Worksheet of Spoof

Download disini ya:handout

Iklan

Spoof Text – Penjelasan & Contoh

Spoof Text – Penjelasan & Contoh

.
Spoof text adalah salah satu jenis teks yang dianggap paling menyenangkan untuk dipelajari. Dengan adanya Spoof text, setidaknya siswa yang selalu cemberut saat belajar bahasa Inggris bisa terobati. Coba tanyakan pada kawan anda, adakah siswa yang “sangat membenci” pelajaran bahasa Inggris? Saya pastikan, “ADA”. Lah, seorang Nabi saja banyak yang benci, apalagi sebatas bahasa Inggris.

Namun, dengan hadirnya materi belajar spoof text ini, semoga saja berangsur-angsur kebencian ini bisa berganti menjadi rasa cinta.
Spoof text adalah salah satu jenis teks bahasa Inggris yang isinya mengenai cerita lucu. Siapa sih yang tidak tersenyum jika ada hal yang bersifat lucu? Orang stress aja kali ya? Jika narrative text cenderung menceritakan suatu kisah dengan berbagai permasalahan yang harus dipecahkan; dan jika recount text lebih condong menceritakan kegiatan seseorang dalam urutan waktu tertentu, spoof text masih berbeda dengan dengan kedua teks tersebut. Apa sih?

Untuk lebih jelasnya, mari pelajari daftar isi pelajaran spoof text di bawah ini :

Pengertian / Definisi Spoof Text
Generic Structure of Spoof Text
Contoh Spoof Text – Absence
Contoh Spoof Text – Sam Ting Wong

DEFINISI SPOOF TEXT

Disebutkan dalam Cambridge Advance Learner’s Dictionary Online, ada dua makna spoof. Pertama, sebagai kata benda, spoof bermakna, “a funny and silly piece of writing, music, theatre, etc. that copies the style of an original work”. Sedang kedua, spoof sebagai kata kerja, bermakna, “to try to make someone believe in something that is not true, as a joke.”
Dari kedua arti spoof di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian spoof text adalah sebuah teks yang berisi tentang humor meski sebagian teksnya sudah dimodifikasi dari aslinya.

GENERIC STRUCTURE OF SPOOF TEXT

Generic Structure (Susunan umum) dalam spoof text adalah :

Orientation, berisi pengenalan tokoh, latar, setting dll.
Events, berisi peristiwa atau kejadian
Twist, ending cerita (akhir cerita yang dianggap lucu, kadang tidak terduga)

spoof, spoof text, contoh spoof text, spoof text examplesPenjelasan mengenai orientation dan event sudah sering dibahas, khususnya pada pelajaran narrative text dan recount text. Dalam spoof text pun, orientation dan event tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam narrative dan recount.
Sedang untuk twist, bagi seorang yang belum terbiasa menulis cerita lucu mungkin sangat sulit; untuk memahami twist saja sudah sulit, apalagi mengarang sendiri…

Ya, untuk memahami twist, kita membutuhkan selera humor tinggi hingga kita mampu mencerna apa dibalik kelucuan yang terkandung dalam twist ini. Sebab biasanya sangat sulit memperkirakan, “apa sih bagian lucunya?”

CONTOH SPOOF TEXT : ABSENCE

Joe’s Mother got angry because her son got a low mark on English test.

“Why did you get such a low mark on that test?” Asked mother angrily. Asked by his angry mother, Joe just kept silent and went out.

A few moment, Joe came back home and met his mother again. His mother asked the same question.

Joe answered steadily, “Because of absence.”

“You mean you were absent on the day of the test?” Mother wondered.

Joe replied, “No, but the kid who sits next to me was.”

CONTOH SPOOF TEXT : SAM TING WONG

Jacky Wong got married with Lia Wong. Both of them had a white skin and straight hair. They are really a well-matched couple.

One year later, Wong family got a new baby. A nurse brought them a son with curly hair and a black skin.

The nurse congratulated and said, “What name will you give to this son?”

With a confused face, Jacky Wong grumbled, “Sam Ting Wong!”

The Thinker: Quixotic Curriculum

Bowing to public protests at the effectiveness of the 2013 curriculum set to be introduced this July, and realizing the grim fact that many teachers are still in the dark about the new lesson plan, the Ministry of Education and Culture eventually revised its ambitious plan.

The ministry had earlier targeted some 30 percent of both public and private elementary schools across the nation to implement the curriculum when the new academic year begins, but later changed it to only 10 percent following resistance from teachers, education experts and parents.

Growing discontent compelled the ministry last Friday to again reduce the figure to only 5 percent of the total 148,000 elementary schools, while the percentage of secondary schools participating in the program was lowered to 7 percent from an earlier target of 20 percent.

Education and Culture Minister Mohammad Nuh argued that the new curriculum, which adopts an integrative thematic method, was suitable to promote students’ cohesive thinking and to boost their entrepreneurial skills, qualities young Indonesians need to thrive in global competition.

Under the new method, the teaching of physical science in elementary schools was integrated into Bahasa Indonesia while English, the most popular second language, was omitted as a compulsory subject.

This has raised public doubt that the 2013 curriculum, designed to relieve school children from studying too many subjects that the ministry argued could be best taught at a higher level, would truly be able to provide students with adequate basic knowledge and skills when they graduate later.

Scores of local Christian-run schools, many of which have a good reputation for their education, said they would postpone the implementation of the curriculum because they had not been informed about its substance and their teachers had not been prepared for it.

This has shown the ministry’s promise to train some 40,000 selected teachers to help familiarize the curriculum to be unfulfilled.

This was also evidenced by a protest by teachers from various organizations, staged at the House of Representatives last Tuesday, claiming they had not received such training despite the fact that the implementation date was looming.

Meanwhile, analysts believe the education ministry could better spend the Rp 2.49 trillion ($256 million) in funds allocated for the implementation of the new curriculum on urgent matters such as setting up training centers for improving teachers’ competency and quality, providing better teaching and laboratory equipment and repairing damaged school buildings.

People have every right to question the work of the ministry and the professionalism of its personnel. It is still fresh in our memory how the ministry’s program to bolster the national education standard — the so-called international standard school pilot project (RSBI) — did not meet public expectations.

That project, after years of operation, was even declared unconstitutional last year on the grounds that RSBI schools had indirectly applied a discriminatory policy for rich and poor students.

Dozens of “unfit-for-learning” classrooms and “prone-to-collapse” school buildings in remote areas are still in use, despite the fact such conditions endanger student lives.

Yet the ministry, whose very task is to improve education and educational facilities, seems to pay little attention.

And only two days ago the public learned high school students in 11 provinces in central parts of Indonesia would not be able to sit a final examination, scheduled to be held simultaneously nationwide on Monday, because of the inability of the ministry to distribute exam papers to the provinces on time.

It is hard to believe that the ministry, which consumes 20 percent of the total annual state budget, cannot handle routine matters concerning the yearly national examinations properly.

This means the ministry needs to improve its performance and convince the public it has worked hard to prepare its long-term education policy, including the controversial 2013 curriculum.

Oei Eng Goan is a freelance journalist and writer. He can be contacted at enggoano@indosat.net.id.

UJIAN KITA.

UJIAN KITA..

Pagi ini mendapat sebuah panggilan melalui Hp dari seorang teman. Suaranya serak, karena harus bergadang sampai dini hari. Menunggu kedatangan soal Ujian Nasional di POLRES. Baru kali ini soal Ujian Nasional terlambat datang. Saya kurang paham penyebab keterlambatan tersebut. Hanya mendapat sedikit bocoran bahwa percetakan tidak cukup pengalaman mencetak dokumen penting semacam Ujian nasional. Apapun alasan dibalik keterlambatan ini, yang jelas, telah menambah daftar panjang permasalahan UN. Dan tentunya menambah kecemasan bagi anak didik.
15179_10201044168165897_376916162_n
Suara-suara mendesak “reshuffle” Pak Muh. Nuh mulai terdengar. Federasi guru salah satu penyerunya. Kontroversi pemberlakukan Kurikulum 2013 dan keterlambatan distribusi soal Ujian Nasional diyakini menjadi pemicunya. Banyak pihak menganggap jika Kementrian Pendidikan Nasional telah merendahkan martabat guru. Salah satunya dengan mempercayakan penyimpanan soal Ujian Nasional pada Kepolisian dan pengawasan pada PTN. Kedua keputusan ini dianggap wujud ketidakpercayaan pemerintah terhadap kredibilitas dan integritas guru. Mengapa tidak sepenuhnya diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan guru sebagai ujung tombak dan pelaku di lapangan? Tidak sepenuhnya keputusan pemerintah ini salah. Kita juga musti realistis memandangnya. Banyak kebocoran soal juga melibatkan guru di dalamnya. Disatu sisi, pemerintah memang terkesan merendahkan guru, disisi lain, banyak guru belum mampu menjaga integritas dan kredibilitasnya dalam mengawal kejujuran ujian nasional di sekolah.
Alangkah eloknya jika kepercayaan dan tanggungjawab itu mulai disemaikan pada guru. Beri mereka kepercayaan untuk menguji dan menentukan kelulusan anak didiknya. Proses yang akan dijalanani akan membawa angin segar dan gairah baru bagi pendidikan kita di masa mendatang. Inilah proses yang benar-benar dinantikan sekolah (guru). Dan diyakini dapat mengubah wajah pendidikan kita sedikit demi sedikit.
Inilah saat yang tepat untuk menjadikan Ujian Nasional sebagai kegiatan yang wajar-wajar saja. Bukan sakral dan terkesan menyeramkan banyak pihak. Mari kita hindarkan anak didik kita dari ritual “mandi kembang” dan “pengisian” pensil 2B oleh eyang sakti. Ajari mereka bernalar dan lebih rasional dalam menghadapi ujian. Inilah saat yang tepat pula untuk memulai membelajarkan anak secara wajar dan berkualitas. Tidak harus memacu dan menggegas pembelajaran dengan kecepatan sangat tinggi. Hingga kadang keluar track dan lintasan. Alangkah indah dan eloknya persekolahan kita nantinya. Akhirnya selamat Menempuh Ujian Nasional bagi anak-anakku tercinta. Yakinlah bahwa kejujuran memiliki nilai yang lebih berharga dari sekedar angka-angka di NUN.Tidak perlu risau juga gundah gulana. Berfikirlah jujur dan positif, karena pada saat yang bersamaan feedback positif pasti kamu terima. Have a nice exam, Mina san, ganbatte ne! Seize the day!!!

GURU DAN KEKHAWATIRAN YANG BERLEBIH

Dalam setiap perubahan selalu ada dua pihak. Pihak pertama adalah mereka yang “seeing is believing” dan yang kedua adalah mereka yang “believing is seeing”. Konon, untuk menciptakan perubahan harus terlebih dahulu “melihat”. Namun itu saja ternyata tidaklah cukup. Mereka yang melihat belumlah tentu bergerak. Dan yang bergerakpun belum tentu dapat menyelesaikannya. Tidak bisa dipungkiri jika banyak orang terperangkap oleh kesuksesan masa lalunya. Bahkan Peter Drucker mengatakan jika bahaya terbesar dalam turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri, namun “cara berfikir kemaren” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.
_DSC6774
Pendapat yang saya ambil dari buku “CHANGE” milik Rhenald Khasali di atas cukup bisa untuk menggambarkan apa yang saya alami beberapa saat yang lalu. Saat memberikan gambaran dan praksis pendidikan Jepang. Dalam kegiatan tersebut, saya berbagi pengalaman selama belajar dan mengajar di Jepang. Karena sekedar sharing dan berbagi pengalaman, saya katakan diawal kegiatan tersebut bahwa apa yang saya sampaikan adalah tentang kesuksesan Jepang dengan pendidikannya. Tidak ada maksud lain selain belajar dari Negara yang memiliki kualitas pendidikan jauh diatas kita. Bukankah sangat wajar jika kita belajar dari kesuksesan bangsa lain. Bukankah sesuatu yang juga baik mengambil praksis terbaik dan menjadikannya referensi berarti dalam mengelolah dan memperkaya pengalaman mengelolah sekolah kita?. Baca lebih lanjut

MENGINTIP AKTIFITAS LAYANAN KANTOR PEMDA DI JEPANG DAN INDONESIA

Pagi itu mentari bersinar begitu cerahnya. Jarum masih menunjuk ke angka delapan 8. Musim dingin sudah berangsur-angsur pergi. Pohon-pohon yang meranggas berlomba bersemi dan berbunga. Bunga-bunga sakura menghias sepanjang jalan. Kayuan sepeda pancal meluncur cukup deras di jalanan kota. Sesekali tangan meremas rem, memperpelan putaran ban sekedar untuk menikmati keindahan musim semi yang akan segera berakhir.
Tujuan perjalanan pagi itu adalah city hall (siakuso: Pemda). Ada beberapa hal yang harus diselesaikan dikantor tersebut. Mengingat, minggu depan sudah harus kembali ke tanah air. Jam 09:00, saat kantor memulai aktifitasnya. Semua pegawai Pemda telah duduk manis dibelakang meja siap memberi pelayanan. Beberapa diantaranya sibuk berjalan dan sebagian berlari kesana-kemari membawa map dan kertas. Pagi itu dan seperti pagi-pagi lainnya, aktifitas kantor tidak banyak berubah. Kerja, Kerja dan Kerja.
Tidak beberapa lama kemudian, seorang petugas kemanan mendekat dan dengan ramahnya mencari tahu apa yang akan kami butuhkan di kantor itu. Dengan senyum dan sapa, sang “Satpam” membawa kami ke sebuah konter. Konter sepanjang 50 meteran itu berdiri berjajar di depan pintu masuk. Diatasnya tertera nomer loket yang digantung di langit-langit kantor. Semua orang akan dapat dengan mudah mencari dimana letak layanan yang dibutuhkannya.

IMG_0639
(Gambar konter layanan di Pemda Kumamoto: dokumentasi pribadi)

Alat kecil berbentuk kotak berada diantara meja-meja konter. Dari alat itulah kita mendapat nomer antrian. Cukup tekan nomer konter, dalam hitungan detik akan keluar selembar kertas antrian. Tidak berapa lama kemudian, nomer antrianku pun terpanggil. Saya utarakan maksud dan tujuan. Dengan sangat cekatan, ramah dan trengginas dia melayai. Setelah persyaratan yang diminta saya serahkan, kemudian terdengar suara mesin pencetak. Cet..cet…cet. Selembar surat keluar dengan selamat. Dengan penuh keramahan sang petugas mempersilahkanku menuju loket pembayaran untuk mengambil sisa uang pembayaran premi asuransi.
Segeralah saya menuju konter tersebut. Konter itu masih terletak di lantai yang sama. Arah menuju konter pembayaran ditandai oleh symbol panah yang tergantung di langit-langit. Disamping itu, dilantai kantor tersebut terdapat cat berwarna merah tua. Warna tersebut menunjukkan arah kemana kita harus mencari suatu loket/konter layanan. Sangat mudah dan tidak berbelit-belit. Terlebih lagi tidak harus pindah dari satu kantor ke kantor yang lain. Atau harus menempelkan amplop dari satu meja ke meja yang lain agar urusan kita cepat selesai.
Jangan bayangkan pegawai pemda itu bekerja malas-malasan sambil bermuka masam dan cemberut. Yang terlontar dari mulutnya hanyalah kata-kata “maaf,” telah membuat anda menunggu, terma kasih atas kerjasamanya.” Beberapa kali dia terlihat membungkuk saat dia harus meninggalkan meja untuk mengambil data atau memphotocopy dokumen tertentu. Benar-benar pelayan masyarakat, bukan sang pemerintah masyarakat!!!.
Betapa berbedanya layanan yang saya terima saat berada di tanah air, Pegawai itu dengan sombongnya menatap seolah-olah yang berdiri di depannya adalah peminta-minta. Nada suaranya sangat merendahkan dan mimic dan wajahnya menyiratkan kemalasan dan ketidakpedulian. Saya hanya bisa menahan gejolak emosi di dada. Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain menerima perlakuan itu dengan sabar.Kesombongan dan sikap sok kuasa telah membawanya menjadi penguasa atas nama sebuah lencana bernama KORPRI. Saya yakin masih banyak aparatur yang lebih baik dan peduli terhadap kepentingan public. Dan saya yakin, aparatur yang sombong itu adalah salah satu penghambat kemajuan dan keberhasilan layanan publik di tanah air.Karenanya, saya doakan semoga sang petugas tadi dibuka hatinya, dan dicerdaskan otaknya agar bisa menjadi pelayan masyarakat yang baik.
Sebagai pegawai rendahan, saya hanya bisa berharap, reformasi birokrasi bisa menyentuh aparatur congkak dan sombong semacamnya. Yang otaknya dipenuhi oleh lembaran-lembaran uang sogokan dan gratifikasi berbungkus amplop kertas. Yang melayani jika melihat ada imbalan setelahnya. Kalau tidak salah, Esensi abdi Negara adalah melayani bukan dilayani. Diperintah bukan memerintah. Memberi yang terbaik bukan meminta imbalan yang layak!!.. Kalau begitu benar adanya yang dikatakan oleh Rhenald Kasali jika aparatur Negara kita hanya pandai melayani atasan tetapi tidak pandai melayani masyarakat/pencari layanan.
Kini, saya merindukan layanan birokrasi seperti di Jepang yang cepat, trengginas dan mudah. Saya yakin, kita bisa melaksanakannya!!!! Tetap optimis di tengah karut marut Indonesiaku tercinta.(Tulisan ini hanya pengalaman pribadi dan sangat mungkin tidak sama orang per orangnya. Karenanya, tulisan ini tidak bisa digunakan untuk menggenaralisasi mental pegawai pemerintah!!)