GURU USANG VS SISWA ALAY

Miyajima_3

Miyajima_3

 

 

Setiap melihat kegaduhan dan ketidakpatuhan di kelas, jantung ini berdegup, mata melotop tanganpun mengepal. Bersiap mengeluarkan jurus “mabok” dan marah. Berteriak, mencubit, menjewer bahkan menempeleng. Sebuah siklus syetan yang banyak mendera sebagian guru, termasuk di dalamnya penulis sendiri.

Tidak bisa dipungkiri jika kebiasaan menempatkan diri  sebagai penguasa ilmu di kelas menjadikan kita bersikap  arogan. Tidak jarang juga menjadi penguasa dan pengendali mutlak anak didik di kelas. Banyak dari golongan kita (guru) yang masih meyakini jika kepatuhan dan diam adalah kondisi ideal yang diidamkan terjadi di dalam kelas. Kondisi ini memungkinkan transfer ilmu bisa berjalan lancar, tanpa hambatan dan target kurikulum terpenuhi. Meski, dalam kenyataannya, dalam kondisi tertekan semacam ini justru mendorong anak didik menghadapi kemunduran belajar. Alih-alih membelajarkan anak didik, guru justru memenjarakan mereka dalam ruang sempit nan membosankan.

Seorang guru seharusnya memiliki visi jauh ke depan, tidak terbelenggu oleh ilmu masa lalunya. Anak didik yang dihadapinya lahir dari peradaban kini, dalam banyak hal memiliki perbedaan dan cenderung berbeda dari gurunya. Apa yang kita alami dulu, tidaklah semuanya sama dengan kondisi saat ini. Semua berbeda dan melompat jauh melebihi kemampuan kita memprediksinya.

Rhenald Khasali menuliskan bahwa adalah pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah di- isi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Lebih lanjut Rhenald Khasali menjelaskan bahwa telah terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.Gurunya berkutat dengan diktat tebal, anak didiknya menyelam dalam lautan informasi di google, Wikipedia dan semacamnya.

Banyak orang menyebut mereka sebagai generasi alay (anak layangan). Anak alay memiliki gaya sendiri baik dalam bertutur maupun bertingkah laku. Cara pandang  ini juga berbeda dengan sebagian besar gurunya. Anak alay lebih multitasking, selfish,narsis, egois, dan ASRI ( generasi asik sibuk sendiri dengan gadget).

Jurang pemisah antar generasi semacam inilah yang dalam banyak hal menjadi pelecut ketidak harmonisan pola hubungan dan suasana di dalam kelas. Bentakan dan kekerasan dijadikan sebagai terapi sesaat untuk mengembalikan kondisi kelas. Gadget dan hp dijadikan alasan ketidakseriusan anak didik dalam kelas. Padahal, semata-mata kitalah yang kurang bisa menjembatani perbedaan preferensi dan gaya belajar anak didik. Karenanya, guru kini dituntut lebih kreatif dalam membelajarkan anak didiknya, harus kaya warna dan terobosan yang kadang menghentak dan membuat terpanah anak didiknya. Konsentrasi anak didik yang ter upload kemana-mana bisa disatukan kembali dengan pembelajaran yang menarik dan kreatif. Internet telah memanjakan kita dengankeberlimpahan materi dan bahan ajar. Cukup dengan satu kali jentik saja, ribuan informasi sudah berada dipapan sorot LCD. Kita juga dituntut untuk banyak membaca, dengan membaca jendela dunia semakin terbuka lebar, hingga kita bisa mendapati keindahan kehidupan di luar sana. Kita sudah harus berlari menjauh dari sekolah usang, yang tidak pernah upgrade dan update, yang hanya bisa download tanpa pernah upload (menggugah) ide baru dalam kehidupan siswa alay. Kita memang harus bergerak dan melompat jauh melampaui mereka (anak didik). Bukankah begitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s