Merindukan Kesederhanaan Pemimpin Bangsa

Merindukan Kesederhanaan Pemimpin Bangsa

Saya Baru saja menyaksikan profil CEO JAL (Japan Air Lines). Salah satu maskapai terbaik dunia. Dengan pelayanan dan komitmen pada konsumen yang sangat tinggi. Beruntung sekali saya pernah menikmati layanan JAL saat berangkat ke Jepang 2011 yang lalu. Saya sempat terkejut saat pramugrari dengan sopannya menawari makanan sambil berjongkok. Layaknya seorang abdi menyembah rajanya. Sontak, menanamkan satu memori yang indah di benakku.
Haruka Nishimatsu, nama CEO JAL tersebut. Meski menjadi CEO perusahaan penerbangan kelas atas dunia, gaya hidupnya sangat sederhana. Berangkat ke kantor dengan bis pegawai, tak ada sopir pribadi, tas dibawa sendiri, tak ada protokoler yang mengawal, duduk di kelas ekonomi, makan siang bersama pegawai di kantin kantor dengan menu siap saji seperti yang bisa dinikmati rata-rata pegawai.
Di Jepang, pejabat naik angkot sudah biasa. Bahkan seorang walikota di Khusyu, pulang pergi ke kantor dengan kereta api komuter. Atau professor di universitas yang ngontel ke kampusnya.
Kondisi ini mengingatkan saya pada sosok Muhammad Natsir. Salah satu tokoh besar bangsa dengan kesederhanaannya. Saya pernah membaca sebuah artikel di eramuslim.com tentang kesederhanaan Natsir. Diceritakan bahwa ndonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, Ibukota Republik yang masih muda.
Satu hari dia diundang datang dalam suatu acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang kelak dikenalnya dengan nama Muhamad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi.

Kahin mengenang, “Saya dengar, beberapa pekan kemudian, para anak buahnya di Kementerian Penerangan berpatungan membelikan Pak Menteri Natsir sehelai baju yang lebih pantas. Setelah baju itu dipakai Pak Menteri Natsir, para anak buahnya berkata, ‘Nah ini baru kelihatan menteri betulan’.”

Kesederhanaan merupakan prinsip hidup seorang Muhammad Natsir. Prinsip ini terus dipegangnya sejak kecil hingga menjadi pejabat negara. Dan kemudian memang terbukti, kesederhanaan inilah yang akhirnya menjadikan kekuatannya, menjadikan harga diri dan martabatnya sedemikian tinggi, dan semua orang dari berbagai kalangan menghormatinya.

Namun, kini kesederhaan telah menjadi barang langkah. Terlebih lagi di kalangan pejabat dan elit politik. Mereka berlomba-lomba membeli kemewahan. Bahkan dengan jalan yang culas dan melanggar hukum.

Benar-benar kesederhanaan telah langkah. Kalaupun ada pejabat yang sederhana, ujung-ujungnya terjadi penggiringan opini jika kesederhanaan dan keluguan gaya memimpinnya tak lebih hanyalah pencitraan belaka. Politik dan uang kini telah mengubur kesederhanaan dalam-dalam.

Guru dan Perubahan

Guru dan Perubahan – Kompas, 7 Februari 2013
KOMPAS.com – Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI.

Guru berpikir jauh ke d epan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya. Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka.

Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah di- isi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.

Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking. Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.

Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya. Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan. Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google.

Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif). Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA. Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membu- at generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat ”from this, and then this …, this…, this…, and proof”. Waktu saya tanya, para penguji berkata, ”Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.”

Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya. Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.

‎( SURAT DARI BAYI YANG DIABORSI )

‎( SURAT DARI BAYI YANG DIABORSI )

Teruntuk

Bundaku tersayang…

Dear Bunda…

Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja…nanda juga di sini baik-baik saja bunda… Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda…. J

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat…

Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini… tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda….badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik… dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.

Tapi nanda tidak kecewa kok bunda… karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.

Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang… kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram… anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah… Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.

Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget… nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu J

Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda…minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya…yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.

Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya…di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ…. nanda sayang bunda… nanda kangen dan ingin bertemu bunda… nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga… nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu…

Lalu, dengan lembut malaikat berkata… nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka… sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda…. Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha… bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini… nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh… nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda… antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu… tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.

Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya…. biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda…jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.

Sudah dulu ya bunda… nanda mau main-main dulu di syurga…. nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini… nanda sayang banget sama bunda..(retrieved from internet@unknown source)

Forbidden Education: Educacion Prohibida

Forbidden Education: Educacion Prohibida

A group of men were in a cave, prisoners since birth.
Chained in such manner that they could only see the back of the cave.
A bonfire and figures manipulated by other man projected all kinds of shadows on the wall.
These shadows were the only connection the prisonners had with the outside world.
Those shadows were their world, their reality.
One of prisonners was released anda allowed to see the whole of reality outside the cave.
How long would it be take him to get used to the outside world after a life time of confinement.
His reaction might possibly be a deep fear of reality would he understand what a tree, the sea, the sun were?
Let’s us assume this man does noy see reality as it is and that he understands what a great fraud the cave was.
The teacher briefly explained the intepretation of this myth with respect to knowledge…delusion, reality, and that perhaps we might be inside a huge cave, which is it self in side another one.
But, there is no doubt that this freed man tell agreed need to return and share what he had seen with others.

Catatan Pendidikan

Catatan Pendidikan
WAKTU ADALAH KARYA

“KEHIDUPAN adalah papan catur, dan lawan mainmu adalah waktu.” Itulah ucapan yang pernah dilontarkan Napoleon Hill (1883-1970), edukator dan pengarang Amerika. Kata-kata mutiara Napoleon Hill ini penting direnungkan untuk keperluan lebih besar: menjadikan institusi-institusi pendidikan kawah candradimuka lahirnya karya-karya. Sekolah maupun universitas kini tak mungkin lagi dimengerti secara sempit semata sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan dari guru atau dosen kepada murid atau mahasiswa. Sudah saatnya bagi sekolah dan universitas diperlakukan sebagai center of excellence lahirnya karya-karya.

Memang, tak ada jalan pintas mengubah keadaan agar sekolah maupun universitas berfungsi penuh sebagai pusat lahirnya karya-karya. Sekolah dan atau universitas dituntut mampu memasuki etape-etape baru perubahan. Proses-proses edukasi mutlak disertai pergeseran orientasi. Murid atau mahasiswa tak mungkin lagi disudutkan semena-mena sebagai obyek penerima transfer ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Justru, mereka distimuli mengerahkan talenta-talenta terbaiknya agar aktif melahirkan karya-karya.

Merujuk pada apa yang dikemukakan Napoleon Hill, kemampuan melahirkan karya-karya ditentukan oleh beberapa faktor. Pertama, karya-karya lahir sebagai akibat logis dari kuatnya kehendak menjadi yang terbaik. Dalam ilustrasi permainan catur, mereka yang keluar sebagai pemenang adalah kreator terbaik yang meracik berbagai macam kombinasi permainan. Kecerdasan dan keindahan berjalin kelindan satu sama lain. Kemenangan merupakan resultante dari kehendak untuk memberikan yang terbaik.

Kedua, lawan yang dikalahkan bukan siapa-siapa, tapi waktu yang dispersonal. Lawan yang dikalahkan sosok imajiner, bukan personalitas yang teridentifikasi sebagai manusia. Lawan dalam pengertiannya yang hakiki adalah waktu. Kompetisi atau persaingan tak dimaksudkan untuk menundukkan orang lain, tapi bagaimana menundukkan waktu. Sang waktu adalah lawan yang mutlak ditundukkan.

Jika diusung ke dunia pendidikan, kata-kata motivasional Napoleon Hill itu potensial memunculkan hal-hal baru yang positif. Kita tahu, hingga kini sekolah dan universitas tak sepenuhnya berhasil mereduksi dampak buruk kesadaran palsu tentang relasi manusia yang diaksiomakan sebagai kompetisi. Dalam konteks pencapaian prestasi akademis, sekolah dan universitas justru memperhadapkan seorang manusia dengan manusia lain berdasarkan logika persaingan. Sebagai akibatnya, “orang lain” dalam arena pertarungan akademis dipersepsi secara absolut sebagai kompetitor atau lawan yang musti ditundukkan. Dunia pendidikan pun abai terhadap makna penting kemampuan personal setiap manusia mengendalikan waktu dan bergumul menundukkan waktu.

Tatkala pendidikan terseret jauh memosisikan setiap orang sebagai lawan sengit bagi orang lain, maka hal-hal substansial secara personal benar-benar terabaikan.

Bagaimana pun, setiap pribadi manusia merupakan medan pertarungan antara kebaikan dan keburukan, antara vitalitas dan kemalasan, antara kreativitas dan kejumudan, antara inovasi dan kemandegan, antara dinamika dan statika. Artinya, setiap pribadi manusia tidak berkompetisi dengan manusia lain, tidak bertarung dengan siapa-siapa. Setiap manusia justru bertarung melawan dirinya sendiri. Dalam kompleksitas pertarungan melawan diri sendiri itu, setiap manusia berada dalam satu situasi memenangkan kebaikan, vitalitas, kreativitas, inovasi dan dinamika yang memang bersemayam dalam dirinya.

Agar keluar sebagai “pemenang”, maka hayat manusia bergerak dari satu momentum kebermaknaan menuju momentum kebermaknaan yang lain. Meminjam istilah Steve Jobs (1955-2011), itulah yang ditengarai sebagai “connecting the dots”, merajut hubungan titik demi titik menjadi garis membentang. Demikianlah, “waktu adalah karya”.

Pada pelataran abad XXI kini, dunia pendidikan dituntut mampu menciptakan atmosfer edukatif, bahwa waktu adalah karya, melalui tegaknya kesadaran: lawan setiap manusia hanyalah waktu.[](By:anwari wmk)

Cuap – Cuap Kurikulum 2013

Cuap – Cuap Kurikulum 2013

January 7, 2013 § 7 Comments

source : http://nationalgeographicdaily.tumblr.com

Setelah berhari – hari lini masa saya dibanjiri pendapat rakyat republik twitter mengenai Kurikulum 2013, akhirnya saya tergoda untuk turut mengeluarkan pendapat. Namun, harap dicatat, tulisan ini tidak bermaksud menolak mentah – mentah rancangan yang diajukan. Yang ingin saya sampaikan tidak lebih dari poin – poin yang saya anggap penting untuk dipertimbangkan dalam perubahan piranti lunak sistem pendidikan kita.

Yang saya pahami, mohon dibetulkan apabila kurang tepat, melalui Kurikulum 2013 Kemendiknas akan ‘menghilangkan’ IPA dan IPS di tingkat SD. Kedua mata pelajaran tersebut akan dimasukkan secara tematik ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Agama atau Kewarganegaraan. (Isunya mata pelajaran bahasa Inggris juga kelak ditiadakan). Menurut Dedi Gumelar, anggota DPR dari Partai PDI-P, penyederhanaan materi di tingkat SD ini bertujuan untuk ‘nurturing motherland loving-attitude’ alias menumbuhkan rasa cinta tanah air. “Kita perlu lebih banyak mengajarkan materi tentang karakter yang baik. nilai – nilai yang ada pada ideologi Pancasila, budaya, dan etika”, kata Dedi.

Pernyataan Dedi seketika memunculkan tanda tanya di kepala saya. Kalau memang ingin menanamkan nasionalisme, kenapa tidak pelajaran Kewarganegaraan saja yang materinya ditinjau ulang? Kenapa harus memaksakan materi IPA dan IPS digabung ke mata pelajaran lain? Kenapa mempelajari bahasa Inggris seolah menjadi ancaman keberadaan bahasa Indonesia?

Saya mengajar privat seorang anak yang duduk di bangku kelas 4 SD. Ketika kami sedang belajar untuk ujian Kewarganegaraan, saya miris melihat isi bukunya. Seorang anak umur 9 tahun diminta mempelajari struktur administratif perangkat desa hingga kabupaten. Sebuah materi yang lagi – lagi dipelajari dengan cara menghapal, bukan memahami. Bagaimana rasa cinta tanah air tumbuh kalau yang diajarkan justru hal – hal non-aplikatif yang tidak langsung bersentuhan dengan dunia anak – anak ?

Menjaga bahasa Indonesia bukan berarti mengurangi alokasi waktu mempelajari bahasa asing. Kemahiran dalam bidang bahasa tidak tejadi dalam satu malam. Perlu proses yang memakan waktu cukup panjang. Jika dievaluasi, pelajaran bahasa Indonesia hingga hari ini memang belum berhasil menumbuhkan rasa bangga. Bagaimana bisa bangga kalau yang diajarkan sekadar tata bahasa? Dimana bagian literasinya? Kenapa tidak ada materi yang membedah karya – karya Pramoedya Ananta Toer yang sarat dengan perjuangan rakyat kala itu? Kenapa tidak ada materi jurnalistik secara mendalam agar peserta didik peka dengan permasalahan sosial melalui menulis berita atau pun esai kritis?

Era globalisasi hari ini bahasa Inggris adalah salah satu faktor penting yang akan membantu Indonesia menunjukkan taringnya di mata dunia. Jangan lah memupuk rasa nasionalisme yang malah menjerumuskan diri kita sendiri. Meminjam kata – kata dari Pandji Pragiwaksono di buku terbarunya, Berani Mengubah, “Jangan merasa paling cinta Indonesia karena berbahasa Indonesia, tapi tidak pernah berbuat apa pun untuk Indonesia. Tidak salah punya kemampuan berbahasa asing selama digunakan untuk mewakili Indonesia dengan baik di mata dunia. Jangan sempit kecintaanmu terhadap Indonesia. Cinta sesuatu bisa dilakukan tanpa anti terhadap yang lain.”

Selain bahasa, di dunia dengan teknologi yang berkembang semakin cepat, mata pelajaran IPA menjadi penting karena penelitian dan rasa ingin tahu perlu diperkenalkan sedini mungkin. Di belahan Asia bagian timur sana, Jepang dan Korea Selatan memimpin dunia melalui kemajuan bidang riset. Bahkan Korea Selatan yang terkenal sebagai negara yang memiliki warga negara paling nasionalis mengekspose murid-muridnya dengan bahasa Inggris dan sains demi meningkatkan daya saing sumber daya manusianya.

Etika dan nilai – nilai dalam Pancasila. Saya pesimistis kedua tujuan tersebut akan tercapai selama pelajaran Kewarganegaraan membahas hal – hal teknis yang tidak mendorong kemampuan berpikir kritis. Etika dan nilai – nilai yang ada di Pancasila adalah konsep yang sangat luas cakupannya dan dibutuhkan kemampuan analisa yang mumpuni supaya tidak sekadar dipelajari namun juga dipraktikan dalam kehidupan sehari – hari.

Begitu juga dengan pelajaran Agama yang isinya tidak diperbaiki tidak akan membuat tujuan di atas tercapai. Metode pembelajaran agama di sekolah-sekolah formal seperti melupakan fakta bahwa kita tertakdir sebagai bangsa yang plural dengan latar belakang budaya yang bermacam – macam. Model pembelajaran yang masih berlangusng adalah model monoreligious; peserta didik muslim hanya mempelajari agama islam. Model ini tidak memfasilitasi peserta didik untuk memahami keberadaan keyakinan lain. Materi yang diajarkan bersifat ritualistik; menghafal ayat suci, doa-doa dan lain-lain. Tidak ada ruang bagi peserta didik untuk bertanya lebih lanjut mengenai nilai dan norma yang diatur oleh agama. Alhasil, anak cenderung menerima mentah-mentah apa yang pengajar sampaikan. Cara pembelajaran di kelas pun akhirnya menjadi dogmatis dan tidak menumbuhkan sensitivitas untuk menghargai perbedaan antarumat beragama. Model pendidikan monoreligious yang eksklusif ini bisa jadi menyebabkan kecanggungan dalam interaksi antarpemeluk agama hingga kerap kali berujung pada perilaku intoleran dan bahkan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

**

Saya dengar, Anies Baswedan, Goenawan Mohamad, Frans Magniz-Suseno diundang Kemendiknas untuk berbicara mengenai rencana perubahan kurikulum mereka. Seperti ada angin segar ketika mendengarnya meskipun keputusan tetap ada di tangan Menteri Pendidikan. Pada akhirnya, yang terpenting buat saya segala kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan nasional tidaklah ditunggangi oleh kepentingan siapa pun dan bukan proyek belaka dengan agenda tertentu dibelakangnya. Karena, bagaimana pun juga bermain – main dengan pendidikan adalah berbahaya dan sangat berisiko bagi masa depan Indonesia.

Bincang Edukasi

SEARCH:
igeacitta
GIGAY CITTA ACIKGENC
Selepas Bincang Edukasi #15

February 21, 2013 § Leave a Comment

source: google.com

Seru sekali akhirnya saya bisa ikut menghadiri acara Bincang Edukasi bulan ini. Setelah berhasil menembus macet sore di Ibukota, berpeluh keringat campur rintik hujan sepanjang perjalanan Depok – Jakarta, pukul 19.00 saya duduk manis di @america mendengarkan paparan Analisa Performa Indonesia di Pemetaan Pendidikan Global TIMSS & PIRLS.

Familiar dengan TIMSS dan PIRLS ? Saya tidak terlalu. Menurut berita yang beredar, peringkat Indonesia di TIMSS dan PIRLS menjadi salah satu alasan mengapa Mendiknas tercinta kita memperjuangkan implementasi Kurikulum 2013 yang harganya 2 triliun.

TIMSS adalah singkatan dari Trends in International Mathematics and Science Studies. Sedangkan PIRLS adalah Progress in International Reading Literacy Study. Pendataan yang dilakukan oleh keduanya membuat siapa pun yang peduli pendidikan bangsa mengelus dada: Kemampuan membaca anak Indonesia rendah. Padahal, kemampuan membaca adalah fondasi dari pembelajaran matematika dan ilmu pengetahuan (Science tidaklah hanya soal Ilmu Pengetahuan Alam).

Mengapa ini bisa terjadi? Diantaranya karena kita tidak memiliki kurikulum membaca plus guru membaca. Yang kita miliki adalah guru bahasa. Saya pun pertama kali mendapat materi teknik membaca secara formal di mata kuliah Pengantar Ilmu Filsafat semester 1 yang lalu. Bahwa membaca untuk memahami adalah dengan membuat anotasi–catatan di pinggir paragraf yang kita anggap penting dan tentu, menuliskannya kembali dengan kata – kata sendiri dalam bentuk esai–bukan menjawab soal pilihan ganda.

Indonesia mendapat ‘bulatan hitam yang tidak sempurna di indikator reading for improvement reading, reading for literacy experience, reading for acquiring information, reading for enjoyment yang dipasang oleh PIRLS. Data – data selengkapnya dari PIRLS 2011 yang dipresentasikan oleh Dr. Suhendra Yusuf bisa dibaca di sini. (Baca! Jangan malas baca!). Berangkat dari pengalaman pribadi, saya sering memperhatikan kebiasaan orang – orang yang menunggu di halte, yang menggunakan jasa kereta, dan yang berkendara dengan angkutan umum. Tidak satu pun dari mereka memegang buku sembari membunuh waktu. Fokus mereka disedot oleh perangkat blackberry dengan sahut – sahutan ‘ping’ selama perjalanan. Memang tidak sevalid pengamatan PIRLS, tapi minimal saya telah membuktikan sendiri bahwa budaya membaca memang hanya dimiliki oleh segelintir manusia di Indonesia.

Paparan selanjutnya datang dari Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro. Guru besar Institut Teknologi Bandung ini menyampaikan presentasi mengenai pentingnya lembaga pendidikan guru merespon hasil TIMSS dan PIRLS. Handout presentasi beliau bisa dibaca di sini. (Baca, ya!)

Kita harus mengakui kualitas guru di Indonesia masih jauh dari ideal. Mayoritas lulusan yang tidak mumpuni di bidangnya, kemampuan mengajar yang tidak seberapa, kesejahteraan yang masih dipertanyakan, hingga paradigma yang masih menganggap profesi guru sebagai pekerjaan yang tidak populer. Tidak heran apabila derajat pesimisme masyarakat akan kurikulum 2013 terbilang tinggi karena kunci implementasi kurikulum yang ambisius ini terletak pada bapak – ibu guru yang bertindak sebagai eksekutor di ruang – ruang kelas.

Lalu, apa yang kita bisa lakukan? Usulan radikal dari Prof. Satryo adalah menanggalkan status PNS di profesi guru, melepaskan pelan – pelan institusi pendidikan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan sistem pendidikan keguruan yang tidak berfokus pada aspek pedagogi saja namun juga konten subyek yang diampunya. Apa pasal? Supaya sekolah dan universitas yang menjadi salah satu tumpuan masa depan bangsa tidak lagi dipolitisasi melalui kebijakan yang kerap kali tidak masuk akal.

Saya setuju 100% peran guru atau dosen sebagai parameter utama kesan siswa terhadap penyampaian materi yang menjadi tanggung jawabnya. Saya juga percaya, metode mengajar bisa dipelajari ketika guru sudah terjun ke lapangan. Yang lebih penting adalah konten subyek yang diajarkan dapat dipahami oleh peserta didik sehingga tidak hanya berhenti pada selembar kertas ujian pilihan ganda, namun bisa diaplikasikan secara nyata di kehidupan sehari – hari.

Contohnya kelas Epistemologi, kelas teori pengetahuan yang saya ambil di semester ini. Keabstrakan mata kuliah ini mendadak terang benderang ketika dijelaskan oleh dosen saya, Herdito Sandi Pratama, M.Hum. Bung Sandi yang bisa mengajar melalui proses learning by doing terbukti mampu menguraikan pertanyaan besar ‘Bagaimana caranya kita mengetahui kalau kita tahu’ melalui teori rasionalisme, empirisme, representasiolisme, realisme naif, idealisme hingga skeptisisme.

Lain halnya ketika saya harus mengikuti mata kuliah wajib universitas (Mata kuliah Pengembangan Karakter Integrasi A & B (MPKT A & B) dan Agama. Sorry to say, saya merasa membuang – buang waktu di tiga mata kuliah tersebut. Mengapa? Izinkan saya jelaskan di post khusus tentag mata kuliah pretensius tersebut. Tiga mata kuliah tersebut adalah bentuk lain dari Kurikulum 2013. Berambisi pada ‘penyelamatan karakter’ anak bangsa dengan implementasi di lapangan yang menggelikan.

Dan tiba saatnya cerita singkat dari Prof. Iwan Pranoto! Prof. Iwan memaparkan presentasinya berdasarkan hasil TIMSS 2011. Saya mengetahui eksistensi Prof. Iwan melalui dunia twiter dengan tagar #IndonesiaBernalar. Kini saya tahu mengapa guru besar ITB ini begitu bersemangat menyuarakan pentingnya perubahan cara belajar, khususnya matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dari hasil TIMSS 2011 ini, di indikator penilaian tertentu Indonesia berada di peringkat yang tidak lebih baik dari Palestina, bahkan Ghana. Analisa dari TIMSS ini memperlihatkan kemampuan kognitif-mengolah informasi yang lemah namun di satu sisi kuat di domain kognitif-mengingat. Bukan berarti kemampuan menyimpan informasi tidak berguna, akan tetapi apa gunanya memiliki kemampuan menghapal tapi gagal dalam bernalar?

Beliau juga menekankan pentingnya dorongan passion atau antusiasme dalam mengajar. Profesi pengajar tidak bisa dilandasi oleh semata – mata motif ekonomi. Ada nilai lebih yang berdiam di balik pekerjaan seorang guru yang harus disadari setiap individu: transformer generasi penerus bangsa.

Akhir kata, pendidikan memang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada negara. Memasrahkan urusan ini kepada pemegang kekuasaan tidak akan menciptakan perubahan. Pendidikan adalah sebuah gerakan kultural. Gerakan yang berangkat dari komunitas masyarakat, diberdayakan untuk kepentingan masyarakat, ditujukan untuk cita – cita yang lebih besar: Mencerdaskan kehidupan bangsa. Jalannya panjang, terjal, dan tentu memakan waktu, tenaga, pikiran juga uang. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengawal masa depan kita dari sekarang, siapa lagi? (