Mana RPP mu?

Siang ini, pukul 12:50. Udara sangat dingin.3 derajat celcius yang saya baca di ramalan cuaca.Namun, ruangan tempat kami kuliah tiba-tiba menjadi hangat. Bukan oleh heater atau pemanas ruangan. Namun semata-mata tercipta oleh kegairahan kami membahas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (selanjutnya di singkat RPP) masing-masing negara. Jepang,Indoneisa, Uzbekistan dan Sudan. Mengawali diskusi itu, sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan. “Pentingkah perencanaan pembelajaran itu?. Kami semua menganggapnya sangat penting.Karena RPP adalah bagian penting dari penyiapan pembelajaran itu sendiri. Guru-guru berpengalaman misalnya, tetap menggunakan RPP meski tidak terperinci secara mendetail. Terlebih lagi guru-guru baru (novice) yang tidak tahu banyak tentang rimba belantara yang akan dilaluinya, RPP menjadi sangat penting peranannya.
Tidak ada formula yang sederhana untuk penyusunan RPP. Hal ini terjadi karena apa yang dianggap sebagai RPP yang efektif tergantung banyak hal. Termasuk di dalamnya adalah isi pelajaran itu sendiri,gaya mengajar guru, preferensi belajar siswa,ukuran kelas, dan tentu saja tingkat proficiency sang pebelajar. Namun demikian, secara umum, RPP akan merefleksikan sebuah keputusan yang telah kita buat tentang beberapa hal berikut:

Goal: apa tujuan pembelajarannya
Activities: apa yang akan dilakukan siswa dalam pembelajaran (dialoque, menulis bebas atau curah gagasan)
Sequencing: urutan dimana aktifitas akan digunakan, termasuk di dalamnya kegiatan pembukaan dan penutupan
Timing : berapa banyakwaktu yang dihabiskan untukmasing-masing aktifitas
Grouping : kapan akan membelajarkan anak didik secara klasikal dan kapan mereka akan bekerja dalam kelompok
Resources: kapan materi akan digunakan,semacam texbook, LKS dan DVD.31141059
Dari situlah kemudian kami mencoba memahami masing-masing RPP. Di Jepang misalnya, perspektif dan struktur yang digunakan dalam RPP berkutat pada 3 kegiatan utama.Yaitu introduction- development – consolidation. Di Indonesia kita mengenal struktur EEK (Eksplorasi-Elaborasi dan Konfirmasi).Inti dari struktur tersebut tidaklah berbeda jauh.setiap pembelajaran seharusnya dimulai dari perkenalan dulu. Anak didik dibawah pada kegiatan yang akan membangun latar belakang pengetahuan yang akan dipelajarinya. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara.Lead In activities, brainstrorming atau icebreaker game sekalipun. Baru setelah anak didik memahami latar belakang dan pengetahuan yang akan dipelajarinya secara baik, kita masuk pada inti pembelajaan dan belajarnya. Elaborasi atau development adalah tahapan yang sangat penting sekali dalam pembelajaran di kelas. Banyak kegagalan pembelajaran terjadi di tahapan ini. Minimnya strategi, maupun coping students behaviour menjadi beberapa penyebab kegagalan RPP yang kita rencanakan sebelumnya. Bahkan, banyak kasus yang menunjukkan bahwa apa yang tidak kita rencanakan justru berjalan dengan sangat baik. Ada temuan menarik yang dilakukan oleh Bailey (1966) tentang lepasnya pembelajaran dari RPP. Dua diantaranya adalah:

Serve the common good: sebuah usulan dari anak didik yang dianggap akan bermanfaat bagi keseluruhan kelas. Guru lebih memilih usulan anak didik untuk diselesaikan terlebih dahulu ketimbang yang ditulis di RPPnya.
Teach to the moment : RPP terpaksa di taruh dulu, guru membahas sebuah isu yang lebih menarik saat itu.
kadang kita lupa untuk melakukan penekanan pada struktur akhir RPP tersebut. Konfirmasi atau konsolidasi. Kita menganggap bahwa jika pembelajaran inti berhasil (sesuai dengan RPP) maka pembelajaran pada intinya juga berhasil. Namun tidak demikian, justru tahapan akhir itulah alat pengujinya yang paling sesuai. Pengalaman saya menunjukkan bahwa, seringkali kita keasyikan berada di kegiatan inti hingga melupakan refleksi kegiatan akhirnya. Penekanan refleksi ini menjadi sangat penting .Karena ia akan menjadi tolak ukur yang sederhana bagi kita untuk menentukan apakah pembelajaran kita berhasil atau belum.
Satu yang paling saya suka dari sensei adalah kebiasaannya mencatat highligt pembelajarannya di sebelah kiri papan tulis. Memungkinkan siswa memahami apa yang akan dipelajarinya dan kegiatan apa yang harus dilakukannya. Atau sampai dimana kegiatan pembelajaran itu berlangsung. Ini pentying sekali, sehingga saat anak didik kehilangan kosentrasi dia bisa segera melihat menu yangada di papan tulis. Kebiasaan ini juga sangat efektif untuk mengontrol penggunaan waktu dalam setiap aktifitasnya.
Disisi lain, RPP model Jepang juga memberikan satu ruang bagi anak didik. Maksudnya, di dalam RPP terdapat penjelasan tentang latarbelakang anak didik yang akan dibelajarkan. Potensinya, kecenderungan dan kendala-kendala yang sering dihadapi di kelas tersebut. gambaran tersebut memudahkan pendidik melakukan bauran pembelajaran dan teknik mengajar. Inilah yang tidak dimiliki oleh RPP kita.
Kuliah sore ini menyadarkan saya untuk tidak lagi sekedar copy paste , mengganti nama sekolah dan pembuat. jauh lebih berharga RPP itu kita buat dan kita laksanakan. Karena kitalah sesungguhnya yang lebih tahu anak didik kita. Mari kita buat RPP kita sendiri. Kitalah yang melaksanakan,maka lebih elok jika kita sendirilah pembuatnya…….ayo bersama-sama bikin RPP,ayuklah….yuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s