Reformasi Besar-besaran Pendidikan Cina

Reformasi Besar-besaran Pendidikan Cina

Pendidikan di Cina selalu dibayangkan sebagai pendidikan yang sangat keras dan ketat. Siswa-siswa belajar keras untuk menghadapi berbagai ujian selama persekolahan serta satu ujian besar untuk memasuki perguruan tinggi yang dikenal dengan nama Gaokao. Namun tak banyak yang tahu, pemerintah Cina sebenarnya sedang melakukan reformasi sangat mendasar pada sistem pendidikannya. Penekanan terbesar reformasi pendidikan Cina ada pada pengurangan tekanan dan beban akademis pada siswa.

Sebenarnya tanda-tanda reformasi pendidikan di Cina ini tidak muncul tiba-tiba. Tahun 2010 Newsweek menampilkan artikel berjudul The Creativity Crisis yang di dalamnya juga menceritakan perjalanan Prof. Jonathan Plucker, pakar psikologi pendidikan dari Indiana University, ke Cina. Saat berbincang dengan para pendidik di Cina, Plucker menceritakan bahwa pendidikan di Amerika sedang mengarah kepada lebih banyak tes, kurikulum yang terpusat serta hapalan-hapalan. Para pendidik di Cina itu tertawa dan mengatakan, “Kami sedang menuju ke arah sistem pendidikan Anda sebelumnya [yang lebih fleksibel], kok Anda malah berlari menuju sistem pendidikan kami sebelum ini [yang lebih kaku].”

Kini, di paruh akhir Agustus 2013, pemerintah Cina mempertegas niatan reformasi pendidikan itu dengan merilis publikasi berjudul “Sepuluh Peraturan untuk Meringankan Beban Akademik Siswa Sekolah Dasar”. Sepuluh peraturan itu, seperti dikutip dari blog Prof. Yong Zhao, adalah:

  1. Penerimaan siswa yang transparan. Sekolah harus menerima siswa berdasar lokasi tempat tinggal saja, tidak boleh berdasar pertimbangan apapun selainnya. Artinya sekolah tidak boleh menyaring siswa baru berdasar prestasi atau tes masuk.
  2. Pengelompokan secara seimbang. Siswa dan guru harus ditempatkan ke dalam kelas secara acak. Sekolah sangat dilarang membuat kelas-kelas khusus, baik kelas akselerasi maupun kelas untuk siswa-siswa yang dianggap lambat.
  3. Pengajaran “titik awal nol”. Maksudnya, guru harus berasumsi bahwa semua murid baru kelas 1 SD memulai dari kecakapan nol. Maka sekolah tidak boleh memaksakan ekspektasi akademik yang tinggi dan mempercepat laju pengajaran.
  4. Tidak ada pekerjaan rumah tertulis. Sama sekali. Namun sekolah boleh memberi pekerjaan rumah “eksperiensial” dengan cara bekerja sama dengan orang tua dan komunitas untuk mengatur studi lapangan, kunjungan ke perpustakaan atau aktivitas prakarya.
  5. Mengurangi ujian. Standardized test sama sekali dilarang untuk kelas 1 sampai 3 SD. Lalu mulai kelas 4 ke atas, standardized test hanya diperbolehkan satu kali per semester untuk Bahasa Cina, Matematika dan bahasa asing. Segala bentuk tes lain tidak boleh diberikan lebih dari dua kali per semester.
  6. Evaluasi kategorikal. Sekolah tidak boleh memberi nilai angka, namun hanya boleh menilai siswa dengan kategori “Luar Biasa, Sempurna, Cukup, Kurang Cukup”.
  7. Meminimalkan material tambahan. Sekolah hanya boleh menggunakan satu material tambahan untuk mendampingi buku teks utama dan harus dengan persetujuan orangtua. Sekolah dan guru sangat dilarang untuk mengusulkan, merekomendasikan atau mempromosikan material tambahan kepada siswa.
  8. Tidak boleh ada kelas tambahan. Sekolah dan guru sangat dilarang memberi kelas-kelas tambahan bagi siswa di luar jam sekolah atau selama liburan. Sekolah negeri dan guru-gurunya tidak boleh terlibat dalam aktivitas instruksional tambahan di luar sekolah.
  9. Kegiatan olahraga minimal satu jam. Sekolah harus menjamin ketersediaan kegiatan pendidikan jasmani sesuai dengan kurikulum nasional. Sekolah juga harus menyediakan berbagai aktivitas fisik dan juga senam dan relaksasi mata saat istirahat.
  10. Memperkuat dukungan pada sekolah. Otoritas pendidikan di semua tingkat kepemerintahan harus melakukan inspeksi secara periodik dan mengawasi langkah nyata dalam mengurangi beban akademik siswa, serta wajib mempublikasikan temuannya. Setiap orang yang diberi tugas dan kewenangan untuk menjalankan program pengurangan beban akademik siswa akan dimintai pertanggungjawabannya oleh pemerintah.

Tidak cukup hanya membuat sepuluh peraturan meringankan beban akademik yang seperti memutar pendidikan di Cina 180 derajat ini, pemerintah Cina sebelumnya juga mengeluarkan panduan bagi pemerintah daerah untuk mereformasi sistem evaluasi yang biasa digunakan untuk menilai kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan di Cina tidak lagi boleh dinilai hanya dengan melihat nilai ujian para siswa. Pemerintah mengeluarkan kerangka penilaian baru yang memperluas ruang lingkup penilaian. Kerangka penilaian baru ini diberi istilah“Evaluasi Hijau” Ada lima area yang menjadi perhatian pada kerangka penilaian kualitas pendidikan yang baru ini, yaitu:

  1. Perkembangan Moral yang diindikasikan oleh perilaku dan kebiasaan, kewarganegaraan, kepribadian dan karakter, serta ambisi dan prinsip-prinsip yang dianut.
  2. Perkembangan Akademik yang diindikasikan oleh pengetahuan dan keahlian, pemikiran disiplin, kemampuan aplikasi serta kreativitas.
  3. Kesehatan Jiwa dan Raga yang diindikasikan oleh kebugaran fisik, kebiasaan hidup sehat, selera artistik dan keindahan, kesehatan emosional, kemampuan mengendalikan diri serta komunikasi interpersonal.
  4. Perkembangan Minat dan Bakat Unik yang diindikasikan oleh rasa ingin tahu, bakat dan keahlian unik, serta penemuan dan pengembangan potensi diri.
  5. Beban Akademik yang diindikasikan oleh waktu belajar [mis: lamanya jam pelajaran, pekerjaan rumah, waktu untuk tidur, dll.], kualitas instruksi, tingkat kesulitan pelajaran serta tekanan akademik.

Tentu untuk poin ke-5 itu, pemerintah Cina justru memberi nilai semakin jelek bila sekolah memberi beban akademik semakin tinggi pada siswa. Pemerintah Cina juga berniat mengukur tingkat keterlibatan siswa, tingkat kebosanan, kekhawatiran dan kebahagiaan siswa sebagai bahan menilai kualitas pendidikan. Terakhir, pemerintah Cina juga mengurangi konten akademik serta meningkatkan kualitas dan kapasitas guru sebagai bagian vital dalam usaha reformasi pendidikannya.

Membaca tentang usaha reformasi pendidikan oleh pemerintah Cina ini membuat kita jadi bertanya-tanya. Bukankah arah pendidikan kita di Indonesia ini malah sedang menuju arah sebaliknya? Mengapa kita malah berjalan mundur? *** (taken from:bined)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s