UJIAN KITA.

UJIAN KITA..

Pagi ini mendapat sebuah panggilan melalui Hp dari seorang teman. Suaranya serak, karena harus bergadang sampai dini hari. Menunggu kedatangan soal Ujian Nasional di POLRES. Baru kali ini soal Ujian Nasional terlambat datang. Saya kurang paham penyebab keterlambatan tersebut. Hanya mendapat sedikit bocoran bahwa percetakan tidak cukup pengalaman mencetak dokumen penting semacam Ujian nasional. Apapun alasan dibalik keterlambatan ini, yang jelas, telah menambah daftar panjang permasalahan UN. Dan tentunya menambah kecemasan bagi anak didik.
15179_10201044168165897_376916162_n
Suara-suara mendesak “reshuffle” Pak Muh. Nuh mulai terdengar. Federasi guru salah satu penyerunya. Kontroversi pemberlakukan Kurikulum 2013 dan keterlambatan distribusi soal Ujian Nasional diyakini menjadi pemicunya. Banyak pihak menganggap jika Kementrian Pendidikan Nasional telah merendahkan martabat guru. Salah satunya dengan mempercayakan penyimpanan soal Ujian Nasional pada Kepolisian dan pengawasan pada PTN. Kedua keputusan ini dianggap wujud ketidakpercayaan pemerintah terhadap kredibilitas dan integritas guru. Mengapa tidak sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan guru sebagai ujung tombak dan pelaku di lapangan? Tidak sepenuhnya keputusan pemerintah ini salah. Kita juga musti realistis memandangnya. Banyak kebocoran soal juga melibatkan guru di dalamnya. Disatu sisi, pemerintah memang terkesan merendahkan guru, disisi lain, banyak guru belum mampu menjaga integritas dan kredibilitasnya dalam mengawal kejujuran ujian nasional di sekolah.
Alangkah eloknya jika kepercayaan dan tanggungjawab itu mulai disemaikan pada guru. Beri mereka kepercayaan untuk menguji dan menentukan kelulusan anak didiknya. Proses yang akan dijalanani akan membawa angin segar dan gairah baru bagi pendidikan kita di masa mendatang. Inilah proses yang benar-benar dinantikan sekolah (guru). Dan diyakini dapat mengubah wajah pendidikan kita sedikit demi sedikit.
Inilah saat yang tepat untuk menjadikan Ujian Nasional sebagai kegiatan yang wajar-wajar saja. Bukan sakral dan terkesan menyeramkan banyak pihak. Mari kita hindarkan anak didik kita dari ritual “mandi kembang” dan “pengisian” pensil 2B oleh eyang sakti. Ajari mereka bernalar dan lebih rasional dalam menghadapi ujian. Inilah saat yang tepat pula untuk memulai membelajarkan anak secara wajar dan berkualitas. Tidak harus memacu dan menggegas pembelajaran dengan kecepatan sangat tinggi. Hingga kadang keluar track dan lintasan. Alangkah indah dan eloknya persekolahan kita nantinya. Akhirnya selamat Menempuh Ujian Nasional bagi anak-anakku tercinta. Yakinlah bahwa kejujuran memiliki nilai yang lebih berharga dari sekedar angka-angka di NUN.Tidak perlu risau juga gundah gulana. Berfikirlah jujur dan positif, karena pada saat yang bersamaan feedback positif pasti kamu terima. Have a nice exam, Mina san, ganbatte ne! Seize the day!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s