PELAJAR DALAM LIPATAN ARUS SEXUALITAS

Sekedar Celoteh:

PELAJAR DALAM LIPATAN ARUS PORNOGRAPHY

Beberapa hari ini,persoalan degradasi moralitas pelajar kembali mencuat ke permukaan.. Arisan Sex Sekumpulan siswa menengah di Situbondo semakin menambah daftar panjang rusaknya moral bangsa. Ironisnya beredarnya potret “kebrobrokan” ini terjadi saat elemen bangsa ini menguras energinya membahas KURIKULUM 2013. Yang konon diyakini akan mampu merekonstruksi dekadensi dan kebobrokan moral pemuda.

Fenomena pelajar mesum tidak hanya sekali ini terjadi. Sebelumnya, beberapa siswa SMP/SMA melakukan hal yang sama.Ada benang merah yang bisa di petik melalui serangkaian peristiwa semacam ini. Salah satunya Dari peristiwa ini kemudian masalah serius dengan moralitas pelajar!.Tulisan ini mencoba untuk memotret pelajar dari kecenderungan-kecenderungan kehidupan sexnya.

DARI PONSEL MENUJU HOTEL
Era Komunikasi digital yang ditandai oleh menjamurnya teknologi komunikasi tidak saja membawa dampak positif melainkan juga negatif. Salah satu dampak negatif itu adalah kemudahan penyebaran informasi, gambar, video porno bagi masyarakat Kecanggihan dan kemudahan operasional alat komunikasi telah membantu meraka dalam mengabadikan dan menyebarkan adegan-adegan mesum dan sejenisnya: cepat,mudah dan murah.
Disisi lain, Pelajar-sebagai objek- dewasa ini telah masuk dalam perangkap hedonisme.Kemewahan dan keasyikan dunia telah menjadikannya lupa daratan.Keasyikannya dengan alat komunikasi dan teknologi (HP,Internet,, TV) telah menyebabkan teralinieasinya jiwa mereka dari kehidupannya.Keasyikannya bermain sesama kawan, bercengkrama dengan keluarga terenggut oleh bius kenikmatan teknologi.

Banyak dari mereka lebih asyik mendekap Handphone daripada buku-buku pelajaran. Mereka lebih asyik bercengkrama dengan SMS, facebook daripada terlibat secara aktif dalam diskusi keluarga/pelajaran.. Kondisi ini turut merapuhkan bangunan etika dan moralnya. Batas-batas moral/etika menjadi kabur. Akhirnya banyak pelajar terjebak pada komoditas libido. Sering mendobrak kanal-kanal dan daerah terlarang semisal hukum,moral,tabu,agama.

Kondisi ini mendorong munculnya kecenderungan-kecendurang baru dalam pertemanan (pacaran). Berpacaran tidak cukup berkirim surat,bunga atau sms. Mereka lebih mengharap sesuatu yang lain dari biasanya. Pola pertemanan intim (pacaran) telah dimaknai terlalu jauh.

Beberapa penelitian menunjukkan fenomena yang sangat mengiriskan hati.Banyaknya siswa/siswi yang telah melakukan hubungan layaknya suami istri.Bahkan tidak cukup satu dua kali namun berkali-kali.Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh forum Kisara (Kita Sayang Remaja) di tetangga dekat kita –Bali. Survei menunjukkan bahwa separuh (40,67%) remaja di Bali telah melakukan hubungan seksual. Angka ini lebih tinggi dari hasil survei di tingkat nasional yang hanya sebesar 28%.

Disisi lain, gaya kehidupan pelajar telah terasuki produk-produk hasil dari”kapitalisasi libido”.Provokasi visual ini sedikit banyak mendorong siswa untuk melakukan hal-hal yang semestinya belum pantas mereka lakukan. Mereka dapat dengan mudah mendapatkanyya: download. Pelajaran yang tidak didapat di ruang ruang kelas dan rumah ini kemudian dipraktekkan dalam pola pacaran yang bebas (free sex).

Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, problema seks dan cinta di kalangan remaja merupakan masalah abadi yang tak akan pernah habis-habisnya untuk dibahas.
Sayangnya ruang untuk membahasnya terlalu sempit-terbentur ketabuhan.. Sikap tertutup dan takut bertanya tentang persoalan sex –baik kepada guru maupun ortu-memungkinkah mereka mencari jalan pemuasan lain: media visual .Karena tidakpuas hanya sekedar melihat saja, kemudian mereka belajar merasakannya (hubungan suami istri). Keasyikan ini kemudian ditularkannya pada teman-teman lainnya –yang memiliki hasrat yang sama- baik melalui gambar, film 3GP atu produk sejenisnya.Akhirnya dari provokasi pesan di ponselmerkea berjanjian untuk ketemu di hotel.

Karenanya menjadi teramat mendesak sekali untuk menjadikan persoalan pornography sebagai musuh utama yang harus dihadapi dalam membangun moralitas pemuda. Butuh kepedulian kita semua, tidak hanya orang tua, guru,rohaniawan,namun semua elemen masyrakat untuk menjadikan pemuda/pelajar sebagai penerus peradaban dan keadaban negeri ini. Mereka terjebak dalam lipatan pornography karena kita sebagai Guru, orang tua belum pernah peduli akan hasrat psikologis pubertasnya. Haruskah mereka hancur karena ketidakpedulian kita?semoga tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s