Sosok Guru Jepang Yang Saya Tahu

SekedarCeloteh:

Apakah sesungguhnya yang membedakan kita dengan guru-guru Jepang ya? Bukankah mereka juga manusia?sama seperti kita ini.Bukankah mereka juga mendidik anak-anak yang secara umum sama dengan anak didik kita?Bukankah mereka juga memiliki waktu 24 jam sebagaimana kita miliki?.

Pengalaman mengunjungi dan mengajar beberapa sekolah di Jepang sedikit banyak membuka mata tentang keunggulan mereka. Hal ini tidak menjadikan saya kemudian pesimis dan memandang rendah bangsa sendiri. Justru dari sinilah saya semakin mencintai Indonesia. Termasuk pendidikan yang ada di dalamnya. Dengan Belajar dari sekolah-sekolah jepang yang efektif dan tidak banyak buang-buang energi untuk kesia-siaan dalam pendidikannya. Menjadikan saya semakin yakin bahwa potensi kita jauh lebih baik dari mereka.

Pengalaman yang saya jalani juga memberikan pelajaran penting. Disiplin, kesungguhan,tepat waktu,jujur dan seabrek prilaku agung lainnya bisa dengan mudah kita semaikan ke anak didik kalau kita sendiri rela jadi contohnya.

Saya juga belajar bagaimana guru-guru Jepang menyiapkan materi yang akan digunakan esok harinya. Mereka rela pulang larut malam hanya ingin membuat anak didiknya tidak kecewa.

Di dalam kelas, guru-guru sudah tahu dari mana memulai dan kapan mengakhirinya. Saya melihat betapa enaknya mereka membelajarkan anak didiknya. Tidak sekalipun saya temui guru yang dengan seenaknya keluar ruangan dengan alasan yang tidak bisa dibenarkan. Misalnya ke ruang guru untuk merokok atau melanjutkan ngobrol yang tertunda karena bel masuk. Mengapa mereka enjoy dan rela tinggal lama-lama di kelas? jawabannya hanya karena mereka telah siap dan tahu kemana kelas akan dibawahnya. Mereka juga memiliki gambaran yang jelas tentang potensi dan kecenderungan-kecenderungan setiap muridnya dalam RPP nya. Rangkuman itu menunjukkan betapa perduli dan pahamnya mereka terhadap anak didik yang dihadapinya. Hal ini memudahkannya menyiapkan segala resiko yang dihadapi di kelas. RPP yang saya miliki,kadang hanya salinan dari internet semata.

Kenyataan ini memberi tamparan keras pada saya,yang hanya menyiapkan lesson plan saat pengawas datang atau sedang giliran supervisi kelas. Memang, sesuatu yang direncanakan kadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sesuatu yang tidak direncanakan justru sebaliknya. Namun, tidak kah lebih bagus jika kesiapan dijadikan pertimbangan penting sebelum membelajarkan anak didik. Sehingga kita tahu bagaimana memulainya dan bagaimana mengantisipasi setiap resiko yang akan terjadi.

Saya juga tidak sering melihat guru-guru Jepang memiliki kemampuan luar biasa, pembelajaran yang benar-benar excelence dan atau keunggulan-keunggulan lainnya. Dalam beberapa kasus, justru banyak guru di Indonesia yang jauh lebih kreatif dan smart dari pada mereka.Justru banyak pembelajaran yang dilakukan guru di Indonesia lebih modern dan kaya pendekatan daripada kelas-kelas yang pernah saya kunjungi di Jepang.Tapi mengapakah mereka lebih berhasil? motivasi belajar mungkin menjadi jawabannya.

Guru-guru Jepang juga tidak terlalu banyak mengggunakan teknologi,meski mereka menguasai dan memilikinya. Mereka jauh lebih suka komunikasi langsung, interaksi langsung tanpa bantuan komputer sekalipun. Disisi lain, Guru-guru Indonesia jauh lebih jago dibanding mereka. Terutama dalam penguasaan teknologi dalam pembelajaran.

Guru di Jepang,sebagaimana yang pernah saya temui, bukanlah sosok yang sakral. Apalagi berlagak seperti raja:can not do wrong. Mereka lebih familiar, bersahabat dan ramah-ramah. Meski tradisi samurai dan Jepang memuliakan guru,namun tidak menjadikan mereka sosok yang gila hormat. Terlebih lagi keinginan untuk dihormati oleh murid-muridnya.

Ketekunan dan kesungguhan seakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari mereka. Saat berada di ruang guru,saya melihat mereka sangat tekun membolak-balik buku pekerjaan siswa, atau membaca aneka buku yang ada di rak mejanya.Begitu berharga waktu bagi mereka, dan digunakan untuk kemajuan dan perbaikan kualitas pembelajarannya.

Mereka memasuki kelas tepat waktu. Tidak terlambat dan keluar sesuai jamnya. Mereka mematuhi setiap aturan yang dibuat bersama hanya untuk menunjukkan pada murid tentang efek-efek ketauladanan.

Saya akhirnya menyadari jika To have is not equal to do. Jika memiliki itu tidak secara otomatis melakukan. Kita memiliki banyak potensi yang terpendam,namun belum sempat kita gunakan.Kita memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah kita oleh menjadi potensi yang luar biasa. Karena kita lebih senang dan nyaman dengan kondisi yang kita nikmati dan jalani saat ini.Untuk berbeda dan berkualitas memang mensyaratkan kita untuk terus bergerak dan bergerak. Jangan sampai tertahan di satu kondisi karena ianya akan mentumpulkan otak. Menutup peluang dan potensi diri untuk terus bergerak menghasilkan ide-ide cemerlang. Jangan puas menjadi camper,mari bersama-sama menuju puncak agar potensi itu tidak diambil orang lain. I am proud to be educator (tulisan ini adalah kritik terhadap diri saya sendiri).

One thought on “Sosok Guru Jepang Yang Saya Tahu

  1. muhammad riadi berkata:

    selama satu minggu saya juga melihat guru dari jepang memberikan contoh pembelajaran disekolah saya. padahal dia tidak begitu lancar berbahasa indonesia, akan tetapi dia begitu sukses membuat sebuah pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s