Ketika Pendidikan Berada Di Persimpangan Jalan

Celoteh Malam

Dulu, persoalan rendahnya penganggaran negara selalu dijadikan alasan jeleknya mutu pendidikan. Setelah beberapa tahun terakhir penganggarannya mencapai 20 %, mutu yang ditunggu tak juga kunjung datang.
Dulu, persoalan rendahnya tingkat kesejahteraan dipercaya menyumbang buruknya kinerja para guru.Banyak guru yang “mengompreng” pekerjaan tambahan. Sebagai tukang ojek, bisnis, bahkan pemulung sekalipun.
Akhirnya pemerintah menggulirkan program sertifikasi untuk mengangkat tingkat kesejahteraannya. Harapannya, guru lebih kosentrasi dan menjadi tenaga yang lebih professional. Tidak lagi memikirkan rendahnya gaji dan juga tidak lagi disibukkan oleh aktifitas diluar sekolah yang kadang melupakan tugas utamanya sebagai guru. Tunjangan sebesar satu kali gaji pokok menjadikan profesi guru sebagai salah satu primadona baru diantara pegawai pemerintah. Banyak guru terdongkrak seketika tingkat kesejahteraannya.Yang dulunya ke sekolah naik sepeda ontel,kini bisa mengendarai sepeda motor keluaran terbaru. Banyak juga yang telah berhasil membeli kendaraan beroda 4. Gaji dan tunjangan yang diberikan pemerintah benar-benar meningkatkan kesejahteraannya, an sich.
Pada saat yang bersamaan,terjadi booming dimana-mana. Jurusan pendidikan kembali naik peringkat.Banyak orang tua dan pelajar menginginkan menjadi seorang guru (PNS). Semata-mata karena melihat tingkat kesejahteraannya yang naik berkali lipat.Terlebih lagi setelah program sertifikasi digulirkan.
Benarkah peningkatan kesejahteraan guru berjalan linear dengan kualitas pembelajarannya?Laporan survey World Bank mungkin bisa menjadi salah satu jawaban pertanyaan tersebut. Menurut Bank Dunia terdapat 4 masalah krusial yang dihadapi dunia pendidikan kita, yaitu:
1. Guru terlalu banyak membuang-buang waktu.Dimana 11 % waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna,seperti memberi pengumuman,sedang di negara lain hanya 1% waktu yang digunakan untuk hal yang sama.
2. Tingkat kesulitan soal yang diberikan oleh guru terbilang rendah (lower package order). Artinya guru tidak mendorong murid untuk lebih maju. Bahkan hanya 10 % saja guru yang memberikan sebuah soal dengan alternatif jawaban lebih dari dua. Bandingkan dengan negara lain yang sebesar 76%.
3. Guru tidak menjabarkan materi pelajaran berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dinegara lain,semisal AS,dilaksanakan 3 kali lipatnya atau Jepang yang 5 kali lipatnya. Penjelasan terhadap materi dan pelaksanaan pembelajaran dengan pedagogi lemah.
4. Survey juga menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan yang signifikan setelah sertifikasi diberlakukan.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa investasi dan pengembangan kualitas gurulah yang memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan klualitas pendidikan. Peningkatan gaji dan kesejahteraan tidak serta merta mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan. Sebuah temuan menarik juga dibahas di salah satu edisi majalah OECD’s PISA in Focus tahun 2012. Majalah tersebut membandingkan system pendidikan yang memberikan serangkaian bonus dan kenaikan pangkat yang diyakini akan memiliki tingkat kualitas yang lebih baik daripada yang tidak.Secara kasat mata, hasilnya mungkin tidak ada kaitan sama sekali. Namun demikian,Negara yang menggaji guru dibawah 115% dari average gross wagenya, penghargaan semacam itu ternyata memiliki efek positif.tetapi Negara yang menggaji diatasnya,tidak memiliki efek yang signifikan.
Lebih lanjut, sebuah laporan terbaru tentang system pendidikan di dunia baru saja di luncurkan oleh Pearson dengan Learning curve nya. Dalam laporan tersebut,Indonesia ditempatkan diurutan paling buncit. Berada dua tingkat lebih bawah dari pada Thailand. Terdapat 4 negara Asia yang menempati rangking atas.Mereka adalah Korea Selatan (Urutan 2),Hongkong (3),Jepang (4) dan Singapura (5). Selengkapnya anda bisa baca di SINI.Dan di puncak masih ditempati oleh Finlandia.
Apa yang menyebabkan 4 negara Asia tersebut memuncaki kualitas system pendidikan dunia?. Paling tidak terdapat 1 alasan utama mengapa mereka mampu berprestasi semacam itu.Hal ini terkait dengan guru sebagai motor penggeraknya. Ternyata,guru-guru di 3 negara tersebut berdiri kokoh dijalur profesionalismenya.
Di Singapura, misalnya,semua guru mendapat upgrading berkelanjutan di pusat pendidikan gurunya. Pemerintah menyediakan waktu 100 jam tiap tahunnya untuk menyegarkan dan mengisi pundi-pundi ilmunya kembali. Pemberian bonus dan penghargaan pada guru berkinerja tinggi menjadi salah satu alat memompa motivasi dan menghargai prestasinya. Disamping itu,guru-guru muda tidak langsung diterjunkan di medan pembelajaran. Mereka didampingi oleh para mentor yang berfungsi sebagai resolve person jika mereka menemui hambatan atau belajar sesuatu yang baru.
Setidaknya terdapat 4 pelajaran berharga dari perankingan system pendidikan di dunia ini. 4 Pelajaran ini seharusnya dijadikan konsideran dalam mengambil kebijakan terkait dunia pendidikan.Pertama,Mutu pendidikan tidak bisa disulap bim salabim dalam waktu instan. Butuh program berkesinambungan untuk meraihnya.Kedua,menghormati guru.Tidak hanya dengan gaji dan bonus yang tinggi.Jauh yang lebih penting adalah menjamin rasa aman dalam menjalankan tugasnya. Bebas dari tekanan penguasa,ancaman fisik. Serta adanya penghargaan yang fair,bukan karena koneksi dan pertimbangan politik.Ketiga,Keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Orang tua adalah bagiankrusial penentu keberhasilan belajar anak disekolah. Pendidikan harus memberi ruang yang luas bagi orang tua untuk ikut menentukan belajar anaknya disekolah. Jangan hanya memanfaatkannya pada persoalan penggalian dana saja.Keempat pembelajaran yang futuristic bukan hanya sesaat dan menggapai tujuan jangka pendek. Proses pendidikan disekolah harus sepenuhnya mempersiapkan bekal pengetahuan bagi anak agar bisa hidup dihari esok. Pembelajaran sudah saatnya tidak difokuskan pada pencapaian nilai UN yang tinggi semata. Para guru harus berani keluar dari zona nyamannya selama ini,mengukur kesuksesan dari nilai raport dan UN. Yang dibutuhkan anak-anak diabad mendatang adalah kreatifitas mengelolah potensi lingkungan. Gurunyalah yang mustinya memulai berkreatifitas diruang-ruang kelasnya.mengajar bukan lagi sekedar transfer dan alih ilmu semata,namun membangkitkan motivasi belajar seumur hidup anak didik.Guru dituntut tidak sekedar mengajar,jauh lebih elok jika dia lebih banyak belajar.
Saya masih yakin,bahwa ada jalan bagi pendidikan kita yang lebih baik.I am proud to be educator!!!! (kouryukokusaikaikan:28/11/2012/11:31)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s