Draft Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 Untuk Sekolah Dasar – Sebuah Catatan

Draft Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 Untuk Sekolah Dasar
– Sebuah Catatan

Saya akan memulai catatan saya dengan sebuah pertanyaan, “mengapa kurikulum pendidikan kita harus diganti dengan kurikulum 2013?”
Jawaban dari pejabat berwenang yang dapat saya kumpulkan adalah sebagai berikkut.
Ibrahim Bafadal (Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Ditjen Dikdas Kemendikbud) :
• KTSP tidak jalan, karena tidak semua guru memiliki dan dibekali profesionalisme untuk membuat kurikulum. Yang terjadi, jadinya hanya mengadopsi saja
• Untuk itu, kurikulum yang baru ini dibuat dan dirancang oleh pemerintah, terutama untuk bagian yang sangat inti. Dengan demikian, pihak sekolah dan guru tinggal mengaplikasikan saja pola yang sudah dimasukkan dalam struktur kurikulum untuk masing-masing jenjang tersebut
Sumber : http://182.23.45.46/detil/berita/109259/Mengapa-Kurikulum-Kita-Dirombak
Mohammad Nuh (Mendikbud) :
• kurikulum harus berubah karena zaman juga berubah. Butuh penyesuaian dari segi kebutuhan pengetahuan dan sikap
sumber : http://bangka.tribunnews.com/2012/11/30/mohammad-nuh-rela-ambil-resiko-dicap-buruk

Anggaplah kedua pernyataan ini benar. Maka alasan digantinya kurikulum adalah karena guru tidak mampu membuat kurikulum sendiri berdasarkan KTSP dan pada saat yang sama KTSP sudah tidak relevan dengan jaman sekarang.
Untuk alasan pertama bahwa pembuatan kurikulum ditarik ke pusat karena guru tidak mampu membuat kurikulum tersendiri, tentulah ini merupakan solusi yang tidak logis dan tidak mendidik. Ini sama saja dengan anak kita yang tidak bisa melakukan sesuatu (padahal seharusnya bisa) lalu kita sebagai orang tua membuatkannya untuk mereka.

Sekarang tanggapan untuk alasan kedua. Apa bedanya kurikulum 2013 dengan KTSP 2006? Benarkah kurikulum 2013 lebih sesuai bagi perkembangan jaman?
Kekhasan utama pada kurikulum 2013 adalah adanya 4 kompetensi inti yang secara ringkas terdiri atas kepatuhan atas agama yang dianut, memiliki perilaku positif (jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri), memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya dan menyajikan pengetahuan faktual melalui berbagai cara (bahasa, karya, gerakan, tindakan) yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia. Kesemua kompetensi dasar yang hendak dibangun haruslah bermuara kepada kompetensi inti ini. Pertanyaannya adalah : benarkah keempat kompetensi inti ini merupakan kompetensi paling utama yang patut dimiliki oleh anak-anak kita untuk menghadapi tantangan jaman di masa mendatang? Benarkah penetapan kompetensi inti ini sudah melalui suatu kajian ilmiah? Katakanlah sudah. Tapi yang menggelitik adalah tidak disertakannya kreativitas dan kemampuan menyelesaikan masalah di dalam kompetensi inti di sekolah dasar. Padahal, dua kompetensi ini menurut berbagai studi, di antaranya oleh Tony Wagner dari Harvard University sangat penting bagi persaingan global. Kompetensi yang berkenaan dengan kreativitas hanya disebutkan pada kompetensi dasar pada mata pelajaran seni, budaya dan desain, sedangkan pemecahan (penyelesaian) masalah hanya ada pada pelajaran matematika. Ini dapat menimbulkan persepsi bahwa kreativitas hanya ada pada bidang seni budaya dan desain, sementara penyelesaian masalah hanya diperlukan untuk matematika. Seyogyanya kreativitas dan kemampuan menyelesaikan masalah disertakan pada kompetensi inti.
Ketika mencermati kompetensi inti dan hubungannya dengan kompetensi dasar, maka ada dua kesan yang muncul. Pertama, kurikulum baru ini merupakan kurikulum yang tidak ramah terhadap anak. Kesan bahwa anak-anak akan melalui suatu proses pendidikan yang menegangkan, kaku dan taat aturan begitu terasa. Kurikulum ini seperti sedang mempersiapkan anak-anak kita sebagai robot-robot yang bekerja sesuai dengan instruksi. Berikut ini salah satu contohnya :
Kompetensi inti kelas 1 SD :
Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
Kompetensi Dasar Matematika Kelas 1 SD :
– Menunjukkan perilaku rapi dengan menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi (bangun datar, bangun ruang), beratnya, atau urutan kelompok terkecil sampai terbesar
– Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan
Tidak disiplin atau rapikah anak-anak yang menata benda-benda berdasarkan urutan yang tidak seperti itu? Misalkan berdasarkan dari yang terbesar hingga terkecil, atau berdasarkan benda yang disukainya?
Benarkah kepatuhan pada tata tertib tercermin melalui kepatuhan mengikuti prosedur penjumlahan dan pengurangan? Atau sebaliknya anak yang tidak mengikuti prosedur lalu disebut tidak patuh?
Sungguh dikuatirkan dengan kompetensi dasar yang seperti ini pelajaran matematika akan menjadi tidak menyenangkan dan itu diperparah lagi dengan jam belajar yang lebih lama, dan pada akhirnya anak-anak menjadi benci sekolah.
Kesan kedua adalah, hubungan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar pada mata pelajaran tertentu yang tampak dipaksakan sehingga cenderung menabrak logika.
Berikut beberapa contoh :
Kompetensi inti kelas 2 dan 3 SD :
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru
Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas 2 dan 3 SD :
– Berperilaku hemat energi dalam kehidupan sehari-hari
– Menunjukkan kepedulian terhadap makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari
Berperilaku hemat energi memang sungguh berhubungan dengan kompetensi tanggung jawab. Tetapi, apa hubungannya dengan kompetensi Bahasa Indonesia? Ada kesan bahwa hubungan ini dipaksakan untuk mengakomodasi muatan sains di dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Terlihat bahwa penyusun kurikulum tidak siap untuk mengurangi jumlah mata pelajaran dengan tetap menyokong kompetensi inti dan kompetensi dasar yang hendak dicapai.
Selain itu ditemukan pula kompetensi dasar yang berulang seperti kompetensi dasar
– Berperilaku hemat energi dalam kehidupan sehari-hari
– Menunjukkan kepedulian terhadap makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari
yang tercantum pada kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas 2 hingga 6. Apa bedanya masing-masing kompetensi dasar tersebut pada setiap jenjang kelas?
Disebutkan bahwa pada kurikulum 2013 IPA dan IPS digunakan sebagai materi pembahasan pada semua mata pelajaran. Akan tetapi yang terlihat adalah bahwa mata pelajaran tersebut, misalnya IPA, baru sekadar ditempelkan saja ke mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Gagasan penyederhanaan materi pelajaran Sekolah Dasar sesungguhnya sangat baik. Akan tetapi, tidaklah mesti melalui pengurangan mata pelajaran. Hemat saya justru akan lebih bermakna jika materinya saja yang dikurangi. Misalkan pada pembelajaran IPA tidaklah perlu bagi anak-anak usia SD mempelajari segala macam nama tulang pada rangka manusia, atau diperkenalkan dengan segala macam nama penyakit tulang dan mata. Buku pelajaran IPA SD perlu dipangkas supaya menjadi jauh lebih tipis. Pembelajaran IPA dapat difokuskan saja kepada kegiatan sistematis untuk mempelajari bagaimana bekerjanya alam di sekitar anak-anak, melalui kegiatan ‘hands-on’ dan ‘minds-on’. Menurut berbagai penelitian dan juga pengalaman kegiatan seperti ini menyenangkan bagi anak-anak dan juga efektif di dalam membangun keterampilan dan sikap ilmiah.
Terakhir, saya hendak mengambil pelajaran IPA sebagai contoh. Salah satu tujuan utama dari pembelajaran IPA adalah untuk mengembangkan kemampuan anak-anak di dalam memahami dan menerapkan serangkaian metode aktif dan sistematis di dalam mempelajari bagaimana semesta raya ini bekerja. Bukan sekadar menghapalkan serangkaian fakta-fakta. Ini adalah sesuatu yang sudah kita pahami bersama. Akan tetapi, yang boleh jadi seringkali kita lupakan adalah bahwa untuk mengembangkan kemampuan yang semacam itu diperlukan seorang guru atau fasilitator yang memiliki keterampilan ilmiah yang mumpuni dan sikap ilmiah yang layak ditiru. Artinya, jika kita ingin membangun suatu bangsa dengan budaya sains dan teknologi yang tinggi maka perekrutan dan pelatihan guru yang sistematis di bidang pembelajaran sains yang efektif dan menyenangkan akan jauh lebih strategis ketimbang mengubah kurikulum yang salah satunya dalam bentuk integrasi mata pelajaran IPA ke dalam mata pelajaran yang lain, yang justru berpotensi untuk membuat pembelajaran IPA menjadi tidak fokus dan rancu.
Berdasarkan ini semua, jika implementasi kurikulum 2013 adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi, maka saya usulkan agar pelaksanaannya ditunda. Masih ada hal-hal mendasar yang perlu dibenahi, di antaranya terkait hubungan kompetensi dasar dan kompetensi inti yang terkesan dipaksakan sehingga tidak terlihat hubungan yang padu. Kedua, kita ketahui bahwa salah satu gagalnya KTSP disebabkan oleh ketidaksiapan guru untuk mengembangkan kurikulum sendiri berdasarkan keadaan sekolah dan potensi daerah. Kurikulum baru ini juga akan berpotensi besar untuk gagal, disebabkan oleh sebab yang sama yakni ketidaksiapan guru. Oleh karena itu wajarlah kiranya untuk menunda penerapan kurikulum baru ini sehingga ada waktu yang cukup untuk benar-benar dimanfaatkan guna mempersiapkan guru melalui pelatihan-pelatihan yang efektif. Terlebih, kita sedang berbicara Indonesia, sebuah negeri yang terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, yang sungguh kita paham kualitas gurunya juga membentang sangat beragam. Janganlah sampai hajat kurikulum baru ini hanya merupakan hajat yang menyertakan proses pendidikan di kota-kota besar dan sekitarnya, dan melupakan saudara-saudara sebangsa yang berada di tempat-tempat yang jauh.

Salam,
Abdullah Muzi Marpaung
Rumah sains ilma
Swiss German University

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s