Secangkir Teh Panas Pagi Ini

Kayuan pedal sepeda serasa tidak bergerak.Saat yang bersamaan hembusan angin menyeruak kedalam lapis demi lapis pakaian di badan. Dinginnya tak terperihkan untuk digambar. Tanganpun mulai mengisut,wajahku berasa tertimpah balok-balok es.Kaku dan membeku.Mengapakah rasa dingin itu serasa bersembunyi dibalik pori-pori kulitku?. Tak maukah ia segera beranjak pergi dan menjauh?.
Kayuan pedal terus berputar tak mau berhenti. Membakar energy badan,mengharap panas segera datang. Disepanjang jalan itu ku melihat dedaunan momiji berwarna kekuningan berlomba menghujam ke bawah. Melayang-layang dan menari ria menemui cintanya di bumi. Dan tumpukan daunnyakemudian menggunung dan menyelimuti bumi dari kedinginan.
15 menit sudah sepeda angin kukayu.Namun gedung itu tak juga nampak.Rasa dingin dan hembusan angin pagi membuatku semakin membeku.Serasa duduk diatas freezer mesin pendingin.Nun jauh didepanku daun menguning dan memerah berjajar melambai-lambai.Aku tahu lambaiannya ber tanda jika gedung itu akan segera terlihat.Segeralah kayuan pedal menambah kecepatannya.Melibas dingin dan menerjang hembusan angin dijalanan yang mulai ramai. Lampu merah dipersimpangan jalan itu seakan tidak peduli akan kedinginanku.Warnanya tidak beranjak pergi. Uap-uap putih yang menyembur dari sela-sela bibir berpacu mengotori langit bersama asap knalpot. Jam masih terlalu pagi dan dingin untuk memulai aktifitas.Tapi kunjungan dan kesempatan mengajar disekolah itu mengalahkan semua kedinginan dan kemalasanku.
Taxi putih itu menungguku tepat di depan pintu masuk gedung international .Kusegerakan menyandarkan sepeda diparkiran sebelah gedung. Sang sopir menyapaku dengan ramah,sambil menunjukan sebuah kertas darimana perintah penjemputan itu berasal. “Áh,sumimasen,Heri sensei ?” katanya memastikan bahwa yang berdiri di depannya adalah benar-benar diriku bukan yang lain.”Hai,so desu”!,balasku singkat.Tak banyak kata yang kuucapkan padanya,selain “hai”,So Ka dan So desu ne” setelahnya.
Sesaat kemudian pintu belakang taxi terbuka. Alat hidrolik yang menempel di pintu samping kanan dan kiri itu memudahkan sang sopir membuka dan menutupnya tanpa harus keluar dari mobil”Hai,dozo’, katanya mempersilahkan .Bangku belakang bermotif bunga-bunga bordiran itu terlihat sangat bersih dan rapi.Disitulah kemudian aku duduk. Tepat dihadapanku tertempel sebuah iklan hotel.Lengkap dengan gambar kamarnya yang indah.Balkonnya menghadap ke padang rumput hijau nan luas. “Pastilah itu Aso”,gumamku dalam hati. Dataran tinggi dan daerah pegunungan yang indah. Aku pernah mengunjunginya saat musim salju tahun kemaren. Disitulah untuk pertamakalinya kumelihat salju. Bermain dan mendekap tumpukannya di bumi. Rasa penasaranku akan bentuk dan rupa salju terbayar lunas saat itu juga.
Sang sopir terus mengajakku berbicara. Bertanya darimana kuberasal dan hal remeh temeh lainnya. Umurnya sudah lanjut.Kira-kira 65 tahunan.Berkemeja lengan panjang putih berbalut rompi hijau muda. Dasi yang mengantung menambah wibawanya. Topi mirip polisi menjadi ciri khas yang unik dari profesinya.Itulah gambaran sopir Taxi di Jepang yang rapi dan necis.
Hampir semua sopir taxi di Jepang sudah berumur. Namun,jangan kuatirkan umurnya yang sudah udzur itu. Kehati-hatian dan kosentrasinya masih akurat. Caranya membawa taxi sangat halus .Tingkat presisi posisi menyalipnya masih sangat akurat. Jarang bersenggolan antar sesama pengemudi. Jarang kutemukan taxi yang ugal-ugalan,apalagi seenaknya nyelonong kesana kemari.
Di Sepanjang perjalanan itu,hanya deru mesin dan orang lalu lalang yang banyak mengisi sebagian kornea mataku.Di dalam taxi,Telingaku dimanjakan oleh lantunan lagu jepang klasik.Suara penyanyinya yang melengking tinggi,mengingatkanku pada lagu-lagu seriosa jawa.Sesekali sang sopir memutar gelombang radio dimana NHK menyiarkan perkiraan cuaca atau berita penting lainnya.Tak banyak yang bisa kutangkap dari siaran radio tersebut kecuali hanya beberapa kata semacam tenki (cuaca),samui (dingin) dan sejenisnya.
Taxi putih itu terus membelah keramaian kota. Dipersimpangan pertama jalan raya menuju sekolah tersebut, aku terpanah oleh seorang ibu yang bersepeda. Jaket tebal dan slayer motif kotak-kotak merah tua melilit lehernya. Didepannya duduk dalam boncengan seorang anak berumur 3 tahunan. Diboncengan belakang seorang anak lelaki yang tidak berbeda jauh umurnya dengan anak yang di depan, Bertopi kuning dan mencangklong tas kemerahan sedang menggigil kedinginan.Pastilah yang duduk di belakang anak SD kelas 1 atau 2.
Kuamati terus kayuan pedal sepeda anginnya.Sesekali kumelihat bibir-biri mereka terbuka bercakap akrab. Entah apa yang dibicarakannya.Kelihatan sangat asyik percakapannya.Sesekali kumelihat tawa lepas keluar dari mereka. Tiba –tiba pikiranku melayang jauh ke sebuah desa. Seorang ibu dan dua anaknya pasti melakukan hal yang sama sebagaimana wanita tadi. Ya,istriku pasti sedang membonceng anak-anak menuju sekolah pada saat itu juga.Betapa hebatnya ibu-ibu itu,menjadi pahlawan sekaligus pejuang bagi masa depan anaknya.Tak terasa buliran-buliran air mata hangat membasahi pipi,mengingat jasa-jasa ibu yang tak mungkin bisa kubalas………miss you much.
Keasyikan melamun,membuatku tak bisa melihat lagi kemana gerangan sang ibu dengan dua anaknya tadi.Entah dimana mereka berbelok.Atau mungkin berjalan lurus saat kami harus berhenti karena lampu merah menyalah.Lupakan sejenak ibu dan dua anak kecilnya tadi.Pandanganku kembali tergoda oleh gedung-gedung bertingkat dengan balkon menghadap keluar. Itulah apartemen dimana sebagian besar orang Jepang tinggal.Aku membayangkan betapa bosannya hidup di dalamnya. Tidak ada halaman,selepas mata memandang hanyalah gedung-gedung bertingkat disisi kakan kiri,depan dan belakangnya.
Namun,beruntung sekali mereka memiliki pemerintahan yang sangat peduli. Ratusan taman kota dibangun disana-sini. Fasilitas bermain dengan mudahnya mereka temukan. Sempitnya kehidupan dirumah petak terlupakan oleh hadirnya taman-taman dan ruang terbuka hijau disekitarnya. Betapa bahagianya anak-anak kita jika pemerintah sepeduli Jepang. Pastinya tidak akan ada lagi anak-anak yang kakinya terlindas sepeda saat bermain di jalan raya. Pasti tidak ada car free day,karena taman-taman menjadi sarana bermain yang mengasyikkan.Pasti masa kecil anak-anak tumbuh dengan sempurna.Dan kelak disaat dewasa,rasa kekurangan bermain itu tidak diwujudkannya melalui tawuran dan tindakan kriminalitas lainnya.
Sedetik kemudian,sang sopir membelokkan mobil ke sebuah komplek sekolah milik universitas. Ya,itulah Fusoku Shogakou.Sebuah sekolah dasar negeri paling bagus di kota Kumamoto.Konon,inilah sekolah terbaik yang dimiliki kota Kumamoto. Berdiri 130 tahun yang lalu. Dulunya menjadi pusat pendidikan bagi para samurai Kumamoto. Pantas sajalah jika pengalaman membawanya menjadi sekolah terbaik di Kumamoto, mungkin juga di Kyusu.
Betapa berharganya diriku pagi itu.Karena hadirku disambut bak raja. Tiga orang berpakaian kasual berdiri menyamping di depan pintu sekolah.Siap menyambutku dengan penuh suka cita. ”Ohayo Heri sensei?shasiburi ne?” seloroh Maeda san.Saya sudah lama mengenalnya.Tepatnya saat pertama kali sensei membawaku mengunjungi kelas bahasa yang dia ampuh.Guru paruh baya itu sangat energik sekali,pakaian kasual dipadu dengan rambut yang disemir kepirangan menjadikannya sangat elegant,miyabi kata orang Jepang.dialah salah satu guru yang setia mendampingiku saat mengajar di kelas. Dua orang yang menyambutku lainnya adalah Jason sensei.Dia seorang guru berkebangsaan Australia. Mengenal banyak hal tentang Indonesia. Percakapan kami beberapa saat yang lalu seolah-olah mempertemukan dua saudara yang lama berpisah.Dia menceritakan betapa senangnya dia saat memakai sarung. Atau menikmati kopi khas bali yang legit dan kental.Tidak habis kertas rasanya untuk menjelaskan percakapanku dengannya. Satu lagi penyambutku adalah Hasimoto sensei.Pria tinggi besar itu adalah wakil kepala sekolah.Tidak banyak yang saya tahu darinya.Baru pertama kalinya muka kami bertatap.
Digiringlah saya menuju ruangan kepala sekolah. Cukup luas juga ruangan itu.Kira-kira 7 X 5 meter. Sebuah meja kerja berukuran besar berdiri dengan gagahnya di bagian tengah. Diatas meja kau lihat seperangkat computer,lampu duduk dan beberapa buku berkarakter kanji. Tepat dimana saya duduk,diatasnya tergantung lukisan bergambar seorang lagi-lagi duduk diatas batu sambil memegang janggutnya.Sisanya ruangan itu dibiarkan kosong,hanya dua lemari besi di sisi kanan meja sang kepala.
Segelas teh hijau panas pagi itu cukup sedikit mengusir rasa dingin. Udara hangat yang keluar dari sela-sela pemanas ruangan tidak mampu menahanku dari rasa dingin yang menyengat sampai ke tulang.Tak terasa dingin telah memaksaku terus meneguk teh itu. Segeralah Umeda sensei menjelaskan padaku apa-apa yang harus kulakukan dikelas nantinya.Ada 3 kelas yang musti saya ampuh hari itu. Semuanya kelas 5.
Tidak sabar rasanya tuk segera bertemu dengan anak-anak itu.Sebuah cerita yang telah kupersiapkan semalam pasti dapat menghibur mereka. Kutengok jam di di dinding,masih 30 menit lagi bel berbunyi sebagai tanda masuk jam ke 2. Menunggu memanglah sangat menjemuhkan,terlebih lagi menunggu untuk segera masuk kelas. Rasa rindu didada serasa terus mengoyak-koyak badan untuk segera meluncur ke kelas.Kecintaan terhadap sesuatu kadang menterlenakan.(Bersambung pada tulisan ke dua)(student’s Dorm:27/11/2012:17:02).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s