MENGINTIP AKTIFITAS LAYANAN KANTOR PEMDA DI JEPANG DAN INDONESIA

Pagi itu mentari bersinar begitu cerahnya. Jarum masih menunjuk ke angka delapan 8. Musim dingin sudah berangsur-angsur pergi. Pohon-pohon yang meranggas berlomba bersemi dan berbunga. Bunga-bunga sakura menghias sepanjang jalan. Kayuan sepeda pancal meluncur cukup deras di jalanan kota. Sesekali tangan meremas rem, memperpelan putaran ban sekedar untuk menikmati keindahan musim semi yang akan segera berakhir.
Tujuan perjalanan pagi itu adalah city hall (siakuso: Pemda). Ada beberapa hal yang harus diselesaikan dikantor tersebut. Mengingat, minggu depan sudah harus kembali ke tanah air. Jam 09:00, saat kantor memulai aktifitasnya. Semua pegawai Pemda telah duduk manis dibelakang meja siap memberi pelayanan. Beberapa diantaranya sibuk berjalan dan sebagian berlari kesana-kemari membawa map dan kertas. Pagi itu dan seperti pagi-pagi lainnya, aktifitas kantor tidak banyak berubah. Kerja, Kerja dan Kerja.
Tidak beberapa lama kemudian, seorang petugas kemanan mendekat dan dengan ramahnya mencari tahu apa yang akan kami butuhkan di kantor itu. Dengan senyum dan sapa, sang “Satpam” membawa kami ke sebuah konter. Konter sepanjang 50 meteran itu berdiri berjajar di depan pintu masuk. Diatasnya tertera nomer loket yang digantung di langit-langit kantor. Semua orang akan dapat dengan mudah mencari dimana letak layanan yang dibutuhkannya.

IMG_0639
(Gambar konter layanan di Pemda Kumamoto: dokumentasi pribadi)

Alat kecil berbentuk kotak berada diantara meja-meja konter. Dari alat itulah kita mendapat nomer antrian. Cukup tekan nomer konter, dalam hitungan detik akan keluar selembar kertas antrian. Tidak berapa lama kemudian, nomer antrianku pun terpanggil. Saya utarakan maksud dan tujuan. Dengan sangat cekatan, ramah dan trengginas dia melayai. Setelah persyaratan yang diminta saya serahkan, kemudian terdengar suara mesin pencetak. Cet..cet…cet. Selembar surat keluar dengan selamat. Dengan penuh keramahan sang petugas mempersilahkanku menuju loket pembayaran untuk mengambil sisa uang pembayaran premi asuransi.
Segeralah saya menuju konter tersebut. Konter itu masih terletak di lantai yang sama. Arah menuju konter pembayaran ditandai oleh symbol panah yang tergantung di langit-langit. Disamping itu, dilantai kantor tersebut terdapat cat berwarna merah tua. Warna tersebut menunjukkan arah kemana kita harus mencari suatu loket/konter layanan. Sangat mudah dan tidak berbelit-belit. Terlebih lagi tidak harus pindah dari satu kantor ke kantor yang lain. Atau harus menempelkan amplop dari satu meja ke meja yang lain agar urusan kita cepat selesai.
Jangan bayangkan pegawai pemda itu bekerja malas-malasan sambil bermuka masam dan cemberut. Yang terlontar dari mulutnya hanyalah kata-kata “maaf,” telah membuat anda menunggu, terma kasih atas kerjasamanya.” Beberapa kali dia terlihat membungkuk saat dia harus meninggalkan meja untuk mengambil data atau memphotocopy dokumen tertentu. Benar-benar pelayan masyarakat, bukan sang pemerintah masyarakat!!!.
Betapa berbedanya layanan yang saya terima saat berada di tanah air, Pegawai itu dengan sombongnya menatap seolah-olah yang berdiri di depannya adalah peminta-minta. Nada suaranya sangat merendahkan dan mimic dan wajahnya menyiratkan kemalasan dan ketidakpedulian. Saya hanya bisa menahan gejolak emosi di dada. Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain menerima perlakuan itu dengan sabar.Kesombongan dan sikap sok kuasa telah membawanya menjadi penguasa atas nama sebuah lencana bernama KORPRI. Saya yakin masih banyak aparatur yang lebih baik dan peduli terhadap kepentingan public. Dan saya yakin, aparatur yang sombong itu adalah salah satu penghambat kemajuan dan keberhasilan layanan publik di tanah air.Karenanya, saya doakan semoga sang petugas tadi dibuka hatinya, dan dicerdaskan otaknya agar bisa menjadi pelayan masyarakat yang baik.
Sebagai pegawai rendahan, saya hanya bisa berharap, reformasi birokrasi bisa menyentuh aparatur congkak dan sombong semacamnya. Yang otaknya dipenuhi oleh lembaran-lembaran uang sogokan dan gratifikasi berbungkus amplop kertas. Yang melayani jika melihat ada imbalan setelahnya. Kalau tidak salah, Esensi abdi Negara adalah melayani bukan dilayani. Diperintah bukan memerintah. Memberi yang terbaik bukan meminta imbalan yang layak!!.. Kalau begitu benar adanya yang dikatakan oleh Rhenald Kasali jika aparatur Negara kita hanya pandai melayani atasan tetapi tidak pandai melayani masyarakat/pencari layanan.
Kini, saya merindukan layanan birokrasi seperti di Jepang yang cepat, trengginas dan mudah. Saya yakin, kita bisa melaksanakannya!!!! Tetap optimis di tengah karut marut Indonesiaku tercinta.(Tulisan ini hanya pengalaman pribadi dan sangat mungkin tidak sama orang per orangnya. Karenanya, tulisan ini tidak bisa digunakan untuk menggenaralisasi mental pegawai pemerintah!!)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s