Bincang Edukasi

SEARCH:
igeacitta
GIGAY CITTA ACIKGENC
Selepas Bincang Edukasi #15

February 21, 2013 § Leave a Comment

source: google.com

Seru sekali akhirnya saya bisa ikut menghadiri acara Bincang Edukasi bulan ini. Setelah berhasil menembus macet sore di Ibukota, berpeluh keringat campur rintik hujan sepanjang perjalanan Depok – Jakarta, pukul 19.00 saya duduk manis di @america mendengarkan paparan Analisa Performa Indonesia di Pemetaan Pendidikan Global TIMSS & PIRLS.

Familiar dengan TIMSS dan PIRLS ? Saya tidak terlalu. Menurut berita yang beredar, peringkat Indonesia di TIMSS dan PIRLS menjadi salah satu alasan mengapa Mendiknas tercinta kita memperjuangkan implementasi Kurikulum 2013 yang harganya 2 triliun.

TIMSS adalah singkatan dari Trends in International Mathematics and Science Studies. Sedangkan PIRLS adalah Progress in International Reading Literacy Study. Pendataan yang dilakukan oleh keduanya membuat siapa pun yang peduli pendidikan bangsa mengelus dada: Kemampuan membaca anak Indonesia rendah. Padahal, kemampuan membaca adalah fondasi dari pembelajaran matematika dan ilmu pengetahuan (Science tidaklah hanya soal Ilmu Pengetahuan Alam).

Mengapa ini bisa terjadi? Diantaranya karena kita tidak memiliki kurikulum membaca plus guru membaca. Yang kita miliki adalah guru bahasa. Saya pun pertama kali mendapat materi teknik membaca secara formal di mata kuliah Pengantar Ilmu Filsafat semester 1 yang lalu. Bahwa membaca untuk memahami adalah dengan membuat anotasi–catatan di pinggir paragraf yang kita anggap penting dan tentu, menuliskannya kembali dengan kata – kata sendiri dalam bentuk esai–bukan menjawab soal pilihan ganda.

Indonesia mendapat ‘bulatan hitam yang tidak sempurna di indikator reading for improvement reading, reading for literacy experience, reading for acquiring information, reading for enjoyment yang dipasang oleh PIRLS. Data – data selengkapnya dari PIRLS 2011 yang dipresentasikan oleh Dr. Suhendra Yusuf bisa dibaca di sini. (Baca! Jangan malas baca!). Berangkat dari pengalaman pribadi, saya sering memperhatikan kebiasaan orang – orang yang menunggu di halte, yang menggunakan jasa kereta, dan yang berkendara dengan angkutan umum. Tidak satu pun dari mereka memegang buku sembari membunuh waktu. Fokus mereka disedot oleh perangkat blackberry dengan sahut – sahutan ‘ping’ selama perjalanan. Memang tidak sevalid pengamatan PIRLS, tapi minimal saya telah membuktikan sendiri bahwa budaya membaca memang hanya dimiliki oleh segelintir manusia di Indonesia.

Paparan selanjutnya datang dari Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro. Guru besar Institut Teknologi Bandung ini menyampaikan presentasi mengenai pentingnya lembaga pendidikan guru merespon hasil TIMSS dan PIRLS. Handout presentasi beliau bisa dibaca di sini. (Baca, ya!)

Kita harus mengakui kualitas guru di Indonesia masih jauh dari ideal. Mayoritas lulusan yang tidak mumpuni di bidangnya, kemampuan mengajar yang tidak seberapa, kesejahteraan yang masih dipertanyakan, hingga paradigma yang masih menganggap profesi guru sebagai pekerjaan yang tidak populer. Tidak heran apabila derajat pesimisme masyarakat akan kurikulum 2013 terbilang tinggi karena kunci implementasi kurikulum yang ambisius ini terletak pada bapak – ibu guru yang bertindak sebagai eksekutor di ruang – ruang kelas.

Lalu, apa yang kita bisa lakukan? Usulan radikal dari Prof. Satryo adalah menanggalkan status PNS di profesi guru, melepaskan pelan – pelan institusi pendidikan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan sistem pendidikan keguruan yang tidak berfokus pada aspek pedagogi saja namun juga konten subyek yang diampunya. Apa pasal? Supaya sekolah dan universitas yang menjadi salah satu tumpuan masa depan bangsa tidak lagi dipolitisasi melalui kebijakan yang kerap kali tidak masuk akal.

Saya setuju 100% peran guru atau dosen sebagai parameter utama kesan siswa terhadap penyampaian materi yang menjadi tanggung jawabnya. Saya juga percaya, metode mengajar bisa dipelajari ketika guru sudah terjun ke lapangan. Yang lebih penting adalah konten subyek yang diajarkan dapat dipahami oleh peserta didik sehingga tidak hanya berhenti pada selembar kertas ujian pilihan ganda, namun bisa diaplikasikan secara nyata di kehidupan sehari – hari.

Contohnya kelas Epistemologi, kelas teori pengetahuan yang saya ambil di semester ini. Keabstrakan mata kuliah ini mendadak terang benderang ketika dijelaskan oleh dosen saya, Herdito Sandi Pratama, M.Hum. Bung Sandi yang bisa mengajar melalui proses learning by doing terbukti mampu menguraikan pertanyaan besar ‘Bagaimana caranya kita mengetahui kalau kita tahu’ melalui teori rasionalisme, empirisme, representasiolisme, realisme naif, idealisme hingga skeptisisme.

Lain halnya ketika saya harus mengikuti mata kuliah wajib universitas (Mata kuliah Pengembangan Karakter Integrasi A & B (MPKT A & B) dan Agama. Sorry to say, saya merasa membuang – buang waktu di tiga mata kuliah tersebut. Mengapa? Izinkan saya jelaskan di post khusus tentag mata kuliah pretensius tersebut. Tiga mata kuliah tersebut adalah bentuk lain dari Kurikulum 2013. Berambisi pada ‘penyelamatan karakter’ anak bangsa dengan implementasi di lapangan yang menggelikan.

Dan tiba saatnya cerita singkat dari Prof. Iwan Pranoto! Prof. Iwan memaparkan presentasinya berdasarkan hasil TIMSS 2011. Saya mengetahui eksistensi Prof. Iwan melalui dunia twiter dengan tagar #IndonesiaBernalar. Kini saya tahu mengapa guru besar ITB ini begitu bersemangat menyuarakan pentingnya perubahan cara belajar, khususnya matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dari hasil TIMSS 2011 ini, di indikator penilaian tertentu Indonesia berada di peringkat yang tidak lebih baik dari Palestina, bahkan Ghana. Analisa dari TIMSS ini memperlihatkan kemampuan kognitif-mengolah informasi yang lemah namun di satu sisi kuat di domain kognitif-mengingat. Bukan berarti kemampuan menyimpan informasi tidak berguna, akan tetapi apa gunanya memiliki kemampuan menghapal tapi gagal dalam bernalar?

Beliau juga menekankan pentingnya dorongan passion atau antusiasme dalam mengajar. Profesi pengajar tidak bisa dilandasi oleh semata – mata motif ekonomi. Ada nilai lebih yang berdiam di balik pekerjaan seorang guru yang harus disadari setiap individu: transformer generasi penerus bangsa.

Akhir kata, pendidikan memang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada negara. Memasrahkan urusan ini kepada pemegang kekuasaan tidak akan menciptakan perubahan. Pendidikan adalah sebuah gerakan kultural. Gerakan yang berangkat dari komunitas masyarakat, diberdayakan untuk kepentingan masyarakat, ditujukan untuk cita – cita yang lebih besar: Mencerdaskan kehidupan bangsa. Jalannya panjang, terjal, dan tentu memakan waktu, tenaga, pikiran juga uang. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengawal masa depan kita dari sekarang, siapa lagi? (

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s