Kurikulum Bahasa Indonesia

20 Maret 2013
http://cetak.kompas.com/read/2013/03/20/02143382/.kurikulum.bahasa.indonesia

Kurikulum Bahasa Indonesia

Bambang Kaswanti Purwo

Kepala Badan Bahasa angkat bicara mengenai Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia (Kompas, 16 Februari 2013).

Berita ini menyiratkan dua hal. Pertama, Badan Bahasa memiliki sumbangan besar dalam pengembangan Kurikulum 2013. Kedua, sumbangan baru itu membuat warna baru pada kurikulum yang tak lama lagi akan diberlakukan.

Mari merenung

Guna memahami dan menyikapi Kurikulum 2013, mari kita merenung ke sejarah singkat perkembangan kurikulum dari masa ke masa: dari 1975, 1984, 1994, ke 2004 dan 2006. Para guru, pemerhati mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan para siswa antara 1960 dan 1980-an tentu masih ingat, pada masa itu pengajaran Bahasa Indonesia berurusan, antara lain, dengan butir-butir tata bahasa, seperti ”kalimat majemuk setara”, ”kalimat majemuk bertingkat”, dan ”kalimat elips”.

Masih ingat pula bagaimana dipersoalkan untuk apa berpayah-payah menghafal definisinya hanya untuk mendapatkan nilai. Setelah lulus, lupa itu semua. Keadaan pengajaran Bahasa Indonesia yang seperti ini tetap kita alami sebelum Kurikulum 1975, bahkan sampai Kurikulum 1984, dan baru berangsur-angsur lenyap dari kelas dan ujian nasional Bahasa Indonesia setelah diberlakukannya Kurikulum 1994.

Perubahan besar dan mendasar terjadi pada Kurikulum 1994. Belajar bahasa bukan belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa, seperti ”kalimat majemuk setara” dan ”kalimat majemuk bertingkat” itu tadi. Mengajar bahasa juga bukan mengajar ”pokok-pokok bahasan” yang terlepas-lepas (seperti pada Kurikulum 1984): membaca, menulis, dan seterusnya, termasuk ”pragmatik”. Butir yang terlepas-lepas itu diajarkan secara terpadu. Semuanya itu terintegrasi di dalam teks-teks yang dikemas berdasarkan isi atau tema (karena itu, Kurikulum 1994 disebut berpendekatan tematis).

Membaca tak hanya untuk diarahkan ke pemahaman (dengan daftar pertanyaan untuk dijawab). Dapat juga itu dipakai sebagai titik tolak untuk kegiatan berbicara, berdiskusi. Siswa tidak untuk dituntut tahu bahwa kalimat ini adalah ”majemuk setara”, sedangkan yang itu ”majemuk bertingkat”. Siswa diajak mengalami memakai kedua jenis kalimat itu (dalam kegiatan menulis) lalu mencari tahu apa bedanya menggunakan ”majemuk setara” dan ”majemuk bertingkat”.

Guru bahasa—utamanya—bukan menjelaskan, melainkan melatihkan sesuatu kepada siswa. Lebih dari itu, guru melibatkan siswa dalam kegiatan berbahasa. Kalau guru melibatkan siswa dalam suatu kegiatan berbahasa, siswa dapat belajar, sampai akhirnya dapat berbuat secara mandiri.

Oleh karena itu, mengajar dengan ”pendekatan struktural”—menyajikan dan menjelaskan bahasa dalam keping-keping (yang mengandalkan daya hafal)—ditinggalkan sejak Kurikulum 1994. Kata kunci Kurikulum 1994 adalah ”terpadu”. Tata bahasa, misalnya, tidak diajarkan sebagai mata ajar ”tata bahasa”, tetapi terpadu dalam kegiatan ”membaca” atau ”menulis”. Atau, istilah teknisnya: pengajaran tata bahasa secara kontekstual.

Uraian ”pokok bahasan” pada Kurikulum 1984 diperbaiki dan ditata kembali ke dalam kategori yang disebut ”butir pemelajaran” dalam Kurikulum 1994, yang berisi, misalnya, ”merangkum informasi dari pelbagai sumber”, ”menyarikan isi bacaan”, ”membedakan antara fakta dan pendapat”, ”menemukan informasi yang tersirat dalam teks”. Pada tahap berikutnya, bagian ini dirapikan, diperjelas, dipertajam, kemudian ditampung dalam kategori baru: ”kompetensi dasar” (KD) pada Kurikulum 2004. Pada kurikulum ini dibuat kategori lain yang disusun berdasarkan KD dan disebut ”indikator”.

Bagaimana tata bahasa, kosakata, dan teks ditangani? Itu semua tidak ditata atau ditampilkan sebagai butir-butir KD. Sebab, mengajar Bahasa Indonesia—menurut Kurikulum 2004—bukan mengajar bahan (materi) atau isi (konten) yang dapat dipakai guru ”menjelaskan sesuatu”. KD bukan bahan untuk dijelaskan, melainkan untuk ”diterjemahkan” oleh guru ke dalam sejumlah kegiatan berbahasa di kelas.

Ini mengikuti prinsip dasar Kurikulum 1994: tantangan guru bahasa bukan menjelaskan, melainkan melatihkan sesuatu dan melibatkan siswa dalam kegiatan berbahasa. Tata bahasa, kosakata, dan berbagai teks akan muncul dengan sendirinya pada proses kegiatan berbahasa. Kalau guru yang mengajar bahasa diibaratkan seseorang yang berhadapan dengan ”gunung es”, guru yang ”menjelaskan sesuatu” itu berurusan dengan apa yang kelihatan pada permukaan gunung es, sedangkan guru yang ”melibatkan siswa dalam kegiatan berbahasa” menangani yang ada di dalam dan di dasar gunung es.

Langkah mundur

Bagaimana dengan Kurikulum 2013 (Bahasa Indonesia)? Pendekatan yang ditetapkan (Kompas, 16 dan 18 Februari 2013) disebut ”pendekatan berbasis genre”. Kompetensi dasar ditata dengan setiap kali dikaitkan pada jenis-jenis teks (genre). Jenis teks berbagai macam, antara lain, teks laporan informatif, laporan hasil pengamatan, laporan buku, teks naratif, deskriptif, eksplanasi, dan eksemplum. Ini membuka peluang membalikhaluankan guru kembali menggunakan ”pendekatan struktural”, praktik 30 tahun lalu. Selain banyak penamaan jenis-jenis teks pada Kurikulum 2013, dijumpai juga sejumlah istilah tata bahasa, kosakata, apalagi banyak di antaranya berupa istilah baru yang belum lazim beredar di kalangan guru.

Mengapa pendekatan berbasis genre langkah mundur? Mari cermati pendekatan genre yang diterapkan pada Kurikulum 2013: siswa dibekali dengan pengetahuan tentang jenis-jenis teks. Salah satu KD pada kelas IX: ”memahami teks eksemplum, tanggapan kritis, tantangan, dan rekaman percobaan baik melalui lisan maupun tulisan”; lalu ”membedakan teks eksemplum, dst”; ”mengklasifikasi teks …”; kemudian ”mengidentifikasi teks …”.

Maka, miriplah Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 1975: seperti halnya Kurikulum 1975 menyajikan butir-butir tata bahasa, Kurikulum 2013 menyodorkan jenis-jenis teks. Kelas Bahasa Indonesia kembali berurusan dengan hafal-menghafal. Pengajaran bahasa pun kembali berurusan dengan yang terdapat pada permukaan ”gunung es”.

Perjalanan yang panjang telah dirintis sejak diberlakukannya Kurikulum 1994 untuk menuangkan dan menjelaskan apa yang ada di dalam ”gunung es” itu ke dalam kurikulum. Sebuah perjalanan panjang untuk setiap kali merapikan dan mempertajam hasil menggali gunung es itu dari Kurikulum 1994 ke kurikulum berikutnya. Sebuah perjalanan yang panjang bagi guru Bahasa Indonesia untuk berjuang melepaskan diri dari belenggu ”pendekatan struktural”: dari urusan hafal-menghafal menuju ke praktik pengajaran bahasa yang mengandalkan daya kreatif, daya imajinatif, daya nalar, dan daya kritis siswa.

Kini, dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, guru Bahasa Indonesia dikondisikan untuk berputar haluan kembali ke praktik mengajar masa 30 tahun lalu.

Bambang Kaswanti Purwo Pemerhati Pengajaran Bahasa Indonesia FKIP Unika Atma Jaya

Iklan

Guru Mbeling

Guru Mbeling
Kamis, 7 Maret 2013 | 10:03 WIB
Dibaca: 5808 Komentar: 8
| Share:

M.LATIEF/KOMPAS.COM
Ilustrasi.
TERKAIT:
Penetapan SD Terakhir Pekan Ini
Panja Kurikulum Janji Rampungkan Rekomendasi Pekan Depan
Kurikulum 2013 Masih Mentah dan Timbulkan Masalah
Kurikulum Orangtua untuk Anak
Oleh SIDHARTA SUSILA

KOMPAS.com – Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 sudah beres. Akan tetapi, bagi sejumlah pengamat dan kelompok peduli pendidikan, kurikulum ini masih perlu dikritisi serta disempurnakan. Beberapa di antaranya bahkan secara tegas menolak.

Siapkah para guru menerapkan kurikulum ini? Rasanya kita butuh guru-guru mbeling ketika menerapkan Kurikulum 2013.

Istilah mbeling yang berasal dari bahasa Jawa menyiratkan sifat nakal, suka memberontak terhadap kemapanan, dan sering kali melakukan tindakan di luar kebiasaan. Namun, mbeling berbeda dengan asal-asalan. Pada mbeling terkandung unsur kesadaran, nalar, serta tanggung jawab atas ekspresi mbelingnya. Mbeling dipilih demi memperjuangkan hal-hal yang prinsip. Pada mbeling sesungguhnya mensyaratkan kesadaran, kecerdasan, otentisitas, tanggung jawab, serta keberanian.

Sikap mbeling sering kali dipilih bukan demi kepentingan diri semata. Sikap mbeling sering kali justru dipilih untuk memperjuangkan dan merawat kehidupan. Karena itu, mbeling sering kali menjadi ekspresi panggilan jiwa untuk memperjuangkan prinsip dan merawat kehidupan.

Guru mbeling adalah guru yang sadar akan panggilan jiwanya sebagai pendidik. Guru mbeling sadar akan hal-hal yang membatasi kreativitas dan perjuangan mendidik dengan benar serta bertanggung jawab. Demi prinsip pendidikan, martabat, dan panggilan jiwanya sebagai pendidik, ia berani bersusah-susah dan memperjuangkan pembelajaran di luar kebiasaan.

Dunia pendidikan bertaburan guru mbeling. Dari merekalah kini kita bisa beroleh inspirasi serta terobosan-terobosan pembelajaran. Cara didik Anne Sullivan terhadap Helen Keller adalah salah satu contohnya. Kembelingan Anne Sullivan tidak hanya menyelamatkan Helen Keller. Mereka melahirkan metode pembelajaran yang mencerahkan nasib berjuta anak buta dan tuli.

Guru Erin Gruwell pada film Freedom Writers adalah contoh lain guru mbeling. Sikapnya yang pantang menyerah terhadap kelasnya yang urakan dan mencekam, serta pesimisme rekan guru di sekolahnya, membuat tubuhnya dilimpahi adrenalin. Ekspresi mbelingnya mewujud dalam keberanian menentukan formasi tempat duduk para muridnya, membuat dinamika kelompok untuk mencairkan ketegangan, juga kreativitasnya menuntun para murid untuk mencairkan beban hidup lewat penulisan buku harian. Buah laku mbeling Erin Gruwel adalah solidaritas dan gairah belajar para muridnya.

Ada juga Mr Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-chan belajar (pada novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela). Sikap mbelingnya menciptakan kesempatan belajar bagi banyak anak ”aneh” yang karena ”keanehannya” tak punya tempat belajar di sekolah ”normal”. Keberanian Mr Kobayashi meramu model pembelajaran yang tidak biasa pada masa itu adalah ekspresi sikap mbelingnya yang nyata. Di Indonesia, pendidik mbeling pernah hadir pada sosok Romo Mangun dengan SD Mangunannya itu.

Konteks Kurikulum 2013

Guru mbeling nan unik lainnya adalah Wei Minzhi pada film Not One Less. Ia guru pocokan. Usianya 13 tahun. Guru Wei akhirnya mbeling karena harus mencari Zhang Huike, murid bengal yang terpaksa harus ke kota demi mencari uang untuk pengobatan ibunya. Seperti digagas Emmanuel Levinas, perlahan, tahap demi tahap, nurani guru Wei terkoyak oleh paparan duka muridnya. Koyakan nurani yang serentak menuntut tanggung jawab moral itulah yang menjadikan guru Wei mbeling.

Opini mengenai Kurikulum 2013 yang telah banyak dibahas di Kompas mestinya memancing sikap mbeling para guru di negeri ini. Sejumlah alasan mestinya mengoyak nurani pendidik dan serentak merasa dituntut ikut bertanggung jawab. Sebutlah, misalnya, analisis Kurikulum 2013 yang absurd, tidak menampung keinginan tahu, pembentukan sikap kritis, pendangkalan materi, kelemahan pembelajaran bahasa, hingga kurang matangnya program pelatihan (Kompas 22/2; 24/3).

Memang tidak mudah membuat kurikulum yang sempurna. Karena itu, seperti kata Anita Lie (26/2), hendaklah guru sadar bahwa ia harus menjadi sopir yang baik saat mengemudikan Kurikulum 2013 kelak. Hanya sopir yang baik yang dapat membawa penumpang (baca: murid) sampai di tempat yang benar dengan selamat.

Sesungguhnya guru yang berperan sebagai sopir yang baik bagi kurikulum yang masih ditemukan banyak kelemahan meniscayakan keberanian, kecerdasan, tanggung jawab moral, bahkan kepiawaian mengemudikan dengan cara-cara yang tidak biasa. Itu artinya, demi suksesnya Kurikulum 2013 guru negeri ini wajib mbeling.

Beranikah para guru kita bersikap mbeling dalam mengemudikan Kurikulum 2013? Improvisasi dan ragam pembelajaran mbeling sering kali tak mudah dilakukan di negeri ini. Salah satu hadangan berat adalah ketika pada akhirnya harus menjalani perhelatan ujian nasional. Pembelajaran mbeling, meski demi kepentingan anak didik, akhirnya menjadi pertaruhan.

Masih berani menjadi guru mbeling?

SIDHARTA SUSILA Pendidik: Tinggal di Muntilan, Magelang

Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum

Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
Rabu, 13 Maret 2013 | 10:45 WIB
Dibaca: 5176 Komentar: 7
| Share:

TERKAIT:
Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
Kurikulum 2013
Guru Mbeling
Kurikulum Orangtua untuk Anak
Oleh Hafid Abbas

KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema.

Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

Dilema pendidikan

Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

Proyek dan pencitraan

Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

Silence Day – Sindo, 14 Maret 2013

Rhenald Kasali

Setelah Car Free Day, ada baiknya kota-kota besar Indonesia juga memberlakukan Silence Day. Orang Bali menyebutnya Nyepi. Tujuannya adalah pembersihan diri, fisik maupun spiritual. Bumi pun ikut bernafas lega, alam semesta merayakan ketenangan. Suara burung, angin dan air jauh lebih indah dari klakson sepeda motor dan cacian pengemudinya.

Televisi yang menyiarkan kegaduhan berhenti sejenak, juga gosip-gosip yang meng-entertain kesusahan orang lain. Banyak orang yang tak menyadari keluhan-keluhan dan rasa bencinya telah mempengaruhi perputaran hormon orang-orang lain. Kegelisahan dan rasa iri begitu mudah diedarkan, dengan akun palsu yang dibuat sendiri, gratis pula. Tak banyak yang menyadari bahwa energi negatif itu tak lepas dari hukum kekekalan energi, terus menekan tiada henti.

Beberapa kali saya berada di tengah-tengah masyarakat Bali menikmati hari Nyepi. Saya merasa tengah berdialog dengan Tuhan dan penuh kedamaian. Esok paginya, udara jauh lebih bersih. Oksigennya banyak dan segar sekali.

Namun seperti biasa, bagi orang kota yang terperangkap dalam suasana itu, apakah karena pesawatnya tak bisa terbang, atau tugas butuh waktu lebih lama berada dalam suasana itu, sudah pasti menimbulkan kegalauan. Bagi orang kota, perubahan selalu disambut dengan kegaduhan dan perlawanan. Khususnya, saat lampu di lorong-lorong hotel dipadamkan, diganti lilin-lilin kecil. Sejumlah orang mengeluh. Beberapa orang yang ingin berlibur merasa telah tertangkap dalam kesunyian. Mau pulang tidak bisa, jadi yang keluar hanya keluhan. Namun begitu selesai, mereka lah yang pertama-tama menyebarkan rasa bahagia. Setiap pengorbanan selalu ada imbalannya, demikian juga setiap amarah ada karmanya.

Aura Negatif

Kerabat-kerabat saya di Pulau Dewata sering mengucapkan kata “aura positip-aura negatip”. Menurut sahabat-sahabat saya di Desa Kedewatan-Ubud, hampir setiap upacara, Umat Bali secara simbolik melakukan pembersihan diri, sekaligus menjinakkan aura-aura negatif. Nafsu duniawi, ankara murka, semua yang jahat dilambangkan dengan warna hitam dan wajah-wajah yang menakutkan. Semua itu harus dijinakkan. Di Jakarta kita menyebutnya setan atau iblis. Roh-roh jahat pembawa penderitaan.

Sedangkan yang baik-baik, suci dilambangkan dengan segala yang serba putih dan berwajah ceria. Hitam dan putih selalu berjalan beriringan. Tanpa ada hitam, tak ada keindahan putih.

Bagi saya, sehari saja orang-orang kota berhenti beraktivitas dan menjalankan silence day,manfaatnya akan banyak sekali. Apalagi bila Catur Brata juga dijalankan: Amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan. Berhenti menyalakan api (tidak mengobarkan hawa nafsu), berhenti kerja rohani (fokus pada Tuhan, menyucikan rohani), tidak bepergian (instrospeksi diri, kontemplasi), dan tidak mengobarkan hedonism. Bayangkan berapa ton carbon hitam yang bisa kita hemat, dan berapa juta ton dosa umat manusia, termasuk segala sampahnya bisa kita bersihkan. Kapitalisme hanya bisa berhenti kalau semuanya berhenti konsumsi bersama-sama. Walau cuma sesaat.

Buat orang desa, diam berarti emas. Tetapi buat orang kota, bicara itu emas. Seorang penyiar radio berkelakar, “saya dibayar hanya kalau saya bawel.” Entah bicara positif, entah negatif. Pokoknya bicara. Tetapi bagi orang-orang yang mendengarkan, emas itu baru berkilauan kalau banyak orang diam. Sesuatu yang berkilauan itu hanya tampak dari aura-aura yang positif.

Aura-aura positif dan negatif sama-sama saling menularkan. Orang tak senang terhadap sesuatu hal akan didukung oleh orang-orang yang juga tidak senang. Provokator pun laris manis, disambut umpatan-umpatan baru. Di sosial media, seorang yang yang menyebarkan kalimat-kalimat negatif, jarang dibantah. Yang ada hanya gulungan-gulungan aura negatif. Hanya orang yang punya lentera jiwa yang terang yang berani mematahkan aura-aura negatif itu.

Kicauan negatif biasa dijawab dengan umpatan-umpatan yang lebih negatif. Seorang dokter yang memasang foto kepala seekor anjing di Facebook-nya bisa-bisanya mengeluarkan umpatan-umpatan liar sambil mengutip kalimat seorang imam (yang juga beraura negatif). Ia seperti tengah melupakan profesinya. Tetapi begitu dikritik, ia dengan lantang menyebutkan, “Saya dokter di rumah sakit ‘X’.”

Indonesia Yang Lebih Sejuk

Kalau orang kota menjalankan silence day sehari saja, rasanya Indonesia akan lebih sejuk. Polusi udara dan polusi pikiran akan membuat bangsa ini lebih sehat. Toh kita sudah lihat, orang-orang yang bersuara negatif ternyata “penjahat” pula. Dulu kita pikir mereka hebat, pemberani, kritis dan jujur. Ternyata mereka menyimpan agenda-agenda terselubung. Menyerang untuk bertahan. Banyak persoalan yang mereka sembunyikan. Dan begitu dibuka, marahnya minta ampun. Bahkan bisa memperkarakan orang lain.

Aura-aura negatif ini sudah terlalu banyak ditabur, dan memperangkap banyak orang. Kita pikir itu demokrasi, padahal democrazy. Wartawan saja bisa terkecoh, karena mereka pandai membuat “framing”. Pandai menjerat tokoh-tokoh besar untuk meng-endorse langkah-langkah itu. Kalau manusia kota berhenti berbicara, berhenti menaburkan aura-aura negatif, maka manusia introspektif akan terbentuk. Seperti kata Deepak Chopra. “Alam semesta saling berinteraksi, pikiranmu adalah pikiran alam semesta, energimu adalah cerminan dan energi alam semesta.” Fan alam semesta adalah representasi dari pikir manusia yang tinggal di dalamnya, yang berinteraksi dengannya.

Jadi, orang Jakarta, seperti juga Surabaya, Semarang, Solo, Jogja, Bandung, dan Serang. Dan kota-kota besar lainnya, perlu membudayakan silence day cukup sehari saja setahun untuk menciptakan kerukunan dan kebahagiaan. Semua berhenti, kecuali suara adzan, lonceng gereja atau panggilan memuja Allah. Siapa mau memulainya?

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013
Posted Fri, 03/08/2013 – 11:20 by sidiknas

Oleh Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Artikel ini Sudah Dimuat di Harian Kompas, Kamis, 7 Maret 2013

Dalam beberapa bulan terakhir, harian Kompas memuat tulisan dari mereka yang pro ataupun kontra terhadap rencana implementasi Kurikulum 2013. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas berbagai pandangan tersebut.

Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013.
Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.

Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi Abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.

Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan dapat dicapai.

Perencanaan Pembelajaran

Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik, proses panjang tersebut dibagi menjadi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan dapat diminimalkan.
Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagi-bagi menjadi tujuan antara. Pada dasarnya kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan menentukan kompetensi lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang satuan pendidikan.

Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses), supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.

Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum, karena yang perlu diperbaiki sebenarnya metodologi pembelajaran bukan kurikulum. (Mohammad Abduhzen, “Urgensi Kurikulum 2013”, Kompas, 21/2 dan “Implementasi Pendidikan”, Kompas, 6/3). Hal ini menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi termasuk mencakup metodologi pembelajaran.

Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai “memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif, dalam ranah konkret dan abstrak, sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.”
Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu, sudah dirumuskan dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.

Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan Abad 21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan Elin Driana, “Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya.

Mengatakan tidak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh, hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP.
Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai dengan tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi matapelajaran dan tumpang tindih yang tidak diperlukan pada beberapa materi matapelajaran, kecepatan pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih bernalar dan berfikir.

Kompetensi Inti

Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk memudahkan proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi beberapa tahap sesuai dengan jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.

Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.

Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti.

Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran.

Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat, menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah dengan alasan pada “Kompetensi Inti Bahasa Indonesia” tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia, karena memang tidak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia, sebagaimana yang dipertanyakan Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres” (Kompas, 2/3).

Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.

Uraian kompetensi dasar sedetil ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap.
Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik, karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut, ada pesan-pesan sosial dan spiritual yang terkandung dalam materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kegelisahan yang disampaikan L. Wiliardjo dalam “Yang Indah dan yang Absurd” (Kompas, 22/2)

Kedudukan Bahasa

Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat dimana peserta didik mulai diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD masih belum terlatih berfikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dahulu perlu dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian besarnya abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berfikir abstrak.

Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik.

Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar, pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.

Dengan cara ini pula, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual, sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia kurang diminati oleh pendidik maupun peserta didik.

Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik, terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu pengetahuan.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi, sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UU Sisdiknas, sebelum mengkritik. (***)

Kurikulum Baru dan kritik dalam Pembaruan – Sindo, 7 Maret 2013

Kurikulum Baru dan kritik dalam Pembaruan – Sindo, 7 Maret 2013
“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.”

― Winston Churchill

Dahlan Iskan pernah menyebutkan dalam setiap perubahan selalu saja ada kelompok 10% yang baiknya “dieman-eman” (istilahnya) saja. Pokoknya mereka akan selalu menentang. Di komunitas perubahan, kami biasa menyebut kelompok itu sebagai “oposan abadi”. Kelompok ini unik dan kalau kita mengerti cara berpikirnya, sebenarnya bisa menjadi hiburan ketimbang menjadi lawan yang menegangkan. Mereka terdiri dari orang-orang yang bereaksi paling keras setiap kali ada perubahan. Namun begitu hasil perubahan ada, perlahan-lahan mereka diam juga, lalu mengangkat kritik pada topik lain. Tetapi dasarnya tetap sama, senang diperhatikan, senang memarahi, senang dianggap pandai atau penting. Ganggu sedikit, colek yang banyak, sukur-sukur bisa masuk tv, walau cuma sekali-kali. Itu sudah menghibur hati. Sudah masuk dalam daftar CV untuk kegiatan lebih jauh.

Tetapi Winston Churchill seperti kutipan di atas menyebutkan, sekalipun Anda tak setuju, kritik itu perlu. Ngga apa-apa, apalagi di abad transformasi, abad perubahan di negeri demokrasi. Kritik katanya, ibarat rasa sakit dalam tubuh manusia, pertanda perlunya perhatian untuk merawat kesehatan. Hanya saja, ia juga pernah mengatakan kritik itu ada lima macam. Pertama, kritik yang tulus, bertujuan mengingatkan. Kedua kritik yang bertujuan cari keuntungan. Ketiga, kritik untuk mengatasi rasa takut. Keempat, kritik cari perhatian. Dan kelima, kritik untuk menunjukkan identitas.

Demikianlah kritik terhadap kurikulum baru. Saya kira lima-limanya ada. Mereka hanya dapat dibedakan dari apa yang mereka kerjakan. Kalau orangtua yang punya anak gelisah menghadapi kurikulum baru yang tidak jelas, saya kira wajar. Tapi juga ada khawatir yang besar dari ketidakpahaman sesuatu yang baru, sehingga seakan-akan nasibnya akan terlunta-lunta. Sejumlah ilmuwan yang melihat subjeknya “tak ada lagi” dalam susunan mata ajaran segera bereaksi. Tetapi benarkah subjeknya dihapuskan? Mungkin ini cara berpikir saja. Atau mungkin ini pertanda pemerintahan tidak sehat, kejelasan tidak ada, sehingga alih-alih menimbulkan dukungan, yang terjadi justru kritik yang tajam. Saya sendiri ikut kecipratan amarah, meski hanya menulis dari apa yang saya pelajari dan saya alami. Lumayan, belajar meregangkan urat syaraf.

Tapi benar kata Dahlan Iskan. Ini layak dieman-eman, lumayan bisa menghibur. Kalau ilmuwan marah, selain ada yang benar, ada juga yang lucu. Bukan logika yang dicari seperti layaknya ilmuwan sejati yang open mind, tapi kalimat nggak penting yang menyinggung perasaannya. Kalimat itu dikutip dalam pesan twitter, lalu dikomentari dengan gaya dosen zaman dulu yang uring-uringan memeriksa paper mahasiswa. Lalu dari situ diharapkan mendapat dukungan dari komunitas yang tentu saja menjawab dengan jenaka dan lucu-lucuan juga. Sebuah pergumulan yang indah yang kadang membingungkan bagi yang lain.

Menghujat Kurikulum Lama

Kalau Anda sempat mengumpulkan tulisan-tulisan saya tentang pendidikan, maka Anda mungkin tahu sudah lama saya menunjukkan perhatian tentang pentingnya reform pada sistem ini. Kalau Anda googling nama saya dengan kata-kata kunci berikut ini, maka Anda akan menemukan pemikiran-pemikiran itu: Encouragement, Race of Going Nowhere, Sekolah 5 cm, Myelin, Passport, Sekolah untuk Apa, Tallent Merrit Vs Exam Merrit, Generasi Bingung Bahasa, RSBI, Generasi Baru, dan seterusnya.

Di media ini saya juga berulang kali menunjukkan bahwa jumlah mata pelajaran yang diberikan kepada para siswa di sini sudah kelewat batas, bahkan yang terbanyak di dunia. Saya berulangkali mengatakan akibat-akibatnya sangat menyengsarakan anak didik: siswa yang bingung, tidak kreatif, tidak bisa mengungkapkan isi pikiran dengan baik, dan kecemasan yang tampak dari tingginya angka kesurupan menjelang UN. Kritik-kritik itu pun disertai jalan keluar yang saya tunjukkan dalam kajian.

Lantas, saat pemerintah meresponsnya dengan hadirnya kurikulum baru, tentu saja saya menyambutnya dengan gembira. Jumlah mata ajaran dikurangi. katanya, suasana gembira harus ditumbuhkan agar anak-anak generasi baru tidak lagi stress dalam belajar di sekolah. Ini persis sama dengan yang sering saya suarakan.

Saya masih ingat saat diminta Rektor Universitas Andalas Padang, prof. Musliar Kasim memberi paparan ilmiah di kampusnya, semua akar permasalahan pada dunia pendidikan dan kewirausahaan saya paparkan. Dan tak lama setelah prof. Musliar menjadi Wakil Menteri Pendidikan, ia pun meresponsnya dengan kurikulum baru. Saya sendiri tak tahu persis bagaimana Mendikbud merumuskan kurikulum baru, tetapi saya dengar mereka mengumpulkan tokoh-tokoh pendidikan dan kaum cendekia. Saya sendiri tak termasuk di dalamnya, tetapi sikap saya tidaklah berseberangan, sebab tujuannya sudah sama. Namun entah apa yang terjadi, tampaknya banyak juga tokoh pendidikan yang tak diundang bicara, tapi juga tak diajak mengerti. Akibatnya kritik mereka tumpah di berbagai tempat. Dari kajian change management, pro-kontra ini menarik untuk dikaji.

Dari amarah itu saya menemukan kalimat-kalimat menarik yang diucapkan secara verbal, bahwa “kurikulum baru ini dipastikan gagal”. Ini menarik sekali. Bagi masyarakat, jelas saja belum, dimulai juga belum, dengar saja cuma dari jauh, apalagi kalau tak terlibat dalam pergulatan perubahan, tetapi sudah ada yang berani menjamin kurikulum ini “pasti gagal”. Bisa diduga karena kredibilitas pemerintahan yang didera kasus korupsi terus menerus ini turut memberi imbas.

Dari diskusi internal para pakar yang diselenggarakan Mendikbud itu, saya mendengar ada usulan yang sangat extrem, yaitu bagaimana agar anak-anak di sekolah dasar “dimerdekakan” dari proyek-proyek buku, dari beban yang berlebihan. Usulan extrem-nya adalah, “bila perlu, untuk anak SD mata ajar cukup satu saja, yaitu Manusia dengan Alam Sekitarnya”.

Saya teringat lima tahun lalu saya pernah menyampaikan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) agar “rela” memangkas mata ajaran yang sudah kebanyakan. Korbannya ya tentu saja anak-anak kita, anak saya dan anak-anak Anda. Tetapi apa respons Dirjen Dikdasmen? “Itu masalahnya bukan di kami, melainkan ada di UU Sisdiknas”. Penasaran dengan itu saya pun membuka UU itu, dan disitu saya membaca masalahnya. Nama-nama subjek yang disebut harus ada dalam sistem pendidikan nasional (seperti agama, bahasa Indonesia, dan lain-lain) ternyata diterjemahkan jadi mata ajaran, yang tentu saja berarti “proyek” bagi penerbit buku dan politisi yang berhubungan dengannya, dan inilah yang berakibat jumlah mata ajaran di tingkat SMU mencapai 18 hingga 24. Padahal di berbagai negara maju, jumlah mata ajar hanya 6 dengan mata ajar wajib hanya 2 (Bahasa Inggris dan Matematika).

Maka bagi saya, wajarlah saat Mendiknas “berani” memangkas mata ajaran itu. Politiknya saya tak mengerti. Tapi tentu saja saya was-was karena kabinet ini hanya punya waktu setahun lebih. Was-was kalau kurikulum baru ini kelak dianulir lagi oleh penerusnya pada pemerintahan baru dan anak didik kembali harus berurusan dengan beban lama. Apalagi kalau filosofinya tidak sama dan biaya politiknya yang harus ditarik kembali lebih besar. Masih banyak pula yang berpikir kalau anak-anak diberi mata ajar yang banyak maka mereka akan lebih hebat. Banyak yang berpikir belajar itu ya di sekolah. Maka kurikulum sekolah dipadatkan dan peran orang tua diambil alih semua oleh sekolah.

Logika Keaksaraan

Salah satu ilmuwan yang terganggu oleh kurikulum baru tentu saja mathematician karena mata ajar ini tidak tiba tak disebut dalam kurikulum baru untuk Sekolah Dasar. Saya kira bukan hanya mathematician yang wajib bertanya, melainkan kita semua. Dalam social science seperti yang saya geluti saja, math menjadi bahasa yang penting. Maka itu sayapun mengajukan pertanyaan kepada Mendikbud dan juga kepada Wakil Menteri. Namun jawabannya mudah saya pahami: Matematika tidak dihapus, tetapi melebur terintegrasi dalam kesatuan dengan yang lain.

Saya tentu bukan juru bicara Mendikbud, tetapi saya kira saya bisa mengerti dengan mudah, namun bagaimana awam dan imuwan lainnya? Ini perlu kerja khusus untuk membuat masyarakat paham sebab masih banyak diantara kita yang menggunakan paradigma lama dalam melihat dunia baru, termasuk pendidikan. Saya masih ingat saat beberapa sekolah tertentu menerapkan metode integratif, pertanyaan juga banyak diberikan oleh orangtua, bahkan banyak yang tiba-tiba menarik anaknya keluar. Baru belakangan ini masyarakat menyadarinya, memang dunia baru sudah berbeda dan Indonesia butuh lulusan-lulusan baru yang tak hanya pandai bagi dirinya sendiri, melainkan juga gaul, bisa berkomunikasi dengan baik, kreatif, kaya perspektif dan mampu mengendalikan emosinya.

Lantas bagaimana saya memahami hal ini? Ceritanya begini, salah satu pergulatan yang digumuli Yayasan Rumah Perubahan adalah pendidikan, khususnya anak-anak usia dini dan balita pra sekolah. Kami menaruh perhatian untuk memberikan fondasi yang kuat pada anak-anak kampung yang kami lihat selalu termarjinalkan, dan kalah dalam pertarungan kehidupan melawan anak-anak kelas menengah. Dari pergaulan dengan para pendidik itulah saya diperkenalkan dengan metode Sentra yang belakangan mulai banyak diadopsi. Celakanya metode ini sangat tidak dikenal ilmuwan tua. Meski tak diajarkan membaca dan berhitung, dalam metode sentra, anak-anak sudah biasa diajak bernalar keaksaraan.

Ambil contoh saja dalam sentra bahan alam, diberikan berbagai permainan dengan media tertentu, bisa biji-bijian, bahan cair, tumbuh-tumbuhan, serangga, pasir dan sebagainya. Pada saat sentra ini diperankan, sekaligus anak-anak mendapatkan banyak hal mulai dari klasifikasi, logika volume, bentuk, ukuran, menemukan warna baru, menghitung, berbahasa, bertutur, imajinasi dan seterusnya. Saya bisa bercerita banyak dari proses pembelajaran yang hingga hari ini masih terus kami alami yang membuat istri saya tak ingin melepaskan waktu barang sedetikpun mengamati anak-anak didiknya. Logika keaksaraan dibangun dengan fondasi yang menurut hemat saya jauh lebih kokoh daripada menurunkan rumus di papan tulis yang lalu dihafalkan, atau didikte oleh guru spesialis yang hanya paham matematika saja.

Beranjak dari pemahaman metode sentra ( yang harus saya akui ilmu saya belum seberapa ini) mungkin saya bisa lebih mudah memahami makna pendekatan integratif yang sering diucapkan Mendiknas dalam kurikulum baru.

Namun apakah anda masih akan menyangsikan bahwa guru-guru kita akan mampu menjalankannya? Wallahu A’lam, saya tak tahu persis. Apalagi birokrasi kita masih kusut seperti ini. Tetapi saya mau menyampaikan kepada anda, sekolah yang kami asuh tidak diajar oleh guru-guru bependidikan S1 atau S2. Guru-guru kami adalah orang kampung yang bersahaja yang disekolahkan kembali. Mereka adalah ibu rumah tangga yang juga punya anak-anak kecil biasa yang mencintai anak-anak. Nah, kalau mereka saja bisa, apa iya guru-guru kita sebodoh yang diduga para elit? Saya kurang bisa mempercayai itu. Meski mereka orang kampung, mereka bisa membuka mesin pencari Google dan memberi kita kalimat ini: “Don’t criticize what you can’t understand.” ― Bob Dylan

Dalam peradapan continous improvement, lebih baik kita mengulurkan tangan kecerdasan kita untuk memperbaharui pendidikan daripada adu pandai, saling mengunci. Kritik itu perlu, bagus buat membuat kementerian lebih bersungguh-sungguh. Tetapi membuat jembatan untuk masa depan jauh lebih indah daripada saling menakut-nakuti. Kurikulum ini hanya akan jadi bagus kalau ia terus disempurnakan dengan logika baru yang lebih humanistik dan kreatif. Apalagi masa kerja kabinet ini cuma tinggal setahun lagi.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Lentera Jiwa (2) – JawaPos, 11 Maret 2013

Lentera Jiwa (2) – JawaPos, 11 Maret 2013
Ketika seseorang bertanya bagaimana caranya menjaga kebugaran agar selalu tampak segar dan bersemangat, maka sebenarnya jawaban terbaik ada pada menyala atau tidaknya lentera jiwa seseorang. Di rumah, kala saya sedang mengalami tekanan psikologis, istri saya selalu mengatakan “wajah saya sudah berubah menjadi seperti pak dosen”. Lama saya tak mendengar lagi kalimat itu, tetapi saya pernah memikirkannya.

Rupanya ia tak mau wajah suaminya menjadi mirip rata-rata dosen yang kata dia “menjadi lebih tua dari usianya”. Saya baru menemukan jawabannya ketika suatu waktu Najwa Shihab mempertemukan saya, Prof Emil Salim dengan Ninik L Karim, dosen Fakultas Psikologi UI untuk menyambut mahasiswa baru. Di atas panggung auditorium UI, kami bercerita tentang kehidupan kami bagaimana meniti karier dan menembus tembok-tembok kesulitan sepanjang masa. Saat jeda, saya sempat bertanya pada Ninik, apakah sosok seperti dia klaim berada di kalangan dosen? Apakah tidak mengalami masalah dengan pola karier seperti ini?

Di luar dugaan saya, pemain teater yang pernah meraih beberapa kali piala Citra di layar lebar itu justru bertanya balik ke pada saya. Saya katakan, justru itulah saya bertanya, karena sesungguhnya saya ingin tahu apakah orang seperti saya di fakultas lain juga mengalami hal serupa? Selain mengajar, Ninik dikenal sebagai selebritas, dan dulu sering muncul di layar lebar. Kalau sekarang Anda menyaksikan akademisi menjadi pengamat dan sering masuk TV adalah biasa, tidak demikian sepuluh-dua puluh tahun lalu.

Ninik bercerita panjang lebar bagaimana ia dianggap aneh oleh komunitasnya. Bahkan yang lain bercerita, mereka seperti digunjingkan, tak diinginkan oleh komunitasnya. Tetapi Ninik kemudian mengatakan, “Tetapi saya bahagia Mas, saya lakukan semua ini karena panggilan jiwa saya. Sementara ada ratusan dosen yang melakukan profesinya bukan karena panggilan jiwanya”. Maka layaklah mereka menjadi dosen killer, mudah tertekan, cepat tersinggung, sulit mengungkapkan mau hatinya, bahkan sulit berprestasi optimal. Padahal, seorang guru sejati bukanlah orang yang senang marah, mempersulit orang lain, mengatakan orang lain tak mutu, bahkan mengatakan hanya dirinya yang bisa bernalar. Bagi saya semua ini hanyalah cerminan dari tak menyalanya lentera jiwa. Mereka bahkan the caged life (perangkap jiwa) atau bahkan sudah comfortable life (mempertikai kenyamanan).

Pertanyaan Jiwa

Maka sampai di usia 30-40 an, seorang yang sedang meniti karier perlu bertanya pada jiwanya dan pertanyaan itu adalah cermin dimana ia berada. The Caged Life, kata Brendon Burchard, akan selalu diwarnai perasaan-perasaan takut setiap menyaksikan perubahan apa saja. “Apakah saya bisa survive”? Dan fokusnya hanya pada “aman atau tersakiti”.

The comfortable life sebaliknya akan bertanya, “Apakah saya akan diterima dan berhasil”? Dan fokusnya pada penerimaan. Sedangkan pemantik lentera jiwa akan bertanya, “apakah daya telah menegakkan kebenaran dan mengaktualiasikan potensi diri saya? Apakah saya telah melakukan hidup yang inspiratif dan mengirai oang lain”.

Bagi saya, maaf, percuma saja berteriak kejujuran dan etika, bila diri sendiri menjalani hidup yang terpenjara. Orang yang terpenjara tidak hidup dalam apa yang ia inginkan, ia banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang sulit ia jawab sendiri. Sementara bagi pemantik lentera jiwa, credo yang dianutnya adalah, “ask not what you are getting from the world but, rather what you are giving to the world”.

Maka, mereka tak pernah merasa keletihan karena setiap hari selalu menyaksikan hal-hal baru. Ini berbeda dengan The Comfortabe Life yang selalu menjalani rutin dengan kebosanan. Bagi pemantik lentera jiwa, “life is magical and meaningful”. Mereka tak takut menghadapi gelombang-gelombang ancaman, mereka hanya peduli” apakah ini benar atau tidak” dan “apakah ini meaningful”. Selamat menyalakan lentera jwa masing-masing…

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan