GURU DAN KEKHAWATIRAN YANG BERLEBIH

Dalam setiap perubahan selalu ada dua pihak. Pihak pertama adalah mereka yang “seeing is believing” dan yang kedua adalah mereka yang “believing is seeing”. Konon, untuk menciptakan perubahan harus terlebih dahulu “melihat”. Namun itu saja ternyata tidaklah cukup. Mereka yang melihat belumlah tentu bergerak. Dan yang bergerakpun belum tentu dapat menyelesaikannya. Tidak bisa dipungkiri jika banyak orang terperangkap oleh kesuksesan masa lalunya. Bahkan Peter Drucker mengatakan jika bahaya terbesar dalam turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri, namun “cara berfikir kemaren” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.
_DSC6774
Pendapat yang saya ambil dari buku “CHANGE” milik Rhenald Khasali di atas cukup bisa untuk menggambarkan apa yang saya alami beberapa saat yang lalu. Saat memberikan gambaran dan praksis pendidikan Jepang. Dalam kegiatan tersebut, saya berbagi pengalaman selama belajar dan mengajar di Jepang. Karena sekedar sharing dan berbagi pengalaman, saya katakan diawal kegiatan tersebut bahwa apa yang saya sampaikan adalah tentang kesuksesan Jepang dengan pendidikannya. Tidak ada maksud lain selain belajar dari Negara yang memiliki kualitas pendidikan jauh diatas kita. Bukankah sangat wajar jika kita belajar dari kesuksesan bangsa lain. Bukankah sesuatu yang juga baik mengambil praksis terbaik dan menjadikannya referensi berarti dalam mengelolah dan memperkaya pengalaman mengelolah sekolah kita?. Bangsa Jepang bisa besar dan hebat karena membuka diri terhadap perubahan melalui restorasi Meiji. Toh, Jepang masih tetap bertahan dengan budaya dan karakter aslinya. Apa salahnya jika kita menjadikan kemajuan dan keberhasilan Jepang sebagai referensi berarti bagi diri kita dan sekolah?
To make the story short, Dalam sesi tanyajawab, seorang peserta nyletuk “ saya tidak setuju tendensinya?. Entah apa yang dimaksud dengan kata tendensi tersebut. Mungkin saja pak guru tadi kawatir saya membawa pesan-pesan khusus dari Jepang. Mungkin saja dia takut jika apa yang ada di Jepang akan serta merta diterapkan di sekolah. Mungkin saja dia khawatir demokratisasi pendidikan di sekolah Jepang berimplikasi pada sekolahnya. Ketakutan dan kekawatiran yang berlebihan. Kecurigaan dan budaya nirnalar semacam inilah yang membawa pendidikan berjalan mundur ke belakang. Kalau Rhenald Kasali menulis tentang memudarnya sekolah-sekolah tua (SINDO, 11 April 2013) karena pembelajaran yang tidak lagi menyenangkan, mungkin saja peristiwa yang saya alami menggambarkan secara nyata tentang hal itu. Mungkin saja kita juga secara diam-diam sedang melawan perubahan-perubahan menuju sekolah yang lebih baik. Baik kualitas layanannnya maupun tenaga pendidiknya.
Itulah “penyakit” yang masih banyak menyiksa pikiran guru-guru kita. Tanpa alasan dan pertimbangan yang mendalam langsung main tolak dan melabeli sesuatu dengan kata jelek, kurang Indonesia atau yang lebih ekstrim lagi: tidak islami. Hope is brighter when it drawn from fears.
Saya tidak bisa menyalahkan apa yang dia lakukan. Sayapun tidak bisa serta merta membongkar kebiasaan lama dan persepsi-persepsi yang sudah tertanam dalam benaknya. Karena, sayapun belum tentu lebih baik darinya. Namun, sekali lagi, saya telah belajar dari respon semacam itu. Perubahan pada dasarnya bukanlah menerapkan teknologi, struktur, metode, dan kepala sekolah baru. Perubahan pada dasarnya adalah mengubah cara seorang pendidik berfikir dan berperilaku! Dan remindsettting semacam itu seharusnya kita mulai dari kita sendiri. Semoga kita tetap istiqomah dengan perubahan disekeliling kita. Dan tidak mudah melabeli sesuatu dengan persepsi yang negative untuk menutupi kelemahan kita. Amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s