GANJITSU:Antara Hura-hura dan Berhikmah

Celoteh Akhir Tahun:

GANJITSU:Antara Hura-hura dan Berhikmah

Baru kali ini melihat jalanan merayap sebegitu panjangnya di Jepang. Mobil berbaris dan berjalan pet empetan. Aku tahu kemana mereka akan pergi. Mengunjungi keluarga atau menyepi ke luar kota. Mengasingkan diri dari kebisingan dan rutinitas kota.

Dua tahun sudah kunikmati malam tahun di Jepang. Sepanjang itu tidak kutemukan pesta yang hura-hura, apalagi sampai melepas knalpot sepeda di tengah malam. Menggeber suaranya hingga memekikkan telinga.Pun juga tidak kutemukan anak muda bergerombol dan mabuk di tepi jalan. Membakar apa saja yang ada disekitarnya, termasuk yang bukan menjadi haknya. Tidak,aku tidak menemukan yang semacam itu.

Malam tahun baru menjadi malam yang paling spiritual bagi warga Jepang. Pada malam itu biasanya mereka pergi ke jinja untuk berdoa. Agar di beri kesuksesan selama setahun kedepan, atau diberi kemudahan-kemudahan dalam menjalani kehidupannya. Sambil melempar uang, mereka berdesakan masuk ke Jinja. Menepuk kedua tangannya dan membungkuk tanda penghormatan pada para dewa. Dengan bibir komat-kamit mereka mulai melantunkan senandaung bagi para dewanya.

Di Jepang, Ganjitsu atau Gantan (tanggal 1 Januari, hari pertama dalam satu tahun) dirayakan sebagai hari raya tahun baru. Sama persis dengan yang kita lakukan di tanah air. Aneka aktifitas dilakukan oleh masyarakat Jepang saat itu. Yang membedakan dengan yang terjadi di negara kita adalah hal-hal berikut ini.Pada 3 hari pertama awal tahun- yang disebut shougatsu- masyarakat Jepang pada umumnya tidak melakukan pekerjaan di kantor. Mereka memilih cuti bersama. Dalam 3 hari ini, biasanya mereka mengunjungi kuil-kuil Shinto atau mengunjungi teman dan kerabat. Dalam kegiatan tersebut, mereka biasanya memakai kimono yang indah dan bberwarna-warni.

Pada tahun baru itu, mereka melewatkan hari dengan menikmati arak sake, dan makanan khusus tahun baru yang disebut osechi ryouri dan kue mochi . Di depan rumah dipajang hiasan potongan pohon pinus dan 3 bambu runcing dalam sebuah pot. Hiasan ini disebut kadomatsu. Selain aktivitas di atas, dalam 3 hari libur tersebut mereka melakukan permainan tradisional seperti bulu tangkis tapi raketnya terbuat dari kayu dan diberi hiasan.

Di Indonesia, malam tahun baru dan tahun baru itu banyak diisi hura-hura. Membuang uang dengan menyalakan kembang api atau petasan. Bahkan mengelabui orang tua dengan dalih uang sekolah untuk membeli minuman memabukkan sekelas anggur cap orang tua atau topi miring.

Aku menjadi sedih, saat mengetahui sebagian besar orang yang kusayangi justru terlibat di dalamnya.

Sedikit darinya yang menggunakannya untuk refleksi perjalanan setahun terakhir. Bergantinya tahun akan tidak memiliki arti yang penting jika kita gagal memaknai perjalanan yang telah kita lalui. Ia laksana jarum jam yang bergerak dari angka satu ke yang lainnya. Kadang kita tak sempat melihatnya atau seringkali mengacuhkannya. Tahu-tahu sudah petang atau pagi, dan kita belum siap menyambutnya. Memperhatikannya akan menghindarkan kita dari keterlambatan dan penyesalan

Karenanya, menjadi lebih elok dan arif jika kita jadikan tahun baru sebagai awal menggerakkan otot syukur dan membakar semangat untuk menjadi lebih baik di tahun yang baru. Selamat ber resolusi, semoga tantangan yang kita lalui kedepannya bisa menjadikan kita lebih kuat, dan sukses. Have a wonderful a year ahead!!!

Iklan

Ibunda, kenapa engkau menangis?

Ibunda, kenapa engkau menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa ibu menagis?”. Ibunya menjawab, “Sebab ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “NK, kamu memang tak akan pernah mengerti…”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahya. “Ayah, mengapa ibu menangis? Sepertinay ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemidian, si anak itu tumbeuh menjadi ramaja adan dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan betanya kepada Tuhan. “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

“Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnyan menjadi sangat utama.

Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, persaan peka dan kasih saying, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apaaun, dan dalam situasi apaapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perassaannya, melukai hatinya.

Persaan iti pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan leleap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didiekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan, hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”

Teaching Receptive Skills: Skimming and Scanning

For me,reading a foreign text is complex activity. I have to work with a new vocabulary, new terms and ideas. I doubly agree that knowing why we are reading a book and what we are looking for will help to get our brain alert for any information that we are looking for in the text as we read it.
Skimming and scanning are actually two very different ways of going through text. Scanning when speed reading is the process of looking for a specific piece of information, like looking up a word in the dictionary for example. We don’t read every word; We “scan” through the text to look for what We want and stop once we have found and absorbed the information we are looking for.
Skimming on the other hand involves going through the book page by page just looking at chapter titles and sub titles and categories and pictures and diagrams to get a general feel for the text and its layout to familiarize ourself with its structure. And to also help get an overview of the subject matter the book is on. And to get a general impression of what the text contains.
Although scanning are both ‘top – down skills and involved with finding individual points from the text without reading carefully through every word of the text,the way that a reader finds that information involves some degree of processing of overall shape and structure of the text. Moving her eyes quickly over the whole page,searching for key words or clues from textual layout and the content that will enable us to focus on smaller sections of the text we are likely to get answers from.
I used to encourage my students to read the questions before starting reading a text. It enables students to get a brief description of the text.To help them find the information they actually need to read and to avoid the information they don’t need to read.
I do agree that knowing why we are reading a book and what we are looking for will help to get our brain alert for any information that we are looking for in the text as we read it. Setting the reading purposes is also important and crucial part to effective reading itself.
Furthermore, Scrievener sugested to select an appropriate reading task and useful reading activities. If a text is used in class in ways that are reasonably similar to real life.it is likely that the task must be effective.It is also important to describe an exercise commonly found in exams. It is clearly useful as demanding way of testing comprehension,and useful for studying the fine shades of meaning a writer conveys.

Inculcating Creativity

Morning has broken. Light wind blew through my windows’ rift.It was 7 am in a cold winter morning.Black crows started morning song a while ago.But, the sky still covered by soupy cloud.Eyes was sleeping along with the dream.
I knew that my school visit was waiting out there.A driver was standing right side of a white taxi.Starring the balcony. Wondering …… was anyone he looking for there?. Baca lebih lanjut

Teaching pronounciation To Our Students

Do you teach pronounciation to your students?, is a question once asked to me by my professor.It is obvious fact that most of high school English teachers in my district don’t teach pronounciation to their students. Partly because teachers themselves may feel more uncertain about it than about grammar or lexis.However, when we (teacher) take a risk, we will find surprise that teaching pronounciation is very enjoyable and useful to our classroom work.
Scrievener (2011) challanges us with some ideas about teaching pronounciation to our students. There are 7 (seven) preliminary activities to motivate our students in using correct pronounciation.They don’t require our knowledge and understanding of phonemic symbol or any detailed background knowledge of phonology. Do you want to know what they are?here are the 3 out of those 7 challenges:
1. Model New Words in Context
When we teach lexical items,give students chance to hear you saying the items naturally in the context of a typical short phrase or sentence.Allow students to repeat the phrase and give them honest feedback if there seem to be problems. If necessary, remodel it and let students work out what they are doing differently.
2. Modelling Intonation
Our students dont get use to speak out using up and down tone. Our own language seems to be flat one.But it is not really a problem to teach them pronounciation.When we teach grammar,allow students to hear some typical examples of natural uses of language. So, for example,when teaching the present perfect progressive, don’t just teach it as dry examples, but model atypical real-life sentence or two yourself with real feeling ,such as “I’ve beenwaiting here for two hours!”. A Loud, angry sentence like this will bemuch more memorablethan a written examples. Get students to repeat it to each other -and don’t let them get away with flat,dull intonation.Encourage themto say it with real feeling.

3. Recognise the feeling
Scrievener (2011) encourages us to write four or five short spoken phrases on the left of the board (eg “Where are you going?” yes,please’).Write up a number of “moods” (adapting your intonation and stress to transmit a clear feeling).Ask students to compare ideas with each other and decide which was used.Later, learners can continue playing the game in small group.

Hopely, you enjoy these simple tips of teaching pronounciation to our student.Try and feel the difference then. Seize the day!!!

Mana RPP mu?

Siang ini, pukul 12:50. Udara sangat dingin.3 derajat celcius yang saya baca di ramalan cuaca.Namun, ruangan tempat kami kuliah tiba-tiba menjadi hangat. Bukan oleh heater atau pemanas ruangan. Namun semata-mata tercipta oleh kegairahan kami membahas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (selanjutnya di singkat RPP) masing-masing negara. Jepang,Indoneisa, Uzbekistan dan Sudan. Mengawali diskusi itu, sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan. “Pentingkah perencanaan pembelajaran itu?. Kami semua menganggapnya sangat penting.Karena RPP adalah bagian penting dari penyiapan pembelajaran itu sendiri. Guru-guru berpengalaman misalnya, tetap menggunakan RPP meski tidak terperinci secara mendetail. Terlebih lagi guru-guru baru (novice) yang tidak tahu banyak tentang rimba belantara yang akan dilaluinya, RPP menjadi sangat penting peranannya.
Tidak ada formula yang sederhana untuk penyusunan RPP. Hal ini terjadi karena apa yang dianggap sebagai RPP yang efektif tergantung banyak hal. Termasuk di dalamnya adalah isi pelajaran itu sendiri,gaya mengajar guru, preferensi belajar siswa,ukuran kelas, dan tentu saja tingkat proficiency sang pebelajar. Namun demikian, secara umum, RPP akan merefleksikan sebuah keputusan yang telah kita buat tentang beberapa hal berikut: Baca lebih lanjut