SELAMAT DATANG TEMAN-TEMAN RSBI DI SEKOLAH INDONESIA

Sekolah Yang Saya Impikan

Hiruk pikuk pembatalan status RSBI terhadap 1.339 sekolah di tanah air sudah agak redah. Saya yakin banyak wali murid dan guru RSBI yang kecewa, pun juga banyak masyarakat yang gembira, disisi lainnya. Bagi yang kecewa, tidak perlu terlalu larut di dalamnya, toh pendidikan pada intinya bukan bermain di simbol-simbol sederhana semacam itu. Layanan pendidikan yang bertendesi menghasilkan social exclusion tersebut sudah seharusnya ditiadakan di negara yang konon penopang utama kebangsaannya adalah kebersamaan dan gotong royong. Sekali lagi, tidak perlu kecewa bagi pengelolah, pendidik dan siswa RSBI/SBI. Tanpa label tersebut, kami masih yakin anda mampu mewarnai pendidikan di tanah air dengan lebih baik lagi.

Meskipun, secara jujur, label RSBI tidak membawa dampak yang signifikan bagi perbaikan mutu pendidikan di tanah air. Pun juga, tidak satupun sekolah berlabel RSBI itu memenuhi salah satu syarat standar sekolah bertaraf international. Mari menjadikan semua “kesalahan” ini sebagai cara kita kembali memaknai pendidikan yang sebenarnya. Tidak semata-mata urusan uang dan komoditas belaka.

Mungkin banyak dari kita yang berdalih jika RSBI bisa dijadikan kendaraan cerdas untuk meningkatkan kualitas pendidikan an sich. Input yang sangat tinggi, pembelajaran berkelas dunia, serta fasilitas mewah adalah salah satu modalitasnya. Modalitas yang sulit diraih oleh sekolah biasa-biasa saja. Yang hanya mengandalkan fasilitas biasa-biasa saja.

Namun, banyak pihak yang kemudian menjadi kecewa, bukan semata-mata karena mahalnya biaya yang harus ditanggung, namun karena mutu yang di dapat tak sehebat labelnya. Apakah demikian? hasil study yang dilakukan oleh ACDP dan di publish pada 12 November 2012 kemaren bisa menjawabnya.Bacahasil studynya disini

Bagi teman pengelolah, pendidik dan siswa non RSBI, juga tidak perlu berbangga hati. Meski saudara kandung yang selama ini dinomersatukan sudah tidak mendapat fasilitas dan sebutan international lagi. Meski saudara kandung yang sering dieluh-eluhkan itu tidak lagi menempati kasta teratas pendidikan di tanah air. Mereka juga bagian penting dari pendidikan kita.

Sebagai pendidik, sudah seharusnyalah jika kita bangga meski hanya memiliki input yang biasa-biasa saja. Bekerja disekolah yang biasa-biasa saja. Tak berlabel mewah juga international. Disitulah sesungguhnya kualitas dan integritas kita menemukan ruangnya. Ruang untuk membuktikan kalau kita mampu berprestasi tanpa dibatasi sekat dan simbol semata.

Kitapun tidak perlu banyak berdalih karena “bersaing” dan diuji dengan sekolah international dengan alat yang sama. Kita tetaplah kita yang harus berbangga menjadi sekolah Indonesia saja. Kita tidak boleh jumawa, meski banyak prestasi lahir dari sekolah non RSBI. Kita harus tetap sederhana dan menjadi sekolah sederhana (plain living, plain thinking). Yang tetap mengajarkan Bahasa Indonesia dan kearifan lokal sebagai muatan kebanggaan. Kita tidak perlu muluk-muluk, pun juga tidak boleh apa adanya.

Sekali lagi, kita jangan berkecil hati kalau tidak memiliki lcd projector yang tergantung di langit-langit kelas kita. Kita juga tidak harus gusar belajar tanpa mesin pendingin. Atau merasa rendah diri karena pembelajaran diantarkan dengan bahasa persatuan.

Kita pun tak perlu minder dan rendah diri hanya karena belum S2. Karena yang dibutuhkan oleh anak didik bukan titel yang seabrek, tetapi miskin kreatifitas dan loyalitas. Anak didik kita hanya butuh seorang pendidik yang terus belajar dan tiada henti menginspirasinya.

Mari kita mulai mencintai pendidikan yang didasari oleh kesederhanaan. Kesederhanaan akan melahirkan kejujuran, toleran dan saling menghargai. Mungkin itulah yang dibutuhkan oleh bangsa besar ini untuk bangkit dan menyadari kehebatannya. Bukan sekolah yang menyuburkan sofis-sofis modern, sebagaimana Yunani kuno pernah mengalaminya.

Sekolah semacam itulah yang saya impikan. Selamat bergabung kembali dengan sekolah Indonesia duhai sahabat-sahabat kami dari sekolah “RSBI”. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan mewujudkan pendidikan yang bermartabat dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s