Pendidikan Kaum Hipokrit

Tulisan ini dimuat di kolom Opini harian Kompas, 30 Agustus 2013

Oleh Mohammad Abduhzen [Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina; Ketua Litbang PB PGRI]

Menjelang bulan Ramadhan lalu, Lingkaran Survei Indonesia mengungkapkan bahwa 65,30 persen publik menganggap para elite politik hipokrit. Mereka bertindak tak sesuai ucapan: berbicara hal baik, tetapi tak mempraktikkannya (Kompas, 8/7/2013).

Hipokrit alias orang munafik dalam Al Quran digambarkan sebagai pendusta. Namun, mereka berpenampilan mengagumkan, bertutur kata memukau, dan (sensitif) mengira setiap teriakan keras ditujukan kepada mereka. Hadis Bukhari mencirikan kemunafikan dengan berbohong, ingkar janji, dan berkhianat.

Potensi hipokrisi sejatinya terdapat pada setiap orang. Ia berkembang dalam pengaruh lingkungan, dan hasil tarik-menarik di antaranya menentukan kecenderungan pilihan. Jika sebagian besar elite politik Indonesia hipokrit, untuk mengatasinya patut diketahui terlebih dahulu seperti apa lingkungan yang memengaruhinya.

“DEMOKRASI” KITA

Menurut Mohammad Hatta, demokrasi seharusnya lebih mudah diterapkan sebagai sendi negara untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Selain itu, demokrasi kita seharusnya dapat menunjukkan kedaulatan rakyat yang lebih sempurna karena masyarakat kita bersendikan kolektivisme, tidak mengandung penyakit individualisme. Baca lebih lanjut

Reformasi Besar-besaran Pendidikan Cina

Reformasi Besar-besaran Pendidikan Cina

Pendidikan di Cina selalu dibayangkan sebagai pendidikan yang sangat keras dan ketat. Siswa-siswa belajar keras untuk menghadapi berbagai ujian selama persekolahan serta satu ujian besar untuk memasuki perguruan tinggi yang dikenal dengan nama Gaokao. Namun tak banyak yang tahu, pemerintah Cina sebenarnya sedang melakukan reformasi sangat mendasar pada sistem pendidikannya. Penekanan terbesar reformasi pendidikan Cina ada pada pengurangan tekanan dan beban akademis pada siswa.

Sebenarnya tanda-tanda reformasi pendidikan di Cina ini tidak muncul tiba-tiba. Tahun 2010 Newsweek menampilkan artikel berjudul The Creativity Crisis yang di dalamnya juga menceritakan perjalanan Prof. Jonathan Plucker, pakar psikologi pendidikan dari Indiana University, ke Cina. Saat berbincang dengan para pendidik di Cina, Plucker menceritakan bahwa pendidikan di Amerika sedang mengarah kepada lebih banyak tes, kurikulum yang terpusat serta hapalan-hapalan. Para pendidik di Cina itu tertawa dan mengatakan, “Kami sedang menuju ke arah sistem pendidikan Anda sebelumnya [yang lebih fleksibel], kok Anda malah berlari menuju sistem pendidikan kami sebelum ini [yang lebih kaku].”

Kini, di paruh akhir Agustus 2013, pemerintah Cina mempertegas niatan reformasi pendidikan itu dengan merilis publikasi berjudul “Sepuluh Peraturan untuk Meringankan Beban Akademik Siswa Sekolah Dasar”. Sepuluh peraturan itu, seperti dikutip dari blog Prof. Yong Zhao, adalah:

  1. Penerimaan siswa yang transparan. Sekolah harus menerima siswa berdasar lokasi tempat tinggal saja, tidak boleh berdasar pertimbangan apapun selainnya. Artinya sekolah tidak boleh menyaring siswa baru berdasar prestasi atau tes masuk.
  2. Pengelompokan secara seimbang. Siswa dan guru harus ditempatkan ke dalam kelas secara acak. Sekolah sangat dilarang membuat kelas-kelas khusus, baik kelas akselerasi maupun kelas untuk siswa-siswa yang dianggap lambat.
  3. Pengajaran “titik awal nol”. Maksudnya, guru harus berasumsi bahwa semua murid baru kelas 1 SD memulai dari kecakapan nol. Maka sekolah tidak boleh memaksakan ekspektasi akademik yang tinggi dan mempercepat laju pengajaran.
  4. Baca lebih lanjut

8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya

8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya

Now or LaterIni adalah lanjutan dari artikel “Kebiasaan Paling Destruktif yang Mungkin Anda Miliki yang Harus Segera Diatasi!

Di artikel tersebut saya membahas kasus seorang ibu yang merasa tidak berkembang dan menderita akibat kebiasaan destruktif yang dimiliki yaitu suka menunda-nunda yang sudah di level parah.

Di artikel kali ini saya akan membahas tentang 8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya.

Tidaklah mudah menghilangkan sebuah kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi sebuah karakter. Baca lebih lanjut

Hikayat Batu dan Pohon Ara

Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

GURU USANG VS SISWA ALAY

Miyajima_3

Miyajima_3

 

 

Setiap melihat kegaduhan dan ketidakpatuhan di kelas, jantung ini berdegup, mata melotop tanganpun mengepal. Bersiap mengeluarkan jurus “mabok” dan marah. Berteriak, mencubit, menjewer bahkan menempeleng. Sebuah siklus syetan yang banyak mendera sebagian guru, termasuk di dalamnya penulis sendiri.

Tidak bisa dipungkiri jika kebiasaan menempatkan diri  sebagai penguasa ilmu di kelas menjadikan kita bersikap  arogan. Tidak jarang juga menjadi penguasa dan pengendali mutlak anak didik di kelas. Banyak dari golongan kita (guru) yang masih meyakini jika kepatuhan dan diam adalah kondisi ideal yang diidamkan terjadi di dalam kelas. Kondisi ini memungkinkan transfer ilmu bisa berjalan lancar, tanpa hambatan dan target kurikulum terpenuhi. Meski, dalam kenyataannya, dalam kondisi tertekan semacam ini justru mendorong anak didik menghadapi kemunduran belajar. Alih-alih membelajarkan anak didik, guru justru memenjarakan mereka dalam ruang sempit nan membosankan. Baca lebih lanjut