Mengapakah Kita Sering “Berbohong” ?

(Otokritik Terhadap Diriku Sebagai Seorang Guru)

Three Letters from Teddy. Sebuah kenyataan yang merubah cara pandang seorang guru terhadap murid. Ditulis oleh Elizabeth Silance Ballard. Meski peristiwanya dua dekade yang lalu, namun hikmahnya masih menjadi tauladan banyak guru. Dia menulis dalam prolognya bahwa hikmah yang terkandung dibalik cerita tersebut melebihi kebaikan apapun. Bahkan hikmah tersebut dipandangnya sebagi inti dari kasih sayang umat manusia di dunia. Dan bukankah kasih sayang juga wujud rahmad dariNya?
Cerita ini berawal saat Bu Guru Thomson berdiri dihadapan siswa-siswa kelas 5 sebuah Sekolah Dasar. Itu lah hari pertama masuk bagi siswa. Lazimnya seorang guru, dia berpurah-pura berkata dengan jujur dan ikhlas dihadapan siswa, bahwa dia mencintai anak didiknya tanpa pandang bulu.guru
Tetapi perkataan itu hanyalah basa-basi belaka dibenak seorang siswa yang duduk di bangku paling depan kelas tersebut. Teddy Stallard namanya. Sang guru tahu betul tentangnya. Bu guru Thomson pernah melihat setahun sebelumnya. Dia memandang Teddy sebagai sosok siswa yang minder dan tidak pandai bergaul dengan temannya. Pakaian dan raut mukanya yang kusut menandakan jika Teddy jarang membersihkan diri. Terlebih lagi merapikan dan membersihkan pakain lusuhnya. Atas alasan itulah maka, Bu guru Thomson memandang Teddy sebagai siswa lain (liyan:the other) dalam sekolah tersebut.
Alasan inilah yang sering membuat Bu Guru Thomson melakukan “ketidakadilan” terhadapnya. Seringkali ia coret secara menyilang pekerjaan Teddy. Dengan tinta berwarna merah dan tanda F besar di pojoknya. Anggapan yang berkembang tentang Teddy di benak sang guru semakin hari semakin memburuk. Hingga suatu hari, dia melaksanakan salah satu kegiatan wajibnya: menelusuri rekam jejak anak didiknya.
Disekolah tersebut, setiap guru dituntut melihat dan memahami catatan perjalanan hidup sang siswa. Rasa ogah-ogahan membuat bu Thompson menunda membaca rekam jejak Teddy. dalam bayangannya dia bisa mengira-ngira apa yang akan ditemuinya di buku tersebut. Karenanya, rekam jejak Teddy ditaruh dibagian akhir rencana penelusurannya.
Semua rekam jejak muridnya telah usai dia baca, mau tidak mau kini giliran rekam jejak si Teddy. Diraihnyalah rekam jejak itu, namun pikirannya terpecah antara melanjutkan atau menyudahi. Bayangan Teddy yang kusam dan kumal mendorongnya mengambil jalan pintas untuk menyimpulkan latar belakangnya: bermasalah dan menyusahkan sekolah!!.
Disisi lain, keingintahuannya atas prilaku “aneh” sang murid terus memaksanya untuk membaca. Sesaat kemudian, dia dibuat terkejut bukan kepalang. Menemukan fakta baru tentang Teddy. Membalikkan keyakinannya selama ini yang mengatakan bahwa Teddy adalah anak yang nakal dan tidak menyenangkan.”Teddy adalah seorang anak yang pandai dan periang. Pekerjaannya sangat rapi dan berprilaku sangat santun. Dia sosok yang sangat menyenangkan bagi teman-temannya”. Begitulah sosok Teddy yang ditulis oleh guru kelas satunya.
Kenyataan ini mendorong bu Thomson terus mengorek siapa sesungguhnya sosok Teddy yang selama ini dipandangnya tak lebih sebagai anak tak terurus dan bermasalah itu. “ Teddy adalah anak yang sangat luar biasa, disukai teman-teman sekelasnya”. Sebuah pengakuan lain dari guru kelas duanya. Ternyata Teddy mulai bermasalah saat ibu yang dia cintai menderita penyakit kronis. Terlebih lagi saat ibunya meninggal dunia. Saat itulah Teddy mengalami gonjangan kehidupan yang sangat hebat. Kecerdasannya tiba-tiba shut down, ketertarikannya pada sekolah mulai menurun. Disisi lain, sang ayah tidak ambil peduli terhadap kondisinya. Jadilah ia pejuang bagi dirinya sendiri. Belajar memahami dan menjalani gonjangan hidup dan kasih sayang yang mustinya dia dapatkan dengan mudah tersebut.guru (1)
Tahun berganti, perjuangan Teddy semakin berat. Dia semakin jatuh dan jatuh. menjadi pendiam dan ketertarikannya pada sekolah mulai luntur. Dia mulai dijauhi temannya dan sering kali ditemukan tertidur di dalam kelas. Begitulah yang ditulis oleh guru kelas 4 nya. Sejak saat itulah Bu Thomson menyadari kekeliruannya dan merasa malu pada dirinya sendiri: terlalu mudah menghakimi dan terlalu mudah menyimpulkan hanya dari kesan luarnya saja.Baca juga Link Berikut
Di akhir tahun, semua siswa memberi bu Thompson hadiah. Begitu juga dengan Teddy. Beragam hadiah menumpuk di mejanya. Berbungkus kertas warna warni dibalut pita keemasan. Namun semua hadiah itu justru menjadikannya semakin tersiksa. Karena merasa telah berpura-pura . Dengan mengatakan mencintai mereka apa adanya. Dilain pihak, dia membenci dan berprilaku pilih kasih.
Bu Thompson menjadi tidak tertarik lagi untuk membuka satu persatu hadiah di depannya itu. Namun, hasratnya justru tertuju pada sebuah bungkusan yang terlihat sangat lusuh . Berbahan kertas berwarna coklat tua. Ya, itulah hadiah dari Teddy untuknya.
Bebarapa siswa mulai tertawa mengejek saat mengetahui isi dari bungkusan dari Teddy. Seuntai kalung berbahan berlian imitasi dengan beberapa mata berlian yang sudah lepas. Di dalam kotak hadiah tersebut juga terdapat sebuah parfume yang menyisahkan setengah isinya.
Bu Thomson menahan tawa sebagian muridnya dengan segera mengenakan kalung pemberian Teddy tadi. “Bukankah kalung ini sangat indah?” selorohnya sambil menyemprotkan parfume hadiah tadi kearah badannya.
Bel pulang pun berbunyi. Dan Teddy masih berdiri di sisi kelasnya. Ada sesuatu yang ingin dia sampikan pada bu gurunya. Sesaat setelah mendapat kesempatan, Dia segera bergegas menemui gurnya dan berkata “bu Thompson, bau parfume yang ibu pakai mengingatkanku pada sosok ibuku.” Miss Thompson, today you smell just like my mom used to.”’ setelah Teddy meninggalkan sekolah, airmatanya tak mampu ia bendung lagi. Setidaknya satu jam ia berlinang airmata menyadari kekeliruan dan perlakuannya selama ini pada Teddy.
Sejak peristiwa itulah bu Thompson memutuskan untuk berhenti mengajar membaca, menghitung dan menulis. Dia kemudian mulai mendidik para siswanya. Bu Thompson mulai memperlakukan Teddy sebagaimana siswa lainnya. Dan pada saat itulah dia merasakan tumbuhnya kehidupan dalam benak dan pikirannya. Semakin sering bu Thompson memotivasi Teddy, semakin cepat pula respon dan kemajuan belajarnya. Diakhir tahun , Teddy keluar sebagai jawara dikelasnya. setahun kemudian bu Thompson menemukan secarik kertas dibawah mejanya. Kertas putih itu bertuliskan tentang kegaguman dan terima kasih Teddy atas perubahan yang telah dijalaninya.” Bu Thompson anda adalah guru terbaik yang pernah saya miliki.”
Enam tahun kemudian bu Thompson menerima kiriman kertas kembali dari Teddy. Teddy berhasil lulus SMA dengan nilai tertinggi ke tiga di sekolahnya. Diakhir tulisan itu dia tulis kembali jika bu Thompson adalah guru terbaik yang pernah dia miliki.
Empat tahun kemudian, sebuah surat datang lagi ke bu Thompson. Mengakabrkan jika Teddy akan melalui hari-hari yang sangat berat. Dan Teddy meyakinkan bu Thompson bahwa ia akan lulus dengan predikat terbaik. Sekali lagi, dalam suratnya tersebut, Teddy masih menuliskan kata-kata bahwa bu Thompson adalah guru terbaik yang dia miliki selama ini.Empat tahun berlalu, namun belum ada lagi surat yang diterima bu Thompson. Ternyata setelah lulus S1 dia memutuskan untuk terus berjuang dan menuntut ilmu. Dia masih saja mengatakan bahwa bu Thompson adalah guru terbaik yang dia miliki selama ini.
Akhirnya hari yang bersejarah itu pun tiba. Teddy menjadi salah satu lulusan terbaik. Kini namanya sedikit agak panjang dengan gelar di belakangnya: Theodore F. Stallard, M.D. Dia kini menjadi seorang dokter. Sebuah profsi dambaan banyak pelajar.
Ternyata cerita dan surat Teddy tersebut tidak berhenti sampai sini. Di musim semi, Teddy menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis yang akan dinikahinya.Dia mengatakan pada bu Thompson bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Bertanya-tanya apakah bu Thompson mau duduk di kursi yang seharusnya ditempati oleh ibu mempelai. Bu Thompson mengiyakan permintaan Teddy untuk mewakili orang tuanya yang telah tiada.
Di pernikahan Teddy, bu Thompson memakai kalung berlian imitasi yang beberapa matanya copot. Dan tidak lupa, parfume pemberiannya kala kelas 5 SD dulu dipakainya juga. Mereka saling memeluk satu sama lain. Saat itulah Teddy membisikkan sesuatu di telinga bu Thompson. “ Terima kasih telah memberiku kepercayaan, terima kasih juga telah membuatku menjadi anak yang berarti, dan menuntunkun dengan penuh kesabaran bahwa aku bisa membuat perbedaan.”
Dengan berlinang air mata, bu Thompson kemudian membalas bisikan Teddy dengan mengatakan, “ Teddy, apa yang kamu sampaikan itu tidaklah benar adanya, justru kamulah yang telah membuatku belajar untuk membuat perbedaan dan keberhasilan itu”. Lalu bu Thompson melanjutkan lagi dengan mengatakan bahwa , “Saya tidak tahu bagaimana mendidik sampai aku bertemu denganmu.”
Cerita diatas menunjukkan pada kita bahwa guru semestinya menjadi sosok yang selalu dirindukan kehadirannya dan dinantikan inspirasi dan tauladannya. Bukan sebaliknya, dibenci dan dihindari pertemuannya.
Disitulah seharusnya maqam kita berada sebagai seorang guru. Dari siswalah kita banyak belajar tentang kehidupan. Memang, siswa kita belum pernah seukuran usia kita, karenanya belum banyak pengalaman jika dibandingkan dengan yang kita miliki. Namun demikian, kehadirannyalah yang justru sering menunjukkan pada kita dimana sesungguhnya pengalaman dan pengetahuan itu harus di tempatkan.
Kenakalannya melatih kita untuk sabar, keingintahuannya mendorong kita terus belajar. Tidak ada yang paling indah dan menyenangkan bagi seorang guru kecuali mendengar keberhasilan anak didiknya. Semoga kita bisa belajar banyak dari ketidaktahuan kita akan mereka. Dan untuk tidak mudah menghakimi. terlebih lagi menggoreskan kesimpulan premature terhadap prilakunya. Karena kepengasuhan yang dialamnya dibangun oleh kesabaran dan penyemaian itulah inti dari pendidikan. I am proud to be educator!!!!.

Iklan

8 thoughts on “Mengapakah Kita Sering “Berbohong” ?

  1. imot berkata:

    Isinya saya tangkap tidak menggambarkan kebohongan tetapi salah persepsi. Menilai dari bungkus luarnya saja/ under estimate.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s