SELAMAT TINGGAL SEKOLAH USANG

SELAMAT TINGGAL SEKOLAH USANG
(Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo
Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi
Dimuat di RABA JAWA POS

Satu diantara lima tren global yang akan mengubah wajah dunia di masa depan adalah pendidikan. Ketika orang berbicara tentang masa depan pendidikan, seringkali yang ada dibenak adalah komputer tablet yang tergenggam di tangan siswa dan menggantikan buku atau kertas. Teknologi awan (cloud) yang menggantikan kelas-kelas tradisional. Atau mulai tergesernya peran guru tidak lagi sebagai provider utama pengetahuan.
Sugata Mitra, professor technology pembelajaran di Newcastle University, mengatakan bahwa banyak sekolah telah menjadi usang dan ketinggalan jaman (obsolete). Sekolah dipandangnya kurang bergerak cepat. Informasi jarang di update dan dibiarkan “basi” begitu saja. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan penguasaan teknologi, lambatnya penyebaran informasi dan pengembangan infrastruktur pendukung..
Tergerak untuk membantu kondisi tersebut, Sugata membangun sebuah kampung cerdas di sebuah kawasan kumuh di India. Dan hasilnya sungguh sangat mengagumkankan. Anak-anak di daerah kumuh tersebut dengan sangat cepat belajar dan mengajar dalam waktu yang bersamaan. Perangkat komputer yang digantung dilorong perkampungan kumuh menjadi sumber belajar dan kelas mereka. Salah seorang anak tersebut mengatakan pada Sugata bahwa hadirnya komputer telah mendorong mereka “mengajar” diri mereka sendiri. Sebagai seorang guru, baru pertama kalinya Sugata mendapati secara nyata kata “mengajar diri sendiri”.
Hadirnya teknologi informasi dan internet menjadikan manusia sebagai pebelajar mandiri (autonomous). Pebelajar yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Melimpahnya informasi dan pengetahuan dewasa ini merangsang manusia untuk terus menyibak tabir rahasia semesta. Menjadi sayang sekali jika kondisi ini tidak dimanfaatkan bagi pendidikan yang lebih berkualitas.
Banyuwangi Digital Society (B-DiSo) sepatutnya diapresiasi dengan tinggi. Sekolah memiliki kesempatan dan kemudahan dalam mengelolah sumber belajar yang lebih variatif. Program ini juga mendorong guru di sekolah untuk terus bergerak. Membuka diri terhadap perubahan disekelilingnya yang begitu cepat. Berkolaborasi dengan guru di daerah atau negara lain. Melakukan sharing pembelajaran dan benchmarking. Kegiatan ini akan memperpendek kesenjangan pembelajaran antar sekolah dan Negara. Sekolah-sekolah bisa saling belajar dari praksis pembelajaran terbaik sekolah lainnya (best practice).
Lebih jauh, sekolah usang adalah sekolah yang tidak melibatkan peran orang tua dalam pendidikan anaknya. Orang tua masih dianggap kaum “liyan” yang berada di pinggiran sekolah. Padahal sekolah yang menyenangkan selalu memandang orang tua sebagai mitra sekaligus sumber belajar yang sangat penting. Menempatkan sekaligus melibatkan peran orang tua dalam pendidikan anaknya di sekolah mendorong keberhasilan pendidikan lebih mudah digapai. Penubuhan karakter akan lebih mudah jika orang tua sebagai pendidik utama terlibat di dalamnya.
Sekolah usang adalah sekolah yang anak didiknya belajar penuh tekanan dan beban (stress). Tidak ada keceriaan dan petualangan. Padahal sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang mampu menghadirkan petualangan, mencoba hal baru. Terdapat antusiasme saat memulainya, dan lahir motivasi dalam proses dan kegagalannya. Sekolah dimana anak didik belajar seharusnya menjadi tempat yang mengalir, dinamis, penuh resiko, dan menggairahkan. Pembelajarannya terisi oleh keceriaan, kesalahan dan ketakjuban (quantum teaching).
Sekolah usang akan hilang dengan sendirinya jika guru sebagai penggerak utama melakukan lompatan perubahan yang massive. Terus belajar dan berbenah. Guru masih dipandang sebagai sosok yang teramat penting dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Memanfaatkan berlimpahnya informasi dan sumber belajar akan menjadikan kelas semakin kaya dan penuh kegairahan. Sebaliknya, kelas akan menjadi tempat yang horror jika guru tidak cukup pandai mengorkestrasi keberagaman potensi dan sumber belajar yang ada. Kelas sepatutnya didesain menjadi arena petualangan. Dimana anak didik didorong dan dibawa pada suasana pembelajaran yang merangsang otak untuk terus bergerak dan mencerna semua rangsangan belajar. Dari sinilah akan lahir generasi emas harapan bangsa. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s