The Botan

Lafcadio Hearn menulis tentang botan (Japanesse Peony) dalam salah satu bukunya. Botan adalah tanaman semak. Berbunga indah seperti mawar merah. Banyak orang terpanah. Tidak sedikit yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Namun, tahukah engkau bahwa dibalik keindahan warnanya menyimpan bau yang tidak sedap?. Dari botanlah kita bisa belajar jika: To be attracted by beauty only may lead us into fearful and fatal misfortune.
Cerita si botan diatas mengingatkan kita akan kebiasaan manusia. Memvonis sesuatu dari luarannya belaka. Judge a book by it’s cover! Tanpa kita sadari,hal yang sama mungkin pernah kita lakukan pada siswa. Memperlakukan siswa atas preferensi kecantikan dan kegantengan semata,misalnya. Atau memberikan perhatian dan perlakuan yang berbeda pada anak pejabat dibanding masyarakat kebanyakan.Agus Noor - Matinya Tukang Kritik_lamalera_2006_B254
Memang kesannya sangat aneh jika guru memperlakukan siswa dalam preferensi-preferensi semacam itu. Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kejadian di lapangan. Masih banyak perlakuan-perlakuan tidak adil yang sekolah/guru lakukan hanya karena sang siswa berbeda “muka’,“baju’ dan status.
Ada pengalaman menarik tentang hal ini. Saya sendirilah yang mengalaminya. Sudah menjadi kebiasaan melakukan refleksi pembelajaran bersama siswa. Biasanya kami adakan di ujung semester. Saya selalu lontarkan 3 pertanyaan untuk memulai refleksi tersebut. Pertama, Pandangan siswa terhadap metode/teknik pembelajaran yang saya jalankan. Kedua, Kelebihan pembelajaran yang mereka rasakan.Ketiga, kritik dan saran.
Dalam kritikannya, beberapa siswa menuliskan kata tidak adil dan pilih kasih. Dua kata ini menggambarkan tindakan yang sama sekali tidak diinginkan para siswa. Membaca kritikan ini mendorongku bertanya apa sesungguhnya yang telah membuatnya terjadi?
Usut punya usut, perlakuan berbeda terhadap masing-masing siswalah penyebabnya. Menurut mereka, gaya main tunjuk sesuka hati yang sering saya lakukanlah pemicunya. Kebiasaan tersebut telah melukai sebagian hati mereka. Seringkali penunjukkan itu tertuju hanya pada siswa yang berparas cantik dan ganteng. Atau yang memiliki kelebihan di mata pelajaran. Menurutnya,mereka juga butuh perhatian dan kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang.
Saya kadang juga tidak habis fikir. Mengapa keinginan selalu tertuju pada golongan yang disebutkan siswa tadi ya?. Saya memahami tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak saja oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogis,kesantunan bahkan agama sekalipun. Namun demikian, kebiasaan -sebagaimana digambarkan melalui bunga botan- diatas sulit dihindari sama sekali.
Tanpa disadari,saya telah memupuskan harapan mereka. Tersakiti hatinya karena perlakuan yang tidak adil. Ketidakadilan yang mereka rasakan bisa menjelma menjadi stress dan ketidaknyamanan dalam belajar.Tidakkah hal ini juga berarti bahwa sayalah yang membuat mereka gagal dalam belajarnya?. Masih wajarkah jika kesalahan itu justru kita timpahkan pada mereka. Hanya karena tidak pernah menghiraukan,bahkan mengerjakan sesuatu yang kita inginkan?
Disisi lain,membaca kritikan semacam ini memang membuat kita “nyesek”. Lebih-lebih bagi kita yang alergi kritik. Bagi sebagian kita,kritikan kadang lebih bermakna penghinaan dari pada refleksi itu sendiri.
Meski sedikit alergi terhadap kritikan, saya harus tetap memaknainya sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik.Bukankah mendapati seseorang yang menunjukkan kelemahan diri kita adalah rahmad tiada terhingga?.Bukankah seorang guru hadir untuk menggandeng tangan siswa, Membuka pikiran Menyentuh hati, Membentuk masa depan.?Apa lacur jika status dan preferensi fisik dan keduniawian mengalahkan akal sehat dan hati nurani?.Alih-alih menggandeng tangan mereka,kita justru mendorongnya ke sisi jurang.
Sedikit demi sedikit saya menyadari jika kritikan itu bagai multivitamin bagi jiwa ini. Menggerakkan otot-otot optimisme untuk terus bergerak menemukan titik-titik kulminasinya. Membakar semangat tuk menggerakan sayap-sayap mimpi menemui kenyataannya.
Dari kritikan dan masukan siswalah saya banyak belajar dan belajar. Beruntunglah memiliki siswa yang selalu tulus mengkritik dan memberi masukan. Tanpanya, kita hanya akan menjadi penjual ilmu semata. Tanpa rasa dan asa. Hanya menjadi budak dari kurikulum dan buku teks semata.
Akhirnya,terima kasih muridku,kritikanmu mendorongku menemukan cara terbaru mengatasi masalah tanpa masalah. I am Proud To Be educator.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s