terbuka. Teach less learn more seharusnya menjadi landasan dan inspirasi penting dalam memahami dan melaksanakan pembelajaran di sekolah tersebut. Karenanya, tugas saya sebagai pendidik di sekolah tersebut bukan lagi mengisi botol kosong (tabularasa), melainkan melecut api belajar (ignite the fire of learning). Itulah kontribusi nyata yang akan bisa dipersembahkan bagi kemajuan Banyuwangi.
Sudah menjadi tugas mulia seorang pendidik menyemai motivasi, melejitkan potensi dan membangun karakter siswanya. Saya akan mendorong para siswa untuk tidak sekedar melihat pendidikan dari perspektif ruang kelas, guru dan buku semata. Ketersediaan sumber belajar diluar kelas yang melimpah harus menjadi stimulus bagi pengembangan belajar dan diri mereka kedepannya. Keintiman dengan dunia tanpa batas (internet) menjadi modal berarti bagi keberhasilan belajarnya. Mengingat, pembelajaran di ruang kelas sekolah terbuka sangat minim tatap muka.Karakter dibangun dengan contoh terbaik dari pendidiknya. Karena pendidikan karakter semacam ini akan berdampak nyata dari pada sekedar pembelajaran biasa dan menghafal.
Fenomena pendidikan terkini yang sedang hangat dibicarakan adalah Flipped Classroom. Sebuah model pembelajaran yang menjungkirbalikkan metode pembelajaran konvensional yang menempatkan guru sebagai penyedia (provider) pengetahuan satu-satunya di sekolah. Flipped Classroom menjadikan pembelajarn lebih kaya warna dan rasa dengan aneka sumber dan bahan belajar yang lazim menyentuh keseharian siswa. Penggunaan video, sosial media, perangkat media lainnya akan mendorong siswa “kasmaran” dengan ilmu pengetahuan yang didapatnya. Bukankah esensi dan motivasi belajar adalah jatuh cintanya siswa pada pencarian pengetahuan baru?.
Saya meyakini jikalau metode ceramah sudah tidak menarik lagi. Metode tersebut terkesan membosankan dan menjemuhkan. Apa yang disampaikan melalui ceramah, dapat dengan mudah diunduh dari mesin pencari (google). Sebagai Pendidik, saya dituntut lebih kreatif dalam menyajikan pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan think out the box akan memberi sensasi dan pengalaman belajar yang lain. Dari kondisi semacam inilah siswa akan benar-benar belajar dan akhirnya mereka menemukan pengetahuan baru.
Disinilah perubahan paradigma harus terjadi. Pendidik bukan lagi menjawab rasa ingin tahu siswa melainkan memancing rasa ingin tahu. Pendidik bukan lagi meminta siswa menghafal melainkan berkreasi. Pendidik bukan lagi mendorong anak berkompetisi melainkan berkolaborasi. Pendidik bukan lagi menyuruh anak belajar tetapi membiarkan anak belajar. Akhirnya pendidik bukan lagi memahami materi pelajaran melainkan memahami karakter dan keunikan siswa.
Penulsi bersama siswa SMA Terbuka Margomulyo Glenmore: Ignite the fire of learning

Penulis (berbaju kotak-kotak)bersama siswa SMA Terbuka Margomulyo Glenmore: Ignite the fire of learning

Sebagai Digital Native, Khairul dan anak didik lainnya di sekolah terbuka akan lebih “ngeh” dengan pembelajaran multisensorik, kaya warna dan serba digital. Merekalah generasi Gen C (content, connected, digital creative,cocreation,curiosity, cyber, cracker dan chameleon). J.Sumardianta (Guru Gokil Murid Unyu, 2013), mengambarkannya sebagai generasi bunglon yang terhubung satu sama lain di dunia maya. Mereka cepat berubah pikiran mengikuti arus informasi yang mereka terima. Mereka dibentuk oleh konten dan kecanduan dengan media sosial. Pendidik yang mampu menjembatani kecanduan semacam inilah yang akan banyak menginspirasi siswanya.
Menyadari betapa pentingnya pemanfaatan sumber belajar online yang tersedia, sudah selayaknya para siswa dibekali ketrampilan teknologi dan informasi. Inilah ketrampilan penting yang akan menjadi senjata utama dalam memanfaatkan keberlimpahan sumber belajar. Disisi lainnya, saya sebagai pendidik harus mampu menyediakan konten dan petualangan belajar yang mengasyikan dengan memanfaatkan teknologi. Konten yang interaktif dan beragam mendorong ketersediaan sumber belajar yang lebih menarik dan menantang.
Lebih jauh, saya dituntut untuk melek teknologi. Dengan melek teknologi , saya memiliki kesempatan dan ruang berkembang yang cukup besar. Tersedianya pembelajaran online dengan berbagai jenis platform semacam Edmodo, Khanacademy, webinar, Haiku learning akan menjadikan pembelajarn lebih interaktif, kolaboratif dan responsif terhadap kebutuhan belajar siswa.
Kondisi diatas juga diyakini akan mendorong anak didik menjadi pebelajar-pebelajar mandiri. Pebelajar yang terus belajar sepanjang hayat. Konon, pebelajar mandirilah yang akan menjadi penopang utama sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Pebelajar-pebelajar (siswa) mandiri akan lahir jika pendidik/gurunya juga menjadi pebelajar mandiri dan sepanjang hayat. Jangan harap lahir generasi dan pebelajar mandiri jika pendidiknya pro status quo dan merasa sudah puas dengan apa yang dijalani selama ini. Sebagai pendidik, saya harus terus bergerak dan belajar. Karena hanya dengan melakukan hal semacam itulah, saya sebagai pendidik, akan terus menginspirasi siswa untuk maju. Semoga rencana mulia pemerintah dan niatan saya untuk berkontribusi positif bagi peningkatan akses dan kualitas pendidikan bisa mengangkat kembali derajat generasi Banyuwangi di kemudian hari. Mengakhiri tulisan ini, saya kutipkan sebuah kata mutiara dari Joshua Davis: Genius is everywhere but we are wasting it, how to unleash the great minds of tomorrow.

Ways to encourage more use of English in class

Ways to encourage more use of English in class
Submitted by TE Editor on 2 December, 2009 – 08:57
Getting students to use English in the classroom is one of the biggest challenges of teaching. At first you might get frustrated when students speak their own language in class. Keep this checklist in mind and it may help.

Always present yourself as an English speaker, right from the start.
Don’t be tempted to lapse into the students’ language to explain, regain control or reply to a question. Patiently reply in English.
Don’t be tempted to slow down.
You may feel put off when they call to each other in their mother tongue What’s she saying?” Use pictures, gesture, facial expression and rephrasing to get your message across.
Lapsing into quick explanations in their language will undermine your role. Tuning-in will take time! Keep at it! Baca lebih lanjut