Kebiasaan Mencontek

Tanpa sengaja mataku terpana pada sebuah status di facebook. Dua orang siswa SMA lagi asyik membahas tugas akhir yang harus segera dikumpulkan. Pengumpulannya berbarengan dengan ujian akhir semester ganjil minggu ini.Singkat cerita,Diakhir kicauannya,mereka saling tanya mata pelajaran yang akan diujikan di hari pertama.”Bahasa Indonesia dan PKN,” tulis salah satu siswa.”Kita SMS an Ya?,kata teman satunya lagi. ” Ya,kalau soalnya sama”,jawabnya dengan enteng.

Kita pasti paham apa makna tulisan “Kita SMS an ya?”. Tidak lain dan tidak bukan:MENYONTEK. Saling jual beli jawaban antar teman.

Sudah bukan hal yang aneh lagi jika budaya semacam ini merebak dan semakin menjamur di sekolah kita. Cara-cara menyontek konvensional sudah banyak ditinggalkan. Anak sekolahan sudah tidak tertarik lagi dengan model contekan yang ditaruh pada lipatan kertas kecil-kecil. menyerupai pegas jika diburaikan.Atau photocopy yang diperkecil sampai 25 %.
karena menyontek melalu media elektronik lebih menjanjikan. Cepat dan tidak berisik. Tidak hanya satu atau dua jawaban belaka,namun bisa sekaligus semuanya.DSC_3701

Perbincangan dua siswa diatas mengingatkan kejadian dua minggu yang lalu. Saat itu, sensei marah bukan kepalang kepadaku. Kemarahannya diledak-ledakkannya dihadapan mahasiswa dari UK,Jepang dan Uzbek. Menurut saya persoalannnya tidaklah serumit yang saya duga. Hanya karena lupa mencantumkan sumber sebuah tulisan.Tepatnya bukan sebuah kutipan,hanya sebuah gambaran singkat tentang biography seorang toko yang kami diskusikan bersama.Dia marah bukan kepalang. menurutnya,apa yang saya lakukan bisa dilaporkannya pada fakultas, dan resikonya saya tidak lulus. Menurutnya, di Amerika misalnya, kejadian semacam ini tidak akan pernah dimaafkan. Sang mahasiswa dengan otomatis harus mengulang semester selanjutnya. Untunglah,kesalahan itu hanya sebatas mengutip biography seseorang dan bukan karya dan buah pikirannyya.

Dengan perasaan “tersakiti”,dia kemudian melontarkan pertanyaan pada 3 teman sekelasku.”what do you think about this thing?”. “Kami tidak pernah melakukannya” jawab teman dari Inggris. “Tidak baik,tapi banyak orang melakukannya”,jawab teman dari uzbek sedikit diplomatis. Jangan tanya reaksi mahasiswa Jepang. karena jawabannya sudah pasti”Tidak Baik”.

Lain cerita,Saat mengunjungi sebuah sekolah menengah pertama dan atas di Jepang,hal yang sama juga pernah saya tanyakan. Reaksi guru yang terlihat dari pertanyaan itu adalah kaget,mengernyitkan dahi dan tersenyum. Kaget karena mereka jarang bahkan tidak pernah mendapat pertanyaan tentang menyontek yang dilakukan muridnya. Mengernyitkan dahi karena tidak habis pikir mengapa disekolah kok masih ada contek-menyontek dalam ujian. Bukankah test diadakan untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar siswa?. Dan yang terpenting dari reaksi jawaban ini adalah :Tersenyum. Anda tahu mengapah dia tersenyum?. Ya,karena sang guru begitu percaya terhadap kemampuan muridnya. Baginya nilai bukanlah terminal akhir dari proses belajar itu sendiri. Ia juga bukan akhir dari segalanya.
Disisi lain, Muridanya tidak terbiasa menyontek dan mengharap jawaban dari teman lainnya. Menanamkan semenjak dini bahwa usaha jauh lebih berharga dari sekedar hasil yang instan. Didapat dari contekan atau jalan tidak jujur lainnya.

Saya kemudian bertanya-tanya dalam hati. Apa sesungguhnya yang mendorong siswa menyontek?. Kegagalan pembelajaran dikelaskah?atau kesalahan memaknai pendidikan (belajar) dari siswa itu sendiri?.

Bisa jadi kebiasaan menyontek ini lahir dari kita sendiri (guru). Dengan kata lain, saat kita mengajar pada saat yang bersamaan kita gagal membuat murid belajar. Serpihan ilmu yang seharusnya mereka kumpulkan,justru tidak didapatnya sama sekali. Strategi dan metode yang minim, ketidakmampuan membangun motivasi belajar adalah sebagian pemicu mengapa kita belum mampu membelajarkan murid. Kemampuan kita hanya sebatas mengajarkan,tetapi tidak menggerakkan belajar sang murid. Menjadi sangat manusiawi jika mereka mengandalkan contekan sebagai penolongnya.

Bisa jadi juga sang siswa tidak siap menghadapi ujian. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Suasana (stress), tidak belajar sama sekali bisa menjadi pendorongnya. Disisi lain, dorongan pencapaian nilai minimal (KKM) juga menjadi pelecut anak tetap menyontek ditengah minimnya persiapan. Mereka lebih takut dapat nilai dibawah KKM,dibanding tidak dapat ilmu sama sekali.Dengan kata lain,orientasi sekolahnya terbatas pada perolehan nilai semata.kalau hal ini yang terjadi, maka paradigma bersekolah sudah harus digeser jauh-jauh.Kemana menggesernya,adalah tugas kita untuk menemukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s