Cuap – Cuap Kurikulum 2013

Cuap – Cuap Kurikulum 2013

January 7, 2013 § 7 Comments

source : http://nationalgeographicdaily.tumblr.com

Setelah berhari – hari lini masa saya dibanjiri pendapat rakyat republik twitter mengenai Kurikulum 2013, akhirnya saya tergoda untuk turut mengeluarkan pendapat. Namun, harap dicatat, tulisan ini tidak bermaksud menolak mentah – mentah rancangan yang diajukan. Yang ingin saya sampaikan tidak lebih dari poin – poin yang saya anggap penting untuk dipertimbangkan dalam perubahan piranti lunak sistem pendidikan kita.

Yang saya pahami, mohon dibetulkan apabila kurang tepat, melalui Kurikulum 2013 Kemendiknas akan ‘menghilangkan’ IPA dan IPS di tingkat SD. Kedua mata pelajaran tersebut akan dimasukkan secara tematik ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Agama atau Kewarganegaraan. (Isunya mata pelajaran bahasa Inggris juga kelak ditiadakan). Menurut Dedi Gumelar, anggota DPR dari Partai PDI-P, penyederhanaan materi di tingkat SD ini bertujuan untuk ‘nurturing motherland loving-attitude’ alias menumbuhkan rasa cinta tanah air. “Kita perlu lebih banyak mengajarkan materi tentang karakter yang baik. nilai – nilai yang ada pada ideologi Pancasila, budaya, dan etika”, kata Dedi.

Pernyataan Dedi seketika memunculkan tanda tanya di kepala saya. Kalau memang ingin menanamkan nasionalisme, kenapa tidak pelajaran Kewarganegaraan saja yang materinya ditinjau ulang? Kenapa harus memaksakan materi IPA dan IPS digabung ke mata pelajaran lain? Kenapa mempelajari bahasa Inggris seolah menjadi ancaman keberadaan bahasa Indonesia?

Saya mengajar privat seorang anak yang duduk di bangku kelas 4 SD. Ketika kami sedang belajar untuk ujian Kewarganegaraan, saya miris melihat isi bukunya. Seorang anak umur 9 tahun diminta mempelajari struktur administratif perangkat desa hingga kabupaten. Sebuah materi yang lagi – lagi dipelajari dengan cara menghapal, bukan memahami. Bagaimana rasa cinta tanah air tumbuh kalau yang diajarkan justru hal – hal non-aplikatif yang tidak langsung bersentuhan dengan dunia anak – anak ?

Menjaga bahasa Indonesia bukan berarti mengurangi alokasi waktu mempelajari bahasa asing. Kemahiran dalam bidang bahasa tidak tejadi dalam satu malam. Perlu proses yang memakan waktu cukup panjang. Jika dievaluasi, pelajaran bahasa Indonesia hingga hari ini memang belum berhasil menumbuhkan rasa bangga. Bagaimana bisa bangga kalau yang diajarkan sekadar tata bahasa? Dimana bagian literasinya? Kenapa tidak ada materi yang membedah karya – karya Pramoedya Ananta Toer yang sarat dengan perjuangan rakyat kala itu? Kenapa tidak ada materi jurnalistik secara mendalam agar peserta didik peka dengan permasalahan sosial melalui menulis berita atau pun esai kritis?

Era globalisasi hari ini bahasa Inggris adalah salah satu faktor penting yang akan membantu Indonesia menunjukkan taringnya di mata dunia. Jangan lah memupuk rasa nasionalisme yang malah menjerumuskan diri kita sendiri. Meminjam kata – kata dari Pandji Pragiwaksono di buku terbarunya, Berani Mengubah, “Jangan merasa paling cinta Indonesia karena berbahasa Indonesia, tapi tidak pernah berbuat apa pun untuk Indonesia. Tidak salah punya kemampuan berbahasa asing selama digunakan untuk mewakili Indonesia dengan baik di mata dunia. Jangan sempit kecintaanmu terhadap Indonesia. Cinta sesuatu bisa dilakukan tanpa anti terhadap yang lain.”

Selain bahasa, di dunia dengan teknologi yang berkembang semakin cepat, mata pelajaran IPA menjadi penting karena penelitian dan rasa ingin tahu perlu diperkenalkan sedini mungkin. Di belahan Asia bagian timur sana, Jepang dan Korea Selatan memimpin dunia melalui kemajuan bidang riset. Bahkan Korea Selatan yang terkenal sebagai negara yang memiliki warga negara paling nasionalis mengekspose murid-muridnya dengan bahasa Inggris dan sains demi meningkatkan daya saing sumber daya manusianya.

Etika dan nilai – nilai dalam Pancasila. Saya pesimistis kedua tujuan tersebut akan tercapai selama pelajaran Kewarganegaraan membahas hal – hal teknis yang tidak mendorong kemampuan berpikir kritis. Etika dan nilai – nilai yang ada di Pancasila adalah konsep yang sangat luas cakupannya dan dibutuhkan kemampuan analisa yang mumpuni supaya tidak sekadar dipelajari namun juga dipraktikan dalam kehidupan sehari – hari.

Begitu juga dengan pelajaran Agama yang isinya tidak diperbaiki tidak akan membuat tujuan di atas tercapai. Metode pembelajaran agama di sekolah-sekolah formal seperti melupakan fakta bahwa kita tertakdir sebagai bangsa yang plural dengan latar belakang budaya yang bermacam – macam. Model pembelajaran yang masih berlangusng adalah model monoreligious; peserta didik muslim hanya mempelajari agama islam. Model ini tidak memfasilitasi peserta didik untuk memahami keberadaan keyakinan lain. Materi yang diajarkan bersifat ritualistik; menghafal ayat suci, doa-doa dan lain-lain. Tidak ada ruang bagi peserta didik untuk bertanya lebih lanjut mengenai nilai dan norma yang diatur oleh agama. Alhasil, anak cenderung menerima mentah-mentah apa yang pengajar sampaikan. Cara pembelajaran di kelas pun akhirnya menjadi dogmatis dan tidak menumbuhkan sensitivitas untuk menghargai perbedaan antarumat beragama. Model pendidikan monoreligious yang eksklusif ini bisa jadi menyebabkan kecanggungan dalam interaksi antarpemeluk agama hingga kerap kali berujung pada perilaku intoleran dan bahkan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

**

Saya dengar, Anies Baswedan, Goenawan Mohamad, Frans Magniz-Suseno diundang Kemendiknas untuk berbicara mengenai rencana perubahan kurikulum mereka. Seperti ada angin segar ketika mendengarnya meskipun keputusan tetap ada di tangan Menteri Pendidikan. Pada akhirnya, yang terpenting buat saya segala kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan nasional tidaklah ditunggangi oleh kepentingan siapa pun dan bukan proyek belaka dengan agenda tertentu dibelakangnya. Karena, bagaimana pun juga bermain – main dengan pendidikan adalah berbahaya dan sangat berisiko bagi masa depan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s