PELAJARAN SORE INI DI MASJID

PELAJARAN SORE INI DI MASJID

Tertarik melihat putra seorang teman yang lagi asyik belajar di masjid. Tas cangklong levis berhias gambar tempel apel tergeletak di sampingnya. Dalam keadaan terbuka, dapat kulihat tumpukan buku sekolah di dalamnya. Beberapa buku paket dan buku “oret-oretan”. Yang menarik justru buku membaca. Bersampul warna putih dengan gambar krayon berbentuk jerapah. Huruf hiragana tersusun secara vertikal dengan beberapa kanji terselip di dalamnya. Eniwe, saya tidak akan membahas buku paket , pun juga materi di dalamnya. Namun, akan berbagi cerita tentang sebuah surat edaran yang kutemukan di dalam buku tersebut.
Surat edaran dari guru kelasnya berbentuk tulisan tangan, rapi dan sangat jelas. Ditulis dalam bahasa inggris. Berisi pemberitahuan dari sekolah tentang acara yang harus diikuti oleh seluruh siswa sekolah dasar. Program pertama bernama “Setsubun” Matsuri. Ini adalah pesta (matsuri) menyambut datangnya musim semi. Biasanya dirayakan setiap tanggal 3 Februari setiap tahunnya. Dirayakan dengan melempar kacang sebagai wujud pengusiran terhadap setan.
Acara kedua adalah Hinamatsuri. Hina-matsuri adalah sebuah acara perayaan/ selamatan tradisional bagi anak perempuan yang dirayakan setiap tanggal 3 Maret. Pada acara hina-matsuri masa kini, biasanya masyarakat memajang Hina Ningyo boneka Hina Matsuri , bersama dengan sajian bunga Momo (pear) atau makanan dan minuman tradisional seperti Siro-zake (sake putih) , Hina-Arare (semacam kue manis kering), Hishi-mochi (semacam kue ketan).
Di bagian akhir surat pemberitahuan itulah yang membuatku sedikit tersedak. Bukan karena kepedesan atau dibawah pengaruh cabe rawit yang super hot. Tetapi karena sebuah “ penghormatan” terhadap keragaman budaya dan potensi anak didiknya. Sang guru dan sekolah menawarkan acara yang sesuai dengan potensi anak. Bahkan sekolah bersedia mengubah konten acara agar anak sang teman tadi bisa mengikutinya. Mungkin karena pertimbangan budaya dan agama. Mengingat, sebagai muslim, tentunya dia tidak bisa memakan daging babi dan sake. Sebuah penghargaan luar biasa dari sekolah terhadap anak didiknya. Menjadikan perbedaan sebagai khazanah membangun kebersamaan dalam berkhidmat melayani pendidikan.
Mengakhiri tulisan singkat ini, teringatlah saya pada Nabi Muhammad SAW. Suatu hari Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”. Nabi Saw berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”. Jawaban beliau sungguh sangat lugas dan mencerdaskan. Inilah filosofi yang sepatutnya menjadi salah satu pondasi bangunan pendidikan kita. Seorang pendidik yang tidak hanya menggunakan pendekatan kognitif semata, namun juga hati dan perasaannya sekaligus. (credit to: Faruq kun atas inspirasinya).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s