Strategi Menghadapi Permenpan & RB Nomor 16 Tahun 2009

Strategi Menghadapi Permenpan & RB Nomor 16 Tahun 2009

Strategi Menghadapi
Permenpan & RB Nomor 16 Tahun 2009
dengan Penulisan Artikel Ilmiah

Oleh Mukh Doyin
FBS Universitas Negeri Semarang

Tentang
Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009

Berkaitan dengan jabatan fungsional dan angka kreditnya bagi guru, dasar yang kita gunakan selama ini adalah Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Namun, Kepmen itu dirasa sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi guru. Oleh karena itu, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang berlaku sejak 10 November 2009. Jabatan fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Apa yang baru dalam Kepmen ini dibandingkan dengan keputusan terdahulu?
Unsur kegiatan yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri atas unsur utama dan unsur penunjang. Yang tergolong unsur utama adalah (1) pendidikan, (2) pembelajaran/pem-bimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, dan (3) pengembangan keprofesian berkelanjutan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi tiga kegiatan, yaitu (1) pengembangan diri, (2) publikasi ilmiah, dan 3) menghasilkan karya inovatif. Uraian PKB tersebut tergambar seperti berikut.

No
Macam
Kegiatan
1
Pengembangan Diri
1) mengikuti diklat fungsional
2) melaksanakan kegiatan kolektif guru
2
Publikasi Ilmiah
1) membuat publikasi ilmiah atas hasil penelitian
2) membuat publikasi buku
3
Karya Inovatif
1) menemukan teknologi tetap guna
2) menemukan/menciptakan karya seni
3) membuat/memodifikasi alat pelajaran
4) mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya

Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas guru, yang terdiri atas (1) memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya, (2) memperoleh penghargaan atau tanda jasa, dan (3) melaksanakan kegiatan yang menunjang tugas guru, seperti membimbing sisiwa dalam praktik kerja, menjadi anggota organisasi profesi/kepramukaan, menjadi tim penilai angka kredit, dan menjadi tutor/pelatih/instruktur.
Dalam Kepmen ini jenjang jabatan dan pangkat guru terbagi menjadi empat, yaitu (1) Guru Pertama, (2) Guru Muda, (3) Guru Madya, dan (4) Guru Utama. Guru Pertama memiliki jabatan fungsional Penata Muda dengan golongan ruang III/a dan Penata Muda Tingkat I dengan golongan ruang III/b. Guru Muda memiliki jabatan fungsional Penata dengan golongan ruang III/c dan Penata Tingkat I dengan golongan ruang III/d. Guru Madya memiliki jabatan fungsional Pembina dengan golongan ruang IV/a, Pembina Tingkat I dengan golongan ruang IV/b, dan Pembina Utama Muda dengan golongan ruang IV/c. Guru Utama memiliki jabatan fungsional Pembina Utama Madya dengan golongan ruang IV/d dan Pembina Utama dengan golongan ruang IV/e.
.
Tentang
Publikasi Ilmiah

Secara garis besar ada dua macam karya ilmiah dilihat dari sisi pemerolehannya, yaitu karya ilmiah hasil penelitian dan karya ilmiah nonpenelitian. Karya ilmiah hasil penelitian dapat diwujudkan dalam bentuk laporan penelitian, buku, makalah, dan artikel; sedangkan karya ilmiah nonpenelitian dapat berupa buku, artikel ilmiah, artikel ilmiah populer, dan makalah. Selain tulisan sesndiri, karya ilmiah juga dapat berasal dari terjemahan.
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Ada dua pola dalam makalah, yaitu pola deskriptif dan pola argumentatif. Ada tiga macam bentuk buku yang diakui sebagai karya pengembangan keprofesian berkelanjutan guru, yaitu buku teks, buku pelajaran, dan buku pedoman. Buku teks adalah buku yang disusun berdasarkan hasil penelitian atau renungan keilmuan yang berfungsi untuk memperkaya wawasan pembacanya tentang bidang tertentu. Buku pelajaran adalah buku yang disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku dan disiapkan untuk pedoman pembelajaran di sekolah. Buku pedoman adalah buku yang berisi aturan, pedoman, atau petunjuk untuk melakukan sesuatu. Karya ilmiah populer adalah bentuk tulisan yang berada di antara tulisan ilmiah dan tulisan jurnalistik atau tulisan sastra. Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang menyajikan data dan analisis dari suatu penelitian. Dalam laporan penelitian selain disajikan analisis data yang dapat dibuktikan kebenarannya juga disajikan teori-teori yang melandasi penelitian tersebut. Modul sebenarnya sama saja dengan buku pelajaran. Perbedaannya, jika buku pelajaran digunakan sebagai pedoman pembelajaran di sekolah yang dilakukan oleh guru, modul disiapkan untuk membantu siswa belajar secara mandiri. Karena itu, dalam modul selain berisi materi yang dibutuhkan oleh siswa, juga berisi petunjuk penggunaan dan penilaiannya. Diktat dibuat sebagai pelengkap materi pembelajaran. Jika buku pelajaran dibuat berdasarkan kurikulum yang berlaku, diktat dibuat berdasarkan kompetensi-kompetensi yang ada dalam kurikulum tersebut. Keterbatasan buku pelajaran atau bahkan modul berkaitan dengan materi pembelajaran dapat dibantu dengan adanya diktat.
Untuk karya ilmiah yang ditulis secara bersama-sama memiliki kenetentuan sebagai berikut. Apabila ada dua orang penulis amka penulis pertrama 60% dan penulis kedua 40%. Jika tiga penulis maka penulis pertama 50% sedangkan menulis kedua dan ketiga masing-masing 25%. Jika penulisnya empat maka 40% untuk penulsi utama dan 20% untuk penulis yang lain. Jadi, jumlah penulis pembanytu maksimal 3 orang. Berikut adalah jenis publikasi ilmiah beserta nilai angka kreditnya.

Bentuk
Jenis
Syarat
Nilai
Prasaran
Makalah/Paper/Kertas Kerja
Dipresentasikan dalam seminar
0,2

Laporan Penelitian
Buku
Ber-ISBN, beredar nasional, lolos BNSP
4
Makalah
Diseminarkan
4

Buku
Buku Teks
Dicetak penerbit, ber-ISBN
3
Dicetak penerbit, tidak ber-ISBN
1,5
Buku Pelajaran
Lolos BSNP
6
Dicetak peberbit, ber-ISBN
3
Dicetak penerbit, tidak ber-ISBN
1
Buku Pedoman Guru

1,5

Artikel

Penelitian
Dimuat di jurnal nasional terakreditasi
3
Dimuat di jurnal provinsi ber-ISSN
2
Dimuat di jurnal kabupaten ber-ISSN
1

Konseptual
Dimuat di jurnal nasional ber-ISSN
2
Dimuat di jurnal provinsi ber-ISSN
1,5
Dimuat di jurnal kabupaten ber-ISSN
1
Populer
Dimuat di media nasional
2
Dimuat di media lokal
1,5
Modul/Diktat

Dipakai di tingkat provinsi
1,5

Dipakai di tingkat kabupaten
1

Dipakai di tingkat sekolah
0,5
Karya Terjemahan
Semua jenis
menyesuaikan
1

Tentang Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah adalah karya ilmiah yang dikhususkan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah. Ada dua bentuk artikel ilmiah, yaitu artikel konseptual–artikel yang diangkat dari gagasan atau ide penulis–dan artikel penelitian–artikel yang diangkat dari hasil penelitan. Perbedaan kedua jenis artikel tersebut terletak pada bagian isi. Jika dalam artikel konseptual antara bagian pendahuluan dan bagian penutup hanya berisi isi artikel–yang bisa terdiri atas beberapa subbab; dalam artikel penelitian antara bagian pendahuluan dan bagian penutup terdapat bagian landasan teoretis, metode yang digunakan, dan hasil dan pembahasan.
Artikel ilmiah merupakan karya ilmiah yang bersyarat. Artinya, ia diakui sebagai artikel ilmiah jika telah dimuat di jurnal ilmiah. Oleh karena itu, pengusulan angka kredit melalui artikel ilmiah harus disertai bukti fisiknya, yaitu jurnal yang memuat artikel ilmiah tersebut. Jurnal ilmiah adalah jurnal yang khusus memuat artikel ilmiah. Jurnal berbeda dengan majalah. Jika majalah lebih bersifat populer, di dalamnya antara lain terkandung karya ilmiah populer; jurnal ilmiah murni berisi artikel ilmiah.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh jurnal agar dapat digunakan untuk menulis artikel ilmiah sebagai sarana pengembangan keprofesian berkelanjutan. Pertama, jurnal tersebut harus ber-ISSN (International Standard Series Number). Kedua, jurnal harus memiliki aturan penulisan artikel. Ketiga, diterbitkan oleh instansi yang jelas. Biasanya jurnal diterbitkan oleh perguruan tinggi, institusi pendidikan, atau organisasi profesi.
Ada dua macam artikel ilmiah, yaitu artikel penelitian dan artikel konseptual. Artikel penelitian adalah artikel yang diangkat dari hasil penelitian.Karena jenis penelitian bermacam-macam, maka sangat mungkin format artikel ilmiah juga bermacam-macam. Namun, secara umum bagian artikel penelitian terbagi menjadi bagian awal (judul, nama penulis, abstrak, dan kata kunci), bagian isi (pendahuluan, teori, metodologi, hasil penelitian, dan penutup), dan bagian akhir yang berupa daftar pustaka. Berikut contoh sistematika artikel PTK.

PENERAPAN PENDEKATAN BELAJAR KOOPERATIF
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELUKIS KREASI
PADA SISWA KELAS IXE SMP NEGERI 1 SUMOWONO

Oleh R o t o

ABSTRAK

Kata kunci: belajar kooperatif, motivasi, melukis kreasi

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Penelitian

B. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1. Teori yang Digunakan
a. Pendekatan Belajar Kooperatif
b. Aplikasi PBK dalam Praktik Melukis Kreasi
2. Kerangka Berpikir
3. Hipotesis Tindakan

C. METODOLOGI PENELITIAN

D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Awal
2. Hasil Penelitian
a. Hasil Siklus I
b. Hasil Siklus II
c. Hasil Siklus III
3. Pembahasan

E. PENUTUP
1. Simpulan
2. Saran

Artikel konseptual adalah artikel yang diangkat dari gagasan atau ide penulisnya. Jika dalam artikel penelitian bagian isi terbagi menjadi pendahuluan, landasan teoretis, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, dan simpulan dan saran; dalam artikel konseptual tidak dijumpai metodologi dan hasil penelitian. Selain itu, batasan antara pendahuluan dan landasan teoretis juga tidak diperlihatkan secara eksplisit. Karena itu, sistematika artikel konseptual hanya terdiri atas pendahuluan, konsep yang digunakan, gagasan-gagasan, dan penutup. Berikut adalah contohnya.

METODE OUT DOOR: ANTARA AKADEMIK DAN REKREATIF
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
2. Permasalahan
B. Hakikat Metode Out Door
1. Pengertian Metode Out Door
2. Kelebihan Metode Out Door
3. Kekurangan Metode Out Door
C. Metode Out Door sebagai Kegiatan Akademik
1. Nilai Akademik dalam Metode Out Door
2. Langkah Pembelajaran dengan Metode Out Door
D. Metode Out Door sebagai Kegiatan Rekreatif
1. Fungsi Rekreatif Metode Out Door
2. Perlunya Unsur Rekreatif dalam Pembelajaran
E. Penutup

Tentang
Pengusulan Angka Kredit

Paling lambat tahun 2011 penilaian angka kredit untuk guru sudah dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut.

No
Golru
Oleh
Kepada
1
III/a s.d. IV/a
Kepala Dinas Pendidikan/Pjb. Eselon III
Gubernur/Bupati/Walikota
2
IV/b s.d. IV/c
Kepala Dinas pendidikan/Pjb. Eselon II
Dirjen/Karo Peg.
3
IV/d s.d. IV/e
Kepala Dinasw Pendidikan/Pjb. Eselon II
Mendiknas

Adapun angka kredit pengembangan profesi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

No.
Usulan Kenaikan Pangkat
Peng. Diri
KTI/K. Inov.
Syarat Minimal
1
Dari III/a ke III/b
3

2
Dari III/b ke III/ c
3
4
Bebas
3
Dari III/c ke III/d
3
6
Bebas
4
Dari III/d ke IV/a
4
8
1 laporan penelitian
5
Dari IV/a ke IV/b
4
12
1 laporan penelitian
1 artikel di jurnal ber-ISSN
6
Dari IV/b ke IV/c
4
12
1 laporan penelitian
1 artikel di jurnal ber-ISSN
7
Dari IV/c ke IV/d
5
14
1 laporan penelitian
1 artikel di jurnal ber-ISSN
1 buku ber-ISBN
Presentasi
8
Dari IV/d ke IV/e
5
20
1 laporan penelitian
1 artikel di jurnal ber-ISSN
1 buku ber-ISBN
Presentasi

Tentang Strategi-Strategi

Seperti telah diuraikan di atas bahwa inti Permenpan No. 16 Tahun 2009 adalah Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Ada tiga kegiatan yang tergolong dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan, yaitu (1) pengembangan diri, (2) publikasi ilmiah, dan 3) menghasilkan karya inovatif. Masing-masing kegiatan tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga strategi yang dibutuhkannya pun berbeda. Berkaitan dengan pengembangan keprofesian berkelanjutan tersebut beberapa strategi yang dapat dilakukan diuraikan berikut ini.

1) Memberdayakan MGMP/KKG
Makalah untuk dapat diusulkan sebagai angka kredit syaratnya harus dipresentasikan dalam seminar atau pertemuan ilmiah. Kapan seorang guru akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar? Untuk banyak guru tampaknya sulit. Hanya beberapa guru saja yang mendapat kesempatan tersebut. Oleh karena itu, kita perlu mencari solusi agar semua guru berkesempatan menjadi pembicara dalam forum ilmiah. Cara tersebut adalah dengan memberdayakan MGMP/KKG. Bagaimana caranya? MGMP/KKG dapat secara rutin menyelenggarakan pertemuan ilmiah dengan pembicara dari para anggota sendiri. Agar pertemuan tersebut lebih berkualitas dan tepercaya, kita dapat mengundang satu pembicara dari luar. Kalau kita ingin forum itu lingkupnya lebih luas, kita dapat mengundang narasumber yang memiliki kapabilitas lingkup tersebut serta melibatkan pihak lain.

2) Menjalin Kerja Sama dengan Pihak Lain
Siapa saja yang dapat kita ajak kerja sama? Pertama, organisasi profesi. Dengan organisasi profesi kita dapat bekerja sama untuk pengembangan diri, memproduksi karya ilmiah, mengembangkan inovasi pendidikan, dan menyelenggarakan seminar atau pelatihan. Banyak organisasi profesi yang sejalan dengan kegiatan guru, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Forum Ilmiah Guru (FIG), dan IKA Guru Bantu Indonesia (IKA GBI). Selain MGMP, organisasi profesi yang lingkupnya mata pelajaran pun sudah banyak, seperti Asosiasi Guru Matematika (?), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan Teflin untuk mata pelajaran bahasa Inggris.
Kedua, LPTK, LPMP, dan Dinas Pendidikan. Dengan LPTK kita bisa menjalin kerja sama dalam hal peningkatan kualifikasi guru, pengakuan hasil belajar guru, pembimbingan karya ilmiah, seminar dan pelatihan, dan pemublikasian artikel ilmiah. Dengan LPMP kita dapat menjalin kerja sama dalam bidang pembimbingan karya ilmiah, pelatihan, dan sebagainya. Demikian juga dengan Dinas Pendidikan.
Ketiga, pengelola jurnal ilmiah. Salah satu bentuk karya tulis ilmiah adalah artikel ilmiah, baik yang berupa artikel penelitian maupun artikel konseptual. Artikel ilmiah akan diakui sebagai karya tulis ilmiah sebagai karya pengembangan profesi guru jika telah dimuat di jurnal ilmiah. Tidak banyak jurnal ilmiah yang dapat kita jumpai yang khusus diperuntukkan bagi guru. Karena itu, dengan jalan menjalin kerja sama dengan mereka kita dapat berlatih menulis artikel ilmiah sampai dengan memublikasikannya.
Keempat, penerbit. Dengan penerbit kita dapat bekerja sama dalam hal penerbitan buku, diktat, LKS, atau karya lain; penyelenggaraan seminar atau pelatihan; dan penyediaan sumber belajar yang kita butuhkan.

3) Memanfaatkan situs
Banyak situs yang dapat kita gunakan untuk meningkatan keprofesian berkelanjutan. Mulai dari sekadar tukar informasi, saling meminta-memberi bahan-bahan yang dibutuhkan, sampai situs-situs interaktif. Hanya saja yang perlu kita cermati, di internet tersedia berbagai sumber, mulai sampah sampai emas. Kita harus pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang tepat kita gunakan dan mana yang kurang atau bahkan tidak tepat kita gunakan. Salah satu materi yang diberikan dalam kegiatan Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) tahun 2009-2013 adalah kajian kritis. Melalui kajian kritis kita dapat menentukan sumber-sumber yang bisa dipercaya atau tidak.

4) Mengadakan Study Visit
Meniru pola, etos kerja, dan strategi dari kelompok lain yang lebih maju merupakan langkah praktis untuk mengembangkan diri. Teknik ini bisa kita lakukan dengan mengadakan study visit. Study Visit sendiri tidak selalu harus diartikan dengan tempat yang jauh dan biaya yang tinggi. Kunjungan ke tempat yang sangat dekat yang memiliki keunikan atau kelebihan tertentu pun sudah bisa kita kategorikan study visit. Melalui kegiatan ini kita juga bisa saling tukar tempat mengajar, melakukan pengabdian, atau kegiatan lain yang dapat dikategorikan ke dalam kegiatan pengembangan dir

Iklan

7 Classes of Noun/Verb Agreement

7 Classes of Noun/Verb Agreement
by Mark Nichol

Below you’ll find seven classes of noun/verb agreement you need to understand.
1. Indefinite Pronouns
Most indefinite pronouns correspond to singular verbs:
“Someone has left her plate on the table.”
“Everybody is entitled to his or her opinion.”
“Each boy is responsible for his actions.”
To confirm, test for the proper verb form by writing a simple sentence in which is follows the pertinent pronoun: “Someone is missing” (not “Someone are missing”).
The proper verb form for some indefinite pronouns depends on the reference:
“All of the soup is gone. (Soup is a single entity.)
“Some of the comments are favorable. (The comments are counted as separate entities.)
The indefinite pronoun none can be singular or plural depending on the context:
“None of the jewels are missing.” (None of the components of the whole entity in question are missing.)
“None of the jewelry is missing.” (Not one part of the whole entity is missing.)
2. Conjunctive Phrases
The simple conjunction and cannot necessarily be replaced by such phrases as “along with,” “as well as,” and “together with”:
“The doe along with its fawns is resting in the meadow.” (This sentence is correct, however, if “along with its fawns” is inserted into the sentence “The doe is resting in the meadow,” which requires bracketing commas. The same is true of the other phrases.)
3. “Either/Or” and “Neither/Nor”
Neither and either refer to two compared or associated objects as individual entities and are therefore usually employed with singular verbs:
“Neither she nor I are ready for that.”
“Either option will work for me.”
Informally, however, an exception is made in such constructions as “Are either of you ready?”
In “either/or” and “neither/nor” constructions with a mixture of singular and plural nouns, the verb form is determined by whether the closest noun is singular or plural:
“Either the captain or one of the lieutenants are leading the patrol.”
“Neither the students nor the teacher remembers hearing anything.”
However, because the plural noun and the singular verb still clash in the second sentence despite their lack of proximity, it is advisable to construct the sentence so that the singular pronoun precedes the plural one:
“Neither the teacher nor the students remember hearing anything.”
4. Positive and Negative Subjects in Combination
A subject consisting of positive and negative sentiments that differ in singular and plural form should be followed by a verb that corresponds with the positive element:
“The delivery of the speech, not its contents, is the issue.”
As with “either/or” and “neither/nor” constructions, perhaps it is best to rearrange the sentence so that the singular noun is in proximity with the verb:
“It is not the contents of the speech, but its delivery, that is at issue.”
5. Expletives
In sentences beginning with such expletives as here and there, the actual subject, which follows the verb, determines the verb form:
“There is a word for that.”
“Here are several choices.”
6. Plural Nouns for Single Objects
Plural nouns that name single objects, such as scissors and pants, are matched with plural verbs unless the phrase “pair of” precedes the noun; in that case, pair is the subject:
“Scissors are dangerous.”
“A pair of scissors is required for this activity.”
Some other nouns ending in s are also singular in meaning:
“The mumps is a disease you don’t hear much about anymore.”
Meanwhile, others stand for a single thing but call for a plural verb:
“Thanks are in order.”
7. Fractional Phrases
Phrases referring to a mathematical portion may, depending on the context, be singular or plural:
“A small percentage of the employees are opposed.”
“A large percentage of the cargo was damaged.”
“Three-fourths of the land is forested.”
“One-third of the trees are oaks.”
Numbers expressed as part of a mathematical operation are linked with a plural verb, but the outcome of a computation is expressed as a single entity:
“Ten and six are added together to equal sixteen.”
“Ten minus six is four.”

PELAJARAN SORE INI DI MASJID

PELAJARAN SORE INI DI MASJID

Tertarik melihat putra seorang teman yang lagi asyik belajar di masjid. Tas cangklong levis berhias gambar tempel apel tergeletak di sampingnya. Dalam keadaan terbuka, dapat kulihat tumpukan buku sekolah di dalamnya. Beberapa buku paket dan buku “oret-oretan”. Yang menarik justru buku membaca. Bersampul warna putih dengan gambar krayon berbentuk jerapah. Huruf hiragana tersusun secara vertikal dengan beberapa kanji terselip di dalamnya. Eniwe, saya tidak akan membahas buku paket , pun juga materi di dalamnya. Namun, akan berbagi cerita tentang sebuah surat edaran yang kutemukan di dalam buku tersebut.
Surat edaran dari guru kelasnya berbentuk tulisan tangan, rapi dan sangat jelas. Ditulis dalam bahasa inggris. Berisi pemberitahuan dari sekolah tentang acara yang harus diikuti oleh seluruh siswa sekolah dasar. Program pertama bernama “Setsubun” Matsuri. Ini adalah pesta (matsuri) menyambut datangnya musim semi. Biasanya dirayakan setiap tanggal 3 Februari setiap tahunnya. Dirayakan dengan melempar kacang sebagai wujud pengusiran terhadap setan.
Acara kedua adalah Hinamatsuri. Hina-matsuri adalah sebuah acara perayaan/ selamatan tradisional bagi anak perempuan yang dirayakan setiap tanggal 3 Maret. Pada acara hina-matsuri masa kini, biasanya masyarakat memajang Hina Ningyo boneka Hina Matsuri , bersama dengan sajian bunga Momo (pear) atau makanan dan minuman tradisional seperti Siro-zake (sake putih) , Hina-Arare (semacam kue manis kering), Hishi-mochi (semacam kue ketan).
Di bagian akhir surat pemberitahuan itulah yang membuatku sedikit tersedak. Bukan karena kepedesan atau dibawah pengaruh cabe rawit yang super hot. Tetapi karena sebuah “ penghormatan” terhadap keragaman budaya dan potensi anak didiknya. Sang guru dan sekolah menawarkan acara yang sesuai dengan potensi anak. Bahkan sekolah bersedia mengubah konten acara agar anak sang teman tadi bisa mengikutinya. Mungkin karena pertimbangan budaya dan agama. Mengingat, sebagai muslim, tentunya dia tidak bisa memakan daging babi dan sake. Sebuah penghargaan luar biasa dari sekolah terhadap anak didiknya. Menjadikan perbedaan sebagai khazanah membangun kebersamaan dalam berkhidmat melayani pendidikan.
Mengakhiri tulisan singkat ini, teringatlah saya pada Nabi Muhammad SAW. Suatu hari Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”. Nabi Saw berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”. Jawaban beliau sungguh sangat lugas dan mencerdaskan. Inilah filosofi yang sepatutnya menjadi salah satu pondasi bangunan pendidikan kita. Seorang pendidik yang tidak hanya menggunakan pendekatan kognitif semata, namun juga hati dan perasaannya sekaligus. (credit to: Faruq kun atas inspirasinya).

SELAMAT DATANG TEMAN-TEMAN RSBI DI SEKOLAH INDONESIA

Sekolah Yang Saya Impikan

Hiruk pikuk pembatalan status RSBI terhadap 1.339 sekolah di tanah air sudah agak redah. Saya yakin banyak wali murid dan guru RSBI yang kecewa, pun juga banyak masyarakat yang gembira, disisi lainnya. Bagi yang kecewa, tidak perlu terlalu larut di dalamnya, toh pendidikan pada intinya bukan bermain di simbol-simbol sederhana semacam itu. Layanan pendidikan yang bertendesi menghasilkan social exclusion tersebut sudah seharusnya ditiadakan di negara yang konon penopang utama kebangsaannya adalah kebersamaan dan gotong royong. Sekali lagi, tidak perlu kecewa bagi pengelolah, pendidik dan siswa RSBI/SBI. Tanpa label tersebut, kami masih yakin anda mampu mewarnai pendidikan di tanah air dengan lebih baik lagi.

Meskipun, secara jujur, label RSBI tidak membawa dampak yang signifikan bagi perbaikan mutu pendidikan di tanah air. Pun juga, tidak satupun sekolah berlabel RSBI itu memenuhi salah satu syarat standar sekolah bertaraf international. Mari menjadikan semua “kesalahan” ini sebagai cara kita kembali memaknai pendidikan yang sebenarnya. Tidak semata-mata urusan uang dan komoditas belaka.

Mungkin banyak dari kita yang berdalih jika RSBI bisa dijadikan kendaraan cerdas untuk meningkatkan kualitas pendidikan an sich. Input yang sangat tinggi, pembelajaran berkelas dunia, serta fasilitas mewah adalah salah satu modalitasnya. Modalitas yang sulit diraih oleh sekolah biasa-biasa saja. Yang hanya mengandalkan fasilitas biasa-biasa saja.

Namun, banyak pihak yang kemudian menjadi kecewa, bukan semata-mata karena mahalnya biaya yang harus ditanggung, namun karena mutu yang di dapat tak sehebat labelnya. Apakah demikian? hasil study yang dilakukan oleh ACDP dan di publish pada 12 November 2012 kemaren bisa menjawabnya.Bacahasil studynya disini

Bagi teman pengelolah, pendidik dan siswa non RSBI, juga tidak perlu berbangga hati. Meski saudara kandung yang selama ini dinomersatukan sudah tidak mendapat fasilitas dan sebutan international lagi. Meski saudara kandung yang sering dieluh-eluhkan itu tidak lagi menempati kasta teratas pendidikan di tanah air. Mereka juga bagian penting dari pendidikan kita.

Sebagai pendidik, sudah seharusnyalah jika kita bangga meski hanya memiliki input yang biasa-biasa saja. Bekerja disekolah yang biasa-biasa saja. Tak berlabel mewah juga international. Disitulah sesungguhnya kualitas dan integritas kita menemukan ruangnya. Ruang untuk membuktikan kalau kita mampu berprestasi tanpa dibatasi sekat dan simbol semata.

Kitapun tidak perlu banyak berdalih karena “bersaing” dan diuji dengan sekolah international dengan alat yang sama. Kita tetaplah kita yang harus berbangga menjadi sekolah Indonesia saja. Kita tidak boleh jumawa, meski banyak prestasi lahir dari sekolah non RSBI. Kita harus tetap sederhana dan menjadi sekolah sederhana (plain living, plain thinking). Yang tetap mengajarkan Bahasa Indonesia dan kearifan lokal sebagai muatan kebanggaan. Kita tidak perlu muluk-muluk, pun juga tidak boleh apa adanya.

Sekali lagi, kita jangan berkecil hati kalau tidak memiliki lcd projector yang tergantung di langit-langit kelas kita. Kita juga tidak harus gusar belajar tanpa mesin pendingin. Atau merasa rendah diri karena pembelajaran diantarkan dengan bahasa persatuan.

Kita pun tak perlu minder dan rendah diri hanya karena belum S2. Karena yang dibutuhkan oleh anak didik bukan titel yang seabrek, tetapi miskin kreatifitas dan loyalitas. Anak didik kita hanya butuh seorang pendidik yang terus belajar dan tiada henti menginspirasinya.

Mari kita mulai mencintai pendidikan yang didasari oleh kesederhanaan. Kesederhanaan akan melahirkan kejujuran, toleran dan saling menghargai. Mungkin itulah yang dibutuhkan oleh bangsa besar ini untuk bangkit dan menyadari kehebatannya. Bukan sekolah yang menyuburkan sofis-sofis modern, sebagaimana Yunani kuno pernah mengalaminya.

Sekolah semacam itulah yang saya impikan. Selamat bergabung kembali dengan sekolah Indonesia duhai sahabat-sahabat kami dari sekolah “RSBI”. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan mewujudkan pendidikan yang bermartabat dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa.

Curriculum for adding meaning

Retrieved from : http://www.thejakartapost.com
A. Chaedar Alwasilah, Bandung | Opinion | Sat, January 19 2013, 10:58 AM

When anything goes wrong in society, people promptly point the finger to education. Recurring social problems such as student clashes, interethnic or interfaith conflicts, corruption and moral decadence are assumed to be indicative of failure in the education system.

Recently, some people, including government officials, enthusiastically proposed that anticorruption, character building, sustainable development, scouting, traditional martial arts, and even soccer should be included as school subjects. In brief, people want to put anything valuable into the curriculum.

Granted, those additional subjects would have made the curriculum inflated and unmanageable. Parents complain that their kids are burdened by the number of school subjects and extended learning time. This brings us to the issue of school subjects versus education aims. Confusion begins when people mix them up.

Education in general is aimed at making man more human, enabling him/her to understand human nature and the universe. Without a proper education, people become meaningless and they are bound to fail in life.

As meaning is abstract and infinite and learning time and space are limited, the curriculum should be structured cost-effectively. Therefore, education should be conducted on the basis of knowledge about human nature, its actuality, potential and possibility within a particular culture.

Philip H. Phenix in his book Realms of Meaning identifies six classes of meaning, indicating general kinds of understanding a person should have as a member of a civilized community. They are symbolic, empiric, esthetic, synnoetic, ethical and synoptic meaning. People should challenge the curriculum when it fails to inculcate the meaning. The meaning, not the subject, matters.

Students develop meaning through school subjects or disciplines. Meaning is more or less fixed while school subjects are not always clearly assignable to a single class of meaning. Literary works, for example, can be used to teach multiple meanings — be it symbolic, empiric or esthetic meaning.

Classification of meaning is important for facilitating student learning and for allocating school subjects. Practically speaking, meaning delivery is in the hand of teachers. The six categories of meaning are elaborated as follows.

Students are taught empiric meaning through language and mathematics to enable them to use symbols meaningfully in communication. Literacy and numeracy are basic for human life. Therefore, language and mathematics, along with science, constitute core subjects in schools across the globe.

Students are taught empiric meaning through the scientific enterprise, i.e. physical sciences, life sciences and social sciences to discover truth. While symbolics is based on form, empiric is based on observable facts. The teaching of sciences is to enable students to discover truth.

At lower elementary levels, where play-based teaching is appropriate, there is no necessity to separate natural science (IPA) from social studies (IPS), as both are assignable to teach empiric meaning. The Education and Culture Ministry, commencing this year, is now redefining both subjects. From a pedagogical point of view, the focus should be on inculcating the empirical meaning rather than school subjects.

Students are taught esthetics through music, visual arts, the arts of movement, literature, etc., to enable them to grasp esthetic meaning in life. Esthetics sharpens student feeling and sensitivity. The focus of teaching music is not to train students to be musicians but to develop musical sensitivity. The very end of teaching art is appreciation, not description of it.

Synnoetic meaning is simply tacit knowledge as opposed to explicit knowledge. Different from symbolic meaning, which is abstract, synnoetic meaning, is personal meaning based on experience. Through literature, psychology and religion, teachers develop in students an existential meaning of their own life.

Ethical meaning provides students with informed decisions to do things. It arises out of disinterested perception, while esthetic meaning arises from subjective perception. Students may have active personal commitment to a particular type of dancing at the cost of ethical meaning. In ethics, activities are done for purposes of public participation, as the public tends to share intersubjectivity on what is right or wrong.

Through religious education, citizenship (PPKN) and Pancasila, teachers instill moral teaching on students. The outcome is not explicit student knowledge on the subject but rather putting moral values into practice. Physical education can also be used for teaching moral values such as fairness, sportsmanship, team work and a respect for rules.

Synoptics, or synopsis of meaning, suggests an integrative function of all meanings elaborated above. History and religion are the major school subjects that promote synoptic meaning. Teaching history is not to memorize past events but to make sense of them in an integrated way. In the end, learning history is to improve the present and future.

We have elaborated on the aim of general education — to provide students with six realms of meaning to make sense of themselves and the universe — however, we cannot put everything praiseworthy and desirable into the curriculum.

The six meanings can be inculcated through multiple school subjects. Obviously elementary, secondary and tertiary students need different levels of understanding of the meaning. The curriculum should be
designed accordingly.

Which subjects propagate what meaning and at what level of education are vital curricular decisions to make. What matters most is the teacher who controls the class to inculcate the meanings.

The writer is a professor at the Indonesian Educational University (UPI) Bandung

Dealing With Student Errors

Dealing With Student Errors
http://www.eslfocus.com/articles/dealing_with_student_errors-401.html)
(
By Phoebe Lyon 04/16/09
A common issue that teachers have to deal with is how to correct student errors. No-one likes being corrected; however, the school and the parents often demand it, and students themselves will complain that a teacher doesn’t correct them enough. So how can you create a win-win situation?
Errors vs. Mistakes In language teaching, we distinguish errors from mistakes. A mistake is a common, accidental problem, which can occur when we speak too fast, think too quickly, or are nervous or tired. On the other hand, an error is a systematically produced problem, which is usually the result of ingrained patterns of language that we are not aware of.
Errors and mistakes can occur in speaking, writing, word choice, and pronunciation. Mistakes usually do not require much attention from the teacher. Learner errors, however, need to be pointed out so that the learner can eventually self-correct the problem without intervention from the teacher.

Developing Error Awareness The process of error awareness is one in which we draw the learner’s attention to an error allowing them to eventually self-correct it. Getting to that stage can be time-consuming and frustrating for the learner and teacher because learners are, at first, unaware that they are making the same errors over and over. Nevertheless, it is a very necessary part of language pedagogy, and not one that should be dismissed or overlooked. Errors that are not corrected will, over time, become imbedded or “fossilized” in the learner’s fluent use of English.
To guide our learners toward fluency, there are three approaches to error awareness: Teacher modeling and correction; learner-to-learner comparison; and self-correction, which leads to proficiency and fluency.
1. Teacher Modeling & Correction of Spoken Errors When the teacher corrects a speaking error, what he or she is actually doing is providing a correct model for the learner to emulate. This stage, applied at any level, and especially at low levels, ensures that the learners receive correct information.
The best technique that a teacher can use is to correctly repeat back to the learner what they had said incorrectly, and then have them repeat it again. Never echo the error that the learner has made, as this can sound like you are mocking them.
Whatever you do, you must make this process gentle and positive to ensure that the learner is receptive. Your goal is to ensure the learners are developing awareness of the error, rather than making it a matter of “right and wrong.” Avoid negative language at all costs. Avoid saying, “No,” or “Wrong,” or anything similar. In fact, praise the effort made, even if incorrect. Follow up by modeling the correction, and praise the learner again when he or she reproduces the language correctly.
2. Learner Comparison & Correcting Written Errors In classrooms where the learners have developed a good working rapport with each other, (an important requirement for this technique!) the teacher can step out of the center by allowing the learners to develop error awareness amongst themselves.
It is important however, that the learners are encouraged to compare errors, rather than actually employ a correction technique. The latter approach could result in management problems for you. For example, a younger learner should not correct an older learner in some cultures. In others, a woman may not correct a man. In multi-lingual classrooms, there could be resentment of one national correcting a non-allied national (ex: Japanese to Russian, or French to German). Beyond the cultural conflicts, there could also be resentment arising from personality conflicts.
To get around these problems, an effective strategy is to leave spoken error correction to the teacher. For the correction of written tasks, however, invite learners to compare their answers. Avoid employing a teacher-to-learner correction of a task, which can be isolating, exposing and time consuming in most circumstances.
As they do this, make sure you monitor and make yourself available to clear up any further confusion, and also to correct any misinformation. In this way, it is unnecessary to correct the task with the whole class, and you can move more seamlessly on to the next task.
3. Self-Correction When a learner can correct him or herself, you know that the learner has arrived at the most desirable level of error awareness: self-correction. There is nothing more satisfying than to hear your learners self-correct errors that, at one time, were frustratingly common every time they opened their mouths or put pen to paper. Getting to this stage, however, may take a while; especially for certain deeply-ingrained errors such as article omission, tense confusion, or word choice.
Be patient and gentle. Allow learners to finish talking. Don’t jump on the error. As soon as the learner has completed talking, draw their attention to the problem by asking them to repeat some part of what they said. If they repeat the error, gently indicate that there is a problem. If they are unable to self-correct, simply model correctly and have them repeat it.

Kutipan menulis

Menjadi penulis, tidak berarti selamanya kita tahu apa yang harus ditulis. Tidak selamanya pula kita bersemangat menulis. Ada kalanya kita merasa buntu. Ada kalanya kita kehilangan semangat menulis.

Jika hal itu terjadi pada Anda, mungkin Anda perlu berhenti sejenak dan membaca kutipan inspirasional berikut ini. Siapa tahu bisa membantu mengembalikan semangat Anda dalam menulis.

1. Temukan tujuan dalam menulis. Tanpa alasan menulis yang baik, Anda tidak akan bersemangat menulis. “Temukan alasan mengapa Anda harus menulis; Lihatlah apakah dia telah mengakar dalam hatimu; Katakan pada dirimu bahwa Anda lebih baik mati daripada dilarang menuliskannya.” ~ Rainer Maria Rilke.

2. Jika lelah atau malas, lakukanlah perlahan-lahan. “Jika ditanya, ‘Bagaimana Anda menulis?’ Saya akan menjawab, ‘Satu demi satu kata.’ ~ Stephen King.

3. Ada penulis yang berhenti menulis karena merasa harus menunggu inspirasi datang. “Anda tidak bisa menunggu inspirasi. Anda harus mengejarnya dengan pemukul.” ~ Jack London.

4. Ide dapat kita peroleh dari banyak hal. “Anda mendapatkan ide dari mengkhayal. Anda mendapatkan ide dari rasa bosan. Anda mendapatkan ide setiap saat. Perbedaan penulis dengan orang biasa adalah kita sadar saat kita melakukannya.” ~ Neil Gaiman.

5. Carilah inspirasi dari buku. “Baca, baca, baca. Baca semuanya –sampah, klasik, bagus dan jelek, dan lihat bagaimana mereka melakukannya. Sama seperti tukang kayu yang baru belajar. Baca! Anda akan menyerapnya. Kemudian tulis. Jika bagus, Anda akan mengetahuinya. Jika tidak, lempar saja keluar jendela.” ~ William Faulkner.

6. Kadang, kita enggan menulis karena takut melakukan kesalahan. “Indahnya menulis adalah Anda tidak harus melakukannya dengan benar saat pertama kali, tidak seperti bedah otak, misalnya.” ~ Robert Cormier.

7. Atau bisa jadi kita berhenti menulis karena kita tidak percaya pada kemampuan kita. Karena itu, kita perlu percaya pada diri kita sendiri. “Percayalah pada dirimu sendiri, karena akan ada masanya dalam bisnis ini (penerbitan) di mana hanya Anda yang bisa melakukannya. Biasanya, penulis dengan ciri khas yang kuat sulit mendapatkan pengakuan pada awal karirnya, karena penulis dengan ciri khas yang kuat kadangkala membuat para editor gugup. Namun pada akhirnya, hanya mereka yang kuat yang bertahan.” ~ Jayne Ann Krenz.

8. Pahami bahwa hidup adalah risiko. Begitu juga dalam menulis. “Masalahnya adalah jika Anda tidak mengambil risiko, Anda mendapati risiko yang lebih besar lagi.” ~ Erika Jong.

9. Jangan menyerah dalam menulis. “Ini adalah masalah stamina, jadi jangan putus asa jika Anda menemui gang buntu dan harus memulai dari awal, atau jika Anda menerima surat penolakan lagi. Semua penulis sukses pernah menjalani itu, namun mereka terus menulis dan tidak menyerah hingga tercapai tujuan mereka.” ~ Tim Maleeny.

10. Dan yang terakhir, “Cintai apa yang Anda lakukan dan lakukan apa yang Anda cintai. Jangan dengarkan perkataan orang lain yang melarang Anda. Lakukan apa yang ingin Anda lakukan, apa yang Anda cintai. Imajinasi haruslah menjadi pusat hidupmu.” ~ Ray Bradbury.

Dyah Rinni
Penulis dan trainer dalam menulis. Pemenang 2 Lomba Menulis Romance Penerbit Qanita 2012. Hubungi Dyah melalui akun twitter: @deetopia atau dyah.utami@gmail.com