Guruku, Ijinkan Aku Membuat Kesalahan Ini!!

Membacalah saya pada sebuah tagline di laman Edutopia.org berjudul Brain – Based Learning atau kalau di Indonesiakan menjadi Pembelajaran berbasis otak. Berisi aneka cara merangsang anak untuk menggunakan otaknya secara optimal. Dan salah satu artikel didalamnya menggelitik saya untuk membahasnya lebih jauh dengan anda.
Artikel dimaksud berjudul “The Role of Mistakes in the Classroom” . Ditulis oleh Alina Tugend yang juga penulis buku berjudul : Better by Mistake: The Unexpected Benefits of Being Wrong. Dalam tulisannya, Tugend menggarisbawahi apa yang disebutnya sebagai “Victim of Excelence”.
Dia mengatakan Jika seorang siswa takut berbuat salah, maka secara tidak langsung dia juga takut melakukan hal-hal baru. Melakukan hal-hal yang lebih kreatif atau berfikir dengan alur yang berbeda (thinking out the box). Siswa menjadi takut untuk berinisiatif dan mengangkat tangan saat tidak memahami sesuatu. Respon atas ketidaktahuannya lebih banyak diselesaikan dengan jalan bertanya pada gurunya daripada mencoba sendiri untuk menemukan jalan lain.
mistakes_0Mengapa hal ini terjadi? tidak lain karena ukuran keberhasilan di sekolah sering disimbolkan dengan nilai tinggi dalam ujian. Jika paradigma semacam itu yang digunakan dalam sebuah pendidikan, maka kesalahan karena mencoba hal/cara baru tidak memiliki efek positif sama sekali. Kesalahan akan memiliki peran strategis dalam pembelajaran jika kita mempercayai bahwa pembelajaran selalu dibarengi dengan proses kesalahan. Hal itu menjadi lebih penting dari sekedar mendapati jawaban yang benar. Kesalahan adalah bagian penting dari sebuah silabus, bukan?.
Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Carol Dweck, seorang professor psikologi di Stanford University tentang performa test singkat bagi 400 siswa kelas 5 SD. Dari hasil penelitiannya, dia mendapati bahwa Separuh siswa dikategorikannya menjadi sangat cerdas dan separuh lainnya bekerja sangat keras. Kemudian kedua kelompok tersebut diminta untuk mengambil test kedua. Terdapat dua pilihan jenis kesukaran dalam test ini. Soal dengan tingkat kesukaran yang tinggi dan test dengan tingkat kesukaran yang sangat rendah (mudah). Dengan kata lain, saat anak memilih soal yang mudah, mereka akan sangat memapu menyelesaikannya. Disisi lain, tingkat kesukaran soal yang tinggi akan lebih menantang dan membuka banyak kesalahan.
90 % Siswa-siswa yang dikategorikannya sebagai pekerja keras memilih untuk mengerjakan soal dengan tingkat kesukaran yang tinggi (sulit). Sedangkan sebagian besar siswa berpredikat sangat cerdas memilih soal yang mudah. Ternyata anak-anak pekerja keras yang mengambil test kategori sukar mengalami perkembangan otak yang lebih bagus dan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu dari cara yang berbeda. Saat mereka mengalami kesalahan, disitulah mereka belajar cara/ metode yang berbeda. Sedangkan sisanya, mereka mampu mengerjakan dengan benar, namun sangat miskin kreatifitas. Penelitian ini memberikan kita petunjuk jika dibutuhkan sebuah upaya yang keras untuk meningkatkan performance sesorang. Dimana didalamnya ada kesalahan sebagai pelecutnya.Kesalahan merupakan indikasi, bukan semata-mata kegagalan. Indikasi untuk mempelajari sesuatu dengan cara yang berbeda.
Kesalahan yang dibuat siswa dilembaga pendidikan kita sering diidentikkan dengan hukuman. Tidak dalam pengertian phisik semata, namun juga psikologis. Seorang guru kadang menjadi hakim, yang dengan mudah memberikan vonis pada setiap kesalahan siswanya.” Kamu salah, kamu bodoh,kamu ngawur” dan seabrek kata-kata negatif lainnya. Sayangnya, seringkali, sang guru tidak mencari tahu mengapa kesalahan itu lahir, dan bagaimana mengubahnya menjadi pelatuk senjata yang akan melesatkan kreatifitas baru bagi siswanya. Sosoknya yang “seram” semacam ini lambat laun membunuh kreatifitas sang siswa. Tidak itu saja, dalam jangka panjang menyumbang terjadinya cognitive shut down. Yaitu kondisi lumpuhnya otak anak untuk melakukan “kenakalan-kenakalan” dalam memahami pengetahuan barunya.
Alhasil, banyak siswa yang menyembunyikan kesalahannya. Lebih nyaman mencontek dan mengkopi jawaban teman. Dengannya ia terbebas dari kesalahan dan kemungkinan dampratan kata-kata negatif. Konon, kondisi ini yang menjadikan siswa kita pragmatis, hipokrit. Siswa menjadi sangat takut mengakui kesalahannya. Tidak hanya di depan guru namun juga di depan orang tuanya sendiri.
Teringatlah saya pada seorang syufi besar -Syaikh Athaillah- yang mengatakan bahwa “ Ada kalanya kamu melakukan kesalahan dan kadang-kadang kesalahan itu menyampaikan kamu ke tujuan. Dosa yang menyisahkan rasa hina dan rendah, lebih baik daripada ketaatan yang menyisahkan keangkuhan dan kesombongan.” Kita semua meyakini bahwa kesalahan adalah sesuatu yang built in dalam diri kita. Karena kesalahan, kita memahami sebuah kebenaran.
Sebagai pendidik, sudah selayaknya kita tempatkan kesalahan dalam belajar sebagai silabus yang sangat penting dari pebelajaran siswa kita. Mari kita berbesar hati untuk memahami kesalahan yang dibuat siswa dikelas. Menjadikannya sebagai sebuah hikmah besar untuk menunjukkan jalan lain menuju keberhasilan. Ada cerita menarik yang saya kutip dari buku “Boleh Dogn Salah” karya Irfan Amalee (Mizan, 2006). Semoga bisa menginspirasi kita dalam memandang kesalahan. Dan tidak menjadikannya sebagai alasan untuk melakukan hukuman yang justru merendahkan dan memupuskan kreatifitas siswa kita. Inilah ceritanya:

Alkisah, Diundanglah 3 negara untuk mengidentifikasi sebuah mumi yang baru di ketemukan di Mesir. Mereka diminta untuk mengetahui umur dari mumi tersebut. Ketiga negara tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia dan Indonesia. Amerika membawa para arkeolog, paleontolog dan ahli hirioglif kenamaan dunia, begitu pun yang dilakukan oleh Rusia. Bagaimana dengan Indonesia? ternyata Indonesia mengirimkan polisi (mungkin densus 88). Amerika mendapat giliran pertama melakukan identifikasi, sejam kemudian mereka keluar dengan wajah masam dan raut kekecewaan. Para ahli dari Amerika gagal mengetahui umur sang mumi. Rusia segera masuk dan melakukan identifikasi,, 3 jam waktu dihabiskan dan saat keluar dari ruangan, mereka menunjukkan gelagat yang sama dengan para ahli dari Amerika: Gatot alias gagal total. Kini, tinggallah tim dari Indonesia. Segeralah bergegas masuk ke laboratorium dan mengidentifkasi sang mumi. 5 menit kemudian tim Indonesia keluar dengan gagah dan penuh kepercayaan diri. Pertanda jika mereka berhasil mengidentifkasi berapa tahun umur sang mumi. Wartawan berdecak kagum, panitia pun menaruh hormat yang sangat tinggi pada tim Indonesia. Wartawan mulai merubutinya dan mengajukan pertanyaan. “Bagaimana anda begitu hebat mengetahui umur mumi hanya dalam hitungan 5 menit? sergah beberapa wartawan. Dengan entengnya, ketua timidentifikasi mengatakan: Mumi itu saya interogasi, tangannya saya jepit dengan kaki kursi, dan saya duduk diatasnya. Kemudian kulitnya saya sulut dengan puntung rokok Djisamsoe, Akhirnya sang mumi ngaku kalau dia berumur 300 tahun.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s