Prigel Membaca, Prigel Menulis, dan Prigel dalam Menggunakan Kotak-Perkakas Menulis (Writing Toolbox)

Prigel Membaca, Prigel Menulis, dan Prigel dalam Menggunakan Kotak-Perkakas Menulis (Writing Toolbox)
Oleh Hernowo

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat merumuskan (menuliskan secara urut dan tertata) tiga materi yang terus mengganggu pikiran saya sejak akhir 2009. Setelah saya menerbitkan buku ke-35, Mengikat Makna Update, pikiran saya menjalar ke mana-mana, mencari sesuatu yang baru lagi, dan ingin mengungkapkan hal-hal yang saya alami (dan temukan) terkait dengan membaca dan menulis. Pengalaman saya memberikan pelatihan menulis (dan juga membaca) selama dua tahun terakhir sangat membantu saya dalam mengumpulkan tacit knowledge yang masih berserakan.

Tacit knowlwdge itu berhasil saya utuhkan dan saya jadikan explicit knowledge pada awal Februari 2013. Sebuah proses yang tak mudah dan, kadang, kerap menghadirkan frustrasi. Ada banyak keraguan dan tak sedikit pula ketidakpercayaan diri. Apakah saya masih dapat membuat buku yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya? Adakah saya masih mampu menemukan gagasan yang tidak biasa? Apakah buku saya yang akan saya ciptakan pada 2013 ini masih memiliki daya pesona untuk diterbitkan? Saya tidak tahu. Saya hanya ingin bersyukur terlebih dahulu bahwa saya masih mampu untuk berkarya.

Menulis dalam bentuk lepas-lepas dan menulis untuk membuat buku sangat berbeda. Kegiatan menulisnya tetap sama, namun kegiatan dalam menyusun dan merangkai pikiran sangat jauh berbeda. Menulis jenis pertama, bisa jadi hanya mengeluarkan sesuatu dari pikiran dan selesai. Menulis jenis kedua ada upaya untuk menyatukan dan menyimpulkan. Apabila upaya menyatukan dan menyimpulkan itu gagal—alias tidak memberikan makna—jadilah calon buku itu sesuatu yang hanya terdiri atas sekumpulan tulisan tanpa ada perekat.

Ketika menulis lepas-lepas, sebagaimana sering saya lakukan dan kemudian saya posting di catatan saya di Facebook, kadang saya hanya mementingkan prosesnya dan tak terlalu memperhatikan hasil. Yang penting saya harus mengikat sesuatu yang saya peroleh dari olah piker dalam membaca misalnya. Berbeda dengan membuat buku. Hasil akhir sangat menentukan. Meski proses membuat buku tersebut juga menentukan, tetapi hasil lebih menentukan. Seperti apa bentuk keseluruhannya? Apa judulnya? Bagaimana pengemasannya? Dan apakah masih menarik untuk dibaca (dan tentu saja: dibeli) oleh orang-orang di era digital seperti saat ini?

Menulis buku amatlah rumit tetapi mengasyikkan. Bagi saya, menulis adalah menemukan dan membuat buku bagaikan memberikan identitas baru tentang apa yang saya temukan. Setiap kali menulis, rasa-rasanya ada saja hal baru yang saya temukan. Dan kumpulan hal-hal baru itu apabila berhasil saya bukukan, rasa-rasanya seperti menemukan kehidupan baru.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s