Pendidikan Empatik Nelson Mandela

Pendidikan Empatik Nelson Mandela
Selasa, 18 Juni 2013 | 09:56 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – “Orang-orang dengan siapa saya berkonflik, mereka adalah guru saya yang paling penting.” — Dalai Lama

Seorang bapak buta berjalan pada malam hari. Tangan kanannya menggenggam tongkat, tangan kiri menjinjing lampu. Ini pemandangan mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan berpapasan dengannya. Penasaran, pria itu bertanya, “Mengapa Anda berjalan membawa lampu?” Orang buta itu menjawab, “Buat penerangan.” Belum puas, pria itu bertanya lagi, “Bukankah Anda tetap tidak bisa memandangi jalan meski menjinjing lampu penerang?” Sambil tersenyum, orang buta menjawab, “Meski saya tidak bisa melihat, orang lain bisa memandangi saya. Lampu saya membuat jalanan menjadi benderang. Juga agar pengguna jalan lain tidak menabrak saya.”

Kisah di atas adalah anekdot sederhana perihal cara manusia memandang hidup. Lelaki heran mewakili manusia kebanyakan, yang biasa melihat persoalan dengan “sudut pandang aku” atau “sudut pandang kamu”. Orang buta berparadigma sinergis: cara berpikirku bertemu cara berpikirmu menghasilkan cara berpikir kita.

Manusia bermental sinergis mendahulukan kita ketimbang aku. Manusia sinergis, mengingat populasinya amat sedikit, dalam bahasa statistik disebut pencilan. Macolm Gladwell menyebut manusia bukan rata-rata itu dengan istilah outlier. Tokoh sinergis itulah karakter Nelson Mandela.

Stephen Richard Covey, dalam The 3rd Alternative (2011), menjuluki Mandela dengan Seminal karena menabur benih dan memekarkan tunas baru dalam memahami dunia. Dia menempatkan dirinya bukan sebagai korban keadaan, melainkan pencipta masa depan. Bisa percaya diri sekaligus rendah hati pada waktu bersamaan.

Pemimpin perdamaian dunia ini mengajarkan kebaikan dengan memutus mata rantai kekerasan dan siklus balas dendam. Mandela teladan perbuatan baik. Bangsa kulit putih yang memenjarakan dan melakukan politik apartheid dibiarkan hidup dalam damai. Mandela tidak pernah berencana melakukan aksi pembersihan etnis terhadap bangsa kulit putih. Ia memaafkan bangsa yang pernah menista dan menjajah kaum kulit hitam. Mandela tahan uji. Tidak menularkan ketakutan, kecemasan, dan penderitaannya kepada orang lain.

Pada 1964, Nelson Mandela mulai menjalani masa hukuman 27 tahun di penjara terpencil pulau Robben, Afrika Selatan. Pengacara muda ini memberontak pada sistem apartheid yang menindas warga kulit hitam. Di penjara, ia getir mendapat cemoohan, makian, dan penghinaan seperti binatang. Mandela butuh empat tahun untuk menghilangkan rasa benci terhadap sipir yang menghina dan menyiksanya. Hati Mandela berangsur berubah karena para sipir juga korban dari apartheid.

Mandela berkarib dengan Christo Brand. Sipir itu menyelundupkan roti dan surat buat Mandela. Ia melanggar aturan dengan membolehkan Mandela menggendong cucunya. Suatu saat, sipir itu bisa kena bala. Mandela mengirim surat kepada istri sang sipir agar suaminya kuliah lagi. Mandela memperlakukan Riaan, anak sang sipir, layaknya cucunya sendiri. Riaan kelak, saat Mandela jadi presiden, memperoleh beasiswa dari mantan orang nomor satu Afrika Selatan itu. Relasi narapidana dengan sipir itu merupakan salah satu tahap dari perjalanan panjang Mandela membebaskan dari prasangkanya sendiri.

Selama tahun-tahun panjang dan sepi, hasrat Mandela pada kemerdekaan kaumnya berubah menjadi hasrat untuk kebebasan semua orang, baik kulit putih maupun hitam. Pihak penindas harus dibebaskan. Sama seperti pihak yang ditindas. Keduanya, setali tiga uang, telah direnggut kemanusiannya. Bangsa Afrika Selatan mengatakan Mandela memiliki Ubuntu, wawasan hidup yang dibangkitkan semangat belas kasih dan curahan kemurahan hati menakjubkan.

Pergeseran paradigma Mandela radikal. Konflik dilihatnya bukan lagi sebagai masalah, melainkan peluang. Perbedaan pendapat besar dijadikan ajang pembelajaran, bukan dinding batu pemisah. Tujuan hidup Mandela bukan untuk meraih kemenangan atas lawan, melainkan melakukan perubahan untuk semua orang dan semua pihak. Dia menyelesaikan akar konflik dengan mengubah paradigma penyebab konflik, yang dimulai dengan mengatasi konflik batin yang merupakan konflik paling pelik dan sulit.

Mentalitas defensif (keras kepala) muncul karena rasa tidak aman dan ketidakjujuran pada diri sendiri. Mentalitas ini cenderung merendahkan mereka yang berbeda pendapat. Empati muncul saat Mandela menemukan dirinya dalam hati orang lain. Mandela mengamati dengan matanya, merasakan emosinya, dan berbagi kepedihannya. Kapasitas untuk berempati itu sesuatu yang alami dan memberi dampak besar. Tapi mengapa empati sangat langka? Karena persaingan antarparadigma lebih banyak dimenangkan “cara berpikirku” dan “cara berpikirmu”, bukan “cara berpikir kita”. Aku dan kamu lebih banyak mendahulukan kepentingan pribadi masing-masing ketimbang mengutamakan kepentingan kita. Sebagian besar resolusi konflik jadi bersifat transaksional. Sedangkan resolusi yang ditawarkan Mandela bersifat transformatif.

Ada anggapan empati akan memperpanjang konflik. Tapi cara paling tepat untuk mendapatkan solusi adalah dengan mendengarkan penuh empati. Waktu yang diluangkan untuk memahami rival tidak seberapa banyak dibanding waktu dan sumber daya yang terbuang bila terus berselisih. Di AS, 1,2 juta pengacara menagih sekitar US$ 71 miliar setahun untuk jasa mereka. Angka itu belum termasuk success fee untuk perkara yang mereka menangkan di pengadilan. Betapa banyak waktu dan uang bisa dihemat bila orang berusaha saling memahami secara jujur.

Politikus oportunis Indonesia yang keras kepala sulit berempati. Kaum pragmatis sering menggunakan kata rakyat dalam sepak terjang kemunafikan dan hipokrisi. Ajudikasi, penyelesaian konflik lewat jalur hukum, sebaiknya dihindari. Pemenang biasanya menjadi pecundang dalam biaya pengeluaran dan waktu yang terhambur. Mendengarkan penuh empatik butuh waktu. Tidak seberapa lama dibanding yang dibutuhkan untuk memulihkan hubungan yang telanjur rusak, untuk hidup di bawah penindasan dan masalah yang tak terpecahkan.

Berusahalah terlebih dulu untuk mengerti, baru kemudian dimengerti. “Keberanian bukan berarti tiadanya rasa takut, melainkan kemenangan atas ketakutan. Berani bukan berarti dia yang tidak merasa takut, melainkan yang berhasil mengalahkan rasa takut.” Begitulah prinsip hidup Nelson Mandela.

Robert Holden, dalam Success Intelligence: Timeless Wisdom for a Manic Society (2005), mencatat warisan terbesar Mandela untuk mengatasi dunia yang belepotan dendam dan prasangka. “Permaafan melepaskannya dari belenggu kesalahan masa lalu dan membuatnya kembali kuat. Ia memaafkan dirinya sendiri. Agar perasaan malu dan penyangkalan diri tidak terlalu berat untuk dipikul. Ia juga memaafkan pihak lain atas peran mereka dalam menciptakan kekecewaan dan kesedihan. Tujuan hidupnya bukan memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus berkembang dan tumbuh.” *

J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s