Merindukan Kesederhanaan Pemimpin Bangsa

Merindukan Kesederhanaan Pemimpin Bangsa

Saya Baru saja menyaksikan profil CEO JAL (Japan Air Lines). Salah satu maskapai terbaik dunia. Dengan pelayanan dan komitmen pada konsumen yang sangat tinggi. Beruntung sekali saya pernah menikmati layanan JAL saat berangkat ke Jepang 2011 yang lalu. Saya sempat terkejut saat pramugrari dengan sopannya menawari makanan sambil berjongkok. Layaknya seorang abdi menyembah rajanya. Sontak, menanamkan satu memori yang indah di benakku.
Haruka Nishimatsu, nama CEO JAL tersebut. Meski menjadi CEO perusahaan penerbangan kelas atas dunia, gaya hidupnya sangat sederhana. Berangkat ke kantor dengan bis pegawai, tak ada sopir pribadi, tas dibawa sendiri, tak ada protokoler yang mengawal, duduk di kelas ekonomi, makan siang bersama pegawai di kantin kantor dengan menu siap saji seperti yang bisa dinikmati rata-rata pegawai.
Di Jepang, pejabat naik angkot sudah biasa. Bahkan seorang walikota di Khusyu, pulang pergi ke kantor dengan kereta api komuter. Atau professor di universitas yang ngontel ke kampusnya.
Kondisi ini mengingatkan saya pada sosok Muhammad Natsir. Salah satu tokoh besar bangsa dengan kesederhanaannya. Saya pernah membaca sebuah artikel di eramuslim.com tentang kesederhanaan Natsir. Diceritakan bahwa ndonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, Ibukota Republik yang masih muda.
Satu hari dia diundang datang dalam suatu acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang kelak dikenalnya dengan nama Muhamad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi.

Kahin mengenang, “Saya dengar, beberapa pekan kemudian, para anak buahnya di Kementerian Penerangan berpatungan membelikan Pak Menteri Natsir sehelai baju yang lebih pantas. Setelah baju itu dipakai Pak Menteri Natsir, para anak buahnya berkata, ‘Nah ini baru kelihatan menteri betulan’.”

Kesederhanaan merupakan prinsip hidup seorang Muhammad Natsir. Prinsip ini terus dipegangnya sejak kecil hingga menjadi pejabat negara. Dan kemudian memang terbukti, kesederhanaan inilah yang akhirnya menjadikan kekuatannya, menjadikan harga diri dan martabatnya sedemikian tinggi, dan semua orang dari berbagai kalangan menghormatinya.

Namun, kini kesederhaan telah menjadi barang langkah. Terlebih lagi di kalangan pejabat dan elit politik. Mereka berlomba-lomba membeli kemewahan. Bahkan dengan jalan yang culas dan melanggar hukum.

Benar-benar kesederhanaan telah langkah. Kalaupun ada pejabat yang sederhana, ujung-ujungnya terjadi penggiringan opini jika kesederhanaan dan keluguan gaya memimpinnya tak lebih hanyalah pencitraan belaka. Politik dan uang kini telah mengubur kesederhanaan dalam-dalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s